Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Jangan Pergi


__ADS_3

Abel terdiam di tempatnya dan tak menyadari jika butiran bening luruh hingga menetes ke surat yang Excel tuliskan membuat tulisan yang basah lalu menjadi kabur. Ia masih mencerna semua dan menyimpulkan kalau dirinya dan Excel tak akan bertemu maka dari itu Excel pamit lewat surat.


Kepalanya menggeleng samar dan memejamkan mata, merasakan ada yang menembus hatinya hingga terasa nyeri dan menyakitkan. Ia tak bisa menerima ini dan tak merelakan Excel pergi begitu saja tanpa menemuinya lebih dulu.


Lebih dari itu ia tak bisa membiarkan Excel pergi meninggalkannya seperti ini. "Kak bilang sama aku kalau ini cuma bercanda, ini nggak bener kan kak ?".


Abel menunjuk sepucuk surat yang menjadi barang bukti perpisahan Excel dengan tulisan tangan yang sangat ia kenali namun ia berusaha tampik kebenarannya. Karena tak mau menerima kenyataan bahwa Excel akan pergi.....lagi.


"Tadi dia kesini pamitan sama gue dan waktu gue suruh masuk buat nemuin lo dia nggak mau, dia bilang katanya nggak mau ganggu lo lagi". Abel semakin menggeleng cepat dengan air mata yang kian deras mengalir melewati wajahnya.


Ia sedih, tak terima dan kesal mengapa Excel yang bilang akan berjuang kini malah menyerah begitu saja bahkan untuk mengatakan menyerah secara langsung dan menemuinya saja lelaki itu tak mau, benar-benar pengecut.


Abel membuang kertas itu dan melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan Alvin yang masih heran di belakang. "Lo mau kemana ?". Tanyanya seraya mengejar Abel dan setelah berhasil meraih lengan adiknya dengan gerakan seketika Abel terhenti.


"Aku mau ngejar dia, nggak bisa dia kayak gini seenaknya datang dan pergi sesuka hati". Alvin mengangguk dan menyuruh Abel untuk menunggu sebentar guna mengambil kunci mobilnya yang berada di dalam kamar, dan menyakinkan Abel kalau menggunakan mobil akan lebih cepat sampai ke bandara.


"Kak lebih cepat lagi". Abel meremas jari jemarinya yang terasa kian dingin dan tak sabar untuk segera sampai di bandara guna mencari Excel dan.... selanjutnya ia tak tau namun hati kecilnya seolah menyuruhnya untuk menemui lelaki itu.


"Sabar ini juga udah cepet, kalau nambah lagi ntar kita ditilang". Saat dirasa tak ada polisi dan jalanan lenggang barulah Alvin melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Walau ada beberapa lampu lalu lintas yang ia terobos guna memenuhi permintaan sang adik yang ingin segera sampai.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama untuk sampai di bandara kini Abel harus di hadapkan dengan kesulitan lain karena banyaknya orang yang ada di sana membuatnya sangat sulit mencari keberadaan Excel.


"Dia dimana sih kak ?". Tanyanya frustasi setelah benar-benar kesulitan hanya untuk mencari seorang lelaki saja, bahkan punggung mereka semua nampak sama apalagi potongan rambutnya yang terlihat umum membuat Abel semakin sulit membedakan.


"Coba lo telfon". Abel mengangguk dan mengambil hp yang berada di saku celananya, untung saja ia membawa hp padahal tadi dirinya begitu panik. Namun percuma juga karena nomer Excel tak bisa di hubungi.


"Nggak bisa kak gimana ini ?". Fikiran Abel berkecamuk untuk menepis kemungkinan terburuk kalau Excel sudah berada di dalam pesawat dan pergi. Abel menangis meraung menyebut nama Excel yang telah membuat hatinya selalu saja berantakan.


"Jangan pergi aku mohon jangan pergi". Abel berteriak sekuat tenaga hingga suaranya terdengar sumbang diiringi tangis tiada henti dan air mata yang sedari tadi sudah tak bisa di bendung. Bahkan Abel tak peduli dengan orang-orang yang melihatinya.


Ia marah dan kecewa setelah kepergian Excel membuatnya menyadari kalau seberapa marahpun tetap ada rasa cinta yang sedari dulu ia berusaha singkirkan. Namun rasa itu selalu muncul dan berubah menjadi rasa ingin memiliki.

__ADS_1


Hingga tak rela jika separuh hatinya kini telah pergi, semua telah terlambat, Excel pergi membawa hatinya yang mungkin tak akan bisa mencintai siapapun lagi karena ia yakini hanya satu nama dihatinya dan ia tak bisa melihat lelaki itu lagi.


"Abel !!". Seruan dari seseorang tak bisa membuat Abel menyadari suara tersebut karena terlalu larut akan kesedihan dan air mata yang berusaha ia tutupi dengan telapak tangan.


"Abel jangan nangis". Kembali suara tersebut terdengar namun samar-samar bagi Abel tapi sama saja Abel masih sedih dan tak menyadari keberadaan Excel di depannya hingga lelaki itu berinisiatif untuk memeluk dan merasakan kesedihan yang Abel tunjukkan.


"Aku disini jangan menangis lagi". Suara lirih dan pelukan itu mampu membuat Abel berhenti menangis walau masih terisak, ia tau siapa pemilik suara ini dan juga aroma tubuh yang khas sekali.


Ingin rasa percaya namun ia takut kecewa, sampai elusan di rambutnya menyadarkan kalau memang benar yang sedang mendekapnya saat ini adalah lekaki yang ingin ia usir dari hatinya selamanya tapi nyatanya sudah berhasil mencuri hati Abel.


"Kak jangan pergi, aku cinta sama kau, tolong jangan tinggalin aku". Abel kembali terisak dan memeluk Excel erat dan semakin erat seakan tak membiarkan Excel bergerak sedikitpun saja, ia takut kalau merenggangkan pelukan dalam sekejap Excel akan pergi.


"Jangan pergi, katanya kamu akan berjuang untuk aku, kenapa malah cepat sekali ingin pergi".


"Tidak akan karena aku akan disini menemanimu selamanya, aku juga mencintaimu bahkan sangat". Excel tersenyum senang dan mendekap Abel dengan begitu bahagia, setelah selama ini ia sangat sulit mendapatkan permohonan maaf dan kepercayaan Abel kembali kini semua perjuangannya membuahkan hasil yang sangat manis.


Excel mengacungkan jempol kepada seseorang yang berdiri di belakang Abel dengan senyuman bangga karena ini adalah rencananya dan semuanya telah sukses besar bahkan berhasil membuat Abel menangis sampai seperti itu adalah di luar perkiraannya, tapi sejauh ini semuanya sangat sukses.


"Akhirnya kalian baikan, lega gue". Suara Alvin membutarkan suasana yang sudah romantis melebihi kisah Romeo dan Juliet milenial. Meski menyebalkan namun Excel akui Alvin sangat hebat dalam menyusun rencana kali ini.


"Lo tadi dimana sih, kita cariin susah banget ketemunya ?". Alvin sebal karena hampir saja tadi meleset dari rencana dengan keberadaan Excel yang memang tak ia ketahui lokasinya. Dan itu membuatnya benar-benar khawatir.


"Aku menunggu kalian di penerbangan internasional tapi ternyata kalian malah mencariku di penerbangan domestik, bukankah aku sudah jelas akan ke luar negri kenapa malah mencariku di penerbangan lokal". Sudah sedari tadi Excel kenunggu kedatangan Abel dan berulang kali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Sengaja ia mematikan hp agar Abel kesusahan mencari dan mengungapkan perasaan kehilangan namun itu juga menjadi bumerang saat ia dengan gelisah menunggu tapi tak bisa menelfon Alvin, akhirnya ia memutuskan untuk mencari keduanya.


Dan saat melihat mereka dari kejauhan Excel merasa senang karena memang Abel masih mencintainya, kalau tidak untuk apa gadis itu sampai mengejarnya ke bandara dan saat mendekat malah mendengar Abel mengungkapkan cinta seraya menangis tersedu. Ia senang sekali rencana yang telah Alvin buat kali ini sukses besar.


"Jadi kalian merencanakan ini semua untuk menipuku ?". Abel menatap Alvin dan Excel secara bergantian dengan tatapan mata tajam seperti hendak membunuh, merasa kesal karena sudah di bohongi.


Excel hanya bisa meneguk salivanya dengan sukar, ia lupa jika Abel berada di sebelahnya dan lupa jika gadis itu tak suka dibohongi, ingin rasanya menepuk dahinya sendiri karena keteledorannya.

__ADS_1


"Eh nggak gitu aku cuma...?". Excel mengedarkan pandangan, takut melihat Abel saat berusaha merangkai kata menjadi sebuah alasan yang nyatanya tak bisa ia utarakan karena memang benar, ia membohongi Abel bahkan koper yang ia bawa saat ini tidak ada isinya karena ia sama sekali tak berencana pergi.


"Cuma apa hah ? Dasar ngebelin".


"Aduuuh". Abel menarik telinga Alvin dan juga Excel karena sudah dibohongi oleh kerja sama orang yang paling dekat dengannya, bahkan ia tadi tak peduli menangis begitu deras dan di lihat oleh banyak orang. Tapi nyatanya ini semua sudah ada dalam rencana mereka berdua.


"Rasain".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak 🙂♥️

__ADS_1


__ADS_2