
Abel mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut restoran yang ada disana guna mengusir kebosanan akibat terlalu lama menunggu client. Bahkan ia harus menunggu sendiri untuk sementara karena Lucy belum juga kembali dari toilet.
Berkali-kali Abel melihat jam yang melingkar di tangan kirinya untuk masuk mastikan bahwa ia tak salah jam dan client tersebut semakin lama datang. Cukup kesal sebenarnya dengan orang yang belum pernah ia temui saja sudah membuatnya harus membuang waktu seperti ini, tapi demi pekerjaan dan profesionalisme ia harus sabar.
Kalau tidak mungkin ia sudah meninggalkan restoran itu dan mengerjakan pekerjaannya yang semakin lama semakin menggunung. Lebih mengesalkan lagi saat Lucy belum juga kembali dari toilet, entah apa yang dilakukan sekertarisnya tersebut.
"Maaf nona aku terlalu lama". Lucy kembali dari toilet dan menoleh ke arah sekitar mencari seorang yang hendak ia dan juga Abel temui namun sepertinya orang tersebut belum datang.
"Apa mereka masih belum datang ?". Tanyanya kepada sang atasan, dan saat Abel menggelengkan kepala membuat Lucy tau jika dari tadi client tersebut belum juga sampai dan ia harus menunggu lebih lama lagi.
Tak lama kemudian derap langkah kaki seseorang yang memasuki restoran dan berjalan ke arah mereka membuat keduanya terkesiap. Lantaran yang di tunggu sejak tadi sudah tiba namun bukannya senang menyambut sang client, raut muka Abel berubah seketika melihat wajah yang ia kenali.
"Steve ?".
"Abel ?".
Seketika rasa kecanggungan merubah atmosfer yang ada hingga sekertaris mereka kebingungan juga saling tak tau harus bagaimana melihat kedua bosnya saling kenal tapi tak terlalu dekat. Membuat mereka penasaran dengan apa yang pernah terjadi diantara kedua atasan.
"Lama tidak bertemu, kau apa kabar ?". Tanya Steve memecah keheningan yang sedari tadi membentang seraya mengulurkan tangan dan di jabat oleh Abel walau dengan perasaan canggung tentunya.
"Aku....baik". Setelah melepaskan jabatan tangan, Abel berdehem untuk menetralkan suaranya dan juga mengusir rasa kecanggungan agar kembali bisa bersikap profesional.
Untunglah saat membahas pekerjaan Steve tak membicarakan tentang masa lalu, bukannya ia takut hanya saja ia sangat malu padahal dulu yang menolak adalah Abel dan kini malah ia yang seakan di tolak.
Abel merutuki nasibnya sendiri, dari sekian banyak manusia dan dari sekian clientnya harus di temui mengapa harus Steve yang pernah menyatakan cinta dan ia tolak cintanya. Abel hanya bisa memilih untuk tak tau apapun daripada harus mengingat masa lalu dan membuat masa sekarang menjadi kacau.
"Jadi bagaimana menurutmu ?". Tanya Abel tentang ide yang ia usulkan kepada perusahaan yang di wakili oleh Steve sebagai penanggung jawabnya.
"Aku setuju baiklah kalau begitu kita langsung sepakat saja". Steve kembali mengulurkan tangan dan di jabat oleh Abel sebagai tanda kesepakatan yang telah terjalin, dan setelah itu mereka kembali ke perusahaan masing-masing karena harus menyelesaikan pekerjaan yang lain.
Untunglah semuanya berjalan dengan lancar dan tanpa ada hambatan, walau di awal tadi Abel sangat canggung dan juga berharap semua cepat selesai agar ia bisa pergi dan menjauh dari Steve. Abel sangat bersyukur semuanya bisa ia tangani dengan baik dan tanpa ada masalah, mungkin akan ada kecanggungan tapi untuk selanjutnya saat bertemu Steve dengan sekuat tenaga ia akan bersikap profesional.
******
"Kau sangat terlambat". Abel melipat tangannya di dada saat melihat seorang gadis yang membuat janji tapi malah ia sendiri yang terlambat datang, tentu itu membuat Abel sebal harus menunggu selama dua puluh menit di dalam mall sendirian.
__ADS_1
"Ya maaf habis macet". Ujarnya memberi alasan namun siapa yang akan percaya dengan alasan klasik seperti itu, apalagi diucapkan oleh Felly yang jelas-jelas suka terlambat akibat kebiasaan terlalu lama mandi, Abel sudah hafal hobi temannya satu itu.
"Yaudah yuk cepetan". Abel beranjak dari duduknya dan melangkah sejajar dengan Felly mengelilingi seluruh mall guna mencari sesuatu yang di butuhkan untuk foto prewedding yang akan Felly laksanakan beberapa hari lagi.
Kadang jika diingat itu membuat Abel tak menyangka kalau teman seperjuangannya di kampus akan melangkah ke pelaminan lebih daru daripada dirinya, bahkan ia masih teringat saat bolos salah satu mata kuliah dengan dosen galak atau saling menitip presensi jika ada yang tak masuk, juga saling menggoda jika ada lelaki yang menaksir salah satu dari mereka.
Nyatanya kisah masa kuliah memberikan banyak sekali kenangan yang berkesan dalam ingatan Abel dan tentu lebih banyak kenangan baik daripada buruk. Dan kini masa kuliah hanya akan bisa di kenang karena mereka telah lulus dan menapaki kehidupan baru di dunia kerja bahkan sebentar lagi Felly akan menjadi seorang istri.
Abel terkesiap saat lengannya di guncang Felly yang hendak memberitahu salah satu gaun disana.
"Kalau yang itu gimana ?". Felly menunjuk salah satu gaun berwarna putih yang terpajang dan di pakai oleh manekin, entah manekinya yang cantik atau memang gaunnya yang bagus dan menarik perhatian Felly membuat Abel juga setuju dengan pilihan temannya tersebut.
"Iya bagus, eh tapi apa tema fotonya ?". Abel mencoba untuk memastikan kalau tema yang diambil sesuai dengan gaun yang Felly pilih agar tak terlihat aneh.
"Temanya lautan". Ujarnya dan Abel mengangguk.
Ia berfikir menggunakan gaun putih dengan background lautan memang cocok walau sudah terlalu pasaran tapi jika memang Felly suka mengapa tidak, lagipula ini foto prewedding milik Felly bukan miliknya.
"Yaudah dicobain terus langsung beli aja".
Sembari menunggu Felly yang masih sibuk mencoba baju, Abel berkeliling ke sekitar dan matanya tak sengaja melihat deretan baju untuk binatang peliharaan, entah mengapa ia jadi teringat kucing dirumah yang namanya enggan ia sebutkan karena sama dengannya.
Dan entah ada angin apa tangan Abel tergerak membeli beberapa baju yang ia sukai untuk si kucing peliharaan Excel dan bersumpah akan mendandani si kucing saat sudah pulang ke rumah. Tentu saja nantinya si kucing akan berubah menjadi kelinci percobaan dari beberapa baju yang ia beli.
"Udah nih". Felly memperlihatkan paper bag yang berada di tangannya kepada Abel namun matanya gagal fokus ke tangan Abel yang juga menenteng paper bag, padahal ia yakini tadi Abel belum membeli apapun saat ia tinggal mencoba baju.
"Beli apaan tuh ?". Tanya Felly seketika membuat Abel melihat tangannya sendiri yang membawa paper bag berisi pakaian kucing. "Nggak cuma pakaian kucing aja". Jawabnya.
"Sejak kapan pelihara kucing ?". Tanya Felly yang semakin membuat Abel sebal lantaran ia merasa agak menyesal membeli pakaian kucing bersama Felly, pastinya akan mendapatkan introgasi seperti ini.
"Bukan kucing aku, ayok kalau udah aku mau pulang". Abel berjalan mendahului Felly karena menghindar dari pertanyaan berkelanjutan yang hendak di lontarkan kepadanya.
"Eh jangan pulang dulu". Felly mengejar Abel dan saat sudah dekat mereka mensejajarkan langkah.
*******
__ADS_1
Abel merebahkan tubuhnya di ranjang kamar saat sudah selesai menemani Felly berbelanja kebutuhan untuk foto prewedding yang ternyata mampu memakan waktu sampai tiga jam lamanya, bahkan ia merasa kakinya hampir patah.
Meong Meong
Si kucing yang selama ini menjadi salah satu penghuni rumah kini masuk ke dalam kamar Abel, mengingatkan gadis itu akan belanjaanya yang memang ia beli untuk si kucing. Kini waktunya si kucing mecoba pakaian binatang yang ia beli di mall tadi.
"Sini kucing nurut ya". Abel mengangkat tubuh si kucing dan mengambil salah satu topi untuk di kenakan di kepala mungil berbulu coklat muda tersebut.
"Ha ha ha kamu lucu banget". Baru satu saja yang Abel pakaikan namun ia tertawa hingga perutnya terasa sakit juga air matanya yang keluar di sudut matanya saking lucunya si kucing. Setelah selesai tertawa Abel melepas dan kembali memakaikan yang lain layaknya boneka kucing di etalase toko bedanya yang ini benaran hidup.
Meong Meong Meong
Sepertinya sang kucing protes di jadikan bahan percobaan kejahilan tangan Abel, terlihat dari kepalanya yang di gerakkan dan juga kakinya yang berusaha melepas apa yang ada di kepalanya.
"Abel ? Abel ?". Suara panggilan yang berasal dari Excel membuat abel terkesiap dan panik bahkan ia langsung mengusir keluar si kucing. dari kamarnya tanpa melepas apa yang telah ia pakaikan. Dan langsung menutupi dirinya dengan selimut layaknya pencuri yang bersembunyi dan ketahuan oleh yang punya barang.
"Ini kamu pakai apa Abel ?". Excel terkejut akan sesuatu yang melekat di kepala kucingnya.
Dalam kamar Abel masih menutupi diri dengan selimut karena takut, ia memasang pendengarannya dengan baik mendengar pertanyaan retoris yang Excel lontarkan. Dan sekuat tenaga Abel menahan tawanya saat mengingat betapa lucunya si kucing tadi sampai Excel tak terdengar lagi suaranya barulah ia melepas tawa dan menyingkap selimut.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1