
Makasih buat yang udah vote sampai rankingnya naik drastis tau nggak kalau aku bahagia banget 🥰🥰🥰
Terus berjuang untuk mencari poin buat vote aku dan aku juga sedang berjuang untuk menulis untuk up besok
Selamat menikmati doble up hari ini 👇👇👇
______________________________________________
Abel terdiam merasakan perutnya yang bergejolak, dari semalam ia merasakan mual dan bolak balik ke kamar mandi untuk memuntahkan apa yang sudah masuk ke perutnya. Ia berfikir makanan apa yang membuatnya seperti ini atau apakah ia keracunan makanan.
Semakin berfikir malah membuatnya semakin mual, secepat mungkin ia berlari ke kamar mandi dan kembali memuntahkan isi perutnya hingga semua kosong dan tinggal cairan yang terasa sangat tidak enak kala melewati mulut. "Huek huek".
"Mer kamu nggak apa-apa ? Kita ke rumah sakit yuk mama khawatir". Mama Dina memijat tengkul Abel, berharap muntahnya Abel akan segera reda dan baikan, namun dari semalam Abel muntah dan kini bertambah parah.
"Iya ma aku juga udah nggak tahan". Mama Dina memegang tangan Abel menuntun putrinya berjalan keluar dari kamar mandi karena takut terpeleset mengingat kondisi Abel yang terlihat lemas dan sangat pucat.
Dengan diantar supir kedua wanita itu menuju rumah sakit, sesampainya disana butuh beberapa menit untuk masuk menemui dokter karena harus mengantri dengan yang lain. Saat nama Abel dipanggil mama Dina ikut masuk untuk mengetahui sakit apa yang di derita putrinya.
Dokter cantik bernama Iren tersebut mempersilahkan mama Dina dan Abel untuk duduk. Abel menjelaskan tentang gejala sakit yang di deritanya namun ia sendiri memiliki pemikiran kalau sakitnya karena asam lambung.
Setelah mendengar penjelasan dari Abel dokter tersebut memberikan serentetan tes guna mengetahui penyakitnya, walau tes tersebut aneh menurut Abel seakan kalau ia sakit parah, dan setelah menunggu hasil tes tersebut keluar dokter Iren malah mengulurkan tangan, Abel merasa heran mengapa sang dokter malah mengulurkan tangan namun Abel jabat walau ragu. "Selamat ya atas kehamilannya janinnya berumur 6 minggu".
"Ha-hamil ?".
Bruuk
__ADS_1
"Mama". Abel segera menolong mama Dina yang langsung pingsan mendengar bahwa dokter mengatakan kalau Abel sedang hamil, siapa memangnya yang tidak terkejut kala mendengar putri hamil sebelum menikah.
Mata mama Dina mengerjap, kala sudah di pindah ke ruang rawat karena langsung pingsan tadi dan dokter yang ada di sana juga langsung menolongnya. Abel menghapus air matanya dan tersenyum, "mama udah sadar ?".
Seketika air mata mama Dina menetes deras seraya memegang tangan Abel dengan kuat, ia menatap nanar kearah putrinya itu, "katakan siapa, siapa ayah dari bayi yang kamu kandung ? KATAKAN SIAPA!!!".
Tubuh Abel gemetaran, baru kali ini mama Dina berbicara kasar bahkan sampai membentak Abel, ia takut dan menundukkan wajahnya, "E-Excel ma". Mama Dina langsung beranjak dari tempat itu, tak peduli dengan Abel yang mengejarnya di belakang dan memanggilnya.
Tidak mungkin baginya untuk diam saja melihat putrinya hamil di luar nikah dan punya anak tanpa suami, ia tak bisa membiarkannya dan Excel harus bertanggung jawab. Namun mama Dina terlebih dulu menceritakan situasi ini pada papa Rey karena bagaimanapun papa Rey harus tau.
"Kurang ajar". Tangan papa Rey mengepal kuat, setelah mendengar cerita dari mama Dina tak peduli dengan Abel yang masih terisak dan air matanya mengalir deras meminta papa Rey untuk tenang namun siapa yang akan bisa tenang dengan situasi ini.
********
Bug bug
"Kurang ajar kau ya, benar-benar tak tau diri". Papa Rey meninju wajah Excel berkali-kali, karena ia sudah tak bisa lagi membendung amarahnya, "tunggu pa ada apa ini ?". Merasa heran dengan kedatangan Papa Rey yang langsung meninjunya, ia ingin meminta penjelasan.
"Berhenti". Mami Rita langsung melepaskan tangan Papa Rey dari kerah putranya, ia tak terima putranya di perlakukan seperti itu, "ada apa ini kenapa kau kasar pada putraku ?".
Mami Rita dan papi Jimmy yang kebetulan berkunjung ke apartemen Excel sangat terkejut melihat putranya pukuli oleh orang yang mereka sangat kenali.
"Kenapa tidak kau tanyakan saja sama putramu yang tidak tau diri itu, dia memperkosa putriku sampai hamil bahkan setelah kebaikan yang kulakukan untuknya inikah balasan yang dia berikan".
Semua langsung tertegun dan melihat Abel yang tengah terisak di pelukan mama Dina gadis itu sangat takut dengan situasi ini hingga tak berani mengatakan apapun, "Abel apakah benar kau hamil ?". Tanya Excel kepada Abel yang hanya dijawab dengan anggukan.
__ADS_1
"Excel apa benar kau memperkosa Abel ?". Tanya mami Rita dan diangguki oleh Excel. Semua langsung merasa bingung dengan apa yang harus di lakukan, mereka terdiam tau jika Excel salah dan harus bertanggung jawab. "Baiklah Excel kau harus menikahi Abel dan batalkan pernikahanmu dengan Jennie". Ujar papi Jimmy.
Excel sangat terkejut dan melihat kedua orang tuanya secara bergatian, papi Jimmy dan mami Rita amat malu lantaran Excel yang telah menjadi anak angkat bagi Papa Rey selama ini malah menghamili putrinya. Saat ini Excel ia tau kalau tak bisa membantah, "baik aku akan menikahi Abel".
Mama Dina dan papa Rey lega akhirnya mereka bisa menyelamatkan masa depan Abel kalau tidak tentunya tidak akan ada yang mau menikahi Abel dengan kondisi punya anak di luar nikah nantinya belum lagi gosip yang beredar, "bagus kalau lo sadar". Ujar Alvin yang sedari tadi diam.
Alvin tadi hendak menbantu papa Rey untuk menghajar Excel karena amarahnya tempo hari dan kini malah tambah semakin menjadi, namun saat akan membantu papa Rey kedua orang tua Excel terlebih dulu datang hingga membatalkan niatnya.
Dalam waktu 2 minggu persiapan untuk pernikahan Abel dan Excel sudah siap mengingat Abel sedang hamil dan mama Dina mendesak agar penikahan itu cepat di langsungkan sebelum perut Abel semakin membesar dan membuat warga sekitar menggunjingkan mereka.
*******
Excel menatap dirinya di cermin, ia sudah memakai setelan jas pengantinnya dan beberapa menit lagi akan menjadi seorang suami bagi Abel dan ayah bagi anak yang Abel kandung. "Apa ini memang jalan yang harus aku lalui ?". Ia bertanya pada cermin yang memantulkan bayangannya, walau tau tak akan ada jawaban tapi pertanyaan itu terus melitas di benaknya.
"Mau tidak mau kau harus siap". Perkataan mama Rita yang masuk ke ruangan Excel membuat lelaki itu menoleh kebelakang dan menghampiri sang mama, "kau harus siap karena sebentar lagi kau tidak hanya akan menjadi seorang suami tapi juga seorang ayah".
Excel menunduk, ia sejenak memejamkan mata dan menghela nafas berat, "lalu bagimana dengan Jennie mi ?". Mami Rita mengusap kedua bahu putranya yang lebih tinggi darinya itu untuk menyalurkan ketenangan, "relakan dia Excel mami yakin kau bisa".
Excel mengangguk bersama dengan itu mereka berdua di panggil karena acara akan segera di mulai, saat keluar ruangan Excel melihat begitu banyak tamu dengan memakai dresscode putih juga dekorasi yang serba putih begitu juga dengan Abel yang sudah berada disana lebih dulu beserta pendeta yang telah menunggunya.
Excel berjelan ke altar dan berhadapan dengan Abel, dan kata 'aku bersedia' mereka ucapkan membuat mereka akhirnya menjadi pasangan suami istri dan seperti biasa ciuman menjadi penutup. Suara riuh tepuk tangan datang dari tamu yang hadir.
"Excel kau jahat". Excel menoleh ke sumber suara yang tak asing di telinganya, ia sangat terkejut dengan kedatangan Jennie yang memakai gaun berwarna hitam dan air mata yang menetes hingga matanya kemerahan, bahkan penampilannya nampak berantakan.
"Jennie".
__ADS_1