
"Emang kak Alvin mau apa ?". Tanyanya sambil masih mengawasi Alvin, karena ia merasa jika ada firasat tidak enak kalau menyangkut keinginan kakaknya tersebut. Bahkan ia merasa kalau senyum Alvin adalah bencana yang hendak menghampirinya.
"Gue mau penthouse". Ujarnya secara gamblang tanpa ada rasa canggung kepada adik dan juga calon adik iparnya.
Tapi entah Alvin sadar atau tidak dengan keberadaan sang mama yang berada di sampingnya dan siap mengarahkan tangan dan menrik kupingnya hingga rasa sakit bagaikan di gigit ribuan semut menghampiri.
"Aduuuh ma sakit". Alvin mengusap kupingnya yang ia yakini kemerahan jejak dari jari mama Dina yang begitu lihai menjewer, dan mendapat tatapan kesal dari Abel maupun Excel di depannya.
Ia sebal mendapat perlakuan seperti ini, lagipula dirinya tak merasa ada yang salah dengan permintaannya karena ia harusnya merasa keberatan karena di langkahi dan pastinya akan mendapat banyak pertanyaan mengenai kapan menikah setelah hari pernikahan Abel dilangsungkan.
"Kamu jangan keterlaluan ya Vin kalau mau kasih syarat pelangkah jangan yang membuat mereka susah dan keberatan dong". Mama Dina sangat kesal karena seakan Alvin memanfaat situasi dan meraup pundi kekayaan dari pernikahan ini.
"Nggak susah kok ya kan ?". Tanya Alvin kepada dua orang di hadapannya yang sangat kesal, tentu saja jawabannya mereka sangat keberatan.
"Yang bener aja kali kak emang nggak ada yang lebih gila lagi selain minta penthouse ? Minta aku buat pakai pakaian pocong tengah malem aja sekalian". Abel sangat kesal dan melipat tangannya di dada, ia fikir Alvin akan meringankan dirinya mengenai syarat pelangkah ini tapi nyatanya salah besar.
Dan Alvin malah mengeruk habis-habisan uangnya padahal uang Alvin sendiri ia yakini masih sangat banyak, apalagi Alvin belum butuh untuk keperluan keluarga karena belum menikah dan memiliki anak juga istri.
"Nggak, gue minta penthouse aja tapi kalau lo mau sana sekalian ke kuburan". Jawabnya enteng padahal tadi Abel bercanda tapi tak menyangka kalau Alvin tetap pada pendiriannya dan ia sungguh keberatan.
"Ma gimana ini masak di turutin ?". Abel menatap mama Dina dengan mata memelas, ia bisa tekor nanti kalau menuruti keinginan sang kakak yang tak masuk akal.
Mama Dina yang memang tak setuju dengan syarat dari Alvin langsung menoleh ke samping mendalapi putra keduanya yang masih santai memakan kue, ia tak habis fikir mengapa Alvin malah menyusahkan Abel juga Excel dan mencari kesempatan di saat seperti ini.
"Vin mending kamu minta yang lain, jangan yang aneh-aneh lagi". Mama Dina memberikan tatapan tajam layaknya singa yang siap memburu mangsa kalau permintaannya tidak di turuti dan akhirnya ia pasrah saat tak mendapat dukungan.
"Iya deh iya ganti". Alvin berfikir barang apa yang ia inginkan sebagai pengganti penthouse, lagipula nilainya harus lebih rendah mengingat mama Dina yang masih duduk di sampingnya dan pasti tak akan mendapatkan izin kalau syarat yang ia inginkan mahal.
__ADS_1
"Bingung, kalian emang mau nawarin apa ?". Alvin menjatuhkan pandangannya kepada Abel dan berganti ke Excel, menanyakan apa penawaran mereka sebagai pelangkah dan ia akan memilih mana yang menurutnya cocok.
"Jam tangan gimana ?". Kali ini Excel yang membuka suara menanggapi pertanyaan adik angkat rasa kakak ipar.
"Nggak gue udah punya banyak".
"Kalau jepit dasi gimana kak ntar aku beliin yang bagus pasti kak Alvin suka". Kini Abel yang menawarkan barang yang kiranya Alvin suka namun mendapat respon gelengan dari Alvin.
"Nggak kalau lo yang beli sama aja bohong, kan gue maunya di beliin dia". Tunjuknya ke arah Excel dengan dagu, dan Abel hanya bisa menghela nafas kecewa.
"Kamu mama masakin kue kesukaan kamu tiap hari gimana ?". Mama Dina ikut menawarkan, karena mama Dina merasa kalau kuenya tak pernah membuat lidah Alvin kecewa.
"Kue tiap hari yang ada aku gendut duluan ma sebelum dapat jodoh".
Baik Abel, Excel dan mama Dina menghela nafas kecewa karena tak berhasil membujuk Alvin untuk meminta syarat yang lain. Mereka tak tau apa yang diinginkan Alvin selain barang dengan nilai fantastis dan membobol tabungan.
"Nggak ya, gue nggak ada waktu buat ke luar negeri liburan".
Dan Excel lagi-lagi harus memutar otak karena gagal membujuk Alvin. Ia menunduk seraya berfikir barang apa yang harus di berikan sebagai pelangkah, namun matanya terpaku pada sepatu yang sedang di kenakan di kakinya.
"Bagaimana jika sepatu ?". Usulnya dan Alvin nampak berfikir keras sambil menimbang apakah sepatu yang di katakan oleh Excel akan sesuai dengan syarat sebagi pelangkah, ia tak ingin rugi tapi kasihan juga kalau memberatkan, tapi mengingat Excel kaya tentu ia lebih memilih tega sekalian saja di hitung pengorbanan bagi cintanya ke Abel.
"Emang lo nawarin sepatu apa ke gue, sepatu kan banyak". Tuturnya.
Excel mengambil hp yang tergeletak di meja dan mulai membuka password yang tertera, di situ sudah terpasang wallpaper dirinya dengan Abel dan rencananya setelah menikah akan ia ganti dengan foto pernikahan.
Semakin lama Excel menggulir layar di halnya dan memilih sepatu dengan harga senilai hampir ratusan juta rupiah, memang jauh jika di bandingkan dengan harga penthouse tapi siapa tau Alvin setuju dengan penawaran yang ia berikan.
__ADS_1
"Bagaimana dengan ini ?". Excel menyodorkan hpnya ke arah Alvin yang memperlihatkan sepatu kulit berwarna coklat gelap, sebenarnya bagus menurut Excel tapi tak tau juga selera Alvin.
"Kemurahan ini mah, jauh sama penthouse....aduuuh sakit ma". Jeweran di telinga kembali di dapat oleh Alvin di tempat yang sama dengan sang penjewer yang juga sama, ia heran sendiri mengapa sang mama hari ini hobi sekali menjewernya.
"Kamu itu yah udah bagus di kasih sepatu, kamu harusnya mempermudah bukannya menyulitkan". Geramnya dan melepas tangannya yang berada di telinga Alvin, meninggalkan bekas merah yang terasa berdenyut dan juga sakit apabila di sentuh.
"Iya deh iya sepatu aja". Ujarnya Alvin.
Dan mereka bertiga akhirnya bernafas lega karena Alvin tak jadi meminta penthouse. Apalagi Excel yang bisa menyelamatkan tabungannya untuk biaya menikah dan menghidupi Abel nanti setelah pernikahan berlangsung.
Sedangkan untuk Andre sang kakak sulung, Abel tak perlu cemas lantaran Andre sudah menikah duluan dan tak perlu pelangkah atau apapun itu.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf ya akhir-akhir ini aku sering kelelahan jadi upnya kalau nggak lemot ya nggak sesering up kayak iklan Sho*pee.
__ADS_1
Tapi kalian bisa baca novelnya mama Dina (Wanita Simpanan CEO) dulu yang udah tamat, biar nyambung karena ini sequelnya.