
Excel keluar setelah mendengar dari bi Asih jika ada seseorang yang mencarinya, tak perlu tanya lagi siapa orang tersebut karena memang ia sudah menunggu sedari tadi. Bahkan dengan gembiranya ia keluar rumah langsung melihat mobil Lamborghini berwarna merah di depan rumahnya.
"Permisi apa anda yang bernama tuan Alvin kalau iya silahkan tanda tangan sebagai bukti kalau barang sudah di terima". Alvin dengan semangat empat lima menandatangi tanda bukti tersebut dan menerima kunci beserta dengan surat-surat mobil karena memang mobilnya sudah di lunasi Excel.
Setelah selesai dengan urusannya, lelaki yang mengantar mobil tersebut pergi dan Alvin memeluk juga mencium mobil Lamborghini warna merah tersebut seolah itu adalah belahan jiwanya. "Sayang jangan sampai lecet ya".
"Mobil siapa itu kak ?". Tanya Abel saat melihat mobil baru dengan spion yang masih terbungkus plastik tersebut berada di depannya, ia tadi seperti mendengar banyak orang dan saat kelaur malah mendapati sang kakak yang tidak waras sedang memeluk juga mencium mobil tersebut.
"Mobil gue lah". Jawabnya dengan lantang dan dering hp dari Excel membuatnya melepas pelukan dari si merah, ia menggeser tombol warna hijau dan menampilkan wajah Excel di sana karena dalam mode vidio call.
"Bagaimana mobilnya apakah sudah sampai ?". Tanya Excel di seberang sana dan saat mendengar suara Excel sontak Abel berdiri di samping Alvin dan melambaikan tangan.
"Udah nih thanks ya, lain kali kalau butuh batuan lagi buat lamar orang kasih tau gue, aduuh". Jeweran di kupin Alvin ia dapatkan dari Abel yang berada di sampingnya.
Abel baru tau kalau Alvin dan Excel membuat kesepakan dengan menjanjikan mobil sebagai bayaran dan yang lebih menyebalkan Alvin menawari Excel untuk melamar orang lagi.
"Tega ya kak Alvin minta bayaran mobil, nggak kasihan sama kak Excel, lagian emang siapa lagi yang kak Excel mau lamar lagi?". Suara kekehan di layar hp terdengar saat Excel melihat kedua saudara itu bertengkar.
"Aduh lepas copot ntar kuping gue, jangan salahin gue orang dia aja yang minta tolong nggak protes". Ia membela dirinya sendiri dan sat mencari pembelaan pada Dxcel tentu saja Excel tak mau membantu karena memang ia sendiri keberatan dengan imbalan yang Alvin berikan.
"Maafin kak Alvin yah". Abel merebut hp di tangan Alvin dan meminta maaf atas nama sang kakak, Abel merasa malu sekali Alvin berperilaku seperti itu.
"Udah nggak apa-apa walaupun bayarannya mahal tapi hasilnya setimpal, aku senang kita bisa bersama". Semburat merah terlihat di pipi Abel saat menahan malu, ia senang di perjuangkan seperti ini.
"Alvin". Suara Excel yang memanggil Alvin membuat Abel mengarahkan telfon pada kakaknya yang mencebikkan bibir. "Terima kasih telah membantuku". Ujarnya dan Alvin tersenyum.
"Sama-sama". Jawabnya namun Abel masih tak memberikan hp Alvin tapi malah membawa hpnya masuk untuk melanjutkan ngobrol dengan Excel, walau sudah melihat wajahnya Excel lewat layar hp tapi rasanya ia tak ingin berpisah.
"Hp gue balikin".
__ADS_1
"Nanti".
******
Cincin cantik berhiaskan berlian merah muda terlihat bersinar sangat indah hingga membuat si pemakai selalu tersenyum setiap kali melihatnya. Tapi yang lebih membahagiakan adalah si pemberi cincin adalah orang yang di sukai.
Sudah sangat lama akhirnya Abel bisa tersenyum bahagia lagi bahkan ia memandang lelaki yang dulu selalu bermain dengannya dengan senang. Tak menyangka kalau butuh waktu yang lama untuknya mendapatkan perasaan bahagia ini.
Semua lamunannya buyar saat seseorang ikut duduk di sebelah Abel dan sebuah tangan merangkulnya di sertai senyuman dari pemilik tangan tersebut. "Kenapa dilihat terus cincinnya ? Kurang suka ?".
Saat ini mereka telah berada di apartemennya Excel karena jika mereka bertemu di rumahnya Abel yang ada nanti ketemu papa Rey dan di apartemen juga mereka lebih leluasa menyalurkan rasa sayang juga mengumbar kemesraan tanpa ada gangguan.
Abel menggeleng dan menaruh kepalanya pada dada bidang Excel, ia sangat senang dengan adanya cincin pada jari manis yang selalu mengingatkannya akan lamaran Excel yang selama ini ia tunggu.
"Bagus banget, tapi kenapa aku nggak diajak milih cincin ?". Memilih perhiasan adalah salah satu yang paling di sukai wanita, dimana melihati juga memilih deretan logam mulia dengan berbagai bentuk tentu akan sangat memanjakan mata kaum.
Dan Abel agak sedih karena tak diajak, karena ia menunggu momen tersebut dimana ia dan Excel ke toko perhiasan dan memilih perhiasan mereka bersama, tentu akan sangat menyenangkan.
"Yaudah untuk cincin pernikahan kita nanti kamu saja yang memilih, apapun pilihan kamu aku akan menyukainya dan kita akan membelinya". Mata Abel berbinar, ia bahkan sudah bisa membayangkan deretan perhiasan cantik yang siap untuk di pilih.
"Kak aku__".
"Eh nyebut apa aku tadi ?". Excel terkesiap saat mendengar sebuat yang telah lama tak ia dengar bahkan hatinya terasa damai saat mendengar sebutan itu. Dan kalau diingat lagi itu adalah panggilan yang telah hilang saat hubungan keduanya renggang.
"Kak Excel". Ulang Abel dengan polosnya saat Excel meminta untuk mengulangnya, ia berfikir kalau sebutan itu tak ada yang istimewa namun mengapa Excel menyuruh untuk mengulangnya bahkan terlihat lelaki itu nampak senang sekali.
"Mulai sekarang sampai tua nanti kamu panggil aku kak lagi ya". Pinta Excel dan diangguki oleh Abel, ia merasa kalau panggilan kak yang Abel lontarkan terdengar sangat merdu bahkan melebihi kata sayang, cinta bebeb, honey, bunny ataupun sweety yang biasa seseorang ucapkan.
"Kamu mau ngomong apa tadi ?". Excel ingat kalau Abel tadi hendak bicara namun karena Excel terpaku oleh sebutan yang Abel ucapkan jadinya Abel tak jadi berkata apapun.
__ADS_1
"Gimana sama orang tua kita kak ? Apa mereka akan setuju dan merestui kita ?". Pertanyaan Abel seketika membuat keheningan diantara keduanya bahkan Abel merasa diamnya Excel adalah sebuah jawaban kalau kemungkinan terburuk kedua orang tua mereka tak setuju.
Lama Excel menjawab hingga Abel memilih untuk semakin membenamkan kepalanya mencari tempat ternyaman dan memainkan kancing baju Excel yang saat ini merangkulnya. Ia sangat sedih dengan keadaan ini.
"Kau jangan khawatir, kalau orang tua kita tak setuju kita tetap akan menikah dan memiliki keluarga yang bahagia, walau mungkin tak akan sama tapi aku masih bisa menghidupimu kalau keluarga kita memutus semua fasilitas".
Tak perlu di jabarkan lagi, Abel sudah tau jika jawabannya hubungan mereka tak akan bisa berjalan semulus yang mereka inginkan tapi mereka telah sampai sejauh ini dan untuk mendapatkan hati masing-masing juga tidaklah mudah.
"Kau bujuklah papa dan aku akan membujuk papi juga mamiku". Abel mengangguk walau dengan perasaan sedih, tapi kali ini ia akan lebih semangat memperjuangkan cintanya karena mereka akan berjuang bersama-sama dan tidak lagi sendirian.
" I love you kak". Excel menoleh saat suara merdu terdengar jelas di telinganya, ia bahagia akhirnya bisa mendapatkan Abel meski langkah agak tersendat restu tapi ia yakin semua akan baik-baik saja. "I love you more".
Sebuah ciuman singkat Excel berikan ke Abel namun ia merasa kurang dan mencium Abel lagi tapi kini lebih lama dan semakin dalam, perasaan bahagia kembali muncul saat Abel membalas ciumannya.
.
.
.
.
.
.
.
Episode selanjutnya mereka akan mencari restu dari orangtuanya jadi jangan lupa tinggalkan jejak.
__ADS_1
Klik like, komen, subscribe, bintang dan vote (poin/koin)