
Pesta pernikahan telah usai menyisakan para anggota keluarga saja sementara para tamu sudah pada pulang. Terlihat para orangtua yang sedang berbincang, entah apa yang mereka perbincangkan.
"Akhirnya kak selesai juga acaranya". Abel menghembuskan nafas lega, setelah pesta yang membuat seluruh tubuhnya pegal kini ia sedikit bersantai dan bersikap biasa karena sedari tadi memasang senyum dan banyak bersalaman, entah berapa jumlah tamu yang sepertinya diluar perhitungan.
"Iya akhirnya selesai juga". Excel melepaskan jasnya dan melonggarkan dasi, merenggangkan otot tubuhnya dan juga lehernya yang terasa kaku setelah seharian gerakannya terbatas. Dan bunyi dari beberapa tulang yang saling bergesekan membuatnya merasa lega.
Para orangtua telah selesai dengan obrolan mereka dan menghampiri kedua sepasang suami-istri baru itu. Abel dan juga Excel telah di tarik tangannya agar sedikit berjauhan. "Ada apa pi ?". Excel merasa heran dengan dirinya yang di jauhkan dengan Abel, begitu juga sebaliknya.
"Nanti kau harus menggunakan hadiah dariku tapi jangan sampai lepas kendali juga karena keenakan, apalagi aku tau ini pengalaman pertamamu, kau kan terlalu lurus jadi orang".
Kata sang papi.
"Iya Cel tapi ingat perempuan tidak suka dipaksa jadi kau nanti jangan terlalu memaksa atau malah yang ada membuatnya trauma, lalukan pelan dan bujuk dia dengan halus". Imbuh sang mami.
Excel melihat papinya dan beralih menatap sang mami, ia gagal faham tentang apa yang kedua orangtuanya barusan katakan, namun tiba-tiba otaknya baru bisa mencerna setelah beberapa detik. "Kalian memangnya harus mengajarkan aku yang seperti itu ?".
"Iya dan ini wajib". Pekik keduanya.
Di lain sisi Abel yang juga di tarik oleh kedua orangtuanya merasa heran, ia bingung dan menengok ke arah belakang di mana Excel sedang berbicara dengan orangtuanya lalu berganti melihat ke arah mama Dina dan papa Rey.
"Sayang nanti kamu harus tahan ya, memang kalau baru pertama rasanya sangat sakit tapi jangan khawatir setelah itu tidak akan terasa lagi sakitnya". Kata mama Dina.
"Jika dia terlalu keras atau kasar, tendang saja jangan takut kalau perlu kau bisa hubungi papa biar papa hajar pisangnya". Kata papa Rey seraya mengepalkan tangannya erat dan meninju telapak tangannya yang lain.
Muka Abel merah padam dan rasanya ingin menangis karena malu. Ingin menjerit kalau hal itu tidak perlu diajari atau di beritahu karena ia sudah pernah melakukannya. Tapi Abel hanya diam seraya menahan malu dan mengigit bibir bawahnya.
"Iya iya". Jawabnya pasrah dan kesal. Setelah itu Abel dan Excel kembali bersama sedangkan para orang tua berpamitan untuk pulang meninggalkan mereka yang butuh waktu untuk bersama sebagai ritual pengantin baru.
Abel dan Excel hanya tersenyum meringis saat mengingat beberapa penggal wejangan yang entah berfaedah atau tidak dan terpaksa mereka dengarkan walau dengan berat hati. Setelah semuanya sepi dan tinggal mereka berdua, suasana berubah terasa canggung.
__ADS_1
"Kita ke kamar yuk".
"Iya".
Tempat acara pesta pernikahan berada di ballroom hotel dan keduanya naik lift menuju ke kamar yang telah di pesan untuk mereka menginap di lantai 11, masih canggung dan belum ada yang membuka suara sampai ke lantai tujuan mereka sampai.
"Eeh kak". Abel terkejut tiba-tiba badannya di angkat oleh Excel dengan gaya pengantin baru, walau mereka memang pengantin baru, dan ia merasa tak enak akan berat badannya yang ia yakini bertambah. "Kak turunin".
"Nggak, kalau di luar negri memang begini tradisinya". Excel menggendong Abel dari keluar lift sampai mereka berada di dalam kamar, disana semua sudah disiapkan dari mulai lilin aroma, kelopak bunga mawar merah yang di bentuk hati sampai dua handuk yang di bentuk menyerupai sepasang angsa saling menyatukan kepala.
"Kak turunin aku". Excel mengambulkan permintaan Abel dan kini suasana kembali canggung apalagi setelah melihat suasana kamar yang begitu terlihat romantis seraya memikirkan malam pertama, Abel jadi malu sendiri.
"Kak aku mandi duluan ya". Abel bergegas masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Excel yang hendak mencegah namun dirinya lebih cepat sebelum Excel membuka suara, ia takut kalau Excel meminta untuk mandi bersama.
Selang 30 menit untuk membersihkan riasan dan juga mandi Abel keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit di tubuh, bahkan panjangnya tak sampai menutup dengkul. Tatapan mata Excel langsung menelusuri indahnya ciptaan Tuhan yang masih terlihat basah dan meneteskan air.
"A-aku juga mau mandi". Excel segera masuk ke dalam kamar mandi setelah mengambil baju ganti, ia takut tak bisa mengontrol nafsunya dan menerkam Abel begitu saja tanpa perasaan, teringat wajangan sang mami tadi, tak menyangka akan berguna secepat ini.
Di atas tempat tidur sudah ada Abel yang berganti baju tidur, bukan pakaian lingerie sexi atau gaun tidur kurang bahan dan transparan seperti yang para orang lain gunakan sebagai malam pertama, bahkan Abel terkesan imut dengan baju tidur berwarna soft pink sampai mata kaki dan lengan pendek bergambar hello Kitty, benar-benar mengingatkannya pada Abel kecil dulu.
Abel tersenyum saat Excel selesai mandi dan disamping gadis itu telah ada beberapa kotak kado, sepertinya Abel ingin mereka membuka kado pemberian para tamu dulu padahal Excel maunya membuka kado yang lain, uhuk.
"Kak kita buka kado ya".
"Iya". Jawabnya pasrah.
Abel melihat dari nama pemberinya yaitu Andre dan sang kakak ipar, menjadi hadiah pertama yang ia pilih untuk buka. Dan isinya terdapat satu botol pil kontrasepsi. "Kak Andre kalau kasih ada-ada saja". Abel kesal dan menemukan satu botol salep pereda sakit yang diatasnya tertulis 'habis melakukan di kasih ini biar mendingan sakitnya'. "Kayaknya kakak ipar juga udah terkontaminasi".
"Nggak usah di minum ya pilnya kan kita mau cepat punya anak". Abel mengiyakan dan beralih mengambil kado yang lain. "Kalau ini dari mama sama papa kak". Abel bingung dengan kado yang tipisnya melebihi penggaris dan saat di buka isinya membuat matanya berbinar. "Voucher honeymoon ke Raja Ampat kak".
__ADS_1
"Bagus dong, berarti kita nggak bingung lagi mau honeymoon kemana". Abel langsung menyimpan voucher berharga itu ke tempat yang aman dan kembali membuka hadiah, kali ini dari Alvin yang ia yakini tak akan beres namun membuatnya penasaran. "Kira-kira si Alvin kasih kita apa ya ?".
"Nggak tau, bungkusnya kecil mungkin wadah garam". Jawabnya asal dan saat di buka, mata keduanya seakan ingin meloncat dari wadahnya melihat sekotak k*nd*m. "Udah aku kira pasti aneh-aneh, emang ya yang namanya kembar kasihnya juga nggak jauh beda, sama-sama alat kontrasepsi". Kesalnya dan Excel hanya mampu menggeleng.
"Kita buka kado mami aja, siapa tau isinya lebih manusiawi". Abel mengiyakan dan membuka kado yang bungkusnya tak membuat mereka curiga, namun saat di buka semburat merah dari wajah Abel terlihat, ia ingin menepuk dahinya saat mengangkat benda itu.
"Kok mami hadiahnya benda mengerikan". Excel mengambil benda itu dari tangan Abel karena malu akan kelakuan sang mami yang ia kira hadianya wajar, tapi ternyata sama saja. "Kalau nggak suka nggak perlu di pakai". Ujarnya. "Tapi kalau di pakai malah terlihat lebih bagus dan menggoda". Terusnya dalam hati.
"Kita ganti buka kado dari papi aja, siapa tau nggak seseram kadonya mami". Excel mengambil kotak yang tak terlalu besar dan membuka bungkusnya. Rasanya ia ingin melempar ke jendela sebotol obat yang bertuliskan.....
VIMAX
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Siapa yang ngira kalau ini episode unboxing iya iya tapi nyatanya malah nggak-nggak.
Kalau like, komen, vote dan tipnya kenceng besok aku tulis bab iya iya 😅😅