Love You Brother

Love You Brother
Di Gua


__ADS_3

Abel melihat Excel dengan tatapan tak percaya, benarkah lelaki itu yang telah menolongnya ? Rasanya sangat sulit untuk dipercaya, bukan Abel meragukan kebaikan Excel hanya saja tidak semestinya untuk mereka saling tolong-menolong karena baik Abel dan Excel lebih cocok menjadi lawan atapun orang asing yang tak saling kenal.


"Bagaimana kondisimu ? Apakah ada yang lecet atau sakit ? Demammu bagaimana apa sudah turun ?". Excel mengecek tubuh Abel apakah ada lagi yang sakit dan perlu diobati. Dan menyentuh dahi gadis itu untuk mengukur apakah demamnya sudah turun atau malah makin parah.


"Singkirkan tanganmu dariku". Abel menepis tangan Excel yang belum sempat menyentuh dahinya, ia juga melepaskan jaket yang ada di tubuhnya dan memberikannya kepada Excel dengan cara yang kasar karena itu adalah jaket milik Excel.


"Kenapa kau yang ada disini ? Dimana yang lain dan di mana Robin ?". Tanyanya seraya melihat ke belakang Excel, tak ada siapapun di sana kecuali mereka.


"Mungkin mereka kembali ke villa untuk berteduh, kau tidak perlu memikirkan apapun sekarang yang terpenting adalah kondisimu". Abel memalingkan wajahnya, tak peduli dengan perkataan Excel.


Excel mendekatkan salah satu tangannya untuk memegang dan mengangkat kaki Abel yang terkilir hingga membuat gadis itu terkejut dengan perlakuannya.


"Apa yang kau lakukan lepaskan kakiku". Pekik gadis itu namun tak membuat Excel menurunkan kakinya yang ada Excel malah meletakkan kaki Abel di atas pahanya dan menyobek kaus yang tengah ia pakai di bagian sampaing.


"Aku akan membalut kakimu agar tak semakin parah, lihat warna birunya sudah semakin menjalar nanti kalau kita sudah kembali kau harus segera di periksa". Abel diam saja, ia hanya sesekali menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit akibat balutan yang Excel lakukan di kakinya.


"Apa sakit ?". Tanya lelaki itu dan Abel memberikan tatapan tajam.


"Menurutmu apa aku terlihat kesakitan ?". Tak menjawab pertanyaan Excel, tapi Abel malah menjawabnya dengan melontarkan pertanyaan juga. Mungkin jika Excel bukan lelaki sabar pasti kepala Abel sudah di ketuk dengan batu olehnya.


Excel baru ingat jika kepala Abel tadi terlihat memar dan benar saja ada bercak darah yang keluar dari kepala Abel di bagian kanan. Excel semakin mendekatkan wajahnya dan menyingkap sedikit rambut yang menutupi luka itu. Terlihat darah yang sudah tak keluar lagi namun di sekitarnya terlihat memerah.


Tanpa sadar jantung Abel berdegup kencang kala mereka sangat dekat mungkin hanya tersisa jarak beberapa centimeter saja. Bahkan nafas Excel begitu terasa kala lelaki itu sangat dekat, sejenak mata mereka bertemu namun keduanya langsung memalingkan pandangan dan Excel segera memundurkan dirinya.


"Kepalamu juga terluka nanti harus diobati saat sampai". Ujarnya.


Hanya deheman yang Abel keluarkan sebagai jawaban karena saat ini jantungnya tak belum mau berpacu dengan pelan, ia merutuki jantunya sendiri yang tak bisa patuh untuk segera diam. Namun suara perut Abel yang berbunyi menadakan kalau ia sedang lapar, sontak saja ia merasa malu dan tak berani menatap Excel.


"Kalau hujannya sudah reda aku akan mencarikan buah untukmu, karena perjalanan kita akan terasa jauh mengingat kakimu yang terluka". Excel masih melihat ke arah Abel hingga gadis itu tak berani menatapnya, ia masih merasa malu dan mungkin saja saat ini pipinya masih merah.

__ADS_1


Keduanya hening, hanya suara hujan yang jatuh membasahi tanah yang terdengar juga hembusan angin dan suara api yang tengah menbakar kayu menjadi hitam. Excel kembali berada di dekat api unggun sementara Abel masih bersandar di dinding gua.


Abel menggosok lengannya yang terasa dingin, karena hanya memakai kaus lengan pendek dan juga celana jeans selutun hingga bagian yang tak tertutup pakaian terasa dingin jika di sentuh. Excel menghela nafas melihat gadis itu yang masih tak mau melihatnya.


"Pakailah jaketku, ini akan membuatmu hangat". Excel mendekat dan hendak memakaikan jaketnya ke Abel namun Abel tak mau bergerak dan juga tak mau melihat Excel.


"Tidak usah kau saja yang pakai, aku baik-baik saja". Ujarnya tanpa melihat Excel.


Namun bukannya menuruti perkataan Abel, Excel malah membantu Abel memakaikan jaketnya di tubuh gadis itu dan lagi-lagi Abel hanya bisa diam sembari menatap wajah yang begitu dekat dengannya sampai resleting di naikkan dan Abel sadar jika jaket itu telah melekat di tubuhnya.


"Untuk sebentar saja kau kesampingkan dulu egomu, aku tau kau kedinginan". Ujarnya dan berdiri untuk kembali ke dekat api unggun.


Setelah hampir sejam mereka menunggu di gua akhirnya hujan telah reda dan hanya menyisakan gerimis kecil yang turun dengan jarang. Udara semakin dingin dan kayu untuk di bakar juga sudah habis.


"Hujannya sudah reda tinggal gerimis kecil, kau mau kita kembali sekarang atau aku carikan buah dulu untukmu ?". Tanyanya kepada Abel, gadis itu dengan cepat menjawab. "Kita kembali sekarang".


Abel berusaha berdiri namun ia lupa kalau kakinya cedera hingga hampir terjatuh ke depan, secepat mungkin Excel berlari dan menopang tubuh Abel agar tak jatuh dan menambah luka. Abel melihat tangannya yang tanpa sadar berpegangan ke lengan Excel, ia segera menarik tangannya agar tak bertumpu pada lelaki itu.


"Naiklah ke punggungku, kau tidak bisa jalan dengan kakimu saat ini". Excel bersiap namun Abel tak segera naik, membuat lelaki itu menoleh untuk tau mengapa gadis itu lama sekali.


"Aku tak mau". Jawabnya seraya melipat tangannya di dada.


"Kau tidak sedang kutawari, ingatlah ini bukan waktunya untuk memilih, kau tak punya pilihan selain naik ke punggungku".


Abel melihat kakinya yang terasa nyeri kalau di gerakkan sedikit saja, kali ini ia tak menolak dan naik ke punggung Excel. Kembali degup jantungnya berpacu kencang, ia hanya bisa berharap semoga Excel tak mendengarnya juga tak merasakan jantungnya yang memompa dengan cepat.


Abel menaruh kedua tangannya untuk ia lingkarkan ke leher Excel barulah Excel mulai berjalan meninggalkan gua. Jujur saja Abel terasa berat walau gadis itu lebih kecil darinya namun masih bisa ia tahan.


Andaikan ponselnya bisa untuk menghubungi yang lain tapi nyatanya tidak bisa karena tidak ada sinyal sama sekali di dalam hutan. Biarlah ia menggendong Abel sampai villa toh sudah lama mereka tak sedekat itu, sekalian memperbaiki hubungan.

__ADS_1


"Jadi kau pacaran dengan Robin ?". Excel mencoba membuka suara, menanyakan hubungan Robin dan Abel yang entah mengapa mengganjal di hatinya, mungkinkah Robin hanya untuk pelarian saja mengingat Abel dulu ia tolak saat acara pertunangannya.


"Iya memangnya kenapa ?". Tanyanya balik.


"Tidak apa-apa hanya saja, apa kau benar mencintainya atau ia hanya pelarianmu saja ?".


.


.


.


.


.


.


.


.


Selamat Hari Raya Idul Adha


Yang korban kambing jangan lupa ucapin selamat tinggal sebelum perpisahan sama kambingnya.


Yang korban sapi jangan lupakan keluarganya yang belum ikut kecatet.


Yang korban perasaan minggir dulu, karena sesungguhnya perasaan hanya membuat hati resah dan perut semakin lapar 😂😂😂

__ADS_1


Hari Raya THR poin buat aku dikencengin ya 👍👍👍


__ADS_2