
Abel tengah sampai di parkiran perusahaan, namun saat ia berjalan entah mengapa ia merasa seperti ada yang mengikuti dari belakang. Abel menoleh dan mengamati belakangnya namun tidak ada orang sama sekali.
Entah mengapa bulu kuduknya berdiri bersamaan dengan suasana yang mencekam membuat ia mempercepat langkahnya hingga sampai di tempat dimana ada orang. Setelah itu ia menghembuskan nafas lega karena setidaknya ia melihat orang lain selain dia.
Namun saat baru melangkah beberapa meter ada seseorang yang menjambak rambutnya dari belakang. "Kau kurang ajar beraninya kau merebut Excel dariku, akan ku balas kau".
Tak hanya menjambak namun Jennie mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencakar setiap tubuh Abel yang dapat ia jangkau begitu juga sebaliknya, Abel tak mau kalah dan diam begitu saja menerima semua perlakuan Jennie yang menyakitinya.
Tak peduli dengan pangkat atau setatus dirinya yang menjadi anak papa Rey pemilik perusahaan itu, Abel benar-benar murka bahkan ia membalas tak kalah kuatnya dengan Jennie.
"Dasar wanita iblis seharusnya kau mengaca sebelum memberiku pelajaran". Ujarnya di sela-sela mencakar seluruh tubuh Jennie dengan kuku yang ia miliki dan menghancurkan seluruh tatanan rambut wanita itu dengan cara jambak dan juga menarik.
"Ayo kita pisahkan mereka".
Tak sengaja salah seorang OB yang tengah lewat melihat keduanya yang membuat keributan bahkan sampai berkelahi. Ia memberitahu orang berada di sekitar tempat kejadian dan meminta tolong karena tak mungkin memisahkan mereka sendiri yang ada ia yang kena baku hantam kedua gadis tersebut.
"Ya ampun Abel Jennie". Pekik Excel dan segera berlari ke arah mereka, Excel memegang Abel dari belakang agar terlepas dari jeratan Jennie sedangkan Jennie di pegang OB tersebut.
"Excel kau jangan percaya padanya, kembalilah padaku". Teriak Jennie dengan nada yang berubah sedikit agak lembut namun juga penuh dengan permohonan.
"Dasar kau rubah betina licik awas kau". Abel meronta dalam pegangan Excel hingga membuat lelaki itu sedikit kesulitan menahan Abel yang tak mau diam.
"Abel stop kumohon please berhenti". Excel kini beralih melihat ke arah Jennie. "Jennie tolong jangan berbuat hal yang bisa mempermalukan kantor dan dirimu sendiri".
Excel memutar tubuh Abel agar menghadapnya dan sotot matanya mengisyaratkan permohonan yang kental namun entah Abel bisa melihatnya atau tidak. "Tolong masuklah dulu, aku harus bicara dengan Jennie".
Bagai sambaran petir yang mengenai hatinya dan seketika terasa amat sakit, entah mengapa tapi Abel benar-benar ingin menonjok Excel saat ini, bukankah lelaki itu selalu memohon kepadanya agar di beri kesempatan laku sekarang apa ?.
"Terserah aku tidak mau melihatmu lagi, urus tunanganmu itu". Setelah mengatakan itu Abel melewati Excel seraya menyenggol bahu lelaki itu dengan keras, menandakan kalau ia kesal, tak suka dan kecewa.
__ADS_1
Berbeda dengan Jennie yang telah tenang dan melepaskan tangan OB yang berani menyentuhnya. Jennie tersenyum karena Excel masih ingin bicara padanya dan mengesampingkan Abel, ia berfikir kalau Excel masih ada perasaan untuknya.
"Excel aku__"
"Kita cari tempat lain".
Excel melangkah lebih dulu dan di belakangnya di susul oleh Jennie. Mereka sampai di sebuah kafe yang letaknya dekat dengan kantor tersebut dan tak hentinya sedari tadi Jennie tersenyum.
"Sayang aku tau kau masih mencintaiku, aku mohon kepadamu ya beri aku satu kesempatan, apa yang kau lihat tidak seperti yang kau kira". Jennie menyentuh tangan Excel yang berada di atas meja namun Excel menarik tangannya agar tak bersentuhan dengan Jennie.
"Sepertinya kau salah jika aku mengajakmu kesini karena memberimu kesempatan".
Jennie menggeleng dengan pelan, ia merasa perkataan Excel adalah hal yang tak ingin ia dengar bahkan berbeda dengan apa yang ia harapkan.
"Sayang kau__"
"Aku mengajakmu kesini karena ada yang yang harus ku luruskan, pertama aku sudah tak mencintaimu, kedua kau mempermainkan cinta dan pengertianku selama ini, ketiga kita tak bisa melanjutkan pernikahan dan yang paling penting katakan kepada keluargamu kalau kita berpisah bulan karena salahku atau aku sendiri yang harus mengatakan kepada mereka apa yang terjadi.
Namun lagi-lagi Excel melepaskan genggaman Jennie dan menaruh tisu di telapak tangan wanita itu untuk menghapus air mata yang ia tak tau apakah palsu atau benaran.
"Maaf Jennie, untuk kedepannya jangan mencariku lagi karena kita tak ada hubungan apapun lagi". Setelah mengatakan itu Excel beranjak meninggalkan Jennie yang masih terisak di tempatnya duduk.
******
Excel mencari keberadaan Abel di dalam kantor tapi tak menemukan di ruangannya, ia bertanya kepada Lucy dan akhirnya ia tau jika Abel berada di ruang kesehatan. Mengingat bagaimana pertengkaran tadi pastilah Abel mempunyai kuka lecet pada bagian tubuhnya.
Excel menyingkap tirai berwarna putih yang terpasang di sana sebagai sekat dengan yang lain. Ia tersenyum getir mendapati Abel yang mengobati luka seorang diri karena orang yang berjaga di ruang kesehatan tersebut bilang Abel tak mau di bantu.
"Butuh bantuan ?". Tawarnya, seketika Abel menoleh mendapai Excel yang berjalan mendekat dan duduk di ranjang yang sama dengannya.
__ADS_1
"Tidak perlu aku bisa sendiri lebih baik kau urus tunanganmu itu jangan pedulikan aku, aku tidak butuh belas kasihan orang lain".
Excel menghembuskan nafas kasar dan mengambil alih dengan paksa obat merah yang berada di tangan Abel dan ia sapukan di pipi gadis itu yang terluka akibat bekas cakaran.
"Sepertinya agak dalam lukanya, tahanlah mungkin ini sakit".
"Kau...aduh".
Abel merasakan rasa sakit dan perih secara bersamaan padahal Excel menyapukan ke pipinya dengan pelan. Saat Excel mengobati Abel, ia mengamati setiap perubahan ekspresi gadis itu dan teringat bagaimana kesalnya Abel tadi bahkan Abel sampai mengalami hal ini akibat Jennie yang juga menyangkut dirinya.
"Maafkan aku kau sampai seperti ini gara-gara diriku". Ujarnya, sejenak membuat Abel berhenti mengeluh saat Excel masih menyapukan obat merah.
"Sepertinya kau suka sekali membuatku kesal dan juga repot, ini semua karena tunanganmu itu aku sampai begini".
"Aku dan Jennie susyah benar-benar putus, mungkin dia masih belum terima tapi perasaanku padanya memang telah berubah".
Excel mengganti obatnya dengan plester yang akan ia tempelkan namun Abel menoleh hingga ia tertunda memasang plester tersebut.
"Aku tidak peduli dengan hubunganmu dan Jennie tapi jangan libatkan aku dalam urusan kalian, aku tidak mau ikut campur dan jangan menyeretku dalam masalah rumitmu itu".
Abel merampas plester yang berada di tangan Excel dengan cepat dan keras. "Aku tak akan berterima kasih soal kau mengobatiku karena ini semua karenamu".
Abel keluar dan menutup korden, meninggalkan Excel yang masih dia di tempatnya berada. Padahal niatan Excel ke perusahaan Abel untuk mengantarkan berkas yang Abel yinyggalkan atas perintah mama Dina tapi tak menyangka akan membuatnya melihat kejadian ini.
.
.
.
__ADS_1
.