
Abel dan Robin seketika melihat ke belakang dengan perasaan takut karena sudah tertangkap basah melakukan hal yang tak seharusnya mereka lakukan apalagi sampai ketahuan seperti ini. Bahkan keringat dingin langsung terasa di telapak tangan keduanya.
"Kak-kak Alvin ?".
Alvin melipat tangannya tersenyum miring melihat adiknya dan Robin telah ketahuan berciuman di depannya, ia merasa senang menangkap basah mereka dan mengulas senyum penuh arti, ia jadi terfikirkan untuk menggoda keduanya.
"Kenapa nggak di lanjut lanjutin aja anggep gue nggak ada, dan gue bakalan nonton operasa sabun secara LIVE". Godanya dan itu berhasil membuat Abel dan Robin tak berkutik dan juga tak membantah.
Namun Abel sangat terkejut bahkan lebih terkejut lagi di bandingkan tadi karena sekarang ini pandangannya mengarah ke seseorang yang berada di belakang Alvin dan orang itu sedang menatapnya dengan pandangan yang ia tak bisa mengartikan apa yang sedang di fikirkan lelaki itu.
Alvin menggerakkan telapak tangannya ke arah Abel yang mematung melihat ke arah belakang, ia penasaran dan memutar tubuhnya, lebih mengejutkan ternyata Excel juga ada di sana dan melihat tingkah dua sejoli yang baru jadian tersebut.
"Ngapain lo kesini ? Mau lihat opera sabun juga ?".Tanyanya meledek dan meraih lengan Excel untuk mengajak lelaki itu pergi. "Udah jangan ganggu mereka".
Alvin mengajak Excel untuk pergi namun sepertinya Excel tak ingin pergi dari sana terlihat dari tubuh lelaki itu yang enggan berpindah tempat. Tapi Alvin semakin kuat menarik tangan Excel hingga keduanya pergi dari sana. "Udah ayo".
Abel menghela nafas berat, gadis itu begitu pusing tertangkap basah sedang berciuman di dapur dan di saksikan oleh kakanya sendiri.
"Maaf ya aku kelepasan tadi". Ujar Robin.
Abel seketika menoleh, ia langsung menggelengkan kepalanya karena bukan sepenuhnya salah Robin juga tapi salah siapapun itu sudah terlanjur dan Abel percaya Alvin taka akan membeberkannya pada mama Dina atau papa Rey, tapi kalau Excel Abel sendiri masih ragu.
"Bukan salah kamu". Abel berusaha menenangkan Robin takut kalau lelaki itu terlalu cemas akan mendapat masalah jika sampai orang tua Abel tau kalau putri mereka telah ia cicipi bibirnya.
"Kalau begitu lain kali boleh lagi ?".
"Eh". Abel langsung gelagapan di buatnya, ia berusaha mencerna ucapan lelaki itu yang bermaksud hendak melakukan itu lagi lain kali tapi, ia sendiri belum bisa melakukan itu lagi.
"Bercanda, udah kamu jangan terlalu tegang".
Abel mengulas senyum canggung di bibirnya, ia tadi pasrah dan tak memberontak walau rasanya berat menerima ciuman dari Robin tapi untuk menerima ciuman Robin yang lainnya apakah ia masih sanggup, entahlah.
*******
Malam telah tiba dan kini waktunya untuk mereka semua tidur dan beristirahat namun kala hendak masuk ke dalam kamar Abel merasa tak suka dan ia yakin kalau malam ini ia tak akan bisa tidur dengan wanita yang ia juluki rubah betina tersebut.
Dan benar saja kala Abel masuk ke dalam kamar Jennie sedang memasang masker di wajahnya bahkan wanita itu meletakkan kosmetiknya secara sembarangan di atas kasur hingga memenuhi tempat tidur.
"Bereskan barangmu aku mau tidur". Ujarnya ketus seraya melipat tangan, menunggu Jennie bergerak dan membereskan barangnya agar ia bisa tidur dan melepaskan diri dari rasa lelah.
"Kau bereskan saja sendiri". Ujarnya santai seolah tak merasa berdosa atau melakukan suatu kesalahan, bahkan ia melanjutkan memasang masker yang belum menempel sempurna di wajahnya.
__ADS_1
Abel sangat kesal dan mengambil semua kosmetik yang ada di kasur itu, membuat Jennie senang karena wanita itu fikir Abel membersekan barangnya tapi ia tak tau kalau Abel benar-benar membereskan barang milik Jennie dengan cara di lempar keluar jendela.
"Make up mahalku". Pekik Jennie dan berlari melihat ke bawah jendela dengan raut wajah tidak senang hingga maskernya lepas. "Kau fikir apa yang kau lakukan beraninya kau membuang barangku".
Abel menggendikkan bahu, ia merasa senang dan tak peduli dengan barang Jennie yang telah jatuh dari jandela lantai dua villa tersebut. Jennie mengacungkan jari telunjuknya ke arah Abel dan mengancam gadis itu.
"Awas saja kau lihat nanti pembalasanku". Setelah mengatakan itu Jennie keluar dari kamar dan mencari juga memungut kosmetiknya yang jatuh di tanah. Sekitar sejam Jennie baru selesai menemukan semua kosmetiknya hingga wajahnya terlihat berkeringat juga berantakan dan kembali ke atas untuk tidur.
Namun sialnya Abel mengunci pintu kamar dari dalam hingga Jennie tak bisa masuk, ia bahkan memakai penyumbat telinga jaga-jaga kalau Jennie berteriak meminta untuk di bukakan. Dan benar saja Jennie berteriak namun tak mendapat sautan dari dalam hingga ia terfikirkan untuk mengadukan ini kepada Excel.
Jennie melangkahkan kaki ke kamar Excel hendak mengadukan ini semua agar Abel di marahi dan ia bisa tidur sekamar dengan Excel karena ia tak sudi berbagi kamar dengan Abel. "Ex_"
"Jennie apa yang kau lakukan disini ?". Tanya mama Dina.
Jennie hendak memanggil Excel namun terhenti kala ada mama Dina yang kebetulan lewat, seketika ia merasa canggung dengan wanita yang Excel anggap ibu angkatnya tersebut.
"Ma-malam tante, aku ingin menemui Excel karena Abel maksudku Merry tak membiarkanku masuk ke dalam kamar". Jelasnya terbata karena ia sungguh merasa tak nyaman dengan ibu dari rivalnya.
"Jennie saya harap kamu mengerti jika tidak di perbolehkan untuk masuk ke dalam kamar laki-laki lagipula kau dan Excel baru bertunangan, kalian bisa melakukan apapun nanti setelah menikah, tolong hormati saya dan kembali ke kamarmu".
"Iya tante". Jennie tak berkutik, ucapan mama Dina layaknya permainan catur yang sudah skak, ia pasrah dan kembali ke kamar namun hasilnya sama saja dan masih terkunci dari dalam, gadis yang ia remehkan kali ini menang dan ia menuju ke kursi panjang yang terbuat dari kayu.
"Aduh gatel banget". Jennie menggaruk lengan juga kakinya, efek gigitan nyamuk memberikan sensasi gatal setelahnya yang membuat tubuhnya memiliki bintik kemerahan. Menunggu pintu kamar terbuka sembari berbaring disana namun tak sangka ia malah benar-benar tidur di kursi itu sampai pagi.
Abel membuka pintu kamar dan merenggangkan ototnya setelah tidur nyenyak dan mandi pagi dengan tenang yang ia kira tak kan bisa ia lakukan tapi nyatanya bisa karena Jennie yang ia sebut rubah betina tak menemaninya, entah kemana wanita itu yang jelas Abel tak peduli.
"Ppfft". Abel menahan tawanya kala melihat Jennie yang tidur di kursi kayu tanpa bantal juga tanpa selimut, bahkan sesekali wanita itu tampak menggaruk badannya yang masih terasa gatal akibat gigitan nyamuk yang berkunjung dengan mata yang masih terpejam.
Jennie membuka mata dan menyadari jika hari sudah pagi, ia langsung melihat Abel yang berdiri dengan tangan yang di lipat di dada, gadis itu nampak hendak memberikan hinaan.
"Kau pasti senang kan aku seperti ini dan di gigiti nyamuk semalaman ?". Tanyanya sengan nada ketus juga tatapan mata tajam.
"Iya aku sangat senang bahkan puas, besok kau tidur disini lagi juga tak apa, anggap saja kau sedang donor darah kepada nyamuk". Jawabnya santai seraya menahan tawa dan melangkah pergi.
Jennie melangkah hendak menuju ke kamar untuk untuk mandi namun sensasi gatal yang tak kunjung hilang membuat dirinya tak fokus berjalan seraya menggaruk bagian yang berwarna kemerahan dan menabrak seseorang di depannya.
"Apa kau tidak punya mat....". Jennie mendongak melihat seorang laki-laki yang ia tak sangka akan terlihat sangat tampan ketika di lihat dari dekat, ia menyesal mengapa tak melihat ketampanan itu sebelumnya, mungkin itu karena lelaki ini adalah kakanya Abel.
"Eh maaf aku tak sengaja". Jennie langsung berubah ekspresi dan memperlihatkan senyuman termanisnya tak jadi memaki lelaki di depannya. Di mata Jennie Alvin nampak sangat tampan dengan wajah putih mulus itu seperti di sinari oleh banyak lampu terang yang semakin membuatnya tampan.
Alvin nampak mengendus-endus bau di sekitarnya dan menutup hidung, lelaki itu melihat Jennie dan melontarkan pertanyaan kepada waniat itu. "Lo nyium bau aneh nggak ?".
__ADS_1
"Nggak, emang bau apa ?". Tanyanya balik, ia tak merasa mencium bau apapun.
"Bau cewek munafik". Jawabnya seraya memencet hidung dan meninggalkan Jennie dengan kekesalan yang membuat siapa saja merasa ngeri terhadap wanita itu, dan pagi itu adalah pagi terburuk yang di miliki seorang Jennie seumur hidupnya.
"Ih ngeselin".
.
.
.
.
.
.
.
.
Gantengnya dirimu bang baru bangun aja masih gantengππ€©π€©π€©
Eh itu ntar kupingnya yang tindikan di marahin papa Rey apa nggak ya ππ
Saking kincongnya itu saumpama ada bulu jatuh di wajah pasti langsung meluncur bebas tanpa hambatan.
apalah diriku yang tak semulus dirimu, kalau ada kelapa nempel di wajahku yang ada malah langsung jadi kelapa parut πππ
.
.
.
.
Kata bang Alvin like dan votenya jangan lupa πππ
__ADS_1