Love You Brother

Love You Brother
Mempercepat


__ADS_3

Abel merasakan rasa haus pada tenggorokannya, ia melangkah ke arah dapur untuk mencari air guna menghilangkan dahaga. Kakinya sudah lebih baik walau ia harus berjalan pincang. Tapi kondisi keseluruhan baik dan bisa melakukan semuanya sendiri.


Setelah sampai di dapur ia membuka kulkas dan mengambil satu botol berisi air dingin yang ia tuang ke gelas dan di teguknya. Abel hendak ke depan namun samar-samar ia mendengar suara seseorang yang sedang bertengkar.


'*Apa kau masih marah ?'


'Tentu saja memangnya siapa yang suka kalau tunangannya malah bermesraan dengan wanita lain ?'


'Aku minta maaf Jennie tapi kau tau sendiri kan aku hanya menganggap Abel sebagai adik tidak lebih'


'Aku tidak mau tau dan jangan mendekat padaku, aku masih marah padamu'


'Baiklah kau mau apa supaya percaya kepadaku ?'


'Aku ingin pernikahan kita di percepat'


'Baik seperti yang kau mau aku akan memepercepat pernikahan kita*'


Abel yang tengah mendengar percakapan mereka dari balik dinding merasa aneh, ia menyentuh dadanya yang terasa nyeri. Mungkinkah ia sedih mendengar perkataan Excel dan Jennie yang hendak mempercepat pernikahan mereka.


Abel pergi dari tempat itu dengan wajah yang berubah sendu, entah ia sadar atau tidak dengan kondisi hatinya yang pasti ia sedang tak baik. Baru teringat sedari pagi Abel belum melihat Robin, entah dimana lelaki itu berada.


Saat di belakang rumah Abel melihat Robin yang sedang menelfon seseorang. Ia akan menghampiri Robin nanti setelah lelaki itu selesai dengan urusannya. Namun entah mengapa dilihat dari raut wajah Robin yang seperti sangat serius Abel jadi sedikit penasaran dengan apa yang sedang Robin bahas di telefon.


'*Tenang saja semua masih terkendali'


'Jangan khawatir aku bisa mengendalikan semua'


'Aku masih dipercayai oleh semuanya dan mereka sangat mempercayaiku*'


Setelah selesai menelfon Robin memasukkan hpnya kedalam saku celana dan berbalik mendapati Abel yang berada di belakangnya dengan tatapan datar. Abel bisa melihat raut wajah Robin yang terkejut kala melihatnya.


"Merry sejak kapan kau disini ?". Abel hendak bertanya siapa yang Robin telfon dan apa yang sedang di bahasnya tadi tapi ia urungkan.


"Aku baru saja datang, aku mencarimu sedari tadi". Abel bisa melihat senyuman yang terlukis di bibir Robin, entah ia kini tak nyaman dengan senyuman itu.


"Aku tadi sedang menghubungi seseorang tentang pekerjaan yang kutinggalkan, maaf kalau membuatmu mencariku". Tanpa Abel tanya Robin terlebih dulu menjelaskan pertanyaan yang ada di benak Abel, entah Robin berkata jujur atau tidak yang pasti setau Abel Robin orang baik dan hanya itu yang perlu ia tau.


"Tidak apa, aku yang seharusnya minta maaf karena memintamu menemaniku sehingga kau meninggalkan pekerjaanmu".


Keduanya masuk ke dalam rumah dan Abel menyingkirkan pemikiran yang mengganjal tentang Robin, ia percaya kalau Robin hanya berbicara tentang pekerjaan. Mungkin karena Abel dalam suasana hati yang kurang bagus hingga membuatnya terlalu banyak berfikir tentang Robin.

__ADS_1


******


Sore ini mereka semua telah berkemas untuk pulang karena liburan telah usai dan kini saatnya untuk mereka semua kembali ke aktivitas masing-masing esok hari. Barang yang sudah kemas mereka masukkan ke dalam bagasi mobil.


"Aku akan merindukan tempat ini". Ujar Abel seraya melihat ke arah Villa kala mereka sudah berada di luar.


"Iya tempat ini sangat menyenangkan, aku senang kau mengajakku kesini". Ucap Robin kepada Abel yang berdiri tak jauh darinya.


Berbeda dengan semua yang nampak sedih, Jennie juga merasa sedih tapi kesedihannya bukan karena pergi dari tempat itu melainkan karena seluruh badannya gatal dan berwarna kemerahan lantaran produk yang ia pakai hingga menyebabkan kulitnya terasa gatal.


"Masih gatal ?". Tanya Excel kepada Jennie.


"Iya gatal banget, ini semua gara-gara kita kesini". Ujarnya sebal, ia tak suka berada di tempat itu karena merasa kalau tempat itu membawa kesialan baginya.


"Jangan salahkan tempatnya, kau yang terlalu banyak memakai kosmetikmu, sudah jangan di garuk lagi nanti jadi iritasi".


Abel masih merasa aneh, seingatnya kalau memakai produk yang terlalu banyak, jika tak cocok tak akan separah itu. Ia berfikir pasti ada yang menjahili Jennie hingga jadi seperti itu, dan orang itu pastilah orang yang tertawanya paling lebar.


Abel menggeser tubuhnya mendekati Alvin yang tengah menahan tawa melihat Jennie. "Ini pasti kerjaanya kak Alvin kan ?". Bisiknya pelan ke dekat telinga Alvin.


"Iyalah, siapa suruh tu cewek berisik banget tiap hari ngeluh ini itu, gaga-gara tu cewek juga gue sampai trauma makan telur, takut ada cangkang lagi". Bisiknya lagi.


Alvin bergidik ngeri terbayang rasa telur krispi yang kini membuatnya tak ingin makan telur lagi. Hanya untuk memasak telur saja tidak bisa bahkan cangkangnya sampai ikut kegoreng.


Excel dan Jennie sebelumnya telah pamit untuk langsung pulang ke rumah dan tidak mampir ke rumah papa Rey dulu. Jadi saat kini mereka sampai hanya mobil milik papa Rey dan milik Robin yang kesana.


"Aku langsung pulang ya". Pamit Robin kepada Abel kala mereka sudah sampai dan mereka juga baru keluar dari mobil.


"Tidak mau mampir dulu ?". Mama Dina menawarkan Robin untuk mampir lagipula perjalanan dari Villa ke rumah tidaklah sebentar, setidaknya biar Robin beristirahat terlebih dulu.


"Tidak tante, maaf lain kali saja aku mampir". Ujarnya.


"Baik salam untuk keluargamu ya". Ucap papa Rey.


"Iya om".


Robin melangkahkan kakinya menuju ke mobil tapi baru membuka pintu mobilnya, ia berbalik mendekati Abel yang hendak masuk ke rumah. "Oh ya hari sabtu malam temanku berulang tahun jika kau tidak keberatan maukah kau datang bersamaku ?".


Abel melihat ke arah papa Rey dan juga mama Dina seolah meminta persetujuan. Kedua orang tuanya mengangguk Abel menyetujui permintaan Robin. Lagi pula itu masih seminggu lagi, dan Abel rasa kakinya sudah benar-benar sembuh di hari itu.


"Iya aku akan datang bersamamu".

__ADS_1


Senyuman terlihat di bibir Robin kala Abel menyetujui. Ia kembali ke pamit dam masuk ke dalam mobil menuju pulang untuk beristirahat.


********


Abel melihat ke cermin kala hendak pergi ke pesta yang di selenggarakan oleh temannya Robin. Ia hanya menggunakan dress selutut dan juga riasan tipis. Namun saat sudah berdandan ia merasa sangat malas untuk pergi.


Padahal ia sudah menyetujui permintaan Robin dan tidak enak juga untuk membatalkannya. Tepat saat Abel merasa ragu, ia mendapat notif jika Robin sudah ada di depan untuk menjemputnya.


"Jadi di mana pestanya berlangsung ? Apakah tempatnya jauh ?". Tanya Abel saat ia sudah duduk di kursi samping Robin.


"Nanti kau juga akan tau". Ujarnya dan menyalakan mesin mobil.


Karena malam minggu jadi jalanan sangat ramai, mereka juga sedikit terjebak macet ketika semua sedang keluar rumah menikmati malam minggu. "Sepertinya akan lama untuk sampai ke tempat tujuan".


"Kau kabari saja temanmu, kalau kita akan terlambat". Robin mengangguk dan mengetik sebuah pesan kepada temannya karena ia akan sedikit terlambat akibat macet.


Setelah selesai mengetik pesan, Robin memasukkan kembali hpnya ke saku kemeja. Didepan mereka mobil dan juga motor sedikit demi sedikit berjalan walau dengan lambat. Dan setelah berhasil menembus jalanan yang macet mobil Robin telah sampai di tempat pesta temannya.


Abel menyernyit saat tau tempat apa yang dijadikan acara pesta oleh teman Robin. Ia melihat ke Robin dengan tatapan penuh tanya dan ragu. "Apa benar ini tempatnya ?"


"Iya, ayo masuk".


Abel kembali membaca tulisan yang terpampang dengan besar dan jelas pada bagian atas depan tempat itu yang bertuliskan.


'NIGHT CLUB'


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan votenya


Happy weekend 😊


__ADS_2