Love You Brother

Love You Brother
Tes Kehamilan


__ADS_3

Abel menaikan kedua alisnya, ia sangat terkejut bahkan ingin melongo rasanya mendengar tuduhan Excel yang sangat tidak jelas. Jadi lelaki itu kesini mengikuti sampai ke toilet perempuan hanya untuk menanyakan apakah ia hamil atau tidak ?, Sangat lucu.


"Jangan mengada-ada aku tidak hamil". Jawabnya dengan jelas dan lantang namun sepertinya itu tak membuat Excel percaya begitu saja.


"Bagimana bisa tidak hamil, kita sudah melakukannya lebih dari sekali bahkan sekarang kau muntah-muntah dan aku juga tidak pakai pengaman waktu itu". Excel tak percaya begitu saja sebelum adanya bukti yang valid, walaupun Abel sudah mengatakan kalau tidak hamil tapi ia mempunyai firasat kalau Abel pasti hamil.


"Memangnya kalau muntah pertanda orang hamil saja, penyakit asam lambung atau tidak enak badan juga bisa membuat muntah, sudahlah meladenimu hanya membuang waktuku". Abel berjalan melewati Excel tapi tangan Excel langsung menarik Abel hingga gadis itu berjalan mengikutinya.


"Kau mau membawaku kemana ?". Tanyanya dengan sebal karena Excel menariknya cukup kencang hingga ia jalan agak kesulitan.


"Ke dokter kandungan memeriksa apakah kau benar hamil atau tidak". Excel membawa Abel dan menyuruh Abel untuk segera masuk ke mobilnya, meninggalkan meeting dan menuju ke rumah sakit terdekat setelah sebelumnya Excel menelfon Bagas untuk menunda meeting.


"Lucy masih menungguku disana". Abel panik saat mobil melaju dan semakin jauh meninggalkan tempat meeting, ia bahkan meninggalkan Lucy disana tanpa pemberitahuan.


"Aku sudah menyuruh Bagas untuk menunda meeting dan mengantarkan sekertarismu, jangan kau cemaskan lagi". Ujarnya seraya fokus menyetir dan membelah jalanan yang sepi karena sedang jam kerja hingga tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah sakit terdekat.


Excel turun dari mobil dengan agak tergesa namun berbeda dengan Abel yang enggan untuk turun, ia benar-benar marah dengan lelaki itu hingga sama sekali tak bergerak dari tempatnya duduk. Terpaksa Excel membukakan pintu dan menarik tangan Abel agar gadis itu mau keluar.


"Aku bersumpah setelah ini semua selesai aku akan benar-benar membencimu". Ujarnya saat Excel menarik tangannya masuk ke rumah sakit tapi tak membuat Abel kesakitan dengan tarikannya.


"Terserah saja, tapi aku yakin kau benar-benar hamil". Ujarnya yakin.


Abel di suruh Excel melakukan serangkaian tes lengkap pengujian kehamilan agar ia benar-benar yakin sebenarnya Abel hamil atau tidak. Pada awalnya Abel tak mau dan menolak namun dengan segala usaha Excel entah itu memaksa atau membujuk akhirnya Abel mau melakukan tes tersebut.


Kini mereka duduk di ruang tunggu untuk menunggu hasilnya keluar. Walau mereka duduk bersebelahan namun Abel enggan dekat-dekat dengan Excel dan menjaga jarak. Berbeda dengan Excel yang seperti penasaran dan terus melihati perut Abel yang rata. Ia memperhatikan apakah benar ada bayi kecil yang tumbuh di perutnya Abel.


"Jangan melihatku, lihat saja yang lain". Ucapnya ketus karena merasa tak suka dengan Excel yang ketahuan olehnya sedang melihati perutnya. Abel melipat tangannya di dada tak sabar menunggu hasil keluar dan ia ingin ini segera cepat selesai.


"Hasilnya sudah keluar". Seorang perawat menghampiri keduanya dan menyerahkan sebuah amplop panjang berwarna putih yang isinya adalah hasil dari serangkaian tes yang Abel lakukan tadi. Langsung saja amplop tersebut Excel ambil dengan tidak sabarnya dan mengambil kertas di dalamnya.

__ADS_1


Ia membaca dengan teliti hasil tes tersebut dan matanya membulat seketika, kemudian ia beralih menatap Abel dengan tatapan wajah yang tak bisa diartikan. Karena penasaran Abel merampas kertas tersebut dan membacanya, gadis itu menyunggingkan senyum.


"Sudah kubilangkan padamu, aku tidak hamil hanya tidak enak badan saja". Abel mengembalikan kertas tersebut dengan cara di tempelkan kasar ke dada Excel dan melangkah pergi. "Kau membuang waktuku".


Abel meninggalkan Excel yang masih berdiri termenung seraya menatapi hasil tes yang membuktikan jika Abel tak hamil. Saat Abel masuk di lift yang kebetulan kosong itu, ia mengambil sesuatu dari tasnya.


"Enak saja bilang aku hamil, kalaupun aku hamil juga kau tak akan bertanggung jawab". Abel melihat benda di tangannya yang tak lain adalah pil pencegah kehamilan, semenjak Excel mencampakannya saat pertama kali mereka tidur Abel bertekat untuk tak hamil jadi ia mengkonsumsi obat tersebut agak ia tak hamil di luar nikah.


******


Excel menghela nafas berat seraya melihat hasil tes Abel yang hasilnya negatif, entah mengapa ia merasa kecewa karena sebenarnya Abel tak hamil dan ia malah menginginkan sebaliknya. Ia sendiri masih tak tau dan belum yakin.


Sejujurnya ada perasaan lain yang timbul dari dalam diri Excel dan ia akui itu bukanlah rasa sayang kakak kepada adiknya seperti biasa tapi rasa sayang yang lain tapi ia masih merasa ragu, apakah benar perasaan yang ia miliki tersebut benar atau salah.


"Sebenarnya aku kenapa ? Benarkah aku mencintaimu ?". Excel mendongak, menatap langit-langit yang menjadi saksi bisu akan kegusaran hatinya yang sedang tak baik akibat perasaan yang kian lama semakin menjadi itu.


Terdengar suara pintu di ketuk dan Excel mempersilahkan untuk masuk. Bagas membawa map di tangannya dan ia serahkan ke Excel yang langsung di terima oleh lelaki itu. "Laporan yang anda minta tuan".


"Tunggu ada yang ingin kutanyakan kepadamu". Bagas menghentikan langkahnya dan menatap sang atasan yang terlihat ragu mengatakan pertanyaan. "Ada apa tuan ?".


"Menurutmu apa alasan seseorang selalu terbayang oleh orang lain padahal ia tak sedang ingin membangkan orang tersebut ?". Excel menatap Bagas dengan penuh harap, tak sabar mendengar jawaban Bagas yang mungkin bisa membuat pertanyaan dalam hatinya hilang.


"Menurutku ada dua kemungkinan yang satu seseorang terbayang-bayang karena merasa bersalah atau karena sedang jatuh cinta". Jawabnya dan setelah itu permisi untuk mengerjakan pekerjaannya yang belum usai.


"Merasa bersalah atau aku sedang jatuh cinta, Abel aku sebenarnya kenapa sampai kau bisa selalu berputar di fikiranku ?". Tanyanya kepada diri sendiri.


*******


Saat pulang bekerja Excel di kejutkan dengan kehadiran dua sosok yang sangat di kenalnya. Mereka berdua langsung memberikan senyuman ke arah Excel yang baru pulang bekerja. "Excel bagaimana kerjamu ? Apa kau lelah ?".

__ADS_1


"Tidak terlalu mi, ada apa sampai mami dan papi datang kesini bersama-sama ?". Tanyanya yang merasa heran lantaran tak biasanya kedua orang tua Excel datang secara bersama-sama seperti ini.


"Mama mau memperlihatkan ini, hotel yang bagus untuk acara pernikahanmu sekaligus bagaimana kalau bridal showernya kita adakan di tempat itu sekalian, apalagi yang punya temannya papi kamu jadi mudah untuk booking tempat".


"Ya tempat itu bagus sekalian kita adaka__".


Belum sampai papinya Excel menyelesaikan ucapannya namun Excel sudah pergi ke kamarnya karena merasa jengah mendengar segala sesuatu tentang pernikahannya dengan Jenni padahal seharusnya ia bahagia dengan pernikahan ini.


Sikap Excel yang terasa aneh bagi kedua orangtuanya membuat mami Rita mengikuti sang putra sampai di kamar dan mendudukkan diri di ranjang sebelah Excel. "Ada apa Excel ? Biasaya kau senang mendengar tentang pernikahan bahkan kau meminta pernikahan di majukan ?".


"Entahlah mi aku merasa ragu untuk menikahi Jennie, bukan karena meragukan Jennie tapi meragukan perasaanku padanya, sepertinya aku ingin mundur dari pernikahan ini". Excel menatap wajah sang mami dengan tatapan bingungnya.


"Menurut mami bagaimana kalau aku mencintai orang lain dan membatalkan pernikahanku dengan Jennie ?". Excel bisa melihat wajah keterkejutan sang mami dan ia merasa salah bicara tapi memang itulah adanya, itu apa yang hati Excel rasakan.


"Kau tau sebenarnya sedari kecil kau tidak pernah meminta apapun, kau selalu jadi anak penurut sedari kecil, seandainya kita membatalkan pernikahan ini pasti akan sangat tak adil bagi pihak Jennie tapi mami takut kau tidak bahagia nantinya".


Sebelum berucap kembali, mami Rita menghela nafas berat dan memandang anak lelakinya yang sedang melihatnya dengan penuh harap.


"Mungkin ini akan sangat berat membatalkan pernikahan secara sepihak tapi mama akan merestui apapun keputusan yang kau pilih dan lakukan sekalipun kita harus membatalkan pernikahan ini".


.


.


.


.


__ADS_1


Excel : Aku sudah memutuskan pilihanku, tolong kalian jangan lupa like dan vote untuk mendukung cerita ini agar cepat berlanjut


__ADS_2