Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Ibu Yang Tertukar


__ADS_3

Terdengar suara bel pintu berbunyi, bi Yati membukakan pintu tersebut dan mempersilahkan tamu untuk masuk ke dalam. Bi Yati sudah tau dan kenal siapa tamu tersebut sehingga tak perlu bertanya kepada majikannya lebih dulu.


Tamu tersebut tak lain adalah mama Dina dan juga papa Rey yang datang dengan peralatan bayi yang berguna untuk sang cucu ketika lahir nanti. Mereka berdua langsung masuk ke dalam dan mendapati orang lain yang juga berasa di sana. Terkejut akan kehadiran sang besan yang tak mereka ketahui sebelumnya.


"Mama papa". Mata Abel berbinar saat kedua orangtuanya datang, ia tak menyangka selain kehadiran sang mertua dari luar negeri juga ada orangtuanya beserta beberapa barang bawaan yang ia yakini untuk sang cucu.


Kedua besan saling menyapa lalu ikut duduk berhadapan dengan putri mereka yang tadinya duduk dengan mami Rita. Mama Dina melihat sekitar, ketidak hadirannya Excel membuatnya heran akan sang menantu yang harusnya selalu di rumah, apalagi ini sudah malam dan Excel harusnya telah pulang kerja.


"Abel dimana Excel ?".


"Kak Excel lagi di kamar mandi kayaknya ma". Jawabnya biasa saja dan tak lama kemudian yang telah di bicarakan datang dengan wajah pusat pasi, setelah berhasil mengeluarkan isi perutnya yang terasa tidak nyaman.


"Excel kau kenapa ?". Mama Dina khawatir dan menghampiri Excel, raut wajah lelaki itu nampak tak baik dan mama Dina mengajak menantunya untuk duduk disebelahnya seraya menempelkan telapak tangan di dahi untuk mengukur suhu badan. "Kayaknya nggak demam".


"Tidak apa-apa ma katan dokter ini hanya sindrom simpatik, aku akan merasakan apa yang Abel rasakan saat hamil termasuk muntah dan ngidam". Jalasnya kepada sang mertua, Excel memijit kepanya yang masih terasa pusing.


Setelah dirasa pusingnya menghilang, kini ia malah terasa sangat lapar dan ingin memakan sesuatu. Apalagi tadi semua isi perutnya telah ia muntakan hingga kini ingin diisi kembali. Ia ingin sesuatu yang pedas dan nikmat.


Excel memegang tangan mama Dina yang berada di sampingnya, ingin sekali memakan masakan mama Dina saat ini. Entah mengapa semenjak Abel hamil seolah-olah Excel tak bisa melawan apa yang ia inginkan padahal itu bukan keinginannya sendiri dan bahkan menuntut untuk selalu harus di turuti. "Ma buatin udang asam manis".


Semua menatap Excel tak percaya apalagi papa Rey yang langsung duduk di tengah, memisahkan kedekatan mama Dina dan juga Excel disana. Ia kurang suka dengan permintaanga Excel yang ada-ada saja.

__ADS_1


"Jangan minta yang aneh-aneh sana minta masakan ke pembantumu, apa gunanya punya pembantu kalau kau malah meminta orang lain". Papa Rey terlihat sekali tidak suka, entah karena mama Dina yang di suruh-suruh atau keluar sifat yang sudah mendarah daging, apalagi jika bukan cemburu.


Excel kecewa karena keinginannya tak di turuti padahal tidak tahukah mereka jika saat ini dirinya lebih dari sekedar ingin. Dan ia beetekad ingin di penuhi, hingga segala macam bujuk rayu di lakukan.


"Ma bikinin ya ma ntar mama belanja apa aja aku anterin, aku bayarin deh". Rayunya kepada sang mertua. Disaat papa Rey melontarkan tatapan membunuh, sementara ada tiga orang yang sekuat tenaga menahan tawa melihat Excel yang begitu terlihat menyedihkan sampai meminta mama Dina, tak hanya itu bahkan juga merayu dengan berbagai cara. "Ini bukan keinginanku tapi maunya cucu mama dan papa".


"Sekali tidak tetap tidak dan jangan gunakan anakmu untuk merayu". Jawab papa Rey singkat, padat, jelas dan tak terbantahkan. Tetapi ada satu kelemahan papa Rey hingga ia mau tak mau menyetujui keinginan Excel, yaitu jika mama Dina sudah angkat bicara.


"Udahlah pa cuma masak doang nggak bikin lelah juga". Tatapan mama Dina beralih kepada Excel dan tak menghiraukan lagi sang suami yang masih enggan untuk menerima jika mama Dina akan memasak. "Udah nggak perlu bayarin juga lagipula mama nggak keberatan".


"Lebih baik jangan di turuti ma, nati dia ngelunjak".


"Tapi ini bukan keinginanku pa tapi keinginan cucunya papa yang ada di dalam kandungan".


Excel tak mendapatkan pembelaan dari siapapun selain mama Dina yang kini tak menghiraukan papa Rey lagi dan memilih untuk beranjak ke dapur. Keahlian mama Dina yang biasanya ia tunjukkan saat ada acara penting kini ia keluarkan, karena sudah ada pembantu di rumah jadi papa Rey tidak mengizinkan mama Dina untuk kecapean.


Sudah mulai tercium bau harum dari masakan mama Dina yang menerobos masuk ke dalam indra penciuman Abel, ia membayangkan bagaimana enaknya masakan mama Dina namun pasti akan lebih enak jika bukan udang tapi di ganti dengan sosis.


Abel melihat mami Rita dalam diam sambil meremas roknya bagian ujung, ingin sekali merasakan masakan sang mertua dan mengelus perutnya. Ini keinginan sang bayi, jadi ia di hadapkan pada pilihan bicara tapi tidak sopan atau diam tapi nanti anaknya ileran.


"Lihatin mami kayak gitu memangnya kenapa ?". Nampaknya Abel ketahuan melihati mami dari tadi, Abel mengigit bibir bawahnya saat keraguan muncul tapi di barengi dengan rasa ingin yang harus di penuhi demi si bayi.

__ADS_1


"Mi pengin sosis asam manis". Ujarnya dengan menahan malu.


"Oh gitu doang kok sampai takut gitu ngomongnya, yaudah mami bilang dulu ke bibi biar masakin sosisnya". Mami Rita beranjak dari duduknya, hendak memanggil pembantu yang bekerja di rumah itu, namun tangan Abel menahannya hingga ia menoleh melihat sang menantu. "Ada apa ?".


"Tapi aku pengin mami yang masakin". Imbuhnya dengan keraguan yang ia buang jauh-jauh, ia menyingkirkan rasa malu dan lebih memilih untuk mengatakan yang sebenarnya.


Tadi papa Rey yang tak setuju jika Excel di masakkan oleh mama Dina dan kini anaknya sendiri malah memerintah sang mertua agar memasak baginya. Ia mengusap wajahnya, bingun akan situasi sekarang. "Abel biar mama saja yang masakan untukmu".


"Tapi aku maunya masakan mami Rita pa". Abel mengerutkan bibirnya, menunduk setelah keinginannya di tentang oleh papa kandungnya sendiri, Abel mengusap perutnya dan meminta maaf kepada calon anaknya karena keinginan si bayi tidak dapat di penuhi.


"Yaudah nggak apa-apa bentar biar mami masakin".


"Makasih ya mi".


Mami Rita menuju ke dapur yang sudah ada mama Dina, ia menyiapkan sosis dan segala macam bumbu yang di butuhkan nantinya.


Sementara mata Abel berbinar menantikan masakan mami Rita yang akan segera dicicipi, entah mengapa ia ingin sekali merasakan masakan sang mertua dan mengelus kembali perutnya seraya mengatakan, 'dedek sabar ya makanannya bentar lagi jadi'.


Setelah beberapa menit kemudian kedua ibu itu memberikan piring berisi udang dan juga sosis pesanan para orang ngidam tersebut.


Mereka berdua mengucapkan terima kasih kepada mertua masing-masing dan langsung saja Excel dan Abel mengambil peralatan makan dan memakannya dengan lahap, tak berniat menawari dan bahkan tak ingin ada yang menggagu acara makan mereka.

__ADS_1


Padahal sebelumnya Excel anti sekali dengan yang namanya daging tetapi ini malah meminta udang yang biasanya amis tapi kini seakan mualnya hilang. Makanan itu langsung meluncur saja sampai ke dalam perut hingga tak menyadari jika bibir keduanya tengah belepotan.


__ADS_2