
Abel membuka laptop dan juga bukunya untuk mengerjakan skripsi, cukup sudah mengenai Excel yang selama ini membelenggu fikirannya dan membuatnya sakit hati, ia harus memikirkan yang lain juga lagipula Excel tak akan pernah tau rasa sakitnya bahkan semenjak itu tak ada satupun pesan maupun kabar dari Excel.
Abel tersenyum miris ketika ia berharap setidaknya ada satu pesan dari Excel entah menanyakan kapan atau sekadar basa-basi, tapi nyatanya tidak dan Excel tak peduli kalau begitu Abel juga akan menjadi tak peduli dengannya, biarlah Jennie melaksanakan rencana jahatnya lagipula Excel sudah memilih untuk peduli ke Jennie timbang dirinya.
"Semangat Abel semangat". Dengar hati yang nano nano ia berharap bisa menyelesaikan skripsinya dengan cepat dan segera lulus. Hari demi hari berlalu skripsi membuatnya sibuk hingga melupakan Excel sejenak.
Bahkan Abel hanya keluar saat bimbingan skripsi saja dan langsung pulang, ia bahkan tak mood untuk pergi shopping atau hangout seperti yang ia sering lakukan dulu sebelum kemunculan Excel.
"Gimana udah siap belum ?". Tanya mama Dina saat berada di kamar Abel.
Abel tengah selesai bersiap untuk sidang skripsi, pakaian hitam putih juga tak lupa ia kenakan, senyuman untuk memulai sesuatu yang baik dan berharap akan datang kebaikan juga hari ini. "Udah ma doain aku ya".
"Doa mama selalu menyertaimu sayang, yaudah ayo kita sarapan dulu nanti kalau kamu lapar malah nggak fokus".
Keduanya turun kebawah dan memulai hari dengan sarapan, setelah itu supir sudah siap dengan mobil yang yang akan mengantarkannya ke kampus. Pak supir membukakan pintu untuk Abel dan sebelum masuk Abel menarik nafas dan menghembuskan ya pelan. "Terima kasih pak".
Tak lama mereka sampai di tempat tujuan tanpa ada kendala seperti macet dan lainnya, dan sampainya di sana Abel melihat Felly yang sudah datang terlebih dulu, keduanya menunggu giliran untuk disidang seraya mengucapkan doa berkali-kali, dan saat nama Abel di sebut ia masuk.
Setelah selesai Abel keluar dengan wajah muramnya membuat Felly jadi penasaran dan menghampiri Abel, "kenapa bel kok sedih? Lo nggak lulus ?". Abel hanya terdiam seraya menunduk sedih membuat Felly berasusmsi jika Abel tak dapat lulus sidang skripsinya.
"Nggakpapa bel masih ada kesempatan lagi kan lain kali". Felly langsung memeluk Abel mencoba menenangkannya seraya mengelus punggungnya namun tanpa ia ketahui jika Abel tersenyum dalam diam di pelukan Felly, dan karena tak bisa lagi menahan tawa akibat mengerjai Felly iapun tertawa hingga membuat Felly langsung melepas pelukannya.
__ADS_1
"Lo ngerjain gue ya ?". Tanyanya namun Abel tak bisa menghentikan tawanya hingga membuat Felly kian sebal, "ih sebel banget gue, nggak tau ala gue lagi deg-degan nih nunggu giliran lo-nya malah ketawa".
"Ya sorry abis udah lama nggak ngerjain kamu, sekalian biar nggak tegang mulu". Jawabnya ketika tawanya sudah mereda. Ketika nama Felly di panggil mereka berdua menoleh dan seketika tubuh Felly gemetaran ia takut jika sidangnya tidak berjalan dengan lancar, "doain gue ya dan jangan tinggalin gue". Pesannya sebelum masuk ke dalam.
Cukup lama akhirnya Felly keluar dan senyuman mengembang di bibirnya, tanpa Abel perlu tanya juga ia sudah tau Felly lancar-lancar saja, "akhirnya bel kita lulus juga gue mau ajak cowok gue ah ke wisuda sekalian pamerin gitu".
Abel mencebikkan bibir melihat tingkah temannya yang kekanakan tersebut namun ia sudah biasa bahkan sifat Felly itulah yang membuat pertemanan mereka jadi seru. "Sejak kapan punya pacar ? Kok aku nggak tau". Felly mengedipkan mata menggoda Abel, "emang nggak gue kasih tau ntar malah dianya suka lagi sama lo dan mutusin gue".
"Dasar nggak bakaln aku makan temen sendiri". Mereka berdua berpelukan, tak sakit hati dengan perkataan Felly karena mereka sudah saling tau sifat masing-masing, dan tak akan mungkin juga Abel mengambil lelaki yang menjadi incarannya Felly. "Lo sekalian bawa si om gebetan lo itu ya kenalin ke gue pas wisuda".
Abel melepaskan pelukannya ke Felly, senyuman yang tadinya ada di bibirnya kini memudar seiring dengan kembalinya serentetan kejadiannyang Abel alami juga perasaanya yang sakit dan membekas, lukanya seolah di sayat di tempat yang sama.
"Udah ih sabar yang lain masih banyak, yang ganteng juga bukan dia doang. Abel hanya tersenyum tipis ia tak tau harus berekspresi seperti apa karena ingat Excel, dan itu membuat Felly kian merasa bersalah hingga terlintas untuk menggoda Abel, "gimana kalau lo gue kenalin sama om gue kan lo sukanya om-om iya kan ?".
"Emang kamu kira aku cewek apaan suka om-om". Jawabnya dengan sebal, namun Felly tertawa puas menggoda Abel sekaligus lega berhasil membuat Abel tersenyum kembali. "Udah yuk kita cari makan aku nungguin kamu sampai kering kayak jemuran tau nggak".
"Yaudah yuk perut gue juga perlu diisi, tekanan bikin gue laper apalagi di suruh mikir". Abel memutar bola matanya, padahal juga memang Felly doyannya makan.
******
Abel pulang kerumah dengan suasana hati yang baik, iabtak sabar menyampaikan pada orangbrumah jika ia berhasil lulus dan akan wisuda sebentar lagi. Perjuangannya selama ini terbayar sudah.
__ADS_1
Saat Abel masuk ke rumah ia bisa melihat mama Dina yang duduk dengan mata terpejam yang Abel yakini mama Dina sedang berdoa. Memang mama Dina akan selalu khawatir akan apapun apalagi ini hari penting bagi Abel, "ma Abel pulang".
Mata mama Dina yangbterpejam kini terbuka dan lansung beranjak dari duduknya menghampiri sang putri, ia tak sabar mendengar hasilnya, "gimana sayang lancar apa nggak ?".
"Iya ma lancar". Mama Dina sangat senang hingga menghadiahkan kecupan pada dahi Abel dan memeluk Abel erat, "mama seneng dengernya, kapan wisudanya ?". Tanya mama Dina.
"Satu setengah bulan lagi ma". Jawabnya.
"Bagus kalau gitu masih ada waktu cari kebaya yuk sekarang aja". Abel melongo mendengar penuturan mama Dina, apalagi sekarang mama Dina ke kamarnya dan kembali membawa tas menghampiri Abel yang masih diam mematung, "tapi aku ini baru balik lo ma nggak beso-besok aja ?".
"Mama udah nggak sabar cariin kamu kebaya". Mam Dina menggengam tangan Abel dan menariknya hingga masuk ke dalam mobil, padahal yang hendak di wisuda dia kenapa jadi mama Dina yang lebih exited ? Entahlah yang penting mama Dina senang.
Dan beradalah kini mereka berdua di sebuah butik sekaligus bridal terkenal di kota itu, dalam fikiran Abel ia menduga jika mama Dina akan mengeluarkan uang banyak kali ini mengingat tempat itu sangat terkenal kualitasnya juga terkenal mahal.
"Selamat sore ada yang bisa saya bantu ? Lagi cari apa ?". Tanya penjaga butik tersebut.
"Saya cari kebaya untuk anak saya mbak". Tunjuk mama Dina pada Abel dan Abel hanya tersenyum tipis, kemudian penjaga butik tersebut mengajak mereka berkeliling melihat deretan kebaya hasil rancangan pemilik tempat tersebut.
Namun mata Abel terpana melihat salah satu ballgoun disana, sangat cantik menurut Abel bahkan ia sangat suka dengan model gaun tersebut padahal tak memiliki model yang rumit, sederhana namun sangat cantik hingga tangan Abel terulur untuk menyentuhnya.
"Jangan sentuh gaun pengantinku".
__ADS_1