Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Menjelaskan


__ADS_3

Excel melangkahkan kakinya ke sebuah perkantoran yang menjulang tinggi dimana tempat papa Rey juga Abel meraup nominal besar setiap harinya. Ia tak sungkan ataupun canggung lagi karena sudah biasa menginjakkan kaki layaknya di kantor sendiri.


Terserah orang bilang ia tamu yang tak tau diri lantaran selalu keluar masuk di sana dengan atau tanpa tujuan penting. Tapi baginya setiap langkahnya di kantor tersebut memiliki misi penting.


Seperti sore hari ini dimana Excel datang sepuluh menit lebih awal untuk mendatangi kantor Abel dan bertujuan menjemput gadis itu, meninggalkan segala jadwal yang berbenturan dengan tugasnya sebagai pemimpin hanya untuk mendapatkan simpati dari Abel.


"Apa Abel sudah pulang ? Maksudku Mariana ?". Tanyanya kepada salah seorang resepsionis yang berjaga di lobi kantor untuk memastikan kalau ia belum terlambat untuk menjemput Abel dan saat resepsionis tersebut mengatakan kalau Abel masih ada di ruangannya seketika kelegaan muncul.


Excel kembali melangkah setelah mengucapkan terima kasih kepada sang resepsionis untuk ke ruangan Abel guna mengejutkan gadis itu akan kehadirannya. Terlebih dulu ia menekan tolbol lift agar terbuka namun cukup lama ia menunggu lift yang sepertinya penuh.


"Aww". Suara jeritan kecil sampai ke telinga Excel dimana jarak antara dirinya dan sumber suara memang tidaklah terlalu jauh.


Excel memilih untuk meninggalkan lift yang sudah terbuka dan menghampiri seorang wanita yang terjatuh dengan beberapa lembar kertas berhamburan di lantai. "Nona apa kau baik-baik saja ?".


"Tidak". Wanita itu melihat ke arah pergelangan kakinya dimana terdapat corak biru keunguan yang membuat Excel juga mengarahkan pandangan ke kaki wanita tersebut. Tanpa di jelaskan lagi ia tau jika kaki wanita itu cedera.


"Apa kau bisa berdiri ?". Tanyanya lagi untuk memastikan seberapa parah kaki wanita itu cedera namun saat hendak berdiri wanita itu kembali terduduk di lantai, menandakan kalau kakinya tak sanggup menopang berat tubuh yang membuat kakinya terasa sakit saat digerakkan.


Excel mengulurkan tangan menolong wanita tersebut dan memapahnya ke bagian kesehatan agar mendapatkan perawatan. Namun matanya membulat saat baru beberapa langkah di depannya melihat Abel yang berdiri dan melihatnya dalam posisi yang ingin ia rutuki sendiri.


"Gawat dia pasti salah faham lagi". Gumamnya dalam hati dan tetap tak bergerak dari tempatnya berdiri seolah ia membatu, membuat wanita yang di papahnya heran mengapa tak ada pergerakan dan melihat ke arah pandang Excel.


Wanita itu seketika sedikit menundukkan kepala memberi rasa hormat akan anak dari sang pemimpin perusahaan. Tapi wanita itu tak tau bahwa lelaki di sampingnya akan membuatnya dalam masalah besar.


"Abel aku bisa jelaskan". Ujar Excel tak terlalu keras namun sampai di telinga Abel juga wanita di sebelahnya yang hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, karena merasakan adanya aura aneh layaknya rasa dingin yang menyentuh kulitnya hingga buku kuduknya berdiri.


Sedikit melirik ke arah sang anak macan yang merupakan julukan bagi Abel dari semua pegawai kantor. Tatapannya yang tadi datar sekarang berganti dengan tatapan membunuh seolah mereka berdua adalah mangsa empuk yang siap menerima semua serangannya dan siap di telan bulat-bulat.


"Siapa namamu ?". Abel melangkahkan kakinya mendekat ke arah Excel dan wanita itu namun matanya tak beralih dari wanita yang sekarang memegang pundak Excel. Ia akan menandai wanita itu.


"Abel kau_".

__ADS_1


"Kenapa denganmu ?". Abel bertanya dengan memotong perkataan Excel yang belum selesai lelaki itu ucapkan.


Membuat Exxel menyadari akan perasaan Abel yang ia yakini sangat tak baik kalau tidak mana mungkin Abel akan bersikap seolah ia tak ada dan mengacuhkannya seperti ini, walau biasanya Abel ketus rapi Abel tak akan menganggapnya tak ada.


"Apa perlu kuulangi pertanyaanku ?". Ucapan Abel menyadarkan wanita itu dari ketakutan akan siatuasi yang tak ia ketahui namun membuatnya gemetaran.


"Namaku Ani dan kakiku terkilir". Jawabnya dengan disertai rasa takut yang terdengar dari ucapannya yang terdengar gemetar.


Abel melihat ke arah kaki yang di tunjuk oleh Ani dan matanya juga melihat ke arah tangan Excel yang memegang bahu juga tangan Ani dengan kuku yang selalu di rawat hingga nampak mengkilap tersebut seolah mengcengkram kuat pinggang Excel dan tak membiarkan lelaki itu pergi.


Rasa ingin marah dan mematahkan jari dengan kuku yang terlihat menyebalkan tersebut namun Abel harus bersikap profesional, walau dalam hati ia mencaci maki Excel yang selalu minta maaf akan kesalahan yang selalu lelaki itu perbuat dan lagi-lagi diulangi.


"Pergilah ke ruang kesehatan sebelum pulang dan kau tidak perlu masuk untuk beberapa hari". Abel melangkahkan kakinya meninggalkan Excel juga Ani yang yang masih berdiri disana, bahkan Abel tak mengindahkan panggilan Excel di belakang.


Demi apapun rasanya Excel ingin meraih lengan Abel agar mencegah gadis itu pergi namun disaat yang bersamaan Excel tak bisa melepaskan begitu Ani begitu saja, yang ada nanti Ani terjatuh dan kakinya tambah parah.


Akhirnya Excel hanya bisa melihat Abel dengan cara menoleh ke belakang sampai Abel menghilang karena masuk ke dalam taxi yang sudah di berhentikannya. Tak ada yang bisa ia lakukan lagi selain membawa Ani ke ruang kesehatan dan nanti Excel akan meminta maaf ke Abel juga menjelaskan semuanya....lagi.


Excel mencari Abel ke segala penjuru rumah setelah ia sampai, dan mirisnya semua rencana yang telah ia susun berantakan, bahkan bisa di sebut gagal total karena ini seperti kembali ke semula.


"Abel dimana ?". Tanyanya kepada Alvin dan terdengar helaan nafas dari lelaki yang beberapa tahun lebih muda darinya. Ia bisa menyimpulkan kalau Alvin kecewa akan rencana yang mereka buat dan gagal.


"Ada di deket kolam ikan noh, kalau lo butuh sesuatu jangan cari gue". Ujarnya dengan nada malas dan kembali melangkahkan kaki ke dapur, karena semula lelaki itu hendak mencari air dingin untuk minum.


Seperti yang di katakan oleh Alvin sebelumnya bahwa memang Abel sedang berada di dekat kolam ikan memberi makan beberapa ikan di sana. Dan dengan sigap Excel memegang lengan Abel hingga gadis itu terkesiap.


"Apaan sih". Abel menghentakkan tangan Excel dengan keras hingga membuat tangannya terlepas, namun lupakan itu karena ia hendak menjelaskan semuanya bukan untuk membuat Abel tambah merasa terganggu akibat kehadirannya.


"Kau dengar dulu aku tadi hanya menolongnya karena kakinya terkilir bahkan aku tak tau siapa namanya". Excel dengan cepat menjelaskan sebelum Abel menghindar ataupun pergi lagi namun jawaban yang tanpa di duga membuat Excel tercengang.


"Kau mengenalnya tau bukan itu bukanlah urusanku". Abel memilih untuk tetap melihat ke air kolam dan menaburkan beberapa makanan yang langsung di hampiri oleh ikan di kolam tersebut.

__ADS_1


"Abel aku mohon percaya padaku". Excel frustasi hingga ia menyugar ramburnya kebelakang, membuat beberapa helai rambutnya yang sudah rapi menjadi berantakan.


Merasa jika apa yang di ucapkan dan sudah ia jelaskan percuma, Excel memilih untuk menggunakan tindakan pemaksaan dengan cara mencium Abel, menarik tengkuknya dan meraup bibir merah layaknya buah cerry itu.


"Emh emh". Abel menepuk dada Excel sekuat tenaga dan berusaha untuk melepas ciumannya yang sangat menuntut. Ia benci di paksa seperti itu bahkan setelah di kecewakan beberapa kali, kini Excel melecehkannya.


BUGH


Satu bogem mentah melayang dan mendarat dengan keras di pipi Excel sebelah kanan membuatnya jatuh tersungkur ke tanah, hingga menimbulkan rasa kebas juga perih yang ia yakini langsung menimbulkan bekas kemerahan.


Ia berusaha untuk melihat siapa yang telah melayangkan tinju ke mukanya namun nyalinya langsung menciut begitu menyadari jika orang yang telah melukainya malah orang yang ia segani.


"Papa...".


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak

__ADS_1


__ADS_2