Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Kesempatan


__ADS_3

Abel masih terdiam di tempatnya berdiri. Terkejut dengan Excel yang tiba-tiba menciumnya, hingga tanpa bisa ia melawan saking terkejutnya hingga baru beberapa detik kemudian ia sadar dan.


Plak


Satu tamparan mendarat di pipi Excel dengan sempurna dan tanpa ada hambatan. Menimbulkan rasa kebas dan nyeri yang berdenyut juga bekas cantik cap lima jari yang berwarna kemerahan menempel di wajah kirinya.


"Kurang ajar beraninya kau menciumku". Abel mengusap bibirnya dengan punggung tangan cukup kasar, menyingkirkan bekas ciuman Excel, ia merasa kesal setengah mati dengan lelaki di depannya.


"Ya kau benar aku memang pantas mendapatkannya". Excel mengangguk pelan namun kini senyuman terbit di wajahnya.


"Aku sudah membatalkan pernikahanku dengan Jennie, kau benar memang Jennie bukan wanita yang baik tapi alasan utamanya karena aku mencintaimu". Ujarnya seolah membawa berita baik kepada Abel.


Tak dapat Abel pungkiri jika sebenarnya ia sangat terkejut dengan berita batalnya pernikahan Excel, namun masih bisa ia sembunyikan dalam wajah datarnya seolah itu bukanlah hal penting untuk didengar. "Terus apa hubungannya denganku ?, terserah kau mau batal menikah atau batal tunangan, aku tidak peduli".


Masih dalam lingkup taman belakang, Alvin yang penasaran dengan kakak angkat juga adiknya menguping di balik tembok, melihat situasi dan juga kondisi yang sangat menarik baginya. Tak terkecuali mama Dina yang juga ikut penasaran dan mengintip di atas Alvin yang sedang berjongkok.


"Gimana vin ?". Tanya sang mama yang malah ikut mengintip dan bukannya memisahkan adu mulut kedua anaknya. Tapi nanti jika situasinya sudah gawat barulah mama Dina turun tangan.


"Si Excel nyosor ma".


"Terus".


"Ya di tambok pipinya".


"Sakit dong".


"Jelaslah".


Mareka kembali mengamati keadaan dimana Abel selalu menepis tangan Excel yang mencoba untuk menyentuhnya. Dan itu seperti menonton sinetron secara LIVE. Bedanya mereka nonton dengan cara bersembunyi layaknya anak kecil yang melihat perdebatan para orang dewasa.


"Aku mohon bel kasih aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita". Excel memohon dengan nada rendah, ia benar-benar ingin mendapatkan maaf dan bisa mendapatkan cinta Abel.


"Nggak, aku nggak mau karena kita nggak ada hubungan apapun baik dimasa sekarang maupun masa depan, bagiku cinta sama kamu adalah sebuah kesalahan besar yang pernah aku lakukan jadi aku nggak mau mengulangi kesalahan yang sama". Excel menggeleng, ia merasakan nyeri di ulu hatinya mendengar jika perasaan yang Abel miliki kepadanya adalah sebuah kesalahan.

__ADS_1


"Tidak itu bukan kesalahan, tolong maafkan aku, aku bersumpah akan menepati janjiku untuk menikahimu dan bertanggungjawab atas semua kesalahan yang aku lakukan bahkan aku sampai membatalkan pernikahanku untukmu".


"Aku tidak pernah memintamu membatalkan pernikahan, itu kau yang mau sendiri jadi jangan jadikan aku sebagai alasan". Abel berbalik hendak melangkah pergi meninggalkannya Excel tapi lelaki itu tak membiarkannya pergi begitu saja.


Excel memeluk Abel dari belakang begitu erat seolah jika ia melepaskan Abel hari ini maka tak akan ada hari lain baginya.


"Lepas nggak !!".


"Aku nggak mau lepas sampai kamu memberikanku kesempatan". Suara Excel yang begitu jelas terdengar di telinga Abel menbuat gadis itu kesal namun kemudian terdengar suara lagi tapi kali ini lebih lembut dan lebih seperti terdengar curhatan.


"Aku baru sadar jika aku sangat mencintaimu, maaf atas keterlamabatanku dan aku mohon berikan aku kesempatan untuk membuktikan kalau kali ini janji kita aku penuhi". Abel melepaskan kedua tangan Excel yang memeluknya dengan sekuat tenaga hingga terlepas.


Ia menunjuk Excel dengan nafas yang naik turun akibat geram dan berusaha mengendalikan emosi bahkan deru nafasnyapun tidak teratur. "Aku tidak mau kau bersumpah apapun, satu janji saja kau ingkari dan aku tidak mau dengar janji yang lain, lebih baik kau pergi dari rumahku".


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mendengar sayup-sayup suara keributan, dan untuk mendengar lebih jelas lelaki itu mendekat.


"Ada apa ini ?". Papa Rey yang baru datang dari kantor karena harus lembur melihat ke arah Abel juga Excel dan menghampiri keduanya untuk tau duduk permasalahan yang sedang terjadi.


"Kau sudah mau pulang ?". Tanya papa Rey ke Excel, namun Excel melihat ke arah Abel yang dalam suasana hati kacau, ia berfikir untuk bicara dengan Abel lain kali karena sekarang ia akan menuruti gadis itu untuk pulang tapi tidak untuk menyerah.


"Iya pa aku akan pulang". Excel melangkah pergi setelah pamit ke papa Rey, namun baru beberapa langkah ia kemudian berbalik melihat Abel yang masih melayangkan tatapan kesal. Lalu kembali melangkah memasuki mobil dan pulang.


Abel menghela nafas lega, tidak menyangka kalau malam ini ia akan berdebat hebat dengan Excel bahkan hal yang lebih mengejutkan lagi adalah saat Excel memberitahukan kalau pernikahan antara Excel dan Jennie telah batal.


Haruskah Abel senang atau biasa saja menyikapi ini, ia sendiri bingung bahkan memikirkannya membuat kepalanya terasa migrain. Memilih tak memikirkan ini, Abel dan papa Rey masuk ke dalam rumah sebelum udara malam masuk ke tubuh dan membuat mereka masuk angin.


Mama Dina dan Alvin yang sedari tadi bersembunyi untuk melihat Abel kini dengan cepat masuk, tanpa menimbulkan suara dan tanpa menimbulkan kecurigaan. Mereka bersikap layaknya tak tau apapun.


******


"Kau sudah putus dengan Robin ?". Tanya papa Rey memastikan kembali apa yang ia dengar dari putrinya tersebut dan diangguki Abel seraya menunduk tak berani melihat wajah kecewa papanya yang telah mencarikannya pasangan.


"Iya pa ternyata perusahaannya akan bangkrut dan dia mendekatiku untuk memulihkan perusahaannya kembali, bahkan Robin sebenarnya sudah punya pacar". Jelasnya lagi dan seketika papa Rey merasa tak enak hati.

__ADS_1


Bagaimanapun yang mengenalkan Robin dengan Abel adalah ia. Dan tanpa ia ketahui ternyata malah ia sendiri yang mendorong putrinya dalam suatu kesedihan. Padahal ia ingin yang terbaik bagi Abel tapi nyatanya ia malah tak bisa membuat putrinya bahagia bahkan sebaliknya.


"Maafkan papa karena tak bisa mencarikanmu pasangan yang baik". Abel dengan cepat menggelengkan kepala dan memaksa bibirnya agar tersenyum. "Nggak pa jangan khawatir aku nggak sesedih itu kok, ntar papa tinggal mencarikan aku pasangan yang lain aja".


"Eh". Seketika kedua alis papa Rey terangkat, ia tak habis fikir karena mengira jika Abel akan trauma atau sedih yang berkepanjangan tapi sepertinya apa yang di fikirkannya salah besar dan Abel nampak biasa bahkan seolah tak terjadi apapun.


"Tapi Mer__".


"Apa kabar semuanya".


Abel dan papa Rey menoleh ke sumber suara dimana ada seseorang yang memotong ucapan papa Rey. Bahkan Alvin yang lewat juga mama Dina yang hendak bergabung dengan anak dan suaminya juga menoleh ke sumber suara yang tak pelan itu.


"Excel ada apa ? Kenapa kau membawa koper besar ?". Mama Dina bukannya terfokus pada Excel tapi dengan koper besar yang berada tepat di sebelah Excel.


"Di dalam koper ini ada semua barangku, karena aku akan pindah kemari".


.


.


.


.


.


.


.


Makasih buat para reader yang udah vote banyak, berkat kalian aku up hari ini.


Dan untuk yang belum vote aku tunggu vote kalian sekecil apapun sangat berharga bagiku. ♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2