Love You Brother

Love You Brother
Kencan Buta


__ADS_3

Abel kembali ke kamarnya namun diikuti oleh Alvin di belakang. Lelaki itu ingin tau mengapa Abel sampai nekat minta di kenalkan oleh papa Rey, kesannya seperti kasus pernikahan politik saja, "Bel tunggu".


Tak menghiraukan permintaan sang kakak Abel terus saja melangkah hingga sampai kamar dan langsung menutup kamarnya. Bukan Alvin namanya kalau langsung menyerah, dia menerobos tak peduli jika nanti Abel mengomel.


"Apaan sih kak main masuk kamar aku, aku mau istirahat tau". Ujarnya saat duduk di atas kasur dan melipat tangannya, Abel sudah tau pasti Alvin akan meminta penjelasan panjang lebar.


"Ngapain sih sampai segitunya, kayak lo gak laku tau nggak, minta di kenali sama anaknya temen papa lagi". Abel beranjak dan berdiri tepat di depan Alvin, ia memandang Alvin dengan tatapan terhina.


"Terserah kalau kak Alvin bilang aku nggak laku, aku cuma pengin cepet dapat pasangan aja". Ujarnya.


"Tapi ngapain sampai segitunya sih bel apa ini gara-gara dia ? Gara-gara si anak angkat itu kan ?". Abel tak menjawab tapi diamnya cukup memberitau Alvin apa jawabannya, hingga tangan Alvin mengepal kuat, "trus kalau lo nggak cinta sama cowok yang bakal di kenalin ke elo, tetep lo mau nerusin hubungan dan nikah sama dia ?".


"Kalau perlu iya aku akan nikah sama siapapun karena bagiku semua sama saja kecuali dia". Alvin mengerti yang dimaksud Abel adalah Excel, semakin Abel tersakiti oleh lelaki itu membuatnya semakin ingin memukuli Excel andai di perbolehkan.


"Terserah deh lo cuma saran gue, lo jangan terlalu maksain hati lo kalau hati lo sendiri menolak". Abel mengangguk dan dilain sisi ia tak bisa melawan kenyataan, "terus kalau hatiku menolak semua lelaki di dunia ini gimana kak ?". tanyanya lirih.


"Hati nggak bisa dipaksain tapi seenggaknya cari cowok yang bikin lo nyaman meski lo nggak suka". Abel tersenyum tipis, senang mempunyai kakak yang mengerti dirinya meskipun laki-laki, tapi ia jadi ingin mengusili kakaknya itu.


"Kak Alvin nasehatin aku emang sendirinya udah punya pacar ?". Abel bisa melihat raut wajah kesal Alvin kala ia menanyakan tentang pasangan kepada kakanya itu. "Gue baru putus puas lo". Kesalnya.


"Belum juga dikenalin udah main putus aja, lain kali kenalin ke aku dulu baru putusin siapa tau kan kak Alvin bohong bilangnya putus padahal nggak punya pacar". Tangan Alvin mengepal dan memberi jitakan di kepala Abel, "rese lo". Ledeknya.


Dan Abel tertawa berhasil mengusili Alvin, kini perasaannya kembali membaik setelah melihat wajah Jennie yang begitu menyebalkan baginya.


*******


Saat ini Abel, Excel, Bagas dan Luci sedang berada di kantor karena kembali membicarakan mengenai kerja sama. Abel sudah tau jika ia dan Excel akan sering bertemu akibat kerja sama ini, namun ia akan bersikap profesional dan sewajarnya bahkan kalau perlu ia akan menganggap Excel bukan apa-apa.

__ADS_1


"Tempo hari kita tidak jadi makan bersama, sebagai gantinya bagaimana kalau malam ini kita makan di tempat yang bagus ?". Mereka bertiga melihat Excel begitu juga Abel yang melihat Excel dengan wajah datarnya.


"Kalian bertiga saja aku sudah ada janji dengan seseorang". Ucap Abel seraya fokus pada berkas di tangannya, ia tak tertarik untuk berada bersama Excel lebih lama tapi sepertinya penolakannya membuat Excel tak terima.


"Tidak bisakah jajimu diundur lain waktu saja, lagipula tempat yang akan ku pesan adalah tempat yang bagus dan tidak semua orang mudah memesan tempat itu". Ujarnya.


Abel menatap penuh tanya ke Excel, terasa aneh lantaran ada unsur paksaan di ucapannya, "maaf tapi keputusanku lebih penting dan tidak bisa diundur lagipula tak masalah bagiku makan bersama atau tidak, bukankah yang penting kerjasama tetap lancar". Jelasnya.


"Tapi aku rasa akan lebih baik kalau kita berempat saling mendekatkan diri lagipula kita akan sering bertemu sampai proyek selesai". Luci dan Bagas saling melihat dan berganti melihat ke arah Excel, sepertinya lelaki itu begitu ingin mereka makan bersama.


"Saya rasa tidak perlu". Ucap Abel singkat, padat, jelas dan sangat menohok hingga Excel langsung diam tak menanggapi lagi. Bahkan Bagas dan Luci hanya jadi penonton saja disana tak berani menanggapi kedua bosnya.


*******


Saat ini Abel sedang duduk di salah satu kursi sebuah restauran. Gadis itu bolak-balik mengeluarkan hp dari tadi hanya untuk melihat jam yang berjalan terasa lambat, ia juga berkaca melihat apakah ada makeupnya yang sedikit luntur atau rambutnya berantakan.


Jika ada upacara agustusan mungkin Abel sudah cocok ikut upacara tersebut mengingat bajunya yang seperti bendera. Semakin lama ia menunggu membuat jantungnya menjadi berdegup kencang, membayangkan bagaimana wajah lelaki itu ia jadi gerogi sendiri.


"Nona apakah kau sudah siap memesan ?". Tanya seorang pelayan seraya menberikan buku menu, Abel hanya tersenyum nyengir lantaran ini sudah yang ketiga kali pelayan bertanya kepadanya, tapi kalau memesan lebih dulu yang ada makanannya keburu dingin dan ia tak tau apa kesukaan lelaki yang akan bertemu dengannya.


"Ntar aja ya mbak temenku belum dateng". Pelayan itu pergi dan Abel kembali melihat jam pada hpnya. "Kenapa lama sekali". Gerutunya dalam hati.


Bahkan untuk pertemuan pertama mereka Abel sudah kurang suka dengan keterlambatan lelaki itu. Biasanya lelaki yang menunggu perempuan namun kini malah Abel yang menunggu hingga setengah jam lebih.


Jika Abel adalah jemuran mungkin ia sudah kering sedari tadi. Menghembuskan nafas pasrah ia hanya bisa menyenderkan punggungnya di kursi dengan perasaan malas. Semangatnya sudah menghilang bahkan jika makeupnya luntur ia sudah tak peduli lagi.


Abel mengangkat tangannya ke arah pelayan, ia haus hingga tenggorokannya kering dan ingin minum. "Mbak jus mangga satu". Pesannya kepada pelan tersebut.

__ADS_1


"Iya tunggu sebentar". Pelayan itu ke belakang dan menyiapkan jus pesanan Abel. Gadis itu hendak menunggu lima belas menit lagi dan kalau sampai tak datang juga ia akan pulang dan meminta papa Rey mencarikan seseorang yang cocok dan tidak suka terlambat dipertemuan pertama seperti ini.


Pelayan kembali dan menyuguhkan jus mangga pesanan Abel ke atas meja "silahkan". Ujarnya.


"Makasih mbak". Abel menyedot jus tersebut seraya melihat ke kanan dan kirinya, ia baru sadar jika ia adalah pengunjung yang datang sendirian disini. Mencoba untuk cuek dan memainkan hp sebagai bahan hiburan.


Abel fokus dengan hp-nya bersamaan dengan itu ada seseorang yang melangkah mendekati mejanya dan berdiri di depannya, "Mariana ya?"


"iya eh......".


.


.


.


.


.


.


.


Votenya turun 😭😭😭 vote yang banyakan napa bukannya naik rankingnya malah turun


yang masih baca novel mama Dina dan papa Rey (novel wanita simpanan ceo) votenya taruh disini aja.

__ADS_1


__ADS_2