Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Selamat Tinggal


__ADS_3

Dentingan suara bel apartemen terdengar di telinga Excel yang sedang berada di kamar jadi keluar, tanpa melihat juga Excel sudah tau siapa tamu yang berkunjung ke tempatnya. Karena memang dirinyalah yang mengundang orang tersebut untuk datang.


"Masuk". Perintahnya setelah membukakan pintu dan mundur untuk memberi jalan bagi tamu masuk, orang itu mengamati sejenak apartemen Excel yang baru ia datangi sekarang. Walau saat dirumah tadi ia sangat malas setelah mendengar kalau Excel ingin bertemu.


"Tempat lo bagus juga". Pujinya setelah melihat interior dan setiap sudut apartemen dimana mampu membuatnya kagum walau sedikit.


Saat sang tamu masih melihat keindahan tempat tinggalnya, Excel sudah terlebih dulu mendudukkan diri di salah satu kursi single di sana dan masih menunggu sampai Alvin bisa diajak serius.


"Apa sudah cukup kau melihat-lihat ?". Tanya Excel saat ia semakin bosan melihat Alvin yang tidak langsung to the point dan malah membuang waktunya padahal ia sudah sangat tak sabar untuk merencanakan sesuatu.


Alvin berhenti mengedarkan pandangan dan mendudukkan diri di depan Excel, tak lupa dengan kakinya yang ia pangku salah satu dan melihat Excel dengan tatapan jengah. "Sekarang apa lagi ?".


"Semakin lama aku merasa semakin sulit mendapatkan Abel, bisakah kau memberikan aku rencana yang efektif bukan seperti yang kemarin itu, selalu gagal". Ujaranya seolah mengadukan kalau pekerjaan Alvin yang telah Excel bayar dengan mahal itu sangatlah tidak kompeten.


Alvin menghela nafas berat dan meletakkan punggung tangannya di dahi. "Hayati lelah bang, hayati tuh nggak bisa diginiin". Ujarnya dengan nada lemah lembut.


Bukannya menanggapi candaan Alvin, Excel malah lebih terfokus dengan nama perempuan yang baru saja Alvin utarakan. "Siapa itu hayati ?".


Alvin berdecak dan menurunkan tangannya, ia melihat Excel dengan tatapan kesal. "Kelamaan di luar negri sih lo, makanya kalau gaul jangan sama bule terus".


Alvin mengambil toples yang berisi makanan ringan disana dan tanpa di tawari lebih dulu, ia langsung membuka toples tersebut lalu memakannya dengan santai seperti di rumah sendiri.


"Ini tidak ada hubungannya dengan pergaulanku, aku ingin kau cepat membuat Abel bisa kembali kepadaku kalau tidak hidupku tidak akan merasa tenang, apalagi kalau dia dekat dengan laki-laki lain rasanya aku tidak rela".

__ADS_1


"Masa ?". Dengan santainya Alvin menjawab dan menggoda Excel.


"Kau sebenarnya bisa membantuku atau tidak ? dari tadi aku bicara tapi ksu todak menanggapi dengan serius, kalau kau bisa lebih baik kembalikan semua barang yang sudah aku berikan kepadamu, lagipula sepertinya kau tidak bisa benar-benar membantuku, kau hanya mau bayaran tapi tidak melakukan apapun".


Excel menengadahkan tangan di depan Alvin meminta agar semua barang yang telah menjadi negosiasi diantara keduanya di kembalikan.


Namun jangan bicara soal negosiasi dengan Alvin karena lelaki itu akan mengambil barang yang telah ia terima dan tak akan mengembalikannya. "Enak aja ya nggak bisa gitu, jangan salahi gue kalau adek gue nggak mau sama lo, mungkin lo aja yang nggak pantes buat adek gue".


"Apa kau bilang ? Kemari kau". Excel beranjak dan tangannya mengepal erat siap baku hantam dengan Alvin yang sedari tadi tak memberikan saran malah menghinanya, ia juga punya kesabaran namun kini semuanya telah hilang. Tak hanya gagal mendapatkan Abel, semua barang yang ia berikan untuk Alvin juga tak kembali.


"Lo berani sama gue ? Sini maju". Keduanya saling mencengkram kerah masing-masing dengan erat seolah tak mau melepaskan. Semua barang yang berada di ruangan itu hanya bisa menjadi saksi bisu pergulatan antar lelaki dimana bogem mentah melayang dan menghantam keduanya.


Setelah kurang lebih satu jam lamanya akhirnya mereka sudah selesai dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah dan juga membiru. Mereka saling melemparkan tatapan kesal juga mulut yang tak berhenti menghujat satu sama lainnya seraya terduduk di lantai.


"Aku memang anak angkat, lalu kenapa ? Toh aku tidak minta makan padamu".


"Ngomong lagi gue tonjok lo".


"Aku punya mulut, mengapa aku harus diam ?".


Dan seperti itu sampai mereka pegal sendiri dengan bibir yang masih mengoceh juga menghujat. Mereka menyentuh wajah masing-masing yang lebam dan dan juga sudut berdarah dengan tangan, hingga suara desisan keluar saat merasakan nyeri.


Setelah keduanya berhenti saling melemparkan hujatan, keheningan tercipta dan membentang di seluruh penjuru apartemen tersebut. Tak ingin lagi bersuara karena masih lemas juga sudah enggan untuk mengatai satu sama lain. Sampai bunyi jam dinding yang berdetak terdengar lebih mendominasi.

__ADS_1


"Aku frustasi karena aku benar-benar mencintainya, semakin aku melangkah semua orang seperti menghentikan langkahku dan menghentikanku, namun aku tak bisa melupakannya". Suara parau Excel memecah keheningan, dan menyentuh nurani Alvin yang telah mengetahui perjuangan lelaki itu selama ini, walau ia tak suka namun ia akui jika Excel terlihat sangat tulus.


"Udah lo lepasin aja, buka lembaran baru dan cari cewek tang mau dama elo, ntar gue doain lo dapat yang lebih baik dari adek gue, kayaknya dia juga udah nggak suka lagi sama lo". Seketika Excel melihat ke arah Alvin yang sedang tak bercanda, terlihat dari keseriusan lelaki saat kedua mata mereka saling melihat.


Bahkan senyuman tipis Alvin membuat Excel sadar jika apa yang di katakan oleh Alvin adalah sebuah kenyataan yang harus mau tidak mau ia terima dengan lapang dada. Berharap agar di masa depan ia bisa mencintai wanita lagi, begitu juga dengan Abel.


****


Alvin mengetuk pintu kamar Abel yang tepat berada di sebelahnya dan tak lama pintu tersebut terbuka, menampilkan Abel dengan pakaian kasual ala rumahan. Tak mengatakan apapun Alvin hanya menyodorkan sepucuk surat berwarna putih yang langsung di terima Abel dengan kening berkerut.


"Apa ini kak ?". Tanyanya heran lantaran di zaman ini sudah modern dengan teknologi canggih yang bisa saling mengirim kabar dan informasi dengan mudah namun mengapa masih ada yang lebih memilih untuk menulis surat.


Abel membolak-balikkan surat dengan amplop berwarna putih yang ada di tangannya mencari siapa pengirim surat tersebut namun tak ada tanda pengiriman atau tulisan apapun di atasannya.


"Tadi Excel kesini dan nyeranin ini ke gue, dia bilang buat lo". Ujarnya dan Abel membuka surat dengan tulisan Excel yang terlihat jelas di sana.


*Abel sayang....aku harap bisa memanggilmu begitu walau aku tau tak akan mungkin karena jalan kita yang terasa sangat sulit di awal, aku minta maaf atas semua kesalahanku melupakan janji kita untuk bersama dan malah memberimu kabar buruk atas penghianatan yang aku lakukan dengan mencintai wanita lain, aku berharap kau memafkanku tapi aku juga tak bisa memaksa mendapatkan maaf darimu, kini aku sadar sebuah janji hanya akan membuat luka jika tak di penuhi, aku tau kau kecewa padaku maka dari itu aku akan melepaskanmu dan tak akan mengusikmu lagi.


Semua yang telah kita lalui ini semoga menjadi kenangan tak terlupakan dan aku akan selalu mendoakan kebehagiaanmu disana meskipun kini jarak antara kita akan kembali sagat jauh seperti dulu. Aku senang bisa melihatmu setelah sekian lama kita berpisah dan semoga kita bertemu lagi dimasa depan walau bersama yang lain, aku harap kau bisa menemukan laki-laki yang mencintaimu juga sebaliknya.


Setelah semua ini mungkin hanya Tuhan yang bisa mempertemukan kita kalaupun kita masih bisa bertemu karena aku akan menata hidupku lagi, dan di tempat yang jauh darimu aku akan selalu mendoakan mu.


Izinkan aku mengatakan kalau aku mencintaimu, selamat tinggal*.

__ADS_1


__ADS_2