
"Ini tentang pernikahanmu dengan Jennie yang kau batalkan secara sepihak, orang tua Jennie kemarin mendatangi rumah papi dan mereka merasa tersinggung dengan keputusanmu".
Excel menyugar rambutnya ke belakang, tak menyangka kalau diamnya ia dan tak mengatakan apapun tentang perbuatan Jennie yang merencanakan sesuatu tak baik malah berdampak buruk padanya. Padahal Excel diam agar reputasi Jennie tak buruk setidaknya itu yang ia bisa lakukan untuk menjaga kehormatan seorang wanita mengingat maminya juga wanita tapi nyatanya ia salah.
Kalau sudah begini sepertinya mau tak mau Excel akan menceritakan keburukan Jennie karena orangtuanya harus tau dan tak menghakiminya akibat membatalkan pernikahan secara sepihak.
"Jennie selingkuh di belakangku pi dengan managernya dan sebenarnya dia tak mencintaiku bahkan dia merencanakan untuk mengusai harta keluarga kita dan membawanya pergi dengan selingkuhannya".
Excel bisa melihat raut muka papi Jimmy yang berubah terkejut, tentu saja tak menyangka kalau Jennie akan berbuat hal seperti itu. Dan mereka nyaris saja menerima Jennie sebagai menantu jika kalau bukan karena Excel mengagalkan pernikahan.
"Apakah itu benar ? Apa kau punya bukti ?". Tanya papi Jimmy, bukannya tak percaya dengan ucapan putranya hanya saja hal tersebut terlalu mengejutkan untuk dipercaya tanpa adanya bukti.
"Aku bahkan mendengar dan melihat sendiri mereka habis tidur berdua". Jelasnya.
"Benar-benar keterlaluan, sudah benar kau membatalkan pernikahan ini, tapi semua ini benar-benar membuatku pusing". Seketika papi Jimmy memegang kepalanya yang terasa pusing, semua ini terlalu mengagetkan untuknya hingga berusaha mencerna semuanya.
"Aku sangat menyesal pi, dulu ada yang memperingatkanku tapi aku malah tak mempercayainya, sekarang aku sedang berusaha mendapatkan maaf darinya". Excel menunduk dan matanya terpejam, mengingat bagaimana dulu Abel memperingatkannya tapi ia bukan hanya tak percaya bahkan sampai membentak Abel.
"Siapa orang itu ?". Tanya papi Jimmy seketika membuat ingatan tentang Abel memudar dan di ganti dengan rasa gugup.
"Di-a temanku". Excel belum berani mengatakan kalau orang itu adalah Abel, ia masih belum siap menerima sikap papi Jimmy yang ia sendiri tak tau akan mendukung atau malah sebaliknya, mungkin di lain hari di saat yang sudah tepat barulah ia bilang.
"Seorang wanita memang bisa membuat hubungan pertemanan menjadi rusak". Ujar papi singkat.
Excel hanya mengangguk sebagai jawaban, namun perutnya seolah sedang berdemo dengan keras, perut Excel berbungi minta diisi sesari tadi.
"Kau lapar ?". Tanya sang papi.
"Tentu saja, aku tadi mau makan papi malah telfon".
Lelaki paruh baya itu tertawa dan mereka memutuskan untuk memesan makanan dari restoran daripada Excel harus kesana-kemari lagi dengan perut kosong. Setelah menanti makanan datang mereka segera makannya hingga piring sudah kosong.
__ADS_1
"Papi akan menginap disini".
Seketika Excel menggeleng dalam hati, jika sampai papi Jimmy menginap pasti Excel tak akan kembali ke rumah papi Rey malam ini. Segala alasan coba Excel fikirkan agar bisa menggagalkan niatan papi Jimmy untuk menginap.
"Pi nanti kalau di cariin mami gimana ?". Ujaranya namun papi Jimmy sepertinya tek terpengaruh dan sibuk dengan hpnya.
"Ini papi lagi hubungi mamimu dan bilang akan menginap disini bahkan mamimu dengan cepat membalas 'iya' sepetinya mamimu senang kalau papi jauh dengannya".
Excel ingin menangis dalam hati, entah harus bagaimana lagi ia membatalkan niatan papinya bahkan papinya kini bersiap untuk tidur dan merebahkan diri di kasur. Excel hanya bisa menghembuskan nafas kasar dan mengirimi pesan singkat ke mama Dina bilang tidak pulang karena takut nanti mama Dina cemas.
*******
Abel duduk di sofa ruang tamu sambil sesekali melihat ke arah pintu utama, ia memegang telfon dan menggeser layar kaca tersebut dengan ibu jarinya mengharap kabar dari seseorang yang dari tadi tak kunjung pulang.
Walau tubuhnya di kursi tapi fikirannya entah kemana karena mencemaskan seseorang. Sambil merutuki diri mengapa ia harus mencemaskan lelaki tersebut, ia berusaha fokus dengan hp di genggamannya namun tetap tidak bisa.
"Udah jangan di tungguin dia nggak pulang hari ini". Ujar mama Dina yang berdiri di belakang Abel, hingga membuat Abel mencari sosok sumber suara.
"Kenapa Excel nggak pulang ?". Tanyanya namun mama Dina mengulum senyum hingga membuat Abel penasaran.
Seketika Abel ingin menepuk dahinya sendiri mengapa ia sampai langsung menyimpulkan kalau yang yang di maksud mama Dina adalah Excel lagi juga mengapa ia tak bisa sepenuhnya bersikap acuh kepada lelaki yang telah membuatnya selalu kesal.
"Nggak aku cuma salah ngomong aja tadi". Bantahnya tapi itu tak membuat mama Dina percaya sama sekali.
"Udahlah mama tau hati sama mulut kamu nggak kompak, daripada nunggu disini lebih baik kamu tidur soalnya tadi Excel kirim pesan ke mama kalau malam ini dia nginep di apartemennya".
Mama Dina tak ingin menggoda Abel lagi dan membiarkan Abel mengetahuinya karena ia tau Abel tak akan menurunkan gengsi untuk Excel.
Setelah mengatakan itu mama Dina ke kamarnya karena sudah di tunggu papa Rey, begitu juga dengan Abel yang menghembuskan nafas karena telah menunggu dengan sia-sia dan juga kembali ke kamarnya.
*****
__ADS_1
Pagi sekali Excel telah sampai di kediaman papa Rey karena papinya juga telah kembali ke rumah, jadi ia bebas mau kemana namun saat masuk Excel mendapati papa Rey yang lewat dan meminta tolong kepada bi Asih untuk membangunkan Abel karena ada hal yang harus di bicarakan tentang pekerjaan.
"Pa biar aku saja yang membangunkan Abel". Tawarnya karena memang ia ingin melihat gadis itu, padahal hanya tak bertemu tadi malam tapi rasanya sudah rindu.
"Kalau begitu papa minta tolong ya".
"iya pa"
Excel dengan hati yang gembira melangkah ke kamarnya Abel dan ia sangat senang karena kamar tersebut tak di kunci. Dengan langkah pelan Excel mendekti Abel yang masih tidur pulas diranjangnya dan naik ke tempat tidur di samping Abel.
Tak hentinya Excel memandangi wajah Abel saat gadis itu masih terpejam bahkan terlihat sangat menggemaskan karena biasanya saat bangun Abel akan berubah menjadi setan tapi saat tidur terlihat seperti bidadari.
Mata Abel terlihat beberapa kali mengerjap sebelum benar-benar terbuka dan Excel menyambut Abel dengan senyuman seraya mengucapkan. "Good morning".
Abel kembali terpejam namun ia merasa aneh saat membuka matanya karena memang benar di sampingnya ada Excel dan ia tak sedang bermimpi, dengan cepat Abel mendudukkan diri dan mengambil satu bantal untuk di lemparkan ke arah Excel.
"Dasaaar mesuuuum". Pekiknya dan Excel sontak saja lari tak mau menerima hantaman bantal yang walaupun terbuat dari material empuk tapi tetap sakit kalau terkena.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Udah up kedua, siapa yang katanya mau vote banyak kalau aku up sehari 2x nih udah aku turutin.
Sekarang minta Like dan votenya jangan lupa