Love You Brother

Love You Brother
Terlalu Tua


__ADS_3

Excel pamit undur diri terlebih dulu diikuti dengan Jennie, Abel sudah bisa mengira itu lagipula siapa yang tidak akan pergi setelah melihat bahwa wanita yang sangat di bela malah orang yang salah. Tak peduli bagaimana sikap Excel yang kecewa.


"Excel tunggu aku". Jennie berusaha mengejar langkah kaki Excel yang berjalan dengan cepat meninggalkannya dan berusaha meraih tangan Excel untuk berhenti."Tolong berhenti".


"Aku sangat malu Jennie, aku tidak menyangka kalau kau akan berbohong padaku dan memfitnah Abel, kau tau aku tidak suka di bohongi". Jennie menundukkan wajahnya dan memperlihatkan wajah memelas.


"Aku minta maaf aku salah, aku hanya tidak suka Abel menindasku lagipula sebelum kau datang dia mengataiku dengan bilang jika aku wanita yang tak baik".


Excel menghela nafas, terfikir jika apa yang Abel lakukan sekarang adalah karena perbuatannya dan juga kesalahannya hingga membuat Jennie juga jadi di benci Abel. Excel berfikir ini semua bukan sepenuhnya salah Jennie toh dia juga berbohong mengatakan tak ada apa-apa padahal sebenarnya ia sudah melakukan sesuatu yang amat fatal dan ia sesali.


"Baiklah aku harap kau tidak melakukan itu lagi". Jennie mengangguk senang, ia berhasil meyakinkan Excel dan tak jadi membuat Excel marah kepadanya. "Jangan marah padaku atau aku akan sedih". Ujarnya.


"Iya". Jennie mendekat dan Excel membawanya dalam dekapan, mereka berpelukan erat namun tanpa Jennie ketahui Excel merasa bersalah, "aku juga minta maaf Jennie karena telah melakukan kesalahan di belakangmu". Gumamnya dalam hati.


Bersamaan dengan itu Abel, pak Bambang dan Papa Rey yang keluar dari ruang cctv dan hendak menuju ke ruang meeting karena pak Bambang sudah menunggu. Tapi saat hendak melangkah Abel tak sengaja melihat Jennie dan Excel yang berpelukan dari kejauhan.


Ia tak peduli kala tertinggal pak Bambang dan papa Rey karena melihat Jennie dan Excel yang masih bisa berbaikan. Abel menyentuh dadanya yang terasa sakit walau sudah berusaha melupakan dan membenci Excel entah mengapa ia masih merasakan sakit yang sama, ternyata tak semudah itu melupakan Excel.


"Mer". Panggil papa Rey yang menyadari kala Abel tertinggal di belakang. Abel menoleh dan melihat papa Rey dan pak Bambang yang menunggunya.


Abel menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit dan melangkah pergi menyusul papa Rey. Sepertinya Abel harus lebih kuat dan lebih tahan untuk melihat hal seperti itu lagi di masa datang. Dan tak melupakan bagaimana kejamnya Excel yang tak punya hati bahkan tak mau bertanggung jawab kepadanya.

__ADS_1


Papa Rey kembali ke ruangannya sementara Abel dan pak Bambang ke ruang meeting melanjutkan meeting yang tertunda akibat insiden tadi. Abel tak peduli Jennie akan ikut meeting atau tidak lagipula setelah Jennie membuat nama baiknya tercoreng dengan fitnah Abel jadi terfikirkan ide untuk membalasnya.


"Sepertinya Jennie lupa meetingnya, akan aku telfon sebentar". Pak Bambang meraih hp yang ada di saku celananya namun Abel menghentikan. "Pak aku rasa anda tidak perlu menghubungi Jennie".


Pak Bambang mengernyit dan tak segera mengembalikan hpnya. "Kalau tidak di hubungi pasti dia akan lama". Abel menautkan jemarinya di atas meja dan tersenyum simpul penuh arti. "Setelah aku fikir Jennie kurang cocok menjadi brand ambasador produk baru yang kami buat jadi akan lebih baik jika kita mengganti modelnya saja".


"Tapi bagaimana dengan Jennie dan agensinya ?". Tanya pak Bambang.


"Jangan khawatir itu biar jadi urusanku lagi pula kalau dilihat Jennie tak terlalu cocok dengan produk kosmetik ini karena dia terlalu tua lagipula produk kita tertuju pada gadis remaja yang baru mengenal makeup sedangkan dia sudah berumur 20 lebih". Pak Bambang tak menyatakan keberatan lagi mengingat baru saja Abel di fitnah Jennie ia mengerti jika Abel mungkin belum bisa memaafkan apalagi kini profesinya juga di pertaruhkan kalau ia membela Jennie lebih jauh.


"Baiklah aku hanya sutradara, masalah modelnya siapa aku tidak masalah". Abel tersenyum senang. Kini biarlah ia jadi gadis yang pendendam dan akan membalikkan semua yang Jennie berikan kepadanya.


******


"Ada apa ini ?". Tanya Abel dan terlihat Jennie yang marah hendak melangkah kearahnya namun sekuat tenaga Lusi tahan. "Maaf nona tapi nona Jennie memaksa masuk padahal dia belum membuat janji bertemu". Ujar sang sekertaris menjelaskan dan Abel hanya ber o ria dalam hati, ia sudah menduga apa maksud kedatangan Jennie ke kantornya hari ini.


"Nona Jennie silahkan buat janji terlebih dulu, dan sebelum itu kau lakukan jangan ganggu aku karena aku sibuk". Abel dengan santainya mengatakan itu tak memperdulikan wajah Jennie yang sudah berang hendak menerkam Abel.


"Kurang aj*ar". Abel menutup pintu ruangannya dengan santai, semakin lama suara Jennie tak terlalu terdengar berasamaan dengan pintu yang semakin rapat tertutup. Abel melangkah menuju ke meja kerjanya namun baru juga duduk Jennie menerobos masuk dan langsung menghampiri Abel.


"Kenapa kau menggantikanku menjadi model produk itu ? Apa maumu apa kau belum cukup setelah mempermalukanku ?". Abel hanya memutar bola mata jengah, tak peduli jika Jennie menggebrak mejanya, sudah ia kira jika Jennie akan protes mengenai hal itu.

__ADS_1


"Dengar ya mau aku mengganti dirimu atupun tidak itu terserah aku, lagipula kau sudah terlalu tua untuk produk baru kami jadi tidak salah kan kalau aku mengganti model dengan yang lebih muda".


Jennie kesal bukan main hendak ia mencakar wajah Abel namun lebih dulu penjaga datang dan menyeret Jennie keluar dari ruangan itu tanpa hormat bahkan bisa-bisanya Jennie mengomel seraya di seret. "Aku akan membuat perhitungan denganmu?". Begitulah yang bisa Abel tangkap di Indra pendengarannya.


"Dasar wanita bar bar". Abel dengan elegan tak menghiraukan kedatangan Jennie dan kembali melanjutkan pekerjaannya hingga akhirnya jam kerja berakhir dan sejenak meletakkan bolpoin lalu bersandar pada kursi.


Tubuhnya pegal dan minta untuk segera diistirahatkan, ia mengemas barangnya untuk pulang dan keluar dari ruangan menuju ke parkiran tempat mobilnya di parkiran. Beberapa kali pegawai yang lain menunduk dan memberi hormat kepadanya saat berjalan karena tau jika Abel adalah anak dri bos mereka.


Sudah biasa bagi Abel menerima hormat dari bawahannya setelah pertama kali ia di perkenalkan sebagai putri dari pemimpin tertinggi dan juga calon pemimpin di masa depan.


Langkahnya terhenti di sebelah mobilnya yang terparkir di parkiran itu, ia mengeluarkan kunci mobil dan hendak membuka pintu namun tangan seseorang dari belakang membekap mulutnya dengan sapu tangan. Dan orang yang lainnya mengikat tangan Abel agar tak memberontak saat mereka masukkan ke dalam mobil.


.


.


.


.


.

__ADS_1



Dan mbak Jenniepun berkata jangan lupa tinggalkan jejak dan vote yang banyak.


__ADS_2