
"Jika mama mau aku akan membatalkan pernikahanku dengan Jennie dan menikahi Abel".
Seketika senyuman terlukis di wajah mama Dina. Wanita paruh baya itu tersenyum dangan cantiknya dan menarik kedua tangannya yang berada di genggaman Excel. "Benarkah kau akan melakukan itu ? Kalau begitu mama senang sekali, Merry juga mungkin akan senang".
"Tapi disisi lain mama sedih karena putra mama akan patah hati". Tangan mama ia pindahkan ke pundak sebelah kiri Excel dan memandang Excel dengan senyuman ironi. "Kau yakin jika kau menikah dengan Merry suatu saat akan bisa melupakan Jennie ? Lalu bagimana dengan Jennie kalau mendapatkan lelaki lain suatu hari nanti apakah kau ikhlas ? Dan apakah kau akan bisa mencintai Merry ?".
Sepi dan senyap karena Excel tak bisa menjawab mama Dina tapi mama Dina tau jawaban atas semua pertanyaan yang di lontarkannya. Cukup hanya diamnya Excel menandakan kalau lelaki itu tak bisa melepaskan Jennie dan menikahi putrinya begitu saja.
"Mama khawatir jika suatu hari nanti kau menikah dengan Merry tapi kau belum melupakan Jennie dan terus memikirkan Jennie sedang kau sudah mempunyai Merry sebagai istrimu".
"Aku minta maaf ma".
Mama Dina menggeleng, ia tak setuju karena bagaimanapun urusan hati seseorang sudah ada yang mengatur sedangkan manusia hanya menjalani saja. Memang sulit melawan takdirnya dan kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi di masa depan.
"Kau tau Excel sekarang kau sudah menjadi lelaki yang dewasa, buatlah pilihan dengan memikirkan baik dan buruk kedepannya, atau kau akan menyakiti banyak orang dengan pilihanmu".
"Iya ma tapi bagaimana dengan Abel ma ?". Tanyanya lagi.
Mama Dina memandang ke depan dan menghela nafas berat, memang saat ini yang paling terluka adalah Abel tapi memberikan sebuah cinta namun semu bukanlah jawaban yang benar. Akan lebih baik jika Abel hidup dalam realita yang menyakitkan daripada di beri kebahagiaan semu. Dan mama Dina harap putrinha mendapatkan seseorang yang benar-benar sayang kepadanya dan mencintai Abel dengan utuh.
"Itu biar jadi urusan mama kamu fokus saja dengan pernikahanmu". Ucap mama Dina dan Excel hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
Setelah berpamitan dengan mama Dina, Excel memutuskan untuk pulang. Di perjalanan pulang ia selalu terfikir oleh perkataan mama Dina yang masih setia menghiasi fikirannya. Entah apa isi hatinya yang sebenarnya tapi keraguan dalam hati membuatnya takut melukai dua wanita yang ia sayang.
Saat masuk ke dalam apartemen Excel di kejutkan dengan kehadiran seorang laki-laki yang duduk di sofa dan beranjak menghampiri Excel.
"Akhirnya kau pulang juga, sudah lama aku menunggumu". Ujar lelaki itu saat memeluk singkat anak lelakinya.
"Kenapa papi tidak memberi kabar dulu sebelum kemari ? Ada urusan apa pi ?". Tanya Excel saat mereka berdua sudah duduk di sofa yang bersebrangan.
"Hei datang berkunjung ke tempat anak sendiri apa perlu harus ada keperluan ?". Lelaki yang yang benama Jimmy tersebut tak lain adalah papinya Excel, dan tersenyum seraya melihat ke sekeliling apartemen.
"Jadi berapa wanita yang sudah berkunjung kesini dan tidur denganmu?".
__ADS_1
"Pi jangan mengatakan hal aneh". Walau hanya Abel yang ia tiduri namun Excel tak mau mengatakannya, ia takut semua tambah runyam.
" Ayolah Excel kau itu terlalu lurus menjalani hidupmu harusnya kau lebih menikmatinya apalagi kau sudah mau menikah, sudah tidak ada kebebasan setelah menikah nanti, tapi kau itu terlalu cepat menikah kau tau bahkan kau baru mengenal Jennie setahun ini".
"Tidak perlu lama untuk menjalani komitmen pi, tapi aku punya masalaha lain yang lebih serius sekarang". Sang papi beranjak saat melihat Excel tiba-tiba menjadi lesu dan duduk di samping putranya untuk tau apa persoalan yang di hadapi Excel.
"Ada apa ?". Tanyanya.
"Entahlah pi aku merasa aneh, padahal sebentar lagi aku akan menikah dengan Jennie tapi aku rasa ragu, karena perasaan cintaku tidak sebesar dulu dan aku merasa ada yang mengganjal diriku".
Sang papi menepuk pelan bahu Excel untuk memberikan semangat namun sepertinya itu tak membantu. "Kau tau memang banyak sekali cobaan untuk orang yang akan menikah dan itu akan membuatmu berfikir akan membatalkan pernikahan tapi sebaik-baiknya hal yang perlu kau fikirkan adalah baik buruknya konsekuensi yang akan kau dapat nantinya".
Excel mengangguk pelan, tadi mama Dina juka mengatakan hal yang kurang lebih sama namun mengapa ia meragu untuk ke jenjang yang lebih serius dengan jennie padahal pernikahan sebentar lagi.
"Kalau kau terlalu keras berfikir yang ada nanti sakit, buat satai saja yasudah daripada aku disini lebih lama pasti mamimu mencariku, aku pulang dulu".
Excel menawarkan sang papi untuk menginap tapi lelaki itu tolak hingga Excel hanya mengantarkan sampai depan apartemennya saja, barulah ia masuk dan berfikir apa yang menjadi keraguan.
*******
"Nona kau yakin bisa bertahan ?". Tanya Lucy berbisik saat Abel duduk di sebelahnya.
"Aku masih bisa kau tenang saja". Jawabnya dengan berbisik juga, hingga meeting berlangsung selama setengah jam dan belum selesai juga. Padahal Abel sudah terasa lemas dan ingin ini berakhir secepatnya.
"Huek". Abel dengan cepat menutup mulutnya akibat makanan yang berada di dalam perut seperti ingin keluar namun ia masih tahan, walau begitu suara tadi berhasil membuat mereka bertiga menoleh kearahnya.
"Kau baik-baik saja ? Wajahmu terlihat pucat ?". Tanya Excel kepada Abel yang di jawab dengan gelengan, walau ia tak baik tapi ia masih bisa melanjutkan meeting.
"Aku tidak apa, tolong lanjutkan saja". Perhatian mereka kembali pada meeting yang di jelaskan oleh Bagas namun sepertinya kondisi tubuh abel tak memberikan toleransi hingga membuatnya kembali merasakan mual.
"Maaf aku permisi ke toilet". Abel ke belakang seraya menutup mulutnya, berusaha menahan rasa mual yang timbul agar makanan yang berasal dari perut tidak keluar dan ia muntahkan saat sudah berada di kamar mandi.
Abel membasuh mulutnya dengan air keran, berusaha menghilangkan rasa tidak enak akibat muntah. Setelah dirasa cukup ia kembali duduk bersama yang lain dan kembali meeting. "Ayo lanjutkan lagi".
__ADS_1
"Kau yakin baik-baik saja ? Jika kau sakit kita bisa melanjutkan meeting lain hari". Tawar Excel namun mendapat gelengan oleh Abel.
"Tidak apa aku baik hanya sedikit mual saja, ayo lanjutkan". ujar Abel.
Meeting kembali berlangsung namun Abel harus merutuki kondisi tubuhnya yang tak tau situasi dan waktu, ia merasa mual lagi dan ingin muntah. "Maaf aku permisi ke belakang dulu".
Saat Abel izin kebelakang di saat itu juga Excel yang penasaran akan kondisi Abel jadi khawatir, ia mengikuti Abel hingga ke toilet wanita, untung saja di toilet itu tidak ada orang lain selain mereka jadi ia bisa masuk dan mendengar Abel yang muntah.
Saat Abel keluar dari bilik toilet ia di kejutkan dengan keberadaan Excel yang menungguinya di depan. "Apa yang kau lakukan disini ?".
" Apa kau hamil ?".
.
.
.
.
.
.
.
Excel : Apa yang harus aku lakukan, aku terlalu bingung memilih Jennie dan juga Abel
Author : Ya tinggal di pilih aja susah amat
Excel. : Tidak semudah itu marimar
__ADS_1
Author : 😑
Excel. : Kalian like dan vote yang banyak agar aku tidak di gantung author