Love You Brother

Love You Brother
Abel Hilang


__ADS_3

Abel menyusuri jalanan yang ia lalui tadi seraya mengingat dimana tadi ia berpijak. Gelang tersebut merupakan pemberian dari mama Dina jadi ia akan mencarinya sampai ketemu kalau perlu ia akan menyusuri setiap jengkal hutan tersebut.


Tak menyadari jika ia sudah mencari gelang tersebut selama 2 jam lamanya hingga rasa letih dan haus melanda. Ia sangat lelah dan ingin kembali ke villa namun gelang itu belum ketemu. Abel kembali mencari gelang itu dengan cara menundukkan pandangan dan berjalan entah kemana.


"Apa itu ?". Ada semburat cahaya yang membuat matanya silau, ia mendekat dan bersyukur kala menemukan gelang yang sudah di carinya, rasa letih akhirnya terbayar juga. Abel hendak kembali ke villa namun jalanan yang licin akibat lumpur dan rerumputan membuat kakinya tergelincir ke jurang yang tak terlalu tinggi.


"Toloooong". Abel berteriak, ia merasa sulit menggerakkan tubuhnya terutama kakinya yang di rasa terkilir, juga kepalanya yang ia yakini terkena batu saat jatuh tadi.


Semakin lama penglihatannya semakin buram, seperti ada semut hitam yang semakin banyak dan membuat pandangannya semakin kabur. Abel berusaha mengerjapkan mata agar tetap terjaga namun rasanya begitu sulit hingga matanya begitu berat sebelum kesadarannya benar-benar menghilang.


******


Mereka kembali ke villa karena merasa sudah lama mencari Abel dan mencari tau apakah diantara mereka ada yang berhasil membawa Abel kembali, atau justru sebaliknya.


"Bagaimana apa kalian berhasil menemukannya ?". Tanya Excel kepada Robin dan Alvin yang hanya di jawab dengan gelengan oleh Robin dan jawaban belum dari Alvin.


"Harusnya kau menemaninya, pasti jadinya tidak akan seperti ini". Excel mencengkeram kerah Robin, menyalurkan rasa kesalnya akan ketidakmampuan Robin dalam menjaga Abel.


"Sayang jangan marah-marah hanya karena dia hilang nanti juga akan balik sendiri". Jennie meyakinkan Excel agar tak bersikap berlebihan kepada gadis ia tak sukai.


"Kau bilang hanya ? Dia hilang di hutan bagaimana kalau dia di makan binatang liar didalam sana". Jennie diam sembari menggigit bibir bawahnya, ia kesal mengapa Excel peduli dengan Abel dan mengesampingkannya bahkan tak segan membentaknya.


"Tolong jangan bilang seperti itu Excel". Mama Dina yang sebelumnya tengah khawatir kini bertambah cemas dan menangis.


"Ma aku tidak bermaksud, aku janji akan menemukannya". Excel menyesal mengatakan sesuatu yang membuat mama Dina kian khawatir.


"Sudah lebih baik kita cari lagi sebelum hari semakin gelap". Papa Rey menengahi semuanya dan mereka kembali masuk ke dalam hutan untuk mencari Abel sebelum malam hari datang dan membuat mereka kian sulit mencari.


********


Abel mengerjapkan mata kala kesadarannya mulai muncul walau tak sepenuhnya karena tubuhnya terasa lemah. Menyadari kala hari ternyata sudah gelap dan tak ada lampu yang bisa menyinari selain rembulan yang agak redup cahayanya karena tertutup awan, ia takut apabila ada binatang liar datang dan menjadikannya mangsa.


"Tolong tolong aku". Abel berteriak sekuat tenaga, berharap ada yang datang dan menolongnya.

__ADS_1


Abel menyentuh tenggorokannya yang terasa haus juga perutnya yang terasa perih karena belum makan siang dan bahkan kini hari sudah malam. Ia tak ada tenaga untuk sekedar bangkit dan berjalan, bahkan posisinya kini sedang terlentang memandang ke atas.


"Abeel kau dimana ?". Teriak seseorang.


Abel samar-samar mendengar suara seseorang yang memanggil namanya, ia tersenyum dan lega akhirnya ada orang yang mencarinya, ia kira ia tak akan selamat tapi ternyata Tuhan masih baik dan mengirim seseorang untuknya.


"Aku disiniiii". Abel berteriak dengan suara seraknya dan sisa tenaga yang ia miliki untuk mengabarkan tentang posisinya yang berada di jurang dan tak bisa bergerak.


"Abeeelll kau dimana ?".Teriaknya lagi, dia berjalan mendekat mengikuti sumber suara yang kian terasa keras.


"Aku disinii tolong aku tak bisa bergerak". Semakin lama Abel semakin lemah dan kesadarannya kembali menghilang.


Lelaki itu berusaha untuk mencari sumber suara namun saat kembali berteriak tak ada jawaban lagi, mungkinkah ia berjalan ke arah yang salah namun ia merasa berjalan ke arah di mana sumber suara tadi berasal.


"Abel ?". Lelaki itu sangat terkejut kala melihat ke bawah ada Abel yang tengah pingsan di sana, dengan segera namun hati-hati lelaki itu turun untuk membantu Abel.


"Abel bangun kau harus bangun". Berkali-kali meneluk pelan pipi Abel agar gadis itu segera membuka matanya namun sepertinya gadis itu benar-benar pingsan, lelaki itu menyentuh nadi Abel untuk mengecek apakah Abel masih hidup atau tidak.


Hembusan nafas lega keluar kala mengetahui Abel masih hidup dan ia yakin sebentar lagi juga Abel akan sadar. Lelaki itu menggendong Abel ala bridal style dan berusaha untuk keluar dari hutan dan kembali ke villa.


Syukurlah ada gua yang tak terlalu besar namun bisa dibuat tempat bernaung sementara kala hujan masih menguyur tempat itu, barulah nanti saat reda ia dan Abel bisa kembali ke villa.


"Abel bangunlah". Lelaki itu menyentuh kening Abel yang terasa agak panas, mungkin Abel terkena demam bahkan kakinya juga membiru, mungkin Abel terkilir.


Lelaki itu membuat api unggun untuk menghangatkan tempat itu karena semakin lama hujan semakin deras dan menimbulkan sensasi dingin yang menjalar ke tubuh. Bahkan telapak tangannya sendiri terasa sangat dingin.


"Huh dingin sekali". Ia yakin Abel juga kedinginan hingga ia melepaskan jaketnya dan ia pakaikan untuk menutup tubuh Abel agar tidak kedinginan, biarlah ia kedinginan baginya api unggun yang ia buat sudah cukup untuk menghatkannya dari udara dingin.


Lelaki itu menatap wajah Abel yang diam dan tenang, sudah lama ia tak sedekat ini dengan Abel, bahkan terakhir kali hubungan mereka masih baik sepertinya ia sudah lupa. Tanpa sadar senyuman tipis terlihat di bibir lelaki itu kala melihat Abel yang belum sadar.


"Andai kita bisa berbaikan seperti dulu". Ujarnya dan kembali menggosokkan tangannya ke dekat api unggun agar hangat.


Suara yang terasa tak asing membuat Abel terbangun dari pingsannya, ia juga merasa pusing hingga tangannya terulur untuk memegang kepalanya yang terasa memar akibat terjatuh, namun ia terasa asing dengan jaket yang ada di tubuhnya.

__ADS_1


Ia tak merasa memiliki jaket itu, namun siapa yang memberikannya dan siapa yang berhasil menyelamatkannya ?.


Abel melihat sekitar dan menyadari kalau ia sedang berada di gua dengan api unggun yang nyalanya tak terlalu besar namun cukup untuk menghangatkan tubuhnya yang berada agak jauh.


Matanya tiba-tiba terpusat oleh seseorang yang duduk membelakanginya, ia yakin jika orang itulah yang berhasil menyelamatkannya. Kalau begitu ia harus banyak mengucapkan terima kasih.


"Permisi, apa kau yang sudah menyelamatkanku ? Aku ingin berterima kasih kepadamu".


Abel menunggu respon dari orang itu yang ia yakini adalah lelaki, namun kala tak ada jawaban ia malah semakin penasaran siapa yang menolongnya. Lelaki itu berbalik melihat Abel yang sudah sadar bahkan sudah mampu bicara.


"Kau sudah sadar ?". Tanya lelaki itu.


Mata Abel membulat seketika, ia merasa tak percaya dan terus memandang lekat-lekat lelaki yang berdiri dihadapannya dan menghampirinya. Bukan lelaki itu yang ia harapkan untuk menyelamatkannya saat ini.


"Excel...?".


.


.


.


.


.


Tolong ya bagi yang punya jempol di like πŸ‘


bagi yang suka di favorit β™₯️


bagi yang sebel, bete atau suka mohon komenπŸ‘„


dan bagi yang punya koin dan poin di sumbangin ke sini πŸ’°

__ADS_1


SEIKLASNYA πŸ™


__ADS_2