Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Hukum Dia


__ADS_3

Excel telah sampai di bandara internasional Indonesia setelah melalui penerbangan yang melelahkan. Yang ada di otaknya saat ini adalah satu yaitu segera menemui Abel tanpa tanpa menghiraukan tubuhnya yang lelah dan ingin di istirahatkan.


Bahkan Excel menghentikan taxi dan masih membawa koper yang di seretnya langsung menuju ke rumah sakit. Ia tak peduli apapun setelah papa Rey mengabarinya bahwa Abel sedang ada di rumah sakit, sepanjang perjalanan hanya doa yang bisa ia lakukan.


Berharap jika Abel baik-baik saja dan kembali melihat senyuman gadis itu, dan sekarang ia telah sampai di rumah sakit dan langsung menuju ke ruangan tempat Abel dirawat. Dari kejauhan ia sudah bisa melihat adanya Alvin di depan ruangannya Abel.


"Apa Abel baik-baik saja ?". Tanyanya kepada Alvin, namun ia tak mendapat jawaban atas pertanyaannya lalu memutuskan untuk masuk melihat Abel sendiri.


Anehnya Alvin malah menghadang pintu di depannya, ia merasa aneh akan kelakuan Alvin saat ini padahal ia ingin sekali melihat Abel. "Ada apa ? Biarkan aku masuk".


"Dia tidak ingin bertemu denganmu". Jawabnya dengan wajah datar, sebenarnya kasihan juga mencegah Excel untuk masuk apalagi Excel terlihat kurang tidur, terbukti dengan katung mata yang menghitam juga penampilan yang berantakan, apalagi koper yang masih di bawanya.


"Kau jangan bercanda di saat seperti ini, minggir aku mau masuk". Excel mencoba untuk menggeser Alvin namun lelaki itu tak bergeser sedikitpun karena bersikeras jika Excel tak boleh masuk atas permintaan Abel.


Merasa kesal atas pernyataan Alvin dengan sekuat tenaga ia menggeser hingga mereka seperti beradu, yang satu ingin masuk dan yang satunya berusaha mencegah. Sampai keluarnya mama Dina dari ruangan Abel membuat mereka terkesiap.


"Apa yang kalian lakukan ?". Alahkah terkejutnya mama Dina saat melihat dua lelaki dewasa layaknya anak kecil yang sedang bertengkar bahkan di rumah sakit, dimana seharusnya ketenangan tetap terjaga.


"Ma aku ingin masuk tapi dia menghentikanku". Tunjuknya ke arah Alvin dan dengan segera Alvin menyingkirkan jari telunjuk Exel yang berada tepat di depan wajahnya.


"Excel sebenarnya yang menyuruhmu agar jangan masuk adalah Abel sendiri, mungkin ia malu dengan kondisinya saat ini jadi mama harap kamu mau mengerti". Mama Dina mencoba menjelaskan apa yang telah Abel pesan kepada Excel.


Berharap agar Excel mau mengerti akan situasi yang serba sulit ini. Namun sepertinya Excel masih tak mau menututi keinginan Abel agar jangan menemuinya dulu. "Ini tidak adil untukku ma, kenapa aku tidak boleh sedangkan kalian bisa, aku adalah calon suaminya".


"Mama tau tapi ini pesan Abel kita harus menghargai keputusannya, untuk saat ini tolong bersabarlah anggap ini sebagai ujian sementara pasti nanti siatuasinya akan lebih baik jika Abel sudah tenang, sekarang kau pulanglah dulu istirahatkan badanmu".

__ADS_1


Excel mengusap kepalanya hingga rambutnya yang agak berantakan kini tambah berantakan, ia pusing dan geram akan semua kadaan yang tiba-tiba terjadi seperti ini. Saat mama Dina dan Alvin tak mengizinkan masuk, ia tau jika memaksa adalah pilihan yang buruk untuk saat ini dan yang bisa ia lakukan hanyalah bersabar.


"Baiklah ma, tapi kalau ada apa-apa dengan Abel segera kabari aku". Pesannya.


"Tentu saja". Jawab mama Dina dan Excel pamit untuk pulang.


Lelaki itu berjalan dengan pelan karena tubuhnya yang terasa tiada tenaga lagi hanya untuk sekedar berjalan lebih cepat. Ia lelah sekali namun hatinya gusar memikirkan Abel yang bahkan tak ingin di temuinya.


Waktu berganti begitu juga dengan hari dimana Excel selalu meminta untuk masuk guna melihat kondisi Abel. Ia bahkan mencoba menelfon Abel walau berada di depan pintu ruang rawat gadis itu.


Untuk apalagi kalau bukan minta diizinkan masuk, namun telfonnya tak pernah diangkat dan ia selalu di hadang. Semakin lama Excel semakin mempertanyakan mengenai kejelasan hubungan mereka yang semakin terasa mundur padahal hari pernikahan semakin maju.


"Apa kau masih tak mau membiarkannya masuk ?". Tanya mama Dina saat bersama dengan Abel dan terdengar dari luar Excel yang mencoba untuk masuk namun Alvin atau orang suruhannya papa Rey selalu menghalangi.


Ia pernah sekali saja melihat cermin yang di sediakan atas permintaannya namun setelah itu ia menjerit terkejut dan membanting cermin tersebut lalu menangis meratapi hidupnya. Abel tak bisa membiarkan Excel melihatnya dalam keadaan seperti ini, atau setidaknya sampai ia bisa sembuh.


"Tapi dia berhak Abel, dia calon suamimu dan selalu kesini setiap hari untuk bertemu denganmu, apa kau tidak kasihan padanya ?". Mama Dina berusaha membujuk Abel, ia tau Abel masih sulit menemui siapapun namun ini tidak adil juga bagi Excel.


"Aku mohon ma, aku mohon jangan membiarkannya menemuiku dan masuk ke sini". Pintanya seraya menelakupkan kedua tangan, dan mama Dina hanya bisa pasrah.


******


Abel sudah boleh pulang karena kondisi gadis itu sudah stabil, hanya saja untuk luka bakarnya tak ada perubahan dan tetap sama, Abel bisa berjalan dan bergerak layaknya orang normal namun kulitnya berubah.


Ia terlau takut bertemu dengan Excel sampai dirinya pulang saja, ia sudah berpesan agar jangan memberitahukan hal ini kepada Excel. Padahal dirinya sangat merindukan lelaki itu juga suaranya yang telah lama tak ia dengar.

__ADS_1


Saat ini baik mama Dina, Abel, Alvin juga papa Rey sedang berada di kamar Abel setelah menjemput gadia itu dari rumah sakit. Namun papa Rey berpesan agar mereka tak keluar dulu karena ada yag ingin dirinya katakan.


"Sebenarnya ledakan yang terjadi di rumah kita adalah suatu faktor kesengajaan". Ujarnya membuat mereka yang berada di sana sangat terkejut dan penasaran.


"Siapa orangnya yang telah tega melakukan itu pa ?". Seketika luapan emosi meledak hingga ingin sekali membuat perhitungan, sebagai sekrang ibu ia merasakan marah saat keluarganya apalagi anaknya disakiti.


"Dia seorang wanita bernama Grace, papa sendiri tidak tau siapa dan mengapa wanita itu berniat menghancurkan dan menyakiti keluarga kita".


"Aku tau pa, dia sebenarnya adalah pacarnya Robin dan sepertinya dia melakukan itu karena masih membenciku". Abel sangat geram sekali setelah nama Grace di sebut, ia tak terima padahal dirinya tak menganggu Grace apapun Robin lagi setelah tau niatan Robin yang sebenarnya.


"Hukum dia seberat-beratnya pa kalau bisa jangan biarkan dia keluar dari penjara". Ujar Alvin yang ikut geram, tak menyangka kalau Robin dan pacarnya akan hadir dengan membawa malapetaka.


"Tentu saja".


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2