
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Abel menghentikan tangannya yang mengetik di laptop karena mengejakan tugas kantor yang ia bawa pulang kerumah. Kakinya menuruni ranjang dan mendekati pintu untuk mengetahui siapa yang telah mengetuk pintu tadi, namun saat pintu tersebut terbuka seketika ia menghela nafas jengah.
"Ada apa ?". Tanyanya malas kepada Excel yang menampilkan senyum layaknya model iklan sikat gigi.
"Boleh aku masuk ?". Abel mengerutkan alisnya dan hendak menutup pintu dengan Excel yang ia yakini akan menganggu malam ini. "Tidak boleh".
Tapi saat pintu itu hampir tertutup rapat dan hanya meninggalkan celah kecil, dengan sigap Excel segera mencegah pintu untuk tertutup dan menahannya sekuat tenaga. "Jangan ditutup dulu, aku mau bicara serius paling tidak izinkan aku bicara".
"Baik cepatlah kau tidak punya banyak waktu". Abel membuka pintu tersebut setengah dan membiarkan Excel bicara namun tetap tak membiarkan lelaki itu untuk masuk.
Sebenarnya Abel juga penasaran saat mendengar kata penting yang di ucapkan apalagi ini sudah malam dan tentu akan sangat keterlaluan jika urusan ini tak penting karena hanya akan membuang waktunya istirahat.
"Besok datanglah ke restoran 'Dark Blue' jam 10 dan aku akan menunggumu disana, kau jangan sampai tidak datang karena ini sangat penting sekali".
Abel mengernyit bingung, mengapa kesannya bertele-tele dan tak langsung bilang saja hal penting apa yang mengharuskannya ke restoran apalagi kalau ia tak salah ingat itu adalah restoran yang Excel beli saat ia dan Steve makan bersama.
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan, mengapa tak mengatakanya saja disini". Abel menaikkan nadanya agak tinggi karena ia tak mau membuang waktu dimana harusnya ia bekerja dan ini malah mengurusi Excel.
"Tidak bisa disini dan harus disana, aku jamin kau tidak akan menyesal setelah datang kesana".
Abel memutar bola matanya malas dan enggan sekali untuk mengiyakan permintaan Excel. Sejenak ia berfikir dan menimbang apakah ia harus setuju atau tidak untuk pergi ke resto besok.
"Kalau aku setuju apa kau akan berhenti mengangguku malam ini ?". Tanyanya kepada Excel dan di jawab dengan anggukan.
"Baiklah besok aku akan ke sana dan kau segera pergi dari depan kamarku". Abel menutup pintunya dengan segera dan agak keras tanpa memperdulikan Excel yang masih berdiri di sana.
Namun bukannya marah, Excel malah sangat senang karena akhirnya Abel mau untuk datang dan ia yakin sekali bahwa ia akan di terima setelah Abel melihat semua yang telah di persiapkan untuk melamar gadis itu dan tentunya cara ia melamar akan sangat romantis.
"Sampai jumpa besok". Ujarnya agak keras bahkan itu hampir bisa di kategorikan sebagi teriakan agar Abel mendengar dari dalam sana tapi sepertinya bukan hanya Abel tapi juga penghuni kamar sebelah yang tak lain adalah Alvin.
Satu bantal melayang dan tepat mengenai kepala Excel tanpa bisa ia hindari karena datang secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Jangan berisik oey sudah malam ini". Setelah puas memarahi Excel dengan segera Alvin menutup pintunya kembali ke atas pulau kapuk yang empuk dan juga nyaman.
Tak memikirkan kalau disana Excel masih terduduk di lantai akibat terkena hantaman bantal yang empuk tapi di lain sisi sangat amat efektik membuat kepalanya pening. Excel berdiri dengan tegar, tak mempermasalahkan Alvin yang semakin kurang ajar saja tiap harinya.
Ia harus sabar dan sabar karena pada kenyataannya Abel dan Alvin adalah adik kakak dan nanti jika Abel menerima lamarannya dan mereka menikah, tentu Alvin akan menjadi saudara iparnya.
*******
Excel mengambil bunga mawar berwarna merah yang telah di siapkan oleh orang restoran sesuai dengan permintaannya karena orang bilang mawar merah melambangkan cinta dan semua gadis menyukai mawar merah, padahal Excel sendiri kurang yakin apa bunga kesukaan Abel.
Ia kembali melihat jam di tanganya yang menunjukkan pukul 10 lewat 10 menit, yang melebihi permintaannya kepada abel tapi ia berfikir positif saja mungkin Abel terjebak macet atau memang ada hal yang membuat gadis itu tak segera sampai.
Semakin lama menunggu membuat tangan Excel yang sedang mengenggam bunga jadi berkeringat dingin, bahkan untaian kata yang telah ia siapkan seolah hilang di telan kegugupan setelah mendengar kalau seorang gadis telah sampai di pekarangan resto dan siap masuk.
"Apa semuanya siap ?". Excel menoleh kepada semua pegawai restoran dan tak terkecuali pemain biola dan juga menejer yang telah bersiap menyambut kedatangan Abel, bahkan saat pintu di buka dari dalam oleh pelayan Excel mulai berjongkok untuk menimbulkan kesan romantis.
"Setelah semua yang kita lakui, aku ingin selalu bersamamu dan selalu menjadi pelindungmu sampai akhir hayatku, maukah kau menjadi istriku ?". Excel mengangkat tangannya yang memegang bunga juga cincin namun saking gugupnya sampai ia mengutarakan itu dengan mata terpejam, tak sanggup melihat ekspresi Abel.
"Excel iya aku mau sayang".
"Jennie kenapa kau_".
CUP
Jennie mencium pipi Excel seketika bahkan sebelum Excel menanyakan mengapa bisa Jennie berada disini padahal restoran sudah ia tutup dan tak menerima tamu, bahkan mengapa bisa Jennie mengatahui kalau ia sedang berada disini.
Excel menyentuh pipi kanannya yang di cium oleh Jennie, tapi seketika bunga yang ia pegang terjatuh saat melihat Abel disana sedang melihatnya bersama dengan Jennie bahkan saat ini Jennie merangkul tangannya.
PROK PROK PROK
Suara tepuk tangan Abel tujukkan untuk Excel dan juga Jennie saat kedatangannya malah di suguhkan dengan adegan romantis dimana Excel melamar Jennie untuk yang kedua kali. Ia faham sekarang mengapa Excel bersikeras menyuruhnya ke restoran.
Tentu agar bisa melihat keromantisan mereka berdua dan membuatnya faham jika seorang Excel hanya untuk Jennie seorang. Walau begitu ia bahkan tak menitikan satu tetespun air mata, mungkin karena ia terlalu banyak menangis dulu.
__ADS_1
"Abel ini tidak seperti yang kau lihat, aku bisa jelaskan". Excel melepaskan lengan Jennie yang merangkul lengannya dan berjalan ke arah Abel yang ada disana.
"Tidak seperti yang kulihat memangnya apa yang salah ? Aku sekarang menyadari jika kau ingin aku kesini untuk melihat kau dan wanita itu baikan kan ? Kalau begitu selamat atas hubungan kalian".
Abel melangkah pergi namun dengan cepat Excel mencegahnya karena kalau sampai Abel pergi maka ia yakini jika Abel akan tambah merasa kecewa walau ia tau jika Abel memang sudah sangat kecewa.
"Tunggu dengar dulu penjelasanku bel, aku hanya mencintaimu dan Jennie hanya masa lalu bagiku".
"Aku tidak percaya dan aku lelah dengan semua ini, jika kau memang ingin bersama wanita itu untuk apa memberitahuku ? lebih baik kau berhenti mengusikku karena aku lelah harus meladeni laki-laki sepertimu".
Abel menghentakkan tangan Excel dan berlari secepat mungkin meninggalkan tempat itu dengan mobilnya, tak peduli Excel yang berusaha mengejar namun karena tak sepadan antara mobilnya dengan kecepatan lari Excel hingga laki-laki itu menyerah. Tapi untuk mendapatkan perasaan Abel ia tak akan menyerah sampai kapanpun.
Semua yang telah Excel persiapkan nyatanya berantakan dengan kedatangan Jennie bahkan tanpa ia duga kalau semua ini akan menimbulkan kesalahpahaman baru yang membuatnya semakin jauh untuk mendapatkan Abel.
"ABEEEL". Excel berteriak sekuat tenaganya setelah ia tak sanggup lagi mengejar mobil Abel, meskipun ia tau jika teriakannya tak terdengar karena laju mobil yang semakin lama semakin jauh.
Abel kira air matanya tak akan menetes lagi tapi nyatanya tetap saja keluar sembari ia menyetir dengan kencang bahkan terbilang ngebut untuk menyalurkan rasa kesal setelah melihat kejadian tadi.
"Kau pembohong".
.
.
.
.
***Aku ingin terbang bebas di angkasa namun kau mematahkan sayapku berulang kali
Dan aku berharap kau akan membawaku terbang bersamamu
Karena aku akan mempercayaimu sampai ke 1000 kali
__ADS_1
Namun aku akan menyerah saat sudah sampai ke 1001 kali***