
"Mungkin ini akan sangat berat membatalkan pernikahan secara sepihak tapi mama akan merestui apapun yang akan kau pilih dan lakukan sekalipun kita harus membatalkan pernikahan ini".
"Terima kasih ma". Seketika sebuah senyuman terukir di wajah Excel saat mami Rita mengizinkannya membatalkan pernikahan dengan Jennie. Ia merasa sangat senang dan memeluk maminya. "Sudah lama sekali kau tidak memeluk mami Cel sepertinya terakhir saat kau masih kecil".
Ada rasa kecewa sebanarnya saat Excel memutuskan untuk membatalkan pernikahan apalagi dengan jarak pernikahan yang tinggal sebentar lagi. Namun melihat raut wajah bahagia Excel membuat mami Rita yakin jika keputusannya untuk mendukung Excel sudah benar meskipun tak seratus persen mami Rita mendukung.
Mengingat ini semua bukanlah masalah yang bisa di selesaikan dalam waktu singkat dan bagaimana nanti menghadapi pihak Jennie, juga seluruh keluarga Jennie yang pasti akan melontarkan kekecewaan.
Mereka berdua saling melepasakan pelukan dan Excel beranjak dari duduknya, membuat sang mami heran. "Kau mau kemana ?".
"Aku akan menemui Jennie, aku akan mengatakan kepadanya kalau pernikahan ini tidak bisa aku lanjutkan". Tiba-tiba Excel berubah menjadi murung, bukan karena ia sedih hanya saja membayangkan bagaimana kecewanya Jennie padanya memunculkan rasa kasihan.
"Kau yakin akan memberitahunya sendiri ?". Tanya mami Rita memastikan karena mengatakan ke Jennie sendiri tentunya tak mudah apalagi Jennie pernah ada di hati Excel.
"Iya mi aku akan memberitahunya sendiri, mami jangan cemas aku pergi dulu ya mi". Excel melangkahkan kakinya dengan sedikit tergesa, ia tak menghiraukan panggilan sang papi yang bertanya hendak kemana.
"Anak itu mau kemana ?". Tanya papi Jimmy kepada sang istri saat keluar dari kamarnya Excel. Dan yang mengherankan lagi mengapa Excel seperti terburu-buru untuk pergi bahkan tak menghiraukannya.
"Excel mau ketempat Jennie dan ingin mengatakan kalau pernikahan di batalkan".
"APAA ??!!". Teriak papi Jimmy dengan suara yang keras hingga mami Rita seketika menutup telinganya.
Sang papi memang tau jika Excel merasakan kebimbangan namun membatalkan pernikahan bukanlah perkara semudah membalikkan telapak tangan. Ia sungguh tak mengerti padahal Excel selama ini penuh dengan perhitungan dan selalu memikirkan resiko kedepannya.
"Dan kau mengizinkannya untuk membatalkan pernikahan ?". Tanyanya dan diangguki oleh sang istri. "Kenapa kau izinkan ?". Tanyanya dengan nada sedikit tinggi.
"Aku tidak tega menolaknya, ini permintaan pertama Excel padaku, sudah nanti saja kita bicarakan, sekarang memikirkan ini saja membuatku sakit kepala".
Sebenarnya dengan siapapun Excel bersama tidak ada yang melarang hanya saja Excel sudah terikat pertunangan dengan Jennie dan membatalkan pernikahan yang tinggal sebentar lagi bukanlah keputusan yang bijak bagi seorang laki-laki.
Tapi apa daya melihat Excel memasang tampang murung dan terlihat frustasi mami Rita merasa sedih apalagi Excel selalu jadi anak baik dan tak pernah membantah bahkan Excel adalah anak semata wayang karena mami Rita tak bisa memberikan adik akibat suatu penyakit yang membuat rahimnya harus diangkat.
__ADS_1
"Sekarang bagaimana ini ?". Tanya papi Jimmy retoris seraya memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berdenyut.
"Entahlah kau tanyakan saja nanti pada Excel, aku sendiri pusing". Tidak mau menjawab pertanyaan sang suami lagi karena kepalanya tiba-tiba terasa pening, mami Rita memilih untuk masuk kembali ke kamarnya Excel guna istirahat sebelum ia kembali memikirkan bagaimana nanti kedepannya.
******
Excel sudah sampai di apartemen tempat tinggal Jennie selama ini, rasanya ia gugup ingin mengatakan bahwa pernikahan ini harus di batalkan dan belum sanggup melihat kekecewaan yang nantinya akan Jennie dapatkan. Tapi semakin diulur nantinya akan semakin tidak baik jadi Excel dengan kemantapan hati memilih untuk menyelesaikan secepatnya.
Satu helaan nafas panjang Excel hembuskan sebelum menekan password apartemen Jennie yang memang sudah ia ketahui dengan baik. Dan tanpa memencet bel terlebih dulu lelaki itu langsung masuk begitu saja ke apartemen Jennie.
Tak ada Jennie saat ia masuk ke dalam dan ia berniat mencari Jennie di kamar, kalau nanti di kamar juga tak ada mungkin ia akan mencari Jennie di tempat biasa Jennie sering berada. Namun matanya membulat saat melihat baju berserakan di lantai menuju ke kamar, anehnya tak hanya baju perempuan tapi juga baju lelaki.
Terdengar suara yang berasal dari kamar Jennie membuat Excel penasaran dan kian mendekat namun saat dirasa Jennie tak sendirian di dalam kamar. Excel penasaran akan keberadaan seseorang yang ia yakini dari suaranya adalah lelaki, jadi ia memilih untuk menguping apa yang sedang mereka bicarakan karena mendengar namanya tadi disebut.
"*Kau akan menikah dan meninggalkanku, kau jahat sekali"
"Jangan memasang tampang sedih aku kan menikah dengan Excel hanya untuk uangnya saja nanti kalau aku sudah dapat banyak uang dan bercerai kita bisa bersama lagi"
"Pasti sayang*"
Merasa muak dengan pembicaraan Jennie dan lelaki yang entah siapa belum ia ketahui membuatnya geram hingga mengepalkan tangan dengan erat. Bukan karena perselingkuhan tapi Excel sakit hati dengan rencana busuk Jennie yang baru ia ketahui. Dan sialnya ia pernah mencintai wanita itu hingga termakan rayuannya.
"Oh jadi begitu". Ujarnya seraya mendorong gagang pintu, dan betapa terkejutnya Jennie saat melihat kehadiran Excel yang memergokinya habis bercumbu bahkan sekarang ia dan rekannya masih belum berpakaian.
"Sayang aku bisa jelasin kamu dengar dulu ini nggak seperti yang kamu kira". Jennie menarik selimut dan ia gunakan sebagai penutup tubuhnya yang tanpa sehelai benangpun lalu berjalan mendekat ke arah Excel.
"Mau jelasin ? Yaudah jelasin sekarang". Tantangannya namun rasa ketakutan yang menyerang Jennie membuat wanita itu berubah menjadi gagap dan berusaha merangkai kata yang pas untuk dijadikan alasan yang rasional namun sayangnya otak Jennie mendadak blank dan tidak bisa berfikir.
"Gi-gini se-sebenarnya".
"Sebenarnya apa hah kau tidak bis menjelaskan kalau begitu biar aku yang menjelaskan, kau sedang berselingkuh dan mencoba untuk mengicar hartaku lalu setelah dapat kau menceraikanku lalu lari bersamanya". Excel menunjuk lelaki yang ia baru sadari ternyata adalah managernya Jennie sendiri, begitu bodoh ia baru tau jika ia sudah lama di bohongi.
__ADS_1
"Excel kau janga__".
"Kau tau apa tujuanku kesini ? Aku mau membatalkan pernikahan kita tapi setelah melihat ini sepertinya aku tak perlu merasa bersalah lagi dan keputusanku memang sudah sangat tepat". Excel berbalik dan melangkah pergi tak menghiraukan Jennie yang tak terima akan keputusan sepihak Excel dan mengejar lelaki itu dengan susah payah akibat selimut yang ia pergunakan di tubuh.
"Excel jangan pergiii aku mohooon". Jennie terjatuh di lantai akibat menginjak selimut yang ia gunakan, entah wanita itu sedang berakting sedih atau memang betulan yang pasti sekarang ada air yang menggenangi dan menetes dari matanya.
"Excel jangan pergi aku minta maaf"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Gimana udah puas kan kalian.
Sekarang giliran aku minta like dan votenya.
Mungkin satu atau dua bab lagi bakal end
__ADS_1