
Abel menoleh melihat pemandangan di sebelahnya, ia menghindari menjawab pertanyaan yang Excel lontarkan. Mengapa juga Excel ingin tau apakah ia mencintai Robin atau tidak. Toh tidak ada hubungannya dengan lelaki itu, harusnya Excel bersyukur karena Abel sama sekali tak menganggu hubungan Excel dengan Jennie dengan cara tak meminta pertanggungjawaban.
"Mengapa kau menanyakan itu ?". Tanyanya ketus seolah memberitahu jika ia tak suka dengan pertanyaan yang diajukan kepadanya, itu adalah pertanyaan sensitif bagi Abel dan Excel tak berhak bertanya.
"Aku hanya bertanya, kau tidak perlu menjawab jika tak ingin". Ujarnya.
Sunyi, senyap kembali membentang diantara mereka padahal jarak anatara keduanya sangat dengat. Bagaimana tidak, saat ini Abel berada di gendongan Excel namun mereka tak mengatakan apapun lagi.
"Apapun pilihanmu aku harap kau bahagia, dan maaf pernah membuatmu kecewa kepadaku". ucapnya parau.
Seketika akr mata Abel mengalir tanpa ia sadari hingga tangannya langsung spontan menyeka air matanya agar tak jatuh ke kaos Excel. Untunglah saat ini Excel tak tau jika Abel sedang menangis. Lelaki di depannya itu selalu bisa membuka luka lamanya.
"Urusi saja urusanmu, jangan memikirkan kebahagiaanku aku yang paling tau apa yang ku inginkan". Excel mengangguk pelan seraya meneruskan langkah kakinya melewati hutan yang masih lebat pepohonanya.
Langkahnya terhenti membuat Abel yang melihat ke sekeliling jadi menoleh, hingga Excel menurunkannya dan mendongak. Abel penasaran mengapa ia diturunkan, mungkinkah perkataanya tadi terlalu kasar dan Excel jadi tersinggung hingga ingin meninggalkannya disini.
"Ada apa ?". Tanyanya penasaran namun Excel hanya bilang untuk menunggu.
Excel memanjat pohon yang berada di dekatnya dan kala Abel mendongak ia bisa melihat beberapa buah jambu air yang tergantung disana. Kini ia tau Excel memanjat untuk mengambil buah itu. Setelah berhasil meraih buah tersebut Excel kembali dan memberikannya ke Abel.
"Makanlah bukankah kau tadi lapar ? Mungkin ini tidak terlalu mengenyangkan tapi lumayan buat pengganjal lapar". Abel melihat buah itu dan berganti melihat Excel yang mengangguk seolah mengatakan agar mengambilnya.
Dengan ragu Abel mengambil buah itu, bukan ia tak mau hanya saja ia merasa canggung setelah melihat Excel yang dengan susah payah mengambil buah hingga memanjat dan terlihat beberapa luka gores akibat tapi memanjat. Ia jadi tak tega menerima semua buah itu.
"Aku akan mengambil setengahnya saja". Abel tidak mengambil semua dan hanya mengambil beberapa lagipula itu sudah cukup untuknya mengganjal lapar. Sedangkan yang setengahnya ia kembalikan ke Excel.
Mereka berdua memakan buah itu sebagai pengganjal lapar karena setelah tadi pagi sarapan mereka tak makan apapun lagi. Dan itu membuat keduanya sangat kelaparan, bahkan Abel sepertinya tak bisa menyembunyikan rasa segar dan manisnya buah tersebut hingga makan dengan tergesa layaknya orang yang benar-benar kelaparan.
Kandungan air yang buah jambu itu miliki membuat Abel belepotan hingga airnya mengalir di kedua sudut bibirnya. Tangan Excel terulur untuk mengusap sudur bibir Abel yang basah. Namun sentuhan Excel membuat Abel terkejut dan langsung menepis tangan lelaki itu.
"Kau tidak perlu melakukan itu, aku bisa sendiri kau cukup mengatakannya saja". Abel mengucapkan itu tak melihat Excel, jujur ia sangat terkejut tadi dan segera mengelap sisa air di kedua sudut bibirnya yang basah.
"Maaf aku tak bermaksud". Excel kembali fokus untuk memakan buah yang masih tersisa dan menyelesaikan makannya.
Setelah selesai makan mereka sejenak beristirahat walau lebih tepatnya Excel yang beristirahat karena punggungnya terasa sangat pegal. Perjalanan dari gua ke villa dengan menggendong Abel di punggungnya tidaklah mudah.
__ADS_1
Kunang-kunang berdatangan menyinari kegelapan malam dan membuat hutan itu layaknya negri dongeng dalam buku cerita. Tak pernah Abel melihat kunang-kunang sebanyak ini dalam hidupnya hingga cahaya kunang-kunang mampu membuat senyuman di bibirnya tanpa sadar.
"Cantik sekali". Gumamanya pelan namun masih bisa di dengar oleh Excel.
Tangan Abel terutur untuk menengadah dan tanpa ia sangka ada dua kunang-kunang yang hinggap di telapak tangannya. Bahkan kedua kunang-kunang itu terbang bersamaan dengan yang lainnya.
"Apa kita bisa melanjutkan perjalanan kita kembali ?". Abel mengangguk namun ragu saat kembali Excel berjongkok di depannya.
"Apa tidak ada yang lain selain naik ke punggungmu ?". Excel kemudian berdiri dan melihat Abel yang menoleh melihat ke arah lain.
"Tidak ada". Keduanya melanjutkan perjalanan yang semakin lama semakin terasa gelap apalagi mereka tak menggunakan cahaya lampu selain sinar rembulan juga kunang-kunang yang seolah mengikuti mereka yang berjalan.
Abel tersenyum dalam gendongan Excel, ia merasa kalau malam ini tak terlalu buruk, setidaknya ia masih dalam keadaan baik dan juga ada penerangan. Kurang lebih setengah jam kemudian mereka hampir sampai dan sudah melihat villa dari kejauhan.
Tinggal beberapa langkah lagi dan entah mengapa dari dalam diri Abel ada rasa tak rela untuk kembali. Padahal ia sedari tadi ingin kembali dan segera berpisah dari Excel namun kini malah sebaliknya, ia seperti merasa sedih.
"Abel ?!". Pekik mama Dina kala melihat Abel dalam gendongan Excel dan mereka yang ada di sana langsung menoleh dan menghampiri keduanya.
Abel turun dari gendongan Excel dan langsung di sambut oleh mama Dina juga yang lain, sedangkan Excel langsung di sambut oleh pelukan Jennie.
"Merry apa kau baik-baik saja ? kakimu kenapa ? Coba cerita ke mama". Abel masih diam saja, ia mencuri pandang Excel yang berada di depan Jennie dengan Jennie yang menghawatirkan kondisi Excel.
"Kakinya terkilir, dahinya terluka dan sedikit demam". Ucapan Excel membuat mereka langsung menoleh ke arah lelaki itu dan berganti menoleh ke arah Abel. Tangan mama Dina terulur untuk mengukur suhu badan Abel.
"Iya memang demam yasudah ayo semua masuk dan istirahat". Semuanya masuk, tak terkecuali Abel yang masuk dengan di gendong papa Rey. Saat sudah masuk dan membersihkan diri papa Rey menghubungi dokter paling dekat yang bisa di panggil ke villa.
Namun karena tempat itu jauh dari perkotaan jadi hanya ada mantri yang biasanya berada di sana, walau ragu namun papa Rey akhirnya pasrah yang penting Abel bisa di cek kondisinya.
"Bagaimana kondisi putriku ?". Tanya mama Dina kala Abel sudah selesai di cek.
"Kakinya akan sulit berjalan untuk beberapa hari jadi tidak boleh terlalu banyak bergerak, untuk keseluruhan semuanya masih tergolong baik, aku akan memberikan obat untuk di minum setelah makan".
Papa Rey mengantar mantri yang memeriksa Abel sampai ke depan, sedangkan mama Dina membawa makanan dan menyuruh Abel untuk meminum obat setelahnya. Abel memegang lengan mama Dina hendak mengatakan sesuatu.
"Ma malam ini aku mau tidur sama mama aja ya ?". Pintanya.
__ADS_1
Papa Rey yang baru masuk ke dalam langsung di lihat oleh mama Dina seolah mama Dina memikirkan bagaimana nanti ia akan mengatakan kepada papa Rey.
"Pa aku boleh tidur sama mama ya ? Please". Abel mengangkupkan kedua tangannya, memohon kepada papa Rey yang kini nampak gusar lalu kemudian pasrah.
"Yasudah lah papa ntar tidur sama Alvin saja". Abel sangat senang karena tak harus satu tempat tidur dengan Jennie. Ia memeluk pinggang papa Rey yang berada di sebelahnya dengan erat. "Makasih papa". Padahal dalam hati papa Rey meringis tak bisa tidur dengan mama Dina.
********
Alvin yang hendak tidur, kini naik ke kasur dan menarik selimut sampai ke batas dadanya untuk mengusir hawa dingin selama ia tidur, namun suara pintu kayu yang terbuka membuat matanya terbuka kembali.
Ia melihat papa Rey yang masuk ke kamarnya, entah apa yang hendak papanya itu lakukan namun anehnya papa Rey membawa selimut, mungkinkan Alvin hendak di beri selimut lagi. "Ada apa pa ?".
"Papa malam ini tidur disini".
"Haaa". Pekik Alvin seketika, ia melihat ke kasurnya yang sempit bahkan untuk dirinya sendiri saja ia masih terasa kurang apalagi sampai di buat tidur berdua. "Jangan disini pa nggak bakal muat".
"Merry mau tidur sama mama, udah sana kamu geser papa mau tidur juga". Papa Rey ikut naik ke tempat tidur dan menyuruh Alvin menggeser tubuhnya padahal lelaki itu sudah sampai batas dinding.
"Sempit ini pa nggak muat".
"Yaudah kita pelukan biar muat". Alvin seketika melongo dan detik kemudian ia menggelengkan dengan kuat. "Nggak aku bukan anak kecil pa bisa di peluk-peluk".
"Ya sekalian belajar meluk pas tidur, biar nanti kalau kamu punya istri nggak canggung". Dan entah berapa lama merek berdebat sampai keduanya menguap dan kehabisan tenaga untuk beradu argumen sampai keduanya tertidur sambil berpelukan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like dan votenya