Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Diundur


__ADS_3

Semangkuk bubur panas masih memperlihatkan uapnya yang menyembul terkena udara, baru matang dari panci dan siap di hidangkan. Beberapa potong buah juga sudah di sajikan di piring tinggal di santap saja, tak lupa dengan segelas susu sebagai pelengkap.


Suara derap langkah seseorang menaiki tangga menuju atas hingga sampai tepat di depan Abel, ia melepaskan salah satu tangannya dari nampan untuk mengetuk pintu sampai si pemilik kamar mengizinkannya masuk.


Setelah mendapatkan izin, pemilik kamar itu membukakan pintu selebar mungkin agar Excel bisa masuk ke dalam. Dan meletakkan nampan di nakas lalu mengambil mangkuk bubur yang masih panas tersebut.


"Harusnya kak Excel nggak usah repot-repot kesini anterin bubur dan kak Excel bisa sarapan di bawah". Ia merasa tak enak harus merepotkan Excel karena dirinya sendiri terlalu enggan untuk sekedar bergambung dengan keluarga guna sarapan bersama karena takut jika keluarganya akan kehilangan selera makan jika ikut bergabung.


Semalam Excel memang meminta izin untuk menginap di dalam rumah Abel jadi dia sekarang berada di sana dan akan berangkat kerja agak siang.


"Nggak lah nggak repot, malah senang aku bisa melayani tuan putri". Excel mengambil satu sendok bubur yang masih mengeluarkan uap, ia tiup agar lebih dingin dan tak menyakiti lidah Abel, setelah sekiranya panas hilang maka ia menyuapkan bubur itu ke Abel. "Gimana rasanya ? Ini buatnya pakai cinta".


"Enak kak". Kata Abel namun tanpa semangat, jujur ia masih sangat canggung kepada Excel ia merasa malu akan dirinya sendiri, saat membandingkan dirinya dengan Excel yang kini telah menjadi buruk rupa.


"Kamu kenapa terlihat sedih?". Excel merasa jika Abel masih sangat sedih terlihat dari wajahnya yang tak ada semangat hidup dan itu menular kepadanya yang juga sedih melihat Abel. Excel menangkup kedua pipi Abel, Iya bisa melihat sorot mata itu tidak berubah namun pancaran sinar matanya yang berubah menjadi lebih sedih.


Semua lika-liku kehidupan yang mereka alami tidak mampu mereka lawan dan hanya bisa pasrah akan keadaan yang semakin lama semakin sulit, berharap akan ada jalan keluar dari cobaan sebelum pernikahan terlaksana, namun berbeda dengan orang lain karena ini terasa sangat berat apalagi dengan waktu pernikahan yang semakin lama semakin dekat bahkan undangan sudah disebar.


"Aku takut kak, aku takut aku tidak bisa sembuh".


"Ngapain takut sih ada Aku disini, Aku sedang berusaha mencarikan dokter yang terbaik untukmu bahkan seluruh keluarga juga ingin kamu cepat sembuh, maka jangan patah semangat, kami ada disini untukmu dan akan selalu menemanimu Abel kami sangat menyayangimu ".


Sekarang Abel punya semangat hidup karena tahu banyak orang yang menyayanginya dan menunggunya untuk sembuh ia ingin segera kembali seperti semula, bebas keluar tertawa dan bersama dengan orang-orang yang ia sayangi. Iya rindu belanja dan juga menikmati hidupnya apalagi pernikahan yang telah ia impikan sebentar lagi akan datang dan ia tak mau pernikahan itu diundur ataupun dibatalkan.


Ring ring ring


Dering telepon Excel berbunyi dan merogoh sakunya di mana letak hp-nya berada, terlihat dilayar tertera nama seseorang yang ia kenali dari gedung yang sewa untuk acara pernikahannya dengan Abel menelepon. Excel mengangkat teleponnya di depan Abel tanpa sungkan dan mengeraskan suaranya karena telepon itu penting untuk mereka berdua dan kelangsungan pernikahan mereka.


"Halo ada apa?" ~ Excel

__ADS_1


"Halo apakah benar ini tuan Excel ? "~ seseorang dari gedung


"Iya benar ini aku, ada apa ? "~ Excel


"Kami ingin menanyakan perihal gedung yang ada sewa untuk pernikahan, apakah jadi karena persiapan sudah dilaksanakan 50% dan kami hanya ingin konfirmasi untuk menyelesaikannya sampai 100% ? "~ seseorang dari gedung


Excel dan Abel saling memandang tak tahu harus berbuat apa, mereka bingung lantaran hari pernikahan mereka sudah dekat namun mereka tak tahu harus berbuat apa dengan situasi yang sekarang. Kondisi Abel sekarang tidak memungkinkannya untuk melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat ini jadi terpaksa Excel harus memutuskan secepatnya.


"Aku rasa aku akan memundurkan tanggal pernikahannya mungkin beberapa hari atau minggu kemudian, jika tanggal pernikahannya sudah ditetapkan Aku akan segera mengabari "~Excel


"Baiklah tuan kami akan menunggu kabar dari anda "~ seseorang dari gedung


Excel tersenyum masam memandang Abel, ia terpaksa harus mengundurkan tanggal pernikahannya dan berharap agar Abel setuju. karena hanya itulah jalan keluar terbaik untuk saat ini, paling tidak sampai Abel sembuh dan pernikahan bisa dilangsungkan kembali.


"Nggak papa ya kita undur dulu pernikahan kita? ". Tanya Excel meminta persetujuan dari Abel.


" Enggak apa-apa kak aku ngerti kok ". Abel mengerti akan kondisinya sekarang, ia menyadari bahwa pernikahan tidak bisa dilanjutkan untuk saat ini jadi memang ini adalah pilihan yang paling terbaik, bahkan ia bersyukur Excel tidak meninggalkannya.


******


"Ada apa pa ?". Tanyanya saat melihat kedua orang tuanya yang seperti terburu-buru memasuki kamarnya, tak seperti biasanya mereka yang mengetuk pintu terlebih dahulu, mereka seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Papa baru saja mendapatkan kabar baik jika orang suruhan papa telah menemukan dokter yang hebat untuk menyembuhkan namun itu berada di luar negeri tidak apa kan?". Tanya sama papa meminta pendapat dari Abel.


"Iya pa bahkan aku sangat senang sekali aku sudah tidak sabar untuk segera operasi dan segera sembuh aku ingin semuanya seperti semula dan pernikahanku segera dilanjutkan ". Kata Abel dengan penuh haru dan mata yang sudah tergenang akhirnya apa yang telah ia tunggu akan segera terlaksana.


******


Beberapa barang telah dikemas untuk persiapan ke luar negeri guna operasi Abel, tempatnya berada di Thailand dan orang yang akan menemani Abel adalah mama Dina dan juga Excel karena baik papa Rey, Alvin, dan Andre tidak bisa menemani akibat pekerjaan masing-masing tidak bisa ditinggalkan, sebenarnya Excel juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya tetapi ia lebih tidak bisa meninggalkan Abel di luar negeri hanya bersama mama Dina untuk operasi.

__ADS_1


Mereka bertiga menuju bandara untuk segera terbang ke Thailand setelah sampai Abel langsung dibawa ke rumah sakit tempatnya untuk operasi. Di sana mereka berjumpa dengan dokter yang sebelumnya telah melakukan janji temu dan diatur oleh papa Rey sehingga hanya tinggal menentukan jam operasinya saja.


"Bagaimana apakah kau siap? ". Seorang dokter laki-laki yang akan mengoperasi Abel hendak membawa Abel ke ruang operasi menanyakan kesiapannya, ini bukankah operasi kecil lantaran banyaknya luka bakar yang Abel alami membuatnya cukup mempertaruhkan nyawa dan harapan untuk operasi ini.


"Siap gak siap dok tapi aku harus siap ". Kedua tangan Abel telah digenggam oleh Mama Dina dan juga Excel yang menemaninya menuju ke ruang operasi, hanya sampai batas situ saja karena mereka tidak diperbolehkan untuk masuk, melihat kedua orang yang yang dia sayangi sebelum pintu tertutup dari dalam dan berharap operasi berhasil agar bisa bertemu kembali dengan kedua orang itu.


Abel mulai dibius dan semakin lama penhlihatannya semakin kabur bahkan matanya terasa semakin berat, cahaya mulai meredup sampai ia kehilangan kesadaran dan operasi dimulai beberapa dokter dan juga perawat mulai melakukan pekerjaan mereka dan bagian tubuh Abel yang terbakar mulai dioperasi.


Di luar mama Dina dan juga Excel benar-benar merasa cemas, mereka menunggu Abel dengan penuh harap agar Abell bisa sembuh dan kembali bersama dengan mereka untuk saling bersenda gurau lagi dan tertawa bahagia kembali, mereka tak sabar menunggu gadis itu kembali tersenyum ceria seperti sedia kala.


"aku sangat cemas ma ". Excel kembali melihat ruang operasi yang masih tertutup dengan Abel dan para dokter di dalam berharap agar segera keluar dan bisa melihat Abel, Iya harap-harap cemas.


"Iya Mama juga sangat cemas tapi kita berdoa saja karena hanya itu yang bisa kita lakukan untuk saat ini, Abel gadis yang kuat ia akan melalui semua ini dengan mudah dan semoga tidak ada hal lain lagi yang terjadi ".


Mama Dina berusaha untuk menenangkan situasi akan rasa cemas yang membentang di antara mereka berdua padahal reda namun dalam hatinya dia juga sangat mencemaskan Abel putri bungsunya tersebut yang sedang bertaruh nyawa di dalam ruangan itu dan sebagai ibu tidak bisa melakukan apapun selain mendoakan.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Dukung author lewat like, komen, vote dan juga tip


__ADS_2