Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Keluarga


__ADS_3

Tubuh yang letih setelah bekerja membuat Abel ingin segera ke kamarnya dan membaringkan tubuh yang semakin terasa berat. Bahkan kakinya sudah sangat pegal dan tak mampu menopang tubuhnya padahal Abel tidaklah gemuk.


Ia merasa letih dan tak ada semangat menjalani hidup semenjak kepergian Excel beberapa hari yang lalu, baginya setiap hari akan selalu sama tanpa lelaki itu. Bangun, bekerja, pulang dan terus dalam lingkaran seperti itu.


Bahkan mama Dina yang melihat Abel merasa sedih, memang Abel terlihat baik-baik saja namun ia mengetahui jika putrinya sedang tak baik. Bahkan beberapa kali mama Dina masuk ke kamar Abel pada saat tengah malam, dan saat itu Abel tengah tidur seraya memeluk fotonya dengan Excel.


Tok Tok Tok


Ketukan pintu yang memang tak tertutup membuat abel langsung mengetahui siapa yang berada di ambang pintu. Mama Dina datang dengan membawa nampan berisi susu putih untuknya.


"Boleh mama masuk ?". Tanyanya dan Abel mengizinkan, walaupun tanpa bertanya juga mama Dina boleh saja langsung masuk.


Susu yang berada di nampan diberikan kepada Abel dam langsung di minum sampai tak tersisa. Abel kembali meletakkan gelas yang sudah kosong isinya di nampan, melihat mama Dina yang memperhatikan sedari tadi dan seperti hendak mengatakan sesuatu, ia pun jadi penasaran.


"Ada apa ma ? Mama mau ngomong sesuatu ?". Ia sangat penasaran karena tak biasanya mama Dina mengantarkan susu untuknya bahkan ia sendiri sudah lama tak minum susu menjelang tidur karena ia sedang menjaga tubuh.


Benar saja saat mama Dina terlihat ragu, itu menandakan kalau ia tak salah mengira. Bahkan mama Dina memandangnya dengan tatapan sendu, ia jadi ingin bertanya perihal apa sampai mama Dina tak juga membuka suara bahkan terlihat ragu.


"Ada apa ma ?". Tanyanya lagi.


"Apa kau baik-baik saja ? Karena mama lihat kau murung akhir-akhir ini, kau dan Excel tidak sedang bertengkar kan ?". Akhirnya mama Dina mengutarakan kekhawatiran yang sebelumnya hanya mampu di pendam.


Mama Dina mengetahui kalau Excel sedang berada di luar negri untuk mengurusi bisnis disana, dan karena terpisah jarak membuat mama Dina cemas akan hubungan Abel yang akan segera di resmikan sebentar lagi. Bahkan mama Dina berulang kali mengira jika abel dan Excel sedang renggang.


"Tidak ma kami baik-baik saja, hanya aku terlalu merindukannya". Abel menunduk karena pembahasan mengenai Excel membuatnya kembali ingat kepada lelaki itu, bahkan dalam sehari ia hanya di kabari satu kali saja, sulit memang tapi ia harus tahan.


"Mama senang kalau kalian tidak sedang bertengkar, kau harus sabar karena sebentar lagi juga kalian akan menikah dan hidup bersamanya". Mama Dina mengelus kepala Abel, menyelurkan rasa tenang dan hendak memberikan sebuah nasihat bagi putrinya yang akan melangkah ke pelaminan.


Baginya ini terlalu cepat, entah karena ia masih menganggap Abel seperti anak kecil atau memang dirinya yang masih belum merelakan Abel akan memiliki dunia sendiri dimana dirinya bukan lagi yang utama.


"Sayang mama mau mengingatkan kepadamu kalau rumah tangga tidak selalu menyenangkan, tapi bukan juga hal yang menakutkan, karena suatu hari pasti kalian akan di hadapkan pada suatu masalah besar, cobalah untuk saling terbuka satu sama lain, juga kebosanan akan menghampiri tapi kau harus bisa menghadapinya dengan kepala dingin dan memikirkan segala konsekuensi dari semua jalan keluar".

__ADS_1


Sepenggal nasihat dari mama Dina berikan kepada Abel, berbeda dengan kedua putranya yang ia yakini bisa menjaga diri dengan baik, Abel adalah seorang perempuan yang perlu di jaga tapi untuk sebuah rumah tangga perlu kedua belah pihak karena rumah tangga akan baik-baik saja jika keduanya saling memahami dan melengkapi.


"Iya ma aku akan melakukan yang terbaik sebagai seorang istri". Mama Dina memeluk Abel yang kini sudah besar, dan Abel bahkan akan mempunyai keluarga sendiri dan punya anak lalu mama Dina akan kembali menjadi seorang nenek.


"Ma apa aku boleh tanya sesuatu ?". Tanya abel saat pelukan keduanya terlepas dan mama Dina menatap penuh tanya kepada putrinya.


"Boleh, memangnya mau tanya apa ?".


"Menurut mama papa itu orangnya gimana ?, soalnya aku lihat keluarga kita baik-baik aja nggak pernah ada masalah". Pertanyaan Abel cukup membuat mama Dina tertegun, tak menyangka kalau pertanyaan yang di lontarkan akan berhubungan dengan papa Rey, tapi berhubung dirinya sudah mengatakan akan menjawab jadi ia akan menjawabnya.


"Papa sebenarnya orang yang keras kepala, harus di turuti keinginannya, nggak suka dibantah dan cuek banget sama orang-orang, kadang juga egois". Jawabnya setelah berfikir bagaimana sifatnya papa Rey selama ini.


"Kok nggak ada bagusnya ma ?". Sejak tadi Abel mendengarkan, tak ada nilai positif yang ia dengar dari sifat papa Rey, dan anehnya mengapa mama Dina bisa bersama dengan papa rey yang dianggap egois.


"Itu sifat aslinya papa sebelum mama sama papa nikah, dan semakin lama sifat papa berubah menjadi lebih sabar, pengertian, dan memahami apa yang di butuhkan orang lain yang disayangi, semua orang bisa berubah jika bersama dengan orang yang mereka sayangi, seperti papa yang sayang kita semua dan mengerti kita".


"Papa sayang banget ya ma sama kita ?". Tanyanya lagi dengan tatapan penuh haru, ia tak tau bagaimana perasaan papa Rey selama ini karena yang ia tau papa adalah sosok pemimpin keluarga yang sangat baik dan tak ada celah, karena bagi perempuan sosok papa seperti papa Rey adalah cinta pertama, layaknya orang bilang.


"Papa sayang banget sama kita dengan caranya sendiri". Ujarnya dan tatapan mama Dina yang kembali sendu jatuh ke manik mata Abel. "Nanti sebesar apapun pertengkaran kalian jangan pernah perlihatkan kepada anak kalian ya, segera selesaikan dan berusahalah yeng terbaik". Pesan mama Dina.


"Iya ma". Abel kembali memeluk mama Dina dengan erat, ia bisa merasakan kasih sayang seorang ibu dan ia bersyukur akan hal itu.


Mempunyai orangtua lengkap dan juga saudara bahkan ia juga dalam kondisi perekonomian yang bisa dikatakan lebih dari cukup. Sungguh terasa sempurna karena orangtuanya juga berusaha untuk memberikan kesempurnaan itu, dan setelah ia menikah maka kesempurnaan tersebut berganti menjadi tanggungjawabnya dengan Excel.


*****


Suasana rumah terasa sepi hingga membentang di segala sudut, bahkan tak terlihat satupun penghuni rumah selain bi Asih yang sudah lama bekerja disana. Heran sendiri mengapa di hari minggu yang notabennya adalah hari libur tapi Abel tak menemukan keluaganya sedari bangun.


"Bi yang lain pada kemana ?". Tanyanya saat berada di dapur dan menuang air minum yang langsung i tenggak untuk menghilangkan dahaga.


"Nyonya sama tuan pergi non katanya ada urusan diluar kota makanya pergi pagi-pagi, kalau den Alvin katanya mau ke taman kota buat joging". Jawab bi Asih yang sedang mengiris sayuran sebagai sarapan.

__ADS_1


Abel berdecak dalam hati mendengar Alvin ke taman kota, padahal juga di rumah sudah ada ruangan Gym lengkap dengan peralatan olahraga. Ia jadi curiga kalau Alvin bukan hanya sekedar olahraga saja di taman kota tapi sekaligus mencari pacar.


"Masak apa bi ?". Abel berniat untuk membantu bi Asih daripada bingung karena tak tau harus melakukan apa, karena dirinya juga kebetulan sedang tak sibuk.


"Sayur sop non". Kembali bi Asih memotong sayur dan Abel menawarkan diri untuk membantu, namun saat dilihat garamnya sudah habis bi Asih hendak membelinya. "Bibi beli garam dulu ya non, garamnya habis".


"Iya". Abel kembali fokus pada sayuran dan juga beberapa bumbu yang ada di depannya, sembari menunggu bi Asih datang dengan membawa garam. Alangkah lebih baik jika menyiapkan semua bahan biar nanti tinggal di masukkan ke dslam panci.


Namun belum sempat membuka pintu rumah, pintu itu terlebih dulu terbuka dengan sosok lelaki yang berdiri disana. Mereka saling diam beberapa saat sebelum membuka suara.


"Den Andre". Sapanya.


"Mau kemana bi ?". Tanyanya kepada bi Asih lalu mengalihkan pandangan ke dalam sudut rumah, dimana tak terlihat orang lain. "Yang lain pada kemana ?".


"Mau beli garam den, nyonya sama tuan lagi ke luar kota kalau den Alvin lagi di taman, terus non lagi di dapur". Jawabnya.


Terdengar suara ledakan yang sangat keras hingga menimbulkan keterkejutan bagi mereka berdua. Dengan segera bi Asih dan Andre berlari untuk melihat apa yang terjadi. Naasnya beberapa barang terbakar dan terdapat beberapa percikan api juga kepulan asap yang membuat mereka menutup hidung.


Semakin mendekat mencari sumber madalah, mereka di kejutkan dengan arah api dan asap yang berasal dari dapur, dan lebih mengejutkan lagi melihat sosok yang mereka kenali tergeletak di sana.


"ABEEL".


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2