
Kamar Abel penuh dengan canda dan tawa oleh beberapa orang di sana. Ada mama Dina, Felly, dan istrinya Andre sementara sang keponakan sedang ikut bersama ayahnya diluar. Karena malam hari ini adalah hari dimana Abel melepas masa kesendiriannya dan berganti menjadi seorang istri besok.
Malam yang seharusnya sepi dan senyap kini malah semakin larut semakin ramai berganti dengan suka cita dan canda tawa. Bahkan Abel beberapa kali di goda oleh temannya Felly. "Cie yang besok mau nikah pipinya udah bersemu merah aja, padahal nikahnya besok, bentar lagi sold out dong".
"Udah deh kamu mau godain aku berapa kali lagi sih ? Dari tadi nggak berhenti". Abel kesal namun memang wajahnya bersemu merah dan ia tak bisa menutupi kebahagiannya besok. Setelah lama penantian Abel akhirnya akan menikah juga dengan Excel.
Padahal sempat Excel berpaling ke wanita lain dan melupakan janjinya yang ia tanggapi dengan serius namun tidak oleh Excel. Bahkan ia fikir jika Excel telah berubah tak seperti dulu yang ia kenal.
Takdir yang sempat ia kira kejam, nyatanya tidaklah terlalu kejam, karena penantiannya kini terbayar dan ia akan menjalani rumah tangga yang bahagia karena ia akan memperjuangkan kebahagiaan itu sampai maut memisahkan mereka.
Disana telah ada para wanita yang sudah menikah dengan pengalamannya masing-masing. Mama Dina yang telah menikah dengan papa Rey selama puluhan tahun dan dikaruniai 3 anak termasuk Abel, sang kakak iparnya yang telah menikah dengan Andre selama beberapa tahun dan menghasilkan keponakan yang lucu, juga Felly yang menikah baru seumur jagung.
"Rasanya nikah tuh gimana ya ?". Tanyanya, mencari informasi dari mereka yang telah berpengalaman karena dirinya hendak menyusul. Dan ia takut jika pernikahannya tak seperti yang ada di benaknya selama ini.
"Ya gitu, kayak uji nyali". Jawab Felly.
"Nikah itu nggak selalu senang aja, pasti ada cekcoknya mau masalah besar atau kecil, pasti datang". Kata sang kakak ipar memberitau apa yang telah ia alami selama menikah dengan Andre dan menghasilkan 2 keponakan, dan yang satu masih di dalam kandungan.
"Masalah gimana ? Aku kok takut ya". Abel bergidik, mengapa harus ada masalah bukannya menikah adalah untuk bahagia bersama.
"Jangan terlalu takut, memang kedengarannya menakutkan tapi nggak sampai seperti itu, masalah datang tergantung kita juga dan bagaimana menyikapinya, asal ada perasaan sayang dan saling terbuka pasti masalah bisa di selesaikan, dan paling utama adalah komunikasi yang baik".
Kini mama Dina ikut menasehati dan memberitahu, khawatir juga jika Abel tidak siap akan pernikahan. Nyatanya banyak yang telah bercerai di usia pernikahan mereka yang masih seumur jagung akibat kurangnya kesiapan masing-masing.
"Gimana, masih mau di lanjut nggak nikahnya ?". Tanya Felly yang tau akan kecemasan Abel. "Kalau nggak mending mundur sebelum terlambat". Imbuhnya.
"Hus orang besok nikahnya masak mau mundur, mau taruh dimana nanti muka mama kalau kamu gagal nikah pas H-1 Bel ?". Mama Dina melihat kearah Abel berganti melihat Felly seraya menggeleng. Teman Abel satu itu ternyata cukup membuat was-was, dan harus di waspadai.
"Aku cuma kasih saran tante he he". Katanya saat mengetahui kekesalan ibu dari temannya tersebut. Dan kini Felly akan menjaga lisannya agar tak sembarang bicara lagi, takut kalau di black list dari temannya Abel.
"Kamu tenang aja, sebenarnya menikah nggak sampai menakutkan itu, bahkan suatu masalah akan menjadi bumbu dari pernikahan dan dengan adanya masalah kalian akan saling belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam menguatkan rumah tangga". Kini sang kakak ipar ikut menasehati, dan melihat ketakutan adik iparnya terasa kasihan, ingat saat dirinya menikah dengan Andre.
__ADS_1
Dan sekarang dirinya telah mengandung anak kedua, dengan perut yang kian membuncit menandakan kalau ada kehidupan di dalam rahimnya, ia elus perut itu dan mensyukuri dirinya bisa menikah dengan Andre dulu.
Sebuah pintu terbuka dan membuat mereka berempat yang ada disana menoleh, mendapai papa Rey yang datang, dan merasa aneh dengan kamar Abel yang diisi perempuan semua. Ia jadi canggung padahal di rumahnya sendiri.
"Bisa papa bicara dengan Abel berdua ?". Tanya sang papa.
Mama Dina mengerti dan mengajak Felly juga menantunya untuk keluar, agar sang suami lebih leluasa untuk bicara dengan Abel. Ini hari terakhir Abel berada di sini dan menjadi bagian dari keluarga ini karena besok gadis itu harus ikut kemanapun suaminya berada.
"Ada apa pa ?". Tanya Abel saat sang papa ikut mendudukkan diri di pinggir ranjang dan menatap putrinya dengan tatapan teduh.
"Papa masih nggak nyangka besok kamu menikah dan ninggalin papa, padahal papa masih ingat dulu kamu sangat kecil, bahkan saat bayi kamu hanya sebesar ini". Papa Rey memperagakan saat ia pertama kali menggedong Abel, sangat kecil, ringkih dan juga masih merah.
"Abel sebenarnya papa mau mengatakan sebuah rahasia kepadamu, dan ini adalah rahasia terbesar papa selama ini, bahkan mama saja tidak tau akan hal ini". Papa Rey dan Abel saling memandang, jika tatapan mata Abel adalah penuh rasa penasaran maka berbeda dengan papa Rey yang penuh penyesalan.
"Apa pa ?". Tanyanya.
"Sebenarnya kau lahir prematur, kau tahu ?". Abel mengangguk, kalau itu ia sudah tau dan bahkan sudah lama tau dari mama Dina. Namun dirinya diam masih mendengarkan penuturan papa. "Sebenarnya saat mama mengandungmu, tubuhnya sangat kurus seperti kulit dengan tulang saja, waktu itu papa tidak mau kenapa-napa jadi papa menyuruh mama untuk mengugurkan kandungannya, yaitu menggugurkanmu saat masih di kandungan".
"Maafkan papa Abel maaf kan papa, papa sangat menyesal tapi untungnya mama tetap mau mempertahankanmu dan bertengkar dengan papa waktu itu demi dirimu, saat papa mau menebus semuanya kau terlebih dulu lahir namun kau tidak menangis saat di lahirkan, bahkan dokter dan suster mengatakan jika kau telah tiada, papa tidak mau kehilanganmu dan berusaha untuk mempertahankanmu, ternyata berhasil dan sekarang kau masih hidup dan sampai sekarang mama tidak tau jika kau pernah hampir tiada".
Papa Rey yang tadinya menunduk kini melihat ke arah Abel, sekarang rahasia yang selama ini ia sembunyikan telah diungkapkan. Berharap Abel mau memafkan dirinya yang telah memaksa mama Dina untuk menghilangkan nyawa Abel saat masih di kandungan.
"Setelah mendengar ini apa kau masih mau memaafkan papa ?". Tanyanya dengan air mata yang telah menetes, sebagai seorang laki-laki yang juga sudah berumur tentulah air mata akan sangat berharga karena air mata lelaki tidak mudah untuk keluar.
Para lelaki hanya akan menangis saat benar-benar keadaan yang membuat mereka sangat terharu ataupun menyedihkan. Berbeda dengan wanita yang menggunakan perasaan di setiap harinya.
"Iya pa, aku maafin papa karena selamanya papa bagiku adalah papa terbaik di dunia". Mereka berpelukan, sudah sangat lama tidak berpelukan seperti itu, dan sekarang papa Rey merasa lega. Karena rahasia yang selama ini ia simpan dan kubur nyatanya hanya menjadi beban hidupnya.
Dan beban tersebut kini telah hilang bersamana dengan kebahagiaan mengantarkan putrinya untuk melangkah bersama dengan orang yang akan menggantikannya sebagai pelindung dan pemimpin.
"Terima kasih".
__ADS_1
Mama Dina masuk ke dalam kamar saat dirinya merasa jika perbincangan antara Abel dan papa Rey sangat lama, namun ia sangat di kejutkan dengan keduanya yang saling berpelukan dan menangis.
"Kok malah pada nangis, udah gitu berpelukan juga".
Seketika Abel dan papa Rey melepaskan pelukan dan mengusap air mata, mereka tertawa dan melihat ke arah mama Dina yang sudah penasaran. "Dih mama kepo". Ujar Abel.
"Oh gitu ya main rahasia sama mama". Mama Dina mencebik kesal dan keluar seraya menutup pintu sedikit agak keras.
"Mama ngambek pa, gimana dong ?". Abel menutup mulutnya, ia rasa jika salah bicara hingga membuat mama Dina marah dan sepertinya juga ngambek.
"Gampang nanti papa bujuk juga nggak ngambek lagi".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Besok Abel nikah kalau nggak ada halangan. Dan kalian diundang kalau kasih like, komen, vote sama tip.
__ADS_1