Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Percaya Padaku


__ADS_3

Dedaunan kering yang bertebaran di jalan kini beterbangan saat mobil yang Excel kendarai melintas tanpa rasa ragu dengan kondisi jalan yang sepi. Suara musik mengiringi keduanya yang tengah dalam kondisi mood baik.


Selepas dari toko perhiasan kini tujuan mereka ke toko baju pengantin untuk memesan baju dari sekarang. Sisa beberapa bulan lagi dimanfaatkan keduanya dengan baik, apalagi mereka berdua adalah orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


"Disini ?". Tanya Excel saat menepikan mobil di halaman sebuah butik sekaligus toko baju pengantin. Ia mengernyit saat melihat tempat ini karena ingat pernah kesana dengan Jennie.


Tempat tersebut adalah tempat dimana Abel memesan baju untuk wisuda karena yang punya sekaligus desainernya adalah temannya mama Dina. Dan mama Dina pernah berpesan untuk kesini saja kalau mau memesan gaun pengantin.


"Iya kak ayo masuk, yang punya temennya mama". Ujarnya dan mereka berdua masuk ke dalam butik yang ternyata ramai pengunjung, bahkan para pegawai saja terlihat kewalahan menghadapi banyaknya pengunjung yang tak sebanding dengan jumlah karyawannya.


"Kayaknya kita salah hari deh banyak benget yang mau beli, apa kita kesini lain kali aja kak ?". Abel ragu untuk melanjutkan niat padahal ia sudah masuk, rasanya malas sekali kalau harus di suruh menunggu giliran ataupun berdesakan dengan pengunjung lain.


"Kita sudah sampai disini, kalau lain hari begini lagi bagaimana ? Sudah tidak apa-apa ayo kita panggil pegawainya". Excel mengangkat tangannya dan berusaha memanggil pegawai namun kerena tempat itu penuh jadinya hanya bisa menunggu dengan pasrah.


Hingga tanpa terasa sudah setengah jam mereka menunggu baru salah seorang pegawai senggang dan bisa melayani permintaan mereka. Namun karena yang mereka inginkan adalah memesan baju pernikahan akhirnya memanggil sang pemilik butik yaitu jeng Puji yang tak lain juga temannya mama Dina.


"Eh Abel apa kabar ?". Tanya jeng Puji seraya cipika cipiki dengan Abel. Karena mereka pernah bertemu jadinya tidak terlalu canggung lagi.


"Baik tante, kenali ini calon suamiku dan kami kesini mau pesan baju untuk pernikahan". Mereka langsung di sambut baik dan juga ucapan selamat dari jeng Puji.


Abel dan Excel disuruh duduk untuk membahas mengenai baju dengan model yang mereka inginkan bahkan beberapa katalog baju pengantin Jeng Puji berikan sebagai referensi. Abel merasa senang karena respon yang Jeng Puji berikan sangat baik dan juga ramah, mungkin juga efek karena berteman dengan mama Dina.


Akhirnya setelah kebingungan memilih mana diantara anjuran jeng Puji, Abel memilih gaun pengantin yang tak terlalu rumit dan berhiaskan bordilan juga payet agar memperindah gaun juga ada kesan mewah.


Waktu pengambilan bajunya juga tak terlalu lama jadi Abel merasa lega setidaknya beberapa hal yang harus ia urusi sedikit demi sedikit beres dan tinggal menunggu hari H. Tak sabar rasanya bahkan Abel ingin cepat-cepat, mengingat sudah banyak sekali gangguan.


"Kami pamit ya tante". Abel dan Excel beranjak dari duduknya setelah selesai membahas baju pernikahan yang mereka inginkan, juga mengenai tanggal fitting juga pengambilan.

__ADS_1


"Hati-hati ya dijalan". Pesan bu Puji.


Hari sudah mulai gelap dengan matahari yang kembali ke peraduannya menandakan kalau seharian Abel sudah meninggalkan rumah dan bepergian dengan Excel. Namun ia tak merasa lama, mungkin juga karena faktor cinta jadi berapa lama pun akan terasa sebentar.


Setelah berhasil melewati perjalanan yang agak jauh kini akhirnya mereka kembali ke tujuan awal yaitu rumahnya Abel. Sebagai seorang lelaki yang ingin bertanggung jawab, Excel mengantarkan Abel sampai masuk rumah.


"Kalian sudah kembali ?!". Suara tegas dari seorang lelaki paruh baya mengalihkan perhatian mereka dan menoleh ke sumber suara. Mendapati papa Rey yang sedang berdiri dengan tangan terlipat di dada dan tatapan intimidasi, Excel merasa tak nyaman.


Seolah ia baru saja menculik Abel dan kini menbawanya kembali. Entah sampai kapan ia akan merasakan seperti itu yang pasti saat ini sinar kemarahan papa Rey berikan dari sorot matanya kepada Excel.


"Pa kami__".


"Masuk kedalam".


"Tapi pa__".


"Kalian dari mana ?". Satu pertanyaan melucur dari papa Rey, benar yang ia rasa jika papa Rey hendak mengintrogasinya dan sebaik mungkin ia harus menjawab dengan hati-hati.


Mereka masih berdiri dan papa Rey masih melipat tangannya di dada, menimbulkan aura gelap dan juga dingin yang menggerayangi kulit Excel hingga bulu kuduknya berdiri. Baru calon menantu saja sudah segugup ini, ia jadi heran padahal dulunya ia adalah anaknya papa Rey yang disayang seperti yang lainnya, namun berubah ketika mendekati Abel.


"Kami habis ke rumah orangtuaku pa dan membeli cincin juga memesan baju pernikahan". Jawabnya dengan nada yakin hingga papa Rey percaya.


"Bagaimana dengan orangtuamu ? Apa mereka mendukung kalian sepenuhnya dan menyukai Abel ?". Tanyanya lebih lanjut untuk menemukan informasi dan kejanggalan yang terselip karena bagi papa Rey cintanya Abel seperti musuh jika salah pilih sedikit saja.


Sebutan Abel sudah lama tak papa panggil karena permintaan Abel yang kembali ingin di panggil dengan sebutannya dulu. Yang papa Rey dan semua penghuni rumah ketahui jika Abel pasti ada masalah dengan si pemberi nama dan bertengkar, untuk itu nama Merry sekarang tak ada lagi di rumah ini.


"Tentu pa bahkan mereka sangat menyukai Abel juga masakannya, tadi mami dan Abek memsak bersama bahkan mereka terlihat sudah akab". Seketika itu papa Rey merasa lega dalam hatinya tapi tak ia perlihatkan kepada Excel.

__ADS_1


Namun tangan papa Rey yang semula terlipat kini ia turunkan. Bahkan sorot mata papa Rey yang tadinya tajam kini berubah sendu hingga Excel merasa aneh tapi tak berani bertanya. Ia takut salah dan membuat papa Rey karah.


"Sebelumnya kau pernah hampir menikah dengan wanita lain dan itu membuatku ragu untuk merestui kalian tapi karena Abel sangat menyukaimu maka aku akan memberika restuku, tapi jika suatu hari kau sudah tak mencintainya atupun bosan, tolong jangan beritahu ia dan sakiti hatinya, cukup kau beritahu aku dan kembalikan ia kepadaku dengan cara baik seperti saat kau memintanya jadi istrimu....".


"....dia adalah putriku yang sangat kusayangi jadi tolong jangan pernah membuatnya sedih ataupun menangis, kau boleh membatalkan pernikahan kalau ada sedikit saja keraguan padamu, aku tidak menyalahkan karena itu lebih baik daripada kau menyakiti hati ya setwlah menikah".


Papa Rey melihat keatas guna membendung airmatanya yang hendak keluar, ia berbicara sebagai seorang ayah sekaligus walinya dan juga pengayom Abel sebelum gadis itu menikah karena setelah menikah tanggung jawab Abel bukan lagi kepada papa Rey.


"Tidak pa aku sangat mencintainya dan tak ada keraguan apapun, aku berjanji sampai akhir hayatku akan mencintainya dan tak akan pernah membuatnya sedih ataupun menangis".


Papa Rey bisa melihat sorot mata kesungguhan yang Excel pancarnya hingga ia yakin kalau Excel tak main-main dengan ucapannya. Tepukan di bahu papa berikan dan menatap Excel lekat-lekat.


"Aku pegang kata-katamu, satu kali saj kau mmebuat putriku sesih aku akan mengirimmu ke pemakaman".


"Aku berjanji akan selaku membuat Abel bahagia, papa bisa percaya kepadaku".


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ( Like, komen, dan vote)


__ADS_2