
Excel berjalan kembali ke restoran dengan gontai setelah ia tak bisa mengejar Abel, dan saat sampai tatapannya berubah tajam dan tangannya mengepal erat melihat seorang wanita yang telah mengacaukan semua rencana yang ia susun semua. Bahkan wanita itu tersenyum tanpa rasa bersalah ke arah Excel.
Setelah beberapa hari ini ia berfikir segala konflik antara dirinya dan Abel yang akan menghilang dan hubungan mereka akan membaik tapi nyatanya semua berantakan hanya karena satu wanita yang pernah singgah di hatinya tersebut.
"Udahlah sayang ngapain si ngejar dia ? ada aku yang bakal nemenin kamu". Jennie dengan tanpa rasa bersalah mendekati Excel dan hendak menyentuh tangan lelaki itu tapi dengan sigap Excel tepis.
"Apa kau tau seberapa banyak harapanku untuk hari ini ?". Tanyanya dengan nada pelan namun dengan tatapan yang sangat mengerikan.
BRAAK
Satu gebrakan meja Excel lakukan membuat Jennie mengjingkat terkejut akan kemarahan Excel yang belum pernah lelaki itu perlihatkan sebelumnya.
"KAU MENGACAUKAN SEGALANYA, GARA-GARA KAU SEMUANYA HANCUR". Excel membentak Jennie tanpa rasa sungkan lagi untuk menyelurkan semua kemarahan yang ia punya bahkan mungkin sekarang akal sehatnya telah pergi.
"PERGI DARI SINI". Usirnya dengan kasar hingga membuat Jennie bungkam setelah melihat sisi mengerikan yang sebelumnya tak pernah Excel tampilkan, bahkan ia bergedik ngeri dan tak berani menoleh ke belakang.
Beberapa hari ini Jennie memang mengikuti Excel dan saat tau kalau Excel akan melamar Abel maka ia berniat mengacaukan acara lamaran tersebut. Dan ia berhasil seperti rencanya tapi di lain sisi tak menyangka kalau emosi Excel nyatanya di luar perkiraan.
Jennie berfikir kalau Excel di benci oleh Abel maka ia akan menjadi tempat bersandar paling nyaman dan Excel akan kembali kepadanya tapi tanpa di duga nyatanya ia salah besar. Bahkan Excel benar-benar sangat marah sekali.
******
__ADS_1
Excel mengetuk pintu kamar Abel beberapa kali, berharap di bukakan padahal ia tau sendiri kalau Abel masih sangat marah namun ini semua harus di jelaskan agar Abel tidak salah faham dengan kedatangan Jennie yang ia sendiri tak tau bagaimana bisa ada disana.
"Abel tolong buka pintunya, biarkan aku menjelaskannya". Berkali-kali ketukan pintu Excel ketukkan ke kamar Abel namun tak di buka juga. Bahkan ia juga berulang kali mendapat usiran Abel dari dalam kamar.
"Excel sudah jangan menganggu Merry lagi". Mama Dina datang dan menyuruh Excel agar berhenti menganggu Abel yang ia yakini mereka sedang berselisih lagi dan ini cukup membuat mama Dina pusing.
"Tapi ma aku harus menjelaskan kalau yang abel lihat itu tidak benar". Excel tak mau menyerah dan tak mau mama Dina menyuruhnya untuk berhenti mengejar Abel dan menyerah begitu saja.
"Kau tunggulah di bawah, mama akan bicara denganmu setelah mama bicara dengan Merry". Mama dina mengerti jika Excel sedang ketakutan kalau ia akan menyuruh lelaki itu untuk menyerah.
"Baik ma". Sebelum Excel pergi, ia kembali melihat pintu yang masih tertutup tersebut dan turun ke bawah menunggu mama Dina yang akan bicara dengan Abel, ia berharap masalahnya akan cepat selesai dan mama Dina akan membuat abel percaya kepadanya.
Setelah kepergian Excel mama Dina mengetuk pintu Abel beberapa kali namun tak juga di buka. "Mer bukain pintunya ini mama".
"Dia udah nggak ada". Mama Dina tau kalau Abel mencari Excel dan memastikan lelaki itu tak bersembunyi.
Abel kemudian membuka pintu kamarnya lebar-lebar dan menyuruh mama Dina untuk masuk ke dalam. Abel duduk dan meremas bajunya karena ia merasa jika mama Dina akan membahas masalahnya dengan Excel.
"Sebenarnya kamu dan Excel ada apa lagi ?". Tanya mama Dina to the poin karena ingin tau duduk permasalahan yang sedang mereka alami.
"Nggak apa-apa ma". Jawabnya singkat namun itu tak membuat mama Dina percaya begitu saja, apalagi sedari tadi abel menunduk tak mau melihat wajah mama Dina saat bicara.
__ADS_1
"Kamu fikir mama percaya ? Ceritakan ada apa biar mama bisa bantu atau setidaknya mengurangi beban di hatimu". Mama Dina bisa melihat Abel mengangkat kepalanya bersiap untuk cerita.
"Excel tadi ngelamar Jennie lagi ma dan dia nyuruh aku buat datang cuma buat lihat itu semua, kalau emang suka Jennie ngapain bilang kalau pernikahan mereka batal".
"Lalu kau percaya kalau Excel dan Jennie baikan ? Kalau begitu untuk apa Excel masih tinggal disini dan malah menyakinkan kamu bukannya malah pindah ke tempatnya lagi dan tak peduli denganmu ?".
Pertanyaan mama Dina seperti menohok Abel hingga ia bungkam tak bisa mencari alasan di balik pertanyaan tersebut namun, ia masih sulit mempercayai Exceldan lebih memilih percaya dengan apa yang ia lihat dan dengar.
"Aku nggak tau ma, aku hanya bisa percaya dengan apa yang aku lihat dan mereka kembali bersama, mungkin Excel perlu waktu untuk pergi dan mengemasi semua barangnya dari sini".
Mama Dina menggeleng, ia heran dengan Abel dan juga Excel yang selalu ada saja masalahnya hingga ia sendiri jadi pusing. Padahal mereka sudah dewasa dan harusnya bisa menyikapi ini semua dengan bijak.
"Coba kamu lihat dan rasakan dengan hatimu, jika kau memang mencintai Excel maka lebih baik kesampingkan dulu egomu daripada kau nanti yang rugi sendiri".
Kini giliran abel yang menggeleng dengan wajah yang terlihat bingung, ia merasa sulit sekali melupakan semua kejadian yang bermula atas hubungan Excel dan Jennie yang membuatnya sangat sulit untuk menerima Excel sekarang.
"Aku nggak yakin ma apalagi dia pernah benar-benar cinta sama Jennie bahkan mereka hampir menikah".
Mama Dina memegang tangan Abel dan satu tangannya di gunakan untuk melihat wajah sang anak, ia tersenyum masam merasakan banyaknya kesedihan yang terpancar di wajah Abel dan ia sebagai seorang ibu sendiri masih perlu banyak belajar memahami putrinya.
"Mama yakin jika kamu melihat lebih dalam ke hatimu maka kamu akan mendapatkan jawaban yang kamu mau, dan keraguanmu bisa disingkirkan".
__ADS_1
Mama Dina berdiri dan sedikit membungkuk untuk mengecup kening Abel yang sedang dilema akan masalah. "Fikirkanlah baik-baik dan ikuti kata hatimu".
Abel berusaha dengan keras mencerna apa yang di maksud mama Dina setelah beliau keluar dari kamarnya. Ia masih bingung apakah ia masih mencintai Excel atau memilih untuk tidak percaya dengan laki-laki itu.