
Excel kembali ke perusahaannya dengan kondisi hati yang sangat kacau, ia sendiri tak tau mengapa dirinya gusar bahkan rasanya hampir meledak setelah kembali dari perusahaan Abel. Niat untuk mengajak gadis itu sarapan bersama gagal total tapi lebih dari itu ia merasakan amarah yang tak ia ketahui penyebabnya.
Excel mengambil gagang telfon yang berada di mejanya dan menyuruh Bagas untuk menyelidiki seluk beluk Robin dari mulai hal besar hingga hal yang terkecil. Terdengar hening saat Bagas tak menyahuti permintaan Excel namun setelah Excel menekankan kalau ia ingin informasi tersebut ada secepatnya barulah terdengar balasan dari Bagas yang langsung panik.
"Bagaimana kau sudah menyelidikinya ? Apa yang kau temukan ?". Tanya Excel saat Bagas masuk ke dalam ruangan sang atasan, dan nampak sekali kalau Excel tak sabar mendengar hasil yang di bawa oleh Bagas.
"Cukup sulit tuan, saya hanya bisa mendapatkan informasi umum yang di ketahui publik saja sedangkan informasi yang mendetail sulit di ketahui seperti ada yang dengan sengaja menyembunyikannya".
Suara ketukan yang terdengar antara jari Excel dengan meja menandakan kalau lelaki itu tak puas apalagi melihat taut wajah Excel yang terlihat seram bagi Bagas. Baru kali ini sepanjang sejarah bagas berkerja menjadi asisten Excel, ia melihat sang atasan benar-benar terlihat marah.
"Dalam waktu maksimal tiga hari aku tidak mau tau kau harus mendapatkan informasi yang aku mau, sekarang kau bisa pergi". Bagas menundukkan kepalanya sebelum melangkahkan keluar dan kembali ke mejanya.
Excel semakin penasaran dengan Robin dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Abel. Tak tau mengapa juga ia ingin tau yang pasti ia tak suka jika Abel menikah dengan Robin. Mungkin karena perasaan sayangnya sebagai kakak kepada Abel yang sudah lama ia miliki atau yang lain, ia tak tau.
********
"Apa Abel maksudku Marry didalam ?". Tanya Excel tepat di depan Lucy hingga membuat wanita itu menghentikan sejenak pekerjaannya dan fokus pada Excel.
"Iya nona ada di dalam tapi seingatku hari ini tidak ada janji bertemu dengan tuan, tuan tuan jangan masuk". Excel langsung pergi ke ruangan Abel dan tak menghiraukan panggilan Lucy yang pasti hendak menyuruhnya untuk membuat janji terlebih dulu atapun menunggu.
Ia tak bisa menunggu lagi, setelah tau jika Robin ada niatan lain untuk bersama Abel tentulah ia tak bisa tinggal diam begitu saja melihat rencana licik yang di tujukan ke Abel. Tak peduli dengan dirinya yang terlalu ikut campur karena saat ini yang ia fikirkan adalah menjauhkan Robin dan Abel.
"Ada yang ingin ku katakan padamu". Abel terkesiap saat mendengar suara pintu ruangannya terbuka dengan Excel yang datang dan suara yang cukup keras hingga membuatnya terkejut.
"Apa-apaan kau, tidak bisakah mengetuk pintu dahulu". Abel berdiri dari kursinya hendak memarahi Excel lebih lanjut namun tangan Excel mengisyaratkan untuk Abel agar mendengarkan.
"Sebentar ada yang ingin kukatakan padamu, sebenarnya perusahaan Robin sedang berada di ambang kebangkrutan dan dia pasti melamarmu dengan cepat agar perusahaannya bisa terselamatkan, aku yakin setelah menikah dia pasti menguasai hartamu".
Abel menarik nafas dengan kuat, menahan amarah yang hampir meledak setelah mendengar penuturan dari Excel. Entah apa yang membuat Excel bicara sembarangan yang pasti ia tak suka lagipula itu yang di rencanakan oleh Jennie kepadanya tapi kenapa sekarang Excel yang memperingatinya.
"Ucapanmu itu tanpa alasan kau__".
"Lihatlah ini". Sebelum Abel mengatakan ucapannya terlebih dulu Excel memotong dan memberika beberapa lembar kertas sebagai bukti yang sudah di kumpulkannya dengan cukup sulit bahkan sampai membayar mahal seseorang untuk menyelidiki hal ini.
"Aku tidak mau baca lebih baik kau pergi dari sini sekarang". Usirnya namun Excel masih tak bergerak di tempatnya.
__ADS_1
"Terserah kau mau percaya atau tidak tapi kau harus membaca itu, karena apa yang kukatakan adalah kebenaran". Excel berbalik menuju pintu keluar dengan adanya satpam dan juga Lucy yang hendak membawanya tapi karena Excel terlebih dulu keluar sendiri jadi mereka hanya membiarkan Excel.
Semua kembali dalam kesenyapan saat Excel, Lucy dan juga satpam telah pergi. Abel melihat beberapa lembar kertas yang tadi Excel berikan kepadanya sebagai bukti yang katanya bukti bahwa perusahaan Robin berada di ambang kebangkrutan.
Ia tau jika Excel tak ada hubungannya dengan masalah pribadinya namun mengesampingkan bukti dan menutup mata juga telinga dari nasihat yang di berikan oleh orang lain tidaklah baik.
Abel menghela nafas sebelum tangannya mengambil bukti yang Excel berikan kepadanya dan ia baca. Matanya membulat saat membaca bukti itu pelan-pelan dan seketika kepalanya berdenyut memikirkan ini semua, baginya ini semua masih sulit di percaya.
*******
Excel masuk ke dalam rumah keluarga Admaja yang tak lain adalah rumahnya Abel untuk menjenguk Abel yang katanya Lucy sedang sakit. Entah sakit apa gadis itu hingga membuatnya khawatir dan ingin tau kondisi Abel tapi anehnya sejak ia masuk tak ada satupun orang disana.
"Bi dimana yang lain mengapa sepi sekali ?". Bi Asih yang kebetulan lewat tersebut menoleh ke arah Excel setelah mendengar pertanyaan dari lelaki itu.
"Eh den Excel, tuan sama den alvin sedang ada urusan di luar, non di kamarnya lagi istirahat kalau nyonya lagi ke apotik den nebus obatnya non". Jawabnya.
"Ya sudah bi aku lihat Abel dulu". Excel melangkahkan kakinya sedikit tergesa ke arah kamarnya abel, saat memasuki kamar ia bisa melihat Abel yang tengah terbaring dengan mata terpejam, sepertinya Abel sedang tidur hingga tak menyadari kedatangannya.
Excel menyeret kursi yang berada di dalam kamar itu dengan pelan ke arah ranjang Abel. Ia sejenak tertegun dengan dekorasi kamar Abel dimana nuansa gelap terasa sekali. Berbeda dengan kamar Abel yang serba warna pink dulu waktu masih kecil bahkan sekarang tidak ada boneka sama sekali, juga tak ada banyak foto lagi dan hanya ada satu foto waktu Abel wisuda.
Tangan excel terulur untuk mengukur suhu badan Abel yang ternyata sangat panas, entah mengapa Abel tak di rawat saja dirumah sakit.
"Ma aku haus". Abel mengigau saat matanya terpejam dan Excel mengambilkan minum di atas nakas, ia membangunkan Abel agar menerima gelas tersebut hingga membuat gadis itu bangun dan menatap Excel dengan tatapan terkejut.
"Apa yang kau lakukan disini ?". Ujarnya spontan.
"Aku menjengukmu, ini minumlah dulu kau bilang tadi haus". Abel masih berbaring dan menatap Excel dengan wajah datarnya, ia tak menerima gelas yang Excel berikan walau tenggorokannya merasa haus.
"Aku sedang tak ingin berdebat denganmu, pergilah". Ujarnya dengan nada lemah akibat sakit, namun sepertinya Excel masih enggan untuk pergi.
"Abel aku cuma__".
"Please". Mohon Abel kepada Excel karena ia sedang ingin istirahat saja hari ini.
Excel yang mengerti permintaan abel kini beranjak dan keluar setelah sebelumnya mengatakan agar semoga Abel cepat sembuh. Di tangga Excel berpapasan dengan mama Dina yang baru pulang setelah membeli obat bagi Abel.
__ADS_1
Mama Dina menyuruh Excel untuk menunggu di ruang keluarga karena ia harus memberikan obatnya Abel dulu barulah mama Dina menyusul dan duduk di samping Excel. Keduanya hanya diam sambil menatap dan belum ada yang membuka suara.
"Mama bilang tadi ada yang mau mama bicarakan?". Tanyanya dan mama Dina mengangguk pelan.
"Mama tau permasalahanmu dan Merry........mama harap kamu menjauh darinya ya". Mata Excel membulat seketika, tak menyangka kalau mama Dina tau dan bahkan menyuruh ia untuk menjauhi abel.
"Tapi kenapa ma ?". Excel tau kondisinya dengan Abel saat ini sedang tak baik tapi Excel berusaha untuk memperbaiki ini semua seperti sedia kala.
"Ini yang terbaik untuk kalian karena mama tidak mau Merry tersakiti lagi, mama harap kamu mau mengerti, melihat anak gadis mama seperti itu mama benar-benar tidak sanggup Cel".
Excel menggenggam tangan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu, dengan tangan inilah mamanya dulu memeluknya, menenangkannya disaat tak ada orang yang peduli dan di saat ia membutuhkan sosok orang tua.
Mama Dina hadir untuknya dan memberikan sebuah keluarga lengkap dengan saudara baginya. Ia tau jasa mama Dina sangat besar bagi seorang Excel.
"Jika mama mau, aku akan membatalkan pernikahanku dengan Jennie dan menikahi Abel".
.
.
.
.
.
.
.
.
Like dan Votenya jangan lupa
Kemarin pada lupa kan
__ADS_1