Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Bertemu Camer


__ADS_3

Mobil Excel terparkir sempurna di halaman depan rumah Abel yang luas tersebut setelah kemarin malam bilang ke Abel akan menjemput, namun ia tak memberitahu kemana arah tujuan mereka sehingga Abel penasaran di buatnya, bukan sengaja tapi memang lupa.


Baru masuk ia sudah melihat mama Dina yang hendak ke depan karena di fikir saat mendengar suara mobil adalah tamu tapi ternyata Excel. Ia menyapa mama Dina yang sekarang menjadi calon mertuanya dan tak ada rasa canggung diantara keduanya karena sudah saling mengenal.


"Mama apa kabar ?". Tanyanya dan saat wanita paruh baya tersebut menjawab jika kabarnya baik, Excel di persilahkan untuk duduk sebari menunggu Abel yang tak kunjung turun dari kamar.


Excel meminta izin kepada mama Dina untuk mengajak Abel pergi menemui orang tuanya, raut muka mama Dina terlihat terkejut namun berubah tersenyum.


Tentu ia mengerti maksud Excel membawa Abel ke rumah orangtuanya lagipula acara lamaran telah berlangsung bahkan seharusnya Abel sudah di bawa ke rumah orangtuanya Excel sebelum acara lamaran diadakan.


Dan sebagai orang tua juga mama Dina membenarkan keinginan Excel, dan merasa senang untuk Abel. Tak menyangka kalau anak gadisnya akan menikah meninggalkannya dengan cepat sebentar lagi. Padahal ia masih merasa kalau Abel tumbuh terlalu cepat.


"Kak Excel lama ya nunggunya ?". Suara Abel terdengar hingga mata mama Dina juga Excel beralih melihat kedatangan Abel yang telah siap dengan tas jinjingnya. Cantik seperti biasa dan senyuman indah terukir di bibir bulat dengan polesan lipstik merah terang layaknya buah cerry segar yang habis kena air hujan.


"Iyalah lama, kamu dandannya pakai acara lama". Bukan Excel yang menjawab melainkan mama Dina, heran sendiri ia dengan Abel yang selalu lama kalau berdandan dan ritual membangun gunung di pulau kapuk dengan tumpukan benang yang di pintal.


Sedangkan Abel hanya tersenyum nyenyir dengan jawaban mama Dina dan tak tersinggung sama sekali namun hanya sedikit malu kepada Excel yang ikut mendengarkan. Sebagai seorang adik ia tak terlalu malu tapi sekarang ia beralih status sebagai calon istri dan tentunya ia malu di depan Excel.


"Kan biar cantik ma". Jawabnya dan mama Dina menggeleng.


"Hari ini kita mau kemana kak ?". Tanya Abel karena ia sebelumnya tak di beritahu dengan jelas tujuan mereka dan juga lupa menanyakannya. Karena yang ia yakini pasti Excel akan mengajaknya ke suatu tempat yang selalu membuatnya bahagia. Walau kegembiraan itu muncul karena keberasamaan daripada tujuannya.


"Kamu nggak bilang ?". Sontak mama Dina terkejut karena ia fikir kalau Abel sudah mengetahui Excel hendak membawa Abel untuk mengakrabkan diri dengan calon besannya dan gelengan dari Excel memperjelas jika lelaki itu tak memberitahukannya.


"Lupa ma". Jawabnya membuat mama Dina menepuk dahi.


Seketika Abel melihat Excel dengan tatapan penuh tanya mengapa mama Dina seolah terkejut seperti itu, ia jadi penasaran sendiri dengan tujuan tempat mereka hendak pergi.

__ADS_1


"Memang kita mau kemana kak ?". Abel melihat Excel penuh tanya dengan rasa penasaran yang menghinggapi, dan saat Excel menggaruk kepalanya tentu ia merasa ada yang tak beres.


"Kita akan ke rumah orang tuaku". Seketika itu juga jantung Abel ingin melesat dari tempatnya dan akal sehatnya seakan menjebol ingin keluar. Ia bergeming di tempatnya berdiri, masih terpaku dan tak ingin kembali ke kenyataan.


"Kak Excel bercanda kan ?". Pertanyaan Abel diselingi oleh senyuman cemas seolah berharap jika Excel hanya bercanda saja karena jujur ia masih belum siap bertemu dengan orangtuanya, Excel mengingat Abel tak pernah bicara dengan kedua orangtuanya.


Mungkin kalau hanya sekedar basa-basi saja ia pernah tapi dengan statusnya sebagai calon istri Excel dan calon menantu, ia benar-benar butuh waktu mempersiapkan mental. Dan saat Abel kembali melihat Excel dengan gelengan sebagai jawaban lelaki itu, serasa ia ingin pingsan saja.


******


Dengan berbekal kue yang mama Dina sebelumnya buat, Abel dan Excel berada di dalam mobil melaju meninggalkan kediaman Abel menuju ke kediaman orangtuanya Excel. Gadis itu masih diam setelah Excel mengatakan tempat tujuan.


Padahal kue itu sebelumnya mama Dina buat khusus untuk papa Rey karena habis menghasilkan resep baru, tapi tak menyangka kalau yang akan mencicipi kue buatan mama Dina tersebut adalah sang calon besan.


"Udah jangan cemberut gitu dong". Excel tak menyangka kalau lupa akan menimbulkan kekesalan bagi Abel, padahal ia rasa kalau calon istri bertemu dengan calon mertua adalah hal biasa nyatanya tak sesederhana itu.


"Kak aku deg deg-an banget, kita kesini lain kali ya". Mereka sudah turun tepat di depan rumah orangtuanya Excel, saat melihat rumah itu Abel berbalik ingin pulang, rasa debaran jantungnya semakin meningkat dan ia yakini itu tak baik.


"Masa sudah sampai kita malah pulang". Excel meraih lengan Abel, menghentikan gadis itu yang hendak kabur dan mebuatnya kembali menghadap ke depan.


"Kak perutku mules, mana keringet dingin lagi kayaknya aku sakit deh, please kita kesini kapan-kapan aja aku janji perisiapannya nggak bakalan lama". Abel mengacungkan dua jari, sungguh ia tak siap dan takut sekali dengan respon orangtua Excel nantinya.


"Nggak perlu persiapan apapun, yakin orangtuaku nggak sejahat yang ada di imajinasi kamu tentang mertua galak". Perkataan Excel tak membuat tenang bahkan jantung Abel semakin berdebar, semakin lama ia takut kehabisan oksigen.


"Kalau mereka membatalkan pernikahan kita setelah ketemu aku gimana ?". Tanyanya lagi memastikan kalau ini akan berjalan dengan lancar walau hatinya sangat cemas akan segala kemungkinan yang akan terjadi.


"Kamu tenang aja, masak sudah melamar kamu terus batalin gitu aja kecuali kalau kamu yang ingin membatalkan pernikahan". Excel mengacak rambut Abel hingga yang tadinya rapi kini berantakan dan Abel merapikan dengan salah satu tangannya.

__ADS_1


"Tapi kak....".


"Sudah semakin kita lama disini ketakutan kamu akan semakin besar, lebih baik kita segera masuk dan buktikan seperti apa orangtuaku itu".


Dengan berat hati dan berat kaki, Abel melangkah walau fikirannya ingin kabur dan pingsan saja. Meski begitu yang ada nantinya hanya akan menimbulkan kesan tak baik dan kurang sopan bagi sang calon mertua.


Pintu rumah telah Excel buka tanpa rasa canggung atau menunggu si pemilik rumah karena ia sendiri adalah anak sang pemilik rumah. Tanpa menunggu lama kedua orangtuanya Excel keluar.


Nampaknya mereka telah di beritahu oleh Excel sebelumnya kalau akan mengajak Abel datang kemari, itu artinya hanya Abel saja yang telah Excel beritahu. Ingin menyalahkan Excel juga tiada artinya saat Abel sudah di hadapkan dengan rasa canggung seperti ini.


"Kami datang mi pi".


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak (like, komen, vote poin dan koinnya)


__ADS_2