
"Maaf aku terlambat". Ujar lelaki itu kala baru keluar dari mobil tapi yang lebih mencengangkan lagi ada seseorang yang juga keluar dari mobilnya Excel.
"Hallo semuanya aku boleh ikut kan ?".
"Jennie ?".
Abel menatap mereka berdua secara bergantian, merasakan kebencian yang timbul kembali kala melihat wanita itu dengan bangganya memamerkan senyum seraya menggandeng lengan Excel berjalan ke arah ia dan keluarganya.
"Tidak kami tidak keberatan kau boleh ikut". Semua menoleh ke arah papa Rey yang sudah terlajur mengizinkan Jennie ikut sebelum Abel dan keluarganya yang lain buka suara hendak mengatakan keberatan, tapi yang sudah terjadi biarlah terjadi.
"Aku tidak jadi ikut". Kalau memang Jennie bersikeras ikut maka ia yang akan mengalah dan akan mundur dari acara ini, padahal ia yang mencetuskan ide pertama kali untuknya dan keluarganya agar berlibur sejenak melepas rasa penat dari aktivitas masing-masing bahkan ia sudah menyempatkan waktu untuk ini.
"Kenapa ? Bukanya kamu yang paling semangat untuk berlibur ?". Papa Rey merasa keheranan bahkan sudah dari tadi Abel terlihat tak sabar untuk segera sampai di tempat tujuan.
"Nggak apa-apa pa". Abel lalu mengalihkan pandangan melihat Jennie dan Excel dengan tatapan tajam, "Tiba-tiba aja nggak mood". Ia seolah mengatakan secara tersirat jika alasannya membatalkan keikutsertaan karena mereka berdua lagipula mengapa Excel sangat tak tau diri ikut dan bahkan lebih tak sadar diri mengikutkan tunangannya itu.
"Kalau kamu nggak ikut aku juga nggak ikut kan kamu yang ngajak aku". Abel melihat ke arah Robin, tak enak hati juga melihat laki-laki yang telah menjadi pacarnya itu menjadi korban atas persoalan yang tak di ketahuinya.
"Kok jadi nggak pada ikutan sih". Mama Dina khawatir bagaimana dengan ini bahkan sebelum berangkat saja sudah kacau begini, ia sendiri tak tau harus bagaimana apalagi papa Rey mengundang Excel tanpa bicara dulu dengannya, seandainya tau Excel diundang pasti mama Dina akan mencegah.
Mama Dina melihat papa Rey dengan tatapan tajam seolah menghakimi menanyakan solusi dalam tatapannya, namun papa Rey hanya menggendikkan bahu seolah tak tau apa yang harus dibuat, kalau sudah begini ia juga bingung harus bagaimana karena pastinya akan mengorbankan salah satu.
"Kalau kedatangan kami malah membuat kacau mending kami pergi saja, ayo Jennie". Excel hendak melangkah meninggalkan tempat itu namun seruan papa Rey menghentikan langkahnya, "tunggu jangan pergi tetaplah disini". Merasa tak enak hati karena bagaimanapun papa Rey yang mengundang Excel sampai kemari.
Jennie tersenyum kearah Abel seolah mengatakan kemenangan dalam dirinya kala papa Rey tetap mempertahankan Excel dan ia untuk ikut serta, itu berarti Abel lah yang harus mundur jika keberatan.
__ADS_1
Alvin menggeser tubuhnya mendekatkan wajahnya ke telinga Abel hendak membuat adiknya itu mood kembali agar jadi ikut, "udah mending lo ikut aja anggep mereka sampah yang transparan, nggak usah dilihat, nggak usah juga di anggap". Bisiknya.
Abel melihat tatapan Jennie yang seolah mengejeknya, ia tak mau Jennie kalah dan anggota keluarga disini adalah ia dan bukannya Excel yang hanya anak angkat, bahkan keberadaan Jennie di tempat itu bukanlah sesuatu yang diharapkan.
"Aku jadi ikut, Robin kamu temenin aku ya, maaf aku berubah fikiran tadi mungkin karena efek dapet jadi gampang berubah mood". Abel menampilkan senyum yang tadi sirna kala melihat Excel dan Jennie.
"Syukur deh kalau kamu ikut, papa lega jadinya". Papa Rey hendak memegang lengan mama Dina untuk mengajaknya ke mobil menuju ke tempat tujuan mereka namun mama Dina berjalan mendahului sang suami, ngambek atas sesuatu yang suaminya belum ketahui, biarlah papa Rey mikir apa kesalahannya salah sendiri mengajak Excel tidak bertanya dulu pendapatnya, dan itu cukup membuat papa dengan heran dengan sikap mama Dina.
Mereka masuk ke dalam mobil masing-masing, Excel berdua dengan Jennie, Abel dengan Robin sedangkan papa Rey, mama Dina dan Alvin satu mobil. Papa Rey duduk di depan mengemudikan mobilnya tanpa ada yang menemaninya di sebelah karena mama Dina dan Alvin duduk di belakang.
"Kenapa papa yang jadi supir ? Mama pindah gih papa pinggirin dulu ya mobilnya". Mama Dina cuek dan memandang jendela, masih ngambek atas sikap papa Rey. "Nggak mama mau duduk sini aja". Jawabnya tanpa melihat sang suami.
"Kamu kenapa Vin malah ikutan duduk di belakang sini temani papa gantikan papa nyetir sekalian". Alvin juga ikut memandang jendela malas dengan papanya yang mengundang Excel, "nggak lagi males pa". Papa Rey berdecak mengapa istri dan anaknya bertingkah aneh, mungkinkah mereka sedang ngambek.
Papa Rey menghela nafas pasrah dan tetap fokus pada jalanan yang semakin lama semakin sepi kendaraan karena memasuki tempat yang cukup terpencil dengan hanya dengan hanya di huni oleh beberapa rumah saja yang tak saling berdekatan namun memiliki tempat yang sangat sejuk dan jauh dari polusi.
Mereka telah sampai di villa yang di bangun atas ide opa Riyan dulu, walau tua namun tempat itu masih kokoh karena jika ada yang rusak sedikit saja maka akan ada orang suruhan yang telah di percaya untuk memperbaiki juga membersihkannya.
Villa dengan gaya khas jepang dan kayu sebagai bahan utama pembuatan villa itu, apalagi pohon bonsai yang tak sedikit menghiasi tempat juga air kolam dengan banyaknya ikan di sana menambah sejuk pemandangan. Siapapun akan langsung tau jika yang punya tempat itu bukanlah orang yang cinta kesederhanaan karena terlihat sekali detail yang memperlihatkan kalau biaya yang di keluarkan tak sedikit untuk membuat tempat itu.
"Ayo masuk". Ujar papa Rey kepada semuanya kala semua orang telah sampai di tempat itu.
Semuanya terlebih dulu mengeluarkan barang bawaan mereka dari dalam bagasi mobil, tak terkecuali Abel yang di bantu oleh Robin membawa bawaan Abel ke dalam layaknya pacar yang siaga, dan itu tak lepas dari pandangan seseorang.
"Aku pakai kamar yang di deket pohon ya pa". Abel hendak masuk lebih dalam untuk menuju ke kamar yang telah ia ketahui dengan benar letaknya, namun seruan papa Rey membuatnya menoleh.
__ADS_1
"Bentar mer". Papa rey melihat semuanya telah masuk namun pastinya belum mendapatkan kamar karena baik Excel, Jennie maupun Robin pasti menunggu instruksi akan ke kamar yang mana untuk mereka tidur.
"Jadi tempat ini hanya ada empat kamar, nanti kalian berbagi dan satu kamar diisi dua orang, papa sama mama, Excel sama Robin, Alvin sendiri, dan Jennie sama Merry!!".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ini aku tulis langsung ya, masih anget baru ambil dari wajan.
Nulis 1000 kata dalam waktu satu jam termasuk ngecek kasih jempol dan votenya dong buat aku.
__ADS_1