Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Iri


__ADS_3

Suasana apartemen Excel terasa ramai dengan dirinya dan sang istri yang sedari tadi jalan kesana-kemari seperti setrika. Tak ketinggalan juga bi Yati yang mengemas barangnya. Sedangkan Ginger si kucing dengan bulu kecoklatan itu terlihat lebih santai tidur diatas kasur dengan selimut sebagai penghangat.


Setelah Abel dan juga Excel mengantar kepergian mami Rita dan juga papi Jimny ke bandara, mereka mengunjungi kediaman papa Rey dan membawa si kucing untuk ikut ke apartemen, dan selanjutnya mereka akan tinggal di rumah peninggalan papi Jimmy dan juga mami Rita.


Abel tak sengaja menemukan map yang kemarin Excel pegang saat di rumah mami Rita, ia penasaran dengan isinya dan melihat ke belakang, Excel masih merapikan kopernya disana. Ia melangkah agak dekat dan memperlihatkan map tersebut. "Kak ini mal apa ya ?".


Abel mengulurkan map tersebut dan di ambil Excel seraya menimbang dan melihat isinya, ia tersenyum dan kembali memberikan ke Abel yang berisi dokumen penting. "Itu sertifikat rumah papi, nggak tau malah terbawa kesini, kemarin papi kasih ke aku jadi sekarang rumah itu sudah benar-benar milik kita". Jawabnya.


Abel ber 'oh' ria dalam hati, tak menyangka jika sertifikat juga akan di berikan karena ia kira sertifikat tersebut akan di bawa papi Jimmy ke luar negri. Dan sekarang rumah impiannya yang ia inginkan akan benar-benar tidak terwujud, berganti dengan rumah peninggalan mertuanya yang memang besar dan modern hanya saja bukan seleranya.


"Semua sudah siap ?". Excel melihat ke arah lemari, hampir kosong sepenuhnya karena mereka akan kesulitan jika membawa semua, toh apartemen ini masih miliknya jadi kapanpun ia mau menginap disini maka baju dan barang lainnya tidak perlu beli ataupun bawa.


"Semua sudah beres tinggal bangunin si kucing aja kak". Abel dan Excel melihat ke arah kasur, setelah kedatangan Ginger mereka merasa tak punya tempat tidur dan melihat kucing itu terlelap di alam mimpi entah mengapa rasanya gemas untuk membangunnya. "Kok kita kayak pesuruh terus si kucing yang majikannya ya kak ?".


"Udah jangan ngiri sama kucing, toh kamu yang manusia dia cuma peliharaan". Excel menaikkan kakinya ke kasur berusaha untuk membangunkan si kucing kecil yang enggan untuk bangun, terasa menggemaskan saat si kucing masih memakai topi yang Abel berikan seraya menguap.


"Kalau yang melihara sultan, peliharaannya juga kayak sultan ya kak ?". Abel melipat tangannya diatas perut, heran dengan binatang peliharaan yang semuanya serba dimanjakan seperti halnya kalau di pelihara oleh orang kaya, maka semua biaya perawatan juga bernilai fantastis bahkan Excel hendak membuatkan ruangan sendiri untuk Ginger di rumah papi Jimmy dan mami Rita nanti.


"Dibanding iri sama Ginger yang jadi peliharaan sultan,mending kamu bersyukur punya suami sultan". Excel merangkulkan satu tangannya ke pinggang Abel dan tersenyum.


"Emang kak Excel sultan ?".

__ADS_1


"Bukan, tapi kalau kamu mau minta jalan-jalan kebulan aku sih masih mampu kabulin". Abel mencubit pinggal Excel agak keras hingga lelaki itu agak merasa kesakitan, seperti digigit semut rangrang. "Gombal". Ujarnya.


Abel dan Excel keluar dari kamar dengan menyeret beberapa koper dan salah satu tangan Abel memegang Ginger yang telah bangun walau tadi bangunnya di paksakan. Kucing itu terasa agak berat dari terakhir Abel menghendongnya.


"Bi Yati ayo". Excel memanggil bi Yati yang baru datang dengan satu tas agak besar, hanya sedikit bawaan bi Yati, maka mereka tak akan khawatir akan bagasi yang penuh dan tidak muat.


Excel menyetir sendiri mobilnya dengan di dampingi oleh Abel dan di belakang ada bi Yagi dan Gingger, rupanya kucing itu begitu mengantuk hingga melanjutkan tidurnya sepanjang perjalanan. Dan setelah melewati beberapa lanpu lalu lintas, akhirnya mereka sampai di kediaman Papi Jimmy.


Dulu Abel teringat saat dirinya pertama kali menginjakkan kakinya di rumah itu, rasanya gemetar, takut dan juga khawatir tidak akan di terima sebagai menantu. Dan sekarang dia juga Excel yang akan menjadi tuan rumah.


Excel melihat bangunan di depannya, masih sama tapi tanpa kehadiran kedua orangtuanya lagi di rumah dengan segala kenangannya. Ia menghela nafas berat dan melihat ke arah Abel yang berada di sampingnya. "Welcome home".


Abel menginjakkan kaki ke rumah yang baru ia datangi dua kali, yang pertama saat sang pemilik tumah pindahan ke rumah itu setelah menikah dan yang kedua adalah saat ini. Dan setelah acara bongkar barang dari koper ke lemari telah usai Abel lakukan kemarin membuat tubuhnya terasa pegal.


Ingin sekali setelah ia pulang bekerja langsung ke rumah dan istirahat, tapi ternyata tiada angin dan hujan, telfon Abel berdering dengan nama yang tak asing tertera di layar kaca tersebut. Ia lalu ke tempat ini, dimana orang itu tinggal dan menyuruhnya datang.


"Udah berapa bulan ?". Abel melihat ke arah Felly, gadis itu asyik memakan buah mangga yang masih agak putih warnanya dan Abel yakini rasanya sangat asam, tapi melihat cara makan Felly yang begitu lahap ia jadi heran.


"Dua bulan jalan tiga". Felly mengusap perutnya yang belum terlalu terlihat, mungkin akan terlihat jika tak memakai baju dan ia merasa bangga, benih sang suami telah berhasil ia tanam dan semai dengan baik hingga membuahkan hasil.


"Rasanya gimana ?". Tanya Abel saat melihat Felly terlihat baik-baik saja, padahal yang ia ketahui biasanya wanita hamil akan muntah terus-menerus dan hilang nafsu makan, sepertinya Felly pengecualian.

__ADS_1


"Ya senang benget lah tapi sebel juga kalau pagi, pengin muntah terus bawaannya". Felly kembali mengambil mangga yang berada di piring setelah yang di pegangnya beralih ke perut, entah sudah berapa banyaknya mangga muda yang di makan dan Abel semakin hilang selera, padahal Felly yang makan tapi ia bisa merasakan rasa asamnya.


"Kamu ngapain nyuruh aku kesini sih, kirain penting banget tapi nyatanya nggak ada apa-apa". Tanyanya agak kesal, bukan apa-apa hanya saja tubuh Abel rasanya remuk setelah seharian bertemu beberapa client dan di tempat yang berbeda pula.


"Gue tuh ngidam pengin ketemu lo tau nggak, kan kita udah lama nggak ketemu". Ujarnya dengan kesal karena Abel tak mengerti akan maksudnya, seperti layaknya ibu hamil lainnya yang ingin di mengerti dan di perhatikan lebih, Felly juga begitu.


"Sayang aku udah beliin bakso beranak buat kamu". Suaminya Felky datang dengan membawa bakso yang sebelumnya Felly minta dan di tangannya sudah ada mangkok juga sendok untuk mempermudah makannya.


"Tapi aku udah nggak pengin lagi, kamu aja yang makan ya, aku pengin lihat kamu makan". Felly bicara dengan bada lembut namun membuat jengkel, Abel tadi lihat sendiri bagaimana Felly ngotot mau bakso dan buru-buru sang suami belikan, tapi nyatanya sekarang bilang tak mau.


"Tapi ini besar banget, aku nggak mungkin makan bakso beranak, kamu tau sendiri aku eneg kalau makan kebanyakan daging". Suami Felly melihat bakso itu, sangat besar dan penuh dengan daging, ia tak akan mampu menghabiskannya.


"Makan nggak, ini tuh penginnya anak kamu lho kalau nggak mau makan ntar anak kita ileran gimana kalau udah lahir ?". Ancamnya kepada sang suami dan berhasil, Abel ngeri melihat peetunjukkan makan dengan terpaksa seperti itu, dimana suaminya Felly dengan sangat terpaksa memakannya sambil menahan muntah.


Tapi Abel merasa iri, padahal Felly semena-mena dengan suaminya yang minta ini dan itu tanpa memperdulikan apapun atas nama anak yang bahkan tak mengetahui apapun. Abel ingin sekali mempunyai anak secepatnya dan bahkan mami Rita, juga orang sekitarnya menanyakan apakah sudah hamil ataukah belum.


Jika ditanya tentu saja ia ingin kalau bisa hamil sekarang juga, toh dia sudah punya suami dan tidak menunda rapi mengapa ia merasa sulit.



Dukung author dengan cara klik like, komen, vote dan tip

__ADS_1


__ADS_2