
Abel membelalakkan matanya tak percaya, rasanya ia ingin melarikan diri ataupun menyembunyikan seperti di butik. Tapi kala dirasa jarak antara Abel dan keberadaan Excel cukup jauh dan lampu juga yang remang membuatnya tak setakut di butik.
Abel melihat Alvin yang berbicara dengan seseorang, ia merasa jika orang tersebut mengenal Alvin dengan sangat baik hingga mereka berdua tertawa tak menghiraukan Abel. Bahkan Abel tak bisa mengalihkan pandangannya dengan Excel dan Jennie disana.
"Kak kamu apa kabar, aku kangen". Seperti itulah kata hati Abel saat ini, sedikit terobati rasa rindunya kala melihat Excel namun di saat yang sama lukanya kembali terasa sakit saat melihat kemesraan Excel dan Jennie.
"Kenalin ini Adek gue Abel, bel". Abel tak sadar jika Alvin memanggilnya dan tangan teman alvin terulur kerahnya, yang ia pandang hanya Excel.
"Bel ?". Panggil Alvin lagi, "Eh iya kak ?". Abel melihat tangan yang terulur ke arahnya dan segera ia jabat, malu sekali kala ia terlihat sedang tidak fokus. Mereka bertiga duduk di sofa yang di sediakan tempat itu namun tatapan mata Abel tetap tak bisa teralihkan oleh Excel dan Jennie.
Jarak yang jauh apalagi abel datang dengan alvin membuatnya tak takut dan tak kngin pergi dari sana walaupun ada Excel dan Jennie. Dari jauh Abel bisa melihat jika jennie menyuruh Excel untuk minum minuman beralkohol tersebut namun Excel menolak.
Jennie tetap memaksa hingga akhirnya Excel meminum setiap gelas yang Jennie berikan kepadanya, "kak Excel yang malang, Jennie benar-benar keterlaluan". Batinnya.
Ingin sekali Abel kesana dan menghentikan Jennie yang memaksa Excel apalagi Excel akan lemah dengan permintaan Jennie. Terlihat sudah satu botol minuman beralkohol yang Excel habiskan hingga kesadarannya mulai menghilang dan kepalanya pusing. Ingin sekali abel membawa Excel pergi dari sana.
"Bel gue tinggal dulu ya nyapa teman gue disana ntar gue balik lagi". Pesan Alvin dan abel mengangguk, "iya kak". Alvin dan temannya pergi meninggalkan abel yang masih duduk di sofa tersebut.
__ADS_1
Entah apa yang menggerakkan tubuh Abel hingga ia ingin mendekat dan ingin mendengarkan apa yang Excel dan Jennie sedang bicarakan. Abel mendekat dan semakin mendekat namun ia tetap memberi jarak agar tak ketahuan hingga ia bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
"*Ayo sayang kita joget".
"Tidak Jennie kepalaku rasanya mau pecah kau saja yang turun aku benar-benar tidak bisa".
"Kau tidak asik ya sudah aku turun sendiri*".
Dan begitulah yang Abel bisa dengar, ia melihat Jennie menggoyangkan tubuhnya dan berjoget dengan beberapa pria di sekitarnya membuat Abel benar-benar muak. Padahal Excel sendiri sedang tak sadarkan diri tapi malah meninggalkannya begitu saja. Abel sangat iba melihatnya dan mumpung Jennie tak memperdulikan sedangkan Excel juga tak sadarkan diri Abel memapah Excel untuk pergi dari sana."Tenang kak aku akan membawamu pergi dari sini".
"Kita udah sampai ayo kak turun". Abel menepuk dahinya sendiri karena lupa kalau Excel sedang mabuk dan tak bisa membalas ucapannya. Kini abel sampai di apartemen milik Excel, ia masih ingat password yang Excel katakan, rencananya Abel akan mengantar Excel kembali ke tempatnya biarlah Jennie kelimpungan mencari Excel sedangkan abel juga akan pulang, karena tempat itu membuatnya tak nyaman.
Mungkin nanti ia akan mengirim pesan kepada alvin kalau ia pulang duluan, "duh berat banget". Abel berusaha untuk menurunkan Excel secara pelan tepat di kasurnya dan melonggarkan dasinya agar bisa tidur dengan nyaman.
Sejenak Abel melihat Excel yang tengah tidur dengan tenang seakan hanyut dalam mimpi, dan ia sama sekali tak khawatir karena ia tau Excel tak akan sadar setidaknya sampai efek alkoholnya menghilang. "Apa ini yang kau mau kak ? Apa kau senang ? Kau memilih gadis yang sedikit demi sedikit menghancurkan hidupmu".
Abel berbalik hendak meninggalkan Excel sendiri namun tiba-tiba tangannya terasa di pegang, ia menoleh dan mendapati Excel memegang tangannya dalam tidur, "kak lepas". Sekuat tenaga Abel melepaskan tangan Excel dengan tangannya yang masih bebas, padahal Excel sedang mabuk namun tenaganya terasa besar.
__ADS_1
"Aaaaa". Excel menarik abel hingga kini abel berada di pelukannya, abel mendongak melihat Excel yang matanya masih terpejam namun kekuatannya seperti orang yang sadar ,"jangan pergi". Racaunya.
"Jangan pergi". Berkali-kali Excel meracau dan bekali-kali juga Abel melepaskan diri dari excel. Tiba-tiba Excel sedikit membuka matanya dan merubah posisi jadi diatas abel, "kak apa yang coba kau lakukan lepas lepaskan aku".
Abel semakin ketakutan kala Excel memegang kedua tangan Abel keatas dan tangannya yang satu ia gunakan untuk melepaskan pakaian, "kak sadar kak sadar jangan kayak gini". Entah tuli atau memang Excel belum sadar hingga tak menghiraukan Abel dan malah mengkungkung Abel di bawahnya.
Abel merasa ada yang mengganjal di bawah sana seakan menerobos masuk, ia sangat ketakutan dan gemetar, ia takut apa yang ada di fikirannya terjadi apalagi kini Excel mengarahkan tangannya ke bawah.
"Kak aku mohon sadar kak sebelum apa yang kamu lakukan membuatmu menyesal aku mohon kak sadar aaaaargg". Air mata Abel mengalir ia merasakan sakit yang luar biasa sangat kala apa yang selama ini ia jaga hilang sudah di tangan tunangan orang lain. Miris sekali bahkan melakukan itu dengan pria milik wanita lain. Tak bisa melawan lagi karena tenaganya habis bersamaan dengan tubuh excel yang semakin memasuki tubuhnya lebih dalam.
"Sa-kit". Tak mampu berkata apapun bahkan kini yang tersisa hanya rasa sakit dan perih sebelum kesadarannya menghilang dan tertidur karena Excel melakukannya dengan begitu kasar.
********
Matahari sudah berada diatas dengan sinar cahayanya yang menembus sedikit gorden apartemen tersebut. Excel mengerjapkan mata dan merasa sakit kepala karena efek alkohol yang tak pernah di sentuhnya tapi ia malah minum banyak.
Excel melihat ada orang lain selain dia di sebelah tempat tidurnya dan berusaha melihat kala matanya masih agak kabur. Ia mengucek matanya agar penglihatannya menjadi jelas dan semakin jelas bahwa yang ada di sampingnya adalah, " Abel ?".
__ADS_1