
Abel terperangah menatap cincin berlian cantik yang berada di depannya. Seketika degup jantungnya bertambah cepat berasamaan dengan itu seluruh tubuhnya terasa kaku dan sulit percaya jika baru saja ia di lamar oleh Robin.
Abel berganti menatap Robin yang juga melihatnya, mata lelaki itu terlihat penuh harap agar di terima lamarannya. Tangan Abel terangkat dan mendekat ke arah cincin itu namun ia malah menutup kotaknya, membuat Robin bingung dengan jawaban Abel.
"Aku minta maaf Robin tapi aku tidak bisa". Itulah jawaban yang Abel berikan ke Robin, sebuah penolakan yang di dapatkan lelaki itu setelah merencanakan semua ini namun sepertinya Robin tak kehilangan akal.
"Aku tau mungkin ini terlalu cepat bagimu, kau jangan terburu-buru memberikan jawaban". Tangan Robin kembali membuka kotak cincin dan mengambil isinya untuk di sematkan di jari manis Abel sebelah kiri.
"Tolong pakailah dulu, aku beri waktu kepadamu selama seminggu barulah aku akan menagih jawaban, kau bisa pergunakan waktu itu untuk berfikir". Kedua tangan Robin menggenggam tangan abel hingga membuat gadis itu tak bisa melepaskan cincin tersebut.
Ia pasrah saat cincin itu tersemat di jari manisnya dan menerima semua keinginan Robin malam ini jika lelaki itu memintanya memberikan jawaban seminggu kemudian. Dan selama itu juga Abel akan berfikir dengan baik harus bagaimana nanti keputusannya. Memang ia ragu jika Robin adalah lelaki yang tidak baik namun Abel belum menemukan bukti jika Robin berniat tidak baik kepadanya.
Dan menolak permintaan Robin untuk kembali memikirkannya juga ia merasa tak enak hati seakan Robin di tolak sebelum punya kesempatan.
"Baik aku akan memikirkannya kembali". Ujar Abel.
Robin tersenyum seraya mengelus dan mencium punggung tangan Abel dimana ada cincin yang tadi di sematkannya. Perlakuan manis lelaki itu membuat Abel tak tega juga membuat Robin kecewa setelah apa yang di lakukan.
Setelah memgutarakan niatnya Robin mengantarkan Abel untuk pulang kerumah agar keduanya bisa istirahat dan Abel memasuki rumah dengan langkah gontai seakan seluruh badan dan juga hatinya ikut pegal.
Ia merebahkan diri diatas kasur empuk yang selama ini menemani tidurnya namun lampu dalam kamar masih belum di nyalakan. Sengaja memang tidak Abel nyalakan karena ia malas hanya sekedar menekan tombol lampu yang berada di sebelah tempat tidur.
Hanya sinar rembulan yang bersinar terang dan masuk melalui balkon yang menerangi malamnya itu. Abel mengangkat tangan kirinya dan melihati cincin berlian cantik dengan kilauan yang semakin terlihat saat lampu gelap. "Cincin ini sangat bagus tapi kenapa aku tidak bahagia memakainya ?".
__ADS_1
Disaat wanita lain akan sangat bahagia ketika mendapat pinangan Abel malah merasakan sebaliknya, ia bingung harus berekspresi seperti apa karena ia tak ada rasa dengan Robin. Saat menerima ungkapan cinta dari Robin ia berusaha membuka hatinya dan berusaha mengusir Excel yang telah lama menempati hatinya selama ini.
Tapi keraguan kembali menggelayuti saat Abel harus melihat sikap Robin yang tak di sukainya di club malam tempat ia menghadiri perayaan ulang tahun salah satu teman Robin. Bahkan pada malam itu Robin tak tau apa yang telah terjadi kepadanya dan tanpa di duga malah Excel yang datang.
"Nggak tau ah pusing". Abel mengambil salah satu bantal dan ia benamkan untuk menutupi wajahnya karena bingung harus apa. Disatu sisi ia ingin menolak Robin di satu sisi ia tak tega menolaknya begitu saja tapi ia juga ragu dengan sikap Robin.
Mungkin semua ini akan lebih mudah jika lelaki yang datang meminangnya adalah orang yang ia cintai, yang ia impikan dan juga harapkan. Satu nama yang selalu Abel sebut sejak kecil tapi nama itu layaknya hal terlarang yang harus ia lupakan saat ini dan tak boleh ia ingat lagi.
******
Pagi tiba dimana aktifitas bekerja seperti biasa, hari ini Abel jalani lagi layaknya kemarin namun sebelum memulai aktivitasnya, ia menyuruh Lucy untuk membacakan serentetan agenda hari ini. Dan saat selesai mengatakan jadwal Abel Lucy tak sengaja melihat cincin yang berkilauan di jari atasannya tersebut.
"Nona habis beli cincin ya ?". Kalau sedang tidak bekerja kadang Lucy bersikap layaknya teman seperti itu, mungkin efek lama-lama terbiasa dengan atasan.
"Ini belinya dimana ?". Tanya Lucy saat kembali melihat jari Abel.
Abel melihat cincinnya sendiri dan terlintas kembali bagaimana kemarin Robin melamarnya dengan cara yang sangat romantis yang pastinya akan membuat semua wanita meleleh, namun satu yang tidak bisa Abel samakan dengan wanita lain adalah ia tak merasa bahagia.
"Aku tidak membelinya, ini di kasih Robin karena kemarin dia melamarku". Mata Lucy membulat sempurna melihat Abel dengan perasaan terkejutnya, ia mendekat dan menggenggam kedua tangan abel hingga membuat atasannya ikut terlonjak.
"Selamat ya nona tidak menyangka kalau nona akan segera menikah". Ucapnya penuh dengan kebahagiaan terlihat dari matanya yang berbinar tanpa ada kebohongan.
"Kau akan menikah ?".
__ADS_1
"Iya nona Marry akan segera menikah dengan tuan Rob- bin". Lucy membalikkan badan dan melihat Excel berada disana, seketika suaranya menghilang seiring dengan langkah kaki Excel yang mendekat.
"Nona aku permisi". Lucy yang merasakan atmosfer pada ruangan itu berubah dingin hingga membuatnya merasa tak nyaman dan memilih untuk keluar ruangan lau kembali ke mejanya. Ia kurang nyaman dengan keberadaan dua orang yang kadang kurang cocok kalau bertemu itu.
"Robin melamarmu dan kau benar akan menikah ? Kau bercanda kan?". Setelah kepergian Lucy, Excel kembali bertanya untuk memastikan kalau pendengarannya tidak salah, namun Abel merasa enggan untuk menjawab dan memilih untuk bersikap acuh.
"Kenapa kau diam ? Apa tidak bisa menjawab pertanyaanku ?". Berbeda saat Abel berada dengan Excel malam itu, dimana Excel tidak menuntut jawaban. Kali ini lelaki itu benar-benar terlihat ingin tau dan ingin mendengar jawaban dari Abel secara langsung.
"Iya Robin melamarku dan ini buktinya". Abel memperlihatkan cincin yang terpasang di jarinya hingga terpampang jelas di depan lelaki itu. "Sekarang kau sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaanmu kan ? Lalu untuk apa kau masih disini ?".
Excel menaruh bungkusan plastik yang ia bawa sedari tadi namun karena mendengar kalau Abel akan menikah membuatnya lupa tujuan kedatangannya di sana. "Aku membawa makanan untuk kita sarapan bersama".
Abel tak bergerak di tempatnya, ia masih melihati Excel yang mengeluarkan dua kotak berisi makanan yang telah lelaki itu bawa. Entah apa yang berada di fikiran Excel sehingga lelaki itu sengaja datang hanya untuk mengajaknya sarapan.
"Lebih baik kau bawa pergi saja makananmu karena aku sudah sarapan di rumah". Ucapnya ketus tanpa melihat ke arah Excel membuat lelaki itu yang sedang menyiapkan makanan jadi terhenti dan menolah melihat Abel yang enggan melihanya.
"Baiklah kalau kau tidak mau, aku juga sudah tidak selera memakannya". Excel mengambil dua kotak berisi makanan itu lalu ia buang di tempat sampah yang berada di dalam ruangan Abel dan berjalan ke arah pintu, namun sebelum keluar ia berbalik.
"Aku rasa Robin bukan lelaki baik". Setelah mengatakan itu Excel pergi dan menutup pintu.
Abel memandang pintu ruang kerjanya yang kini tertutup rapat setelah kepergian Excel lalu ia berdecih dalam hati.
"Lalu siapa ya baik ? apa kau ?".
__ADS_1