Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Mengaku Kalah


__ADS_3

Mereka menunggu hasilnya keluar dan dokter telah melihat hasilnya untuk di beritahukan kepada Excel dan Abel, namun sebelum memberitahukan hasilnya dokter tersebut malah mengulurkan gangan, dengan rasa bingung Abel menjabat tangan sang dokter.


"Selamat atas kehamilanya ya, sekarang nyonya sedang mengandung". Dokter tersebut telah melepaskan jabatan tangannya ke Abel.


Namun gadis itu masih tercengang setelah mendengar hasil tes yang harusnya tentang kesuburan Abel dan juga Excel, bukannya malah mengenai hasil kehamilan. Sangat sulit untuk di percaya sekaligus sangat senang.


"Dokter bercanda ya ?". Tak jauh berbeda dengan Abel yang terkejut, Excel pun begitu dan ia tak mengira akan mendengar kabar yang membuatnya bahagia sekaligut takut jika semuanya hanya bercandaan sang dokter untuk menyenangkannya dan lalu ia akan kecewa kembali.


"Untuk apa saya bercanda, lagi pula apakah tuan dan nyonya tidak senang dengan kabar kehamilan ini ?". Sang dokter merasa bingung, dari sekian banyaknya pasien yang ia tangani kali ini ia menemukan pasien yang terlihat bingung dan seperti tidak senang bahkan meragukan hasil kerjanya.


"Jadi benar aku hamil dok ?". Abel bertanya lagi untuk memastikan, dan ia menanti jawaban dokter yang menyatakan bahwa dirinya hamil dan indra pendengarannya masih baik-baik saja. Bukan apa-apa hanya saja ia takut terlalu senang akan hal yang masih belum pasti.


"Iya nyonya sedang hamil, kalau masih belum percaya kalian bisa melakukan USG, dan nanti akan terlihat". Jelas sang dokter.


Abel dan Excel saling menatap, melontarkan senyuman bahagia satu sama lain setelah mendengar adanya titipan Tuhan yang tumbuh dari dalam rahim Abel. Masih sulit di percaya jika ada makhluk hidup lain di dalam dirinya.


"Akhirnya kita akan punya anak kak".


"Iya akhirnya aku akan menjadi orangtua dan kita akan di panggil dengan sebutan ayah dan ibu". Mereka saling berpelukan meluapkan perasaan bahagia yang sulit di jelaskan dengan lisan, yang mereka tunggu dan harapkan akhirnya datang di saat yang tepat dimana mereka memang menunggu kehadiran buah hati.


Pelukan mereka terlepas, sejenak Abel bingung akan dirinya yang tak mempunyai gejala layaknya orang hamil pada umumnya dan bahkan tak ada muntah atau apapun hungga tak menyadari jika sedang hamil.


"Dokter kok aku nggak pernah merasakan muntah atau apa ya, kan biasanya orang hamil muntah gitu, malah suamiku yang muntah terus dok, apa itu normal ?". Abel meminta penjelasan lebih lanjut, semua tentang kehamilan ini adalah hal baru baginya.


"Suami ngidam dan mengalami gejala-gejala kehamilan seperti yang dialami istrinya ketika mengandung dalam dunia medis dikenal dengan nama couvade syndrome. Sindrom kehamilan simpatik ini membuat suami mengalami mual, kram, dan gejala kehamilan lainnya. Bisa dibilang semakin kuat ikatan batin suami dengan sang istri, maka gejala yang ia alami juga lebih intens".


"Terus kapan hilangnya dok ?". Tanya Excel, ia senang Abel hamil hanya saja kalau ia yang malah merasakan apa yang orang hamil alami tentu akan terasa aneh baginya dan juga lingkungan sekitar.


"Bisa hilang saat beberapa minggu kemudian atau bisa trimester pertama tapi bisa juga saat bayinya sudah lahir". Imbuh sang dokter.

__ADS_1


Excel hanya bisa tersenyum kecut, sepertinya memang ia yang akan merasakan semua gelaja itu karena saat ini Abel terlihat baik-baik saja sementara dirinya yang malah mual saat mencium bau telur pada martabak yang di belinya tadi malam. Tapi untuk bayi pertama mereka ia harus tahan dengan semua cobaan yang akan datang.


******


Banyak kendaraan berlalu lalang di jalanan hingga terasa sangat ramai. Hari itu hujan gerimis saat mereka kembali dari rumah sakit, kabar baik mereka bawa untuk kedua keluarga.


Tadi Excel sudah menghubungi orangtuanya yang berada di luar negri, respon mereka tak kalah bahagianya dengan dirinya, ia senang bisa membuat kedua orangtuanya juga senang dan bayi mungil yang sudah di nantikan akan segera tiba.


Tak hentinya Excel mengelus perut rata sang istri sambil menyetir dan senyumnya sedari tadi tak luntur. Lelaki itu bahagia terlihat sangat jelas dari raut wajahnya. Begitu juga Abel yang mengelus perut ratanya dan tak menyangka ada makhluk kecil penghuni rahimnya.


"Nggak sabar deh kak aku kasih tahu mama sama papa". Mobil telah melalui jalanan yang hendak ke rumah papa Rey, semakin dekat dan rumah itu sudah dapat terlihat atapnya dari dalam mobil, ia tak sabar.


"Iya aku juga nggak sabar lihat ekspresi papa, eh tapi bukannya jam segini papa masih kerja ?". Waktu menunjukkan pukul 2 siang, dan ia sangat yakin jika sang papa malah sedang sibuk-sibuknya di kantor, apalagi dengan Abel yang tak masuk kerja. Pasti pekerjaan papa bertambah 2 kali lipat.


"Iya juga, tapi seenggaknya mama ada dirumah jadi kita bisa kasih tau mama dulu".


Mobil Excel telah sampai di teras dan ia dengan semangat membukakan pintu bagi sang istri, tak lupa juga menggandeng tangannya. Excel memperlakukan Abel dengan begitu hati-hati layaknya porselen yang mudah pecah. Maklum saja ini adalah kehamilan pertama bagi Abel dan calon anak Excel yang pertama.


"Aku kan khawatir". Mereka masuk ke dalam rumah, seperti yang diduga bahwa rumah sepi tak terlihat orang sama sekali, bahkan mama Dina juga sedari tadi tak terlihat sejauh mata memandang.


Suara kaki membuat perhatian mereka teralihkan, di sana mama Dina masuk ke rumah dengan membawa vas lengkap dengan rangkaian bunga aneka jenis dan warna, nampaknya mama Dina dari kebun belakang.


"Loh kalian datang ? Kok nggak ngabarin dulu ?".


"Iya ma memang kita mau ngasih kejutan". Abel dan Excel saling melontarkan senyum, membuat mama Dina penasaran akan kejutan yang sebenarnya mereka sembunyikan dan saat perut Abel di elusnya, mama Dina kian penasaran.


"Sebenarnya aku sedang......".


******

__ADS_1


"Kau hamil ?". Papa Rey menatap Abel tak percaya, putri kecilnya tengah hamil di usia muda dan bahkan tergolong baru menikah. Belum genap setahun dan Abel sudah berbadan dua. Papa Rey langsung melontarakan tatapan matanya ke mama Dina untuk meminta penjelasan karena sang istri terlihat tak terkejut. " Apa mama sudah tau ?".


"Mama di beritahu tadi saat mereka datang tapi di larang kasih tau papa dulu katanya". Teringat akan tadi saat Abel memberitaukan perihal kehamilannya, vas bunga yang mama Dina bawa hampir saja jatuh akibat keterkejutan dan ia bergegas meletakkan vas tersebut dan mendekat kearah Abel.


Abel dan juga Excel meminta kepada mama Dina agar merahasiakan ini dari papa Rey karena mereka ingin memberitahukan kabar baik ini sendiri. Mama Dina setuju dan saat papa Rey pulang nyatanya keterkejutan itu tak berbeda dari mama Dina, bahkan mata papa Rey hampir lepas dari tempatnya.


"Wah kecil-kecil udah hamil". Alvin heran dan tersenyum meledek, ia masih mengaggap kalau Abel layaknya anak kecil dan sekarang akan melahirkan anak kecil.


"Kenapa ? sirik aja". Abel melengos tak memperdulikan Alvin yang terus saja menganggu kesenangannya dan tatapan Abel kembali beralih ke papa Rey. "Papa nggak mau ngucapin selamat buat kehamilanku ?". Tanyanya seraya mengelus perut buncit tersebut.


"I-i iya selamat". Papa Rey tergagap, baru kali ini ia tak tau tahu harus berekspresi seperti apa, karena ini benar-benar kejutan besar untuknya.


Excel berpindah tempat duduk yang semula di samping Abel kini berada di samoing papa Rey, ia tersenyum melihat mertua sekaligus papanya yang sangat terkejut. Excel mendekat dan membisikkan sesuatu di dekat telinga papa Rey. "Abel udah hamil, berarti Abel udah nggak boleh kerja kan pa ?".


Papa Rey langsung melihat Excel, menghunuskan tatapan tajam pada menantunya itu. Ia kalah akan persyaratannya sendiri, bukan bermaksud memberatkan Abel tapi ia ingin mempunyai pewaris dan setiap anaknya dapat warisan. Tapi sekarang karena ia sudah kalah akan persyaratan yang di buatnya sendiri maka, ia akan berlaku adil dan ia mengakui kekalahannya.


"Iya iya".


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Belum tamat tapi akan segera jadi jangan unfavorit dulu ya.


Biasa aku minta dukungan like, komen, dan tip


__ADS_2