
Abel melihat banyak baju yang berada di lemarinya, berjejer rapi dan di susun berdasarkan warna namun kini baju tersebut berubah menjadi tumpukan yang menggunung saat ia melemparkannya ke kasur.
Bukan tanpa alasan karena ia kebingungan memilih, ia melemparkan ke kasur hingga menjadi gunung yang pasti nantinya bi Asih yang akan repot akibat membereskan semuanya. Setelah berganti baju Abel memoleskan make up hingga wajahnya kian terlihat cantik dan mempesona.
Abel keluar dari kamar setelah menenteng salah satu tas yang serasi dengan dress yang di pakainya. Namun langkahnya terhenti dan duduk di kursi untuk mengambil hp guna mengabadikan salah satu momen dirinya yang lagi cantik dengan polesan make up.
"Kau mau kemana ?". Suara seseorang lelaki yang melihat Abel dari kejauhan membuat Abel dapat mengenalinya walaupun tanpa menoleh. Abel berdecak karena kesenangannya terganggu dan memasukkan hp tersebut kedalam tas lalu beranjak dari duduknya.
"Apa kau tidak lihat penampilanku ? Kalau aku mengenakan gaun tentu aku akan ke pesta". Abel melangkah hendak berangkat ke tempat tujuan sebelum ia terlambat dan membuat orang yang punya acara menjadi tersinggung.
"Ini sudah malam lebih baik kau tidur dan jangan keluar". Abel melihat jam dinding yang baru menunjukkan angka delapan, ia merasa tersinggung lantaran Excel menyuruhnya seenak hati bahkan mereka tak ada hubungan hingga membuat Excel mempunyai hak untuk memerintahkannya.
Tanpa menjawab ataupun mengikuti perintah Excel yang menyuruhnya untuk tidak pergi, Abel memilih untuk melangkah begitu saja tanpa menganggap omongan dan keberadaan lelaki itu. Namun tangan Excel dengan cepat mencekal lengan Abel hingga membuatnya berhenti.
"Aku bilang kau tidak boleh pergi". Ucapnya dengan nada yang lebih tinggi.
Abel menghentakkan tangan Excel sangat kuat hingga terlepas dari tangannya. "Aku tidak butuh kau untuk memerintahku, memangnya siapa kau sehingga aku harus patuh ?".
Excel terdiam dibuatnya, hendak membuka mulut namun kembali ia urungkan setelah perkataan Abel yang layaknya bidak catur mematikan langkahnya. Dan sekarang ia tak bisa berkata-kata lagi hingga saat Abel pergi Excel masih diam saja.
Abel melajukan mobilnya sendiri ke sebuah hotel dimana tempat penyelenggaraan pesta tersebut diadakan. Tak lupa ia membawa kado untuk yang punya pesta karena ini merupakan pesta ulang tahun Felly sahabatnya waktu kuliah.
******
Begitu masuk Abel sudah bisa melihat seorang gadis yang berdiri di sana sedang mendapatkan ucapan terima kasih dan juga kado dari para tamu. Gadis tersebut melambaikan tangan dan mengulas senyum saat melihat kedatangan Abel.
"Selamat ulang tahun ya Fel". Ucapnya seraya memeluk Felly tak lupa memberikan doa di salah satu hari bahagia milik Felly.
__ADS_1
"Thanks ya gue kira lo nggak bakalan dateng ?". Mereka melepaskan pelukan masing-masing dan tersenyum. "Pastilah aku dateng".
Mereka saling berbincang melepas rindu, apalagi setelah lulus kuliah keduanya menjadi jarang ketemu dengan kesibukan masing-masing. Hanya bertukar kabar lewat hp saja, itu juga kalau mereka berdua tidak sibuk.
Namun tawa mereka mereda tatkala ada seorang pria paruh baya yang mendekat ke arah Felly tapi sangat terkejut saat mengetahui jika Abel juga ada disana bersama putrinya karena lelaki tersebut adalah papanya Felly.
"Ternyata nona Merry kenal dengan putriku ?". Tanyanya seraya melihat kedua gadis itu bergantian.
Abel hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi pertanyaan papa Felly namun sepertinya Felly tidak demikian yang mengatakan kalau ia dan Abel sudah saling kenal dekat semenjak kuliah di universitas yang sama.
"Ternyata seperti itu, Fel kamu contoh nona Merry ini dia sangat hebat, dan juga membanggakan yasudah papa tinggal dulu ke rekan bisnis papa". Setelah papanya Felley pergi seketika suasana antara Felly dan Abel berubah.
Dengan Felly yang menatap Abel layaknya melontarkan laser pada teman baiknya tersebut seolah Abel berubah dari teman menjadi musuh dalam beberapa detik saja. Dan hal itu di sadari Abel yang kurang suka dengan tatapan Felly.
"Ngapain sih lihatin aku kayak gitu ?". Tanyanya.
"Lo tau nggak kalau lo selama ini di bangga-banggain bokap gue, bilang Merry hebatlah, masih muda tapi udah jago ini itu, Merry ini Merry itu sampai gue pernah bersumpah kalau gue ketemu sama yang namanya Merry pengin gue sleding kepalanya, eh taunya yang namanya Merry malah elo".
"Baru tau lho aku pak Anto itu papa kamu ?". Abel mencoba mengalihkan pembicaraan yang terasa canggung setelah kepergian papanya Felly dan ternyata berhasil.
"Iya dia bokap gue, lha lo kan udah bolak-balik ke rumah gue masak nggak tau bokap gue siapa ?". Tanyanya balik yang di jawab Abel dengan menggendikkan bahu karena memang kalau ia main ke rumah Felly yang ada mereka akan langsung ke kamar, menonton drakor atau mengerjakan tugas bersama.
"Tunangan kamu dimana ?". Tanya Abel dan Felly bukannya mengatakan tapi menunjuk salah seorang laki-laki yang memakai jas warna abu-abu dengan dasi navy sedang berbincang di sebelah air mancur buatan yang tingginya sekitar dua meter.
Abel memberikan kado yang telah ia bawa dan menyerahkannya ke tangan Felly, dan saat kado tersebut di buka binar mata Felly langsung terlihat. "Wah tau aja lo sukanya gue apaan".
Abel berdecak heran dengan Felly yang langsung membuka bungkus kadonya yang berisi anting berlian keluaran salah satu desainer perhiasan ternama, bahkan Felly langsung memakainya.
__ADS_1
"Nggak lihat tempat deh si eneng masa pakaianya di sini ?".
Felly bukannya malu malah terlihat senang seraya memamerkan kupingnya yang sudah tak lagi kosong. "Gimana cantik nggak, tapi kalau gue yang pakai sih apa aja cantik". Ucapnya percaya diri dan mendapat satu toyoran dari Abel.
"Nggak sadar diri emang".
"Thank ya, nggak nyangka gue dapet hadian beginian emang ada untungnya ya temenan sama orang kaya dan sukses". Sindirnya.
"Iya kayak mie instan sukses terus". Jawabnya yang malah membuat Felly tertawa namun seketika terhenti saat menyadari kalau Abel datang sendiri dan hendak mengenalkan Abel dengan salah satu tamu disana.
Tapi Felly mengurungkan niatnya daat melihat salah satu tamu yang baru hadir dan berjalan layaknya model dengan berkarisma. Felly tak merasa mengundang lelaki tersebut karena tak kenal tapi tak apa ia malah anggap lelaki tampan tersebut sebagai pencuci mata.
"Eh ada yang ganteng tuh arah jam 10, ganteng banget duh gue udah cantik kan ini ?". Felly melihat penampilannya sendiri dan kembali melihat lelaki tipenya tersebut.
Merasa sikap Felly yang berlebihan akan tamunya sendiri, Abel berbalik untuk tau siapa yang Felly maksud dan ia melebarkan mata mengetahui siapa orangnya. Lelaki yang ternyata dimaksud Felly ternyata adalah_".
"Excel...??"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Abel : Jangan lupa klik like, komen, subscribe