
Matahari sudah kembali ke peraduannya dan berganti malam berhiaskan bulan di langit. Dengan semua manusia yang kembali ke tempat asalnya setelah beraktifitas seharian untuk melepas lelah. Namun berbeda dengan dua orang lelaki, Excel dan Alvin yang malah semakin sibuk merencanakan niatan mereka pada tengah malam.
Memasuki garasi mobil dengan salah satu diantaranya berjaga sedangkan yang satunya melancarkan aksi tersebut. Mereka melakukan seuatu hal yang nekad hanya untuk hasil kecil yang mungkin hampir tiada artinya.
"Sudah belum, jika ada yang kesini bisa gawat". Lelaki yang sudah masuk kepala tiga tersebut merasa ketakutan, bahkan keringat mengucur di dahi juga lehernya menandakan kalau ia sangat tak tenang akan rencana Alvin yang mengempiskan dua ban mobil Abel.
"Belum, udah jangan berisik kalau lo nggak mau ketahuan". Alvin tetap tak mengalihkan perhatiannya dari ban mobil berjenis sport berwarna putih yang beberapa bulan lalu di jadikan hadiah kelulusan bagi abel.
Namun saat ini kedua sisi ban mobil tersebut harus di buat kempis agar Abel tak dapat mengendarai mobil tersebut dan saat itu tiba Excel akan datang layaknya pahlawan kesiangan yang menawarkan tumpangan bagi abel.
"Udah nih". Alvin menepuk kedua tangannya yang telah selesai meremcanakan niatan tersebut dan mengusir segala debu yang masih menempel sebagai tanda jika niatan buruknya telah selesai satu tahap dan tinggal tahap selanjutnya.
"Kau yakin ini akan berhasil ?, aku rasa ini tidak baik". Excel masih mengawasi sekitar dan sesekali melirik hasil pekerjaan Alvin, ia seperti habis melakukan kejahatan besar dan sepeti maling padahal ini semua idenya Alvin.
"Udah lo tenang aja, anggep ini cuma kebetulan bukan perencanaan". Alvin menarik lengan Excel agar pergi dari garasi secepatnya sebelum ada seseorang yang melihat tingkah nakal mereka dan semuanya jadi kacau.
******
Dua pasang mata dengan lingkaran berwarna hitam di sekitarnya, menandakan kalau tidurnya kurang nyenyak terlihat di mata Alvin dan juga Excel. Namun bukan tidur kurang nyenyak alasan terciptanya lingkaran mirip mata panda tersebut.
Melainkan karena mereka berdua memang baru tidur beberapa jam setelah melancarkan aksi pada tengah malam layaknya kelelawar yang beraksi hanya pada malam hari dan saat semua orang telah beristirahat.
"Kalian nggak tidur ya semalem ?". Pertanyaan itu terlontar dari bibir merah nan cantik milik mama Dina, walaupun sudah berumur namun kecantikannya masih terpancar.
"Tidur kok ma". Jawab Alvin dengan cepat saat melihat Excel hendak membuka mulutnya, ia takut kalau Excel akan membocorkan rahasia jika mereka yang telah mensabotase mobil milik Abel pada malam hari.
Rencananya Abel akan di hadapkan pada kenyataan bahwa mobilnya tidak bisa di gunakan karena kedua bannya kempis dan tidak ada yang memberinya tumpangan selain Excel bahkan tadi Alvin mengunci Abel di kamar mandi agar gadis itu agak telat bersiap ke kantor.
Benar saja Abel sampai sekarang tak kunjung keluar dari kamar, mungkin masih memakai pakaian atau berhias, ia tak peduli yang penting Abel telat. Dengan segera Alvin mengunyah makanannya agar bisa cepat ia habiskan sebelum Abel turun.
"Aku berangkat duluan ya ma". Pamitnya kepada mama Dina dan mengambil tas yang biasa ia bawa saat berangkat bekerja.
__ADS_1
Bahkan semesta juga mendukung dengan membuat papa Rey bergegas ke kantor karena harus meeting ke luar kota dan Abel sendiri harus segera ke kantor agar bisa meeting dengan client yang membuatnya tidak boleh terlambat.
Dan sekarang giliran Excel yang melakukan gilirannya dengan baik karena ini tetap berpusat ke Excel, jika lelaki itu gagal tentunya semua perjuangan alvin akan percuma dan semua pengorbanan Excel yang telah mengeluarkan banyak uang juga akan percuma.
Suara langkah kaki yang keras dan terdengar sangat tergesa membuat Excel tau siapa pemilik kaki tersebut bahkan sampai sejauh ini semua masih dalam sekenario. Abel turun dari kamarnya yang berada di lantai dua dan melewati begitu saja meja makan karena sudah hampir terlambat untuk ikut meeting.
"Merry kamu nggak sarapan dulu ?". Tanya mama Dina sebelum Abel semakin jauh melangkah dengan langkah yang lebar menggunakan sepasang sepatu hak tinggi.
"Nggak ma aku sudah terlambat". Abel kembali melangkahkan kakinya dengan lebar walau kesulitan akibat rok yang ia pakai membuatnya melangkah dengan terbatas.
Dan disaat abel sampai di garasi ia terkejut melihat kedua ban mobil di bagian depan kempes bahkan sangat kempes hingga rasing mobil terlihat seperti menyentuh lantai. "Duh kenapa harus disaat gini sih".
Abel kembali melihat jam yang melingkar di tangannya menunjukkan kalau waktunya sudah sangat mepet kalau menunggu taxi, bahkan ingin ikut mobilnya papa rey juga tak bisa karena papa Rey saat ini sudah pergi keluar kota. Begitu juga dengan alvin yang sudah terlebih dulu berangkat.
"Kau kenapa belum berangkat ?". Excel mendekat dan mengambil kunci mobilnya yang berada di saku celana, ia pura-pura basa-basi agar tak ketahuan dan bersikap se alami mungkin.
"Bukan urusanmu aku berangkat sekarang atau nanti". Abel melipat tangannya di atas dada, ia sudah sangat sebal hari ini dan di tambah dengan kedatangan excel serasa lengkap penderitaannya.
Walau ia tau Abel terlalu gengsi untuk sekedar ikut mobilnya ke kantor. "Bagaimana ?". Tawarnya lagi.
Tak sebentar Abel berfikir dan bertengkar dengan waktu yang semakin lama serasa seperti mendekat hendak mencekiknya. Ia tertekan antara ikut mobil Excel dan merendahkan harga diri atau terlambat dalam meeting penting kali ini.
"Oke aku ikut, cepatlah". Abel masuk kedalam mobil dan memilih untuk menyingkirkan segala rasa egonya yang membuatnya rugi karena tak mungkin Abel memanggil taxi yang malah menambah waktu untuk semakin terlambat.
Excel tersenyum dengan tingkah abel yang terlihat angkuh tapi di lain sisi sangat menggemaskan. Andaikan mereka tak bertengkar tentu ia sudah mencubit pipi Abel yang tidak terlalu titus juga tak tembam tersebut.
Mobil Excel melaju membelah jalanan yang sedikit macet dan saat di rasa jalanan sudah agak senggang Abel selalu menyuruh Excel menaikkan kecepatan agar ia segera sampai di kantor.
Hanya ada kesenyapan diantara mereka saat mobil sudah lolos dari kemacetan, apalagi abel memilih untuk membuang muka ke arah jendela membuat excel sesekali melirik kearahnya. Ia memberanikan diri bersuara namun sebelum itu ia menghela nafas berat.
"Maaf telah membuatmu kecewa". Ujarnya dan berhasil membuat Abel menoleh sejenak sampai akhirnya memilih untuk melihat ke arah depan.
__ADS_1
"Sebenarnya aku menyuruhmu ke restoran untuk melamarmu, tapi tiba-tiba Jennie datang dan mengacaukan semuanya, aku berani bersumpah demi apapun kalau aku dan Jennie sudah putus sebelum aku pindah kerumahmu".
Akhirnya Excel mengatakan itu walau dalam mobil namun situasi itu sangatlah cocok mengingat Abel tak akan pergi dan menghindar lagi darinya. Excel menatap Abel sembari menyetir untuk tau apakah ia sudah di maafkan dari segala kesalahan yang tak ia perbuat di restoran bahkan itu semua diluar rencana.
"Untuk apa kau menjelaskan ini padaku ?". Akhirnya Abel bersuara namun gadis itu malah memilih untuk menjawab pertanyaan yang terlontar dari excel dengan pertanyaan juga.
Sebenarnya abel bisa melihat sorot mata keputusasaan yang berbaur dengan rasa putus asa di mata Excel, sungguh ia tak tega namun di satu sisi ia masih terjebak dengan rasa takut akan kekecewaan yang sama dengan yang ia dapat di masa lalu.
Semua perasaan yang selama ini tertanam untuk Excel masih utuh namu akibat rasa kecewa yang ia terima membuatnya menyimpan jauh di dasar lubuk hatinya terdalam. Membuatnya sulit untuk mengangkat perasaan itu kembali kepermukaan.
"Tentu saja untuk mendapatkan maafmu dan juga kepercayaanmu, aku benar-benar mencintaimu". Dan di saat Excel mengatakan kalimat terakhirnya bersamaan dengan itu mereka telah sampai di depan kantor Abel.
Abel dengan segera melepas sabuk pengaman dan mengambil tas jinjing yang sebelumnya ia taruh di atas pangkuan lalu membuka mobil namun masih terkunci, ia menoleh dengan tatapan datar ke arah lelaki di sampingnya. "Buka mobilnya".
"Apa kau sudah memafkanku ?". Excel sengaja untuk tak membuka mobilnya karena ingin terlebih dulu mendengar jawaban dari Abel, sungguh demi apapun ia benar-benar merasa kacau saat Abel mendiamkannya.
"Akan ku pertimbangkan, sekarang buka pintunya". Jawabnya singkat dan Excel memilih untuk membuka pintu mobil dan mendapat ucapan terima kasih saat abel turun dari sana lalu menutup pintu.
Excel hanya bisa menghela nafas berat saat permintaan maafnya di gantung seperti ini, walau ia tau kalau dirinya sedang menebus segala kesalahan di masa lalu dan ia sadar kalau ini belum setimpal. Tapi tetap ini membuatnya selalu gusar setiap waktu.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak
Like, komen, subscribe dan vote poin juga koin bagi yang punya
__ADS_1