Love You Brother

Love You Brother
Bimbang


__ADS_3

Abel masih diam terpaku di tempatnya berdiri, tubuhnga serasa tak bisa bergerak dan lilidahnya kelu, ia masih memandangi Robin yang menyodorkan buket besar bunga mawar kepadanya dan lelaki itu menunggu jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan.


Ini adalah kali ke berapa seolang laki-laki menyatakan cinta padanya, namun semuanya dulu Abel tolak karena ia menunggu pangeran masa kecilnya datang dan menyatakan cinta. Tapi kini berbeda Abel sudah tak ada harapan.


"Ro-Robin gimana ya a-aku". Detak jantung Abel terasa cepat dan ia seperti merasakan sesak hingga membuatnya sulit bernafas, rasa hati menolak tapi di lain sisi tidak bisa, mungkinkah ini waktunya Abel membuka pintu hatinya selebar mungkin untuk Robin menghuni hatinya. "Iya aku mau jadi pacar kamu".


Abel bisa melihat raut wajah Robin yang berubah senang, lelaki itu memeluk Abel secara spontan diiringi suara tepuk tangan para pelayan yang berada di sana. "Makasih ya aku janji akan membuat kamu bahagia".


Abel tersenyum canggung dalam pelukan Robin berkali-kali bertanya apakah yang ia lakukan sudah benar tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya hingga membuatnya tidak sebahagia Robin, walau begitu ia kini sudah menjadi pacar Robin yang artinya hubungan mereka sudah satu tingkat lebih dekat dengan keseriusan.


Abel dan Robin melepaskan pelukan dan diterimanya buket besar bunga mawar itu hingga ia harus memegang dengan kedua tangan, Robin sudah menyiapkan segalanya untuk mengutarakan perasaannya.


Saat akan masuk ke dalam mobil Robin sigap membukakan pintu mobil untuk wanita yang telah menjadi kekasihnya beberapa menit yang lalu. Dan kemudian berjalan memutar untuk masuk ke mobil. Tak lupa juga Robin memasangkan sabuk pengaman bagi Abel, mengikis jarak diantara hingga parfum keduanya tercium di hidung masing-masing.


Abel sedikit memundurkan duduknya, ia merasa tak nyaman kala Robin memasangkan sabuk pengaman, padahal harusnya itu sesuatu yang wajar namun entah mengapa ia kurang suka. Bahkan di perjalanan pulang Abel hanya melihati jalanan di luar jendela mobil dengan wajah sendu.


*********


Abel pulang ke rumah dengan diantar oleh Robin, kini ia dan Robin telah resmi menjalin hubungan namun ada perasaan yang mengganjal hingga membuatnya sulit untuk tersenyum. Walau begitu Abel selalu meyakinkan dirinya kalau ini adalah keputusan yang paling benar yang ia buat.


Ia masih membawa buket bunga mawar pemberian dari Robin dan itu membuat sang mama penasaran mengapa Abel membawa buket mawar, "itu bunga beli atau di kasih orang Mer ?". Tanya mama Dina.


Abel memandang ke arah bunga itu yang sedikit layu karena bunga memang tak bisa bertahan lama setelahterpisah dari akarnya, bunga itu tadi menjadi saksi bisu kalau ia sudah terikat dengan Robin, "dikasih Robin ma tadi dia menyatakan perasaan sama aku dan ngajak pacaran".

__ADS_1


Mama Dina terkesiap sepontan memegang tangan Abel dan mengarahkan ke sofa, hendak meminta penjelasan secara lebih terperinci, "Gimana tadi terus kamu terima apa kamu tolak ?".


"Aku terima ma". Abel tersenyum tipis seakan tau apa yang ada di benak sang putri, mama Dina penasaran kenapa Abel jadian tak seperti tak ada kebahagian yang terlukis di wajah cantiknya. "Kamu kok kayaknya nggak senang gitu kan kalian udah pacaran ?". Mama Dina masih setia melihat Abel yang menunduk seolah menyembunyikan wajahnya.


"Ngak apa-apa kok ini aku senang". Namun mama Dina tak langsung percaya apalagi ia sudah sangat lama mengenal bagaimana Abel kalau berbohong, gadis itu tak pandai menyembunyikan perasaan apalagi kepada ibu yang telah melahirkannya. "Jangan bohong sama mama cerita dong, apa kamu masih mikirin Excel ?".


Senyuman tipis Abel sirna, kebohongannya tak mempan pada mama Dina bahkan hanya untuk menyembunyikan perasaan saja ia tak pandai kalau begitu mana ada orang yang akan percaya kepadanya bahkan di hatinya Excel sudah tak ada bahkan untuk membohongi hatinya saja tidak mampu.


"Aku nggak tau ma apa yang aku lakuin ini benar apa nggak, di satu sisi aku ingin melupakannya dan disisi lain aku masih ingat dia". Semakin lama di fikirkan mata Abel sampai mengeluarkan bulir bening yang ada di ujung matanya, "apa aku udah melakukan hal yang benar ma ?". Tanyanya dengan nada rendah.


"Benar atau tidaknya mama juga nggak tau tapi coba jalani aja dulu toh nggak ada salahnya mencoba lagi pula kamu juga sudah menerima Robin kan ?". Abel mengangguk lemah.


Mama Dina membawa Abel dalam pelukan, mengelus dan mencium puncak kepala putrinya, terlalu banyak hambatan yang membuat Abel sulit mendapatkan kebahagiaan. Tapi mama Dina percaya semua kesulitan akan berlalu walau tidak tau pasti kapan tepatnya.


********


"Udah siap ?". Abel mengangguk sebagai jawaban dan mereka masuk ke dalam mobil untuk mengantar Abel ke kantornya barulah Robin ke kantornya sendiri setelah itu.


"Bagaimana kalau kita sarapan dulu ?". Tawarnya.


Abel menoleh melihat Robin yang fokus menyetir mobil agar tak menabrak tapi sesekali melihat Abel untuk mendengar jawabannya. "Tapi aku udah sarapan dan aku pagi ini langsung ada meeting". Jawabnya karena sebelum berangkat tadi memang Abel sudah sarapan.


"Yaudah kalau gitu aku nanti makan di kantor aja". Abel tak enak hati menolak ajakan Robin tapi memang ia harus menghadiri meeting yang akan di langsungkan pagi ini makanya ia terburu-buru untuk segera sampai di kantor.

__ADS_1


Robin kembali membukakan pintu mobil sebelum Abel terlebih dulu keluar, namun baik Abel maupun Robin masih berdiri di sana, "ada apa ?". Tanya Abel karena bingung dengan Robin yang masih disana dan tak mengatakan apapun.


"Ntar aku jemput ya". Abel mengangguk sebagai jawaban, ia sudah tau karena Robin sudah mengatakannya sedari semalam dan mungkin Robin mengatakannya lagi agar Abel tak pulang lebih dulu dan menunggunya.


Abel melihat Robin yang nampak ragu, entah apa yang di ragukan lelaki itu namun belum sempat bertanya Abel sudah terlebih dulu terkejut dengan kecupan di kening dari Robin.


CUP


"Yaudah aku ke kantor dulu ya". Abel masih terdiam, ia kehabisan kata-kata dan hanya bisa mengangguk sebelum Robin pergi. Abel menyentuh dahinya yang di cium oleh Robin lalu membalikkan badan hendak masuk ke dalam kantor. Abel terkesiap mendapati seseorang yang telah menatapnya dengan tatapan yang tidak ia mengerti.


"Excel ?"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa tinggalkan jejak dan vote yang banyak


__ADS_2