Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Pelangkah


__ADS_3

Hujan rintik membasahi bumi, meninggalkan beberapa titik air pada dedaunan dan juga jendela yang kian menyegarkan dan kesan sejuk yang melingkupi udara sore hari di saat beberapa orang masih ada yang beraktifitas dan sebagian sudah senggang.


Seperti halnya Abel dan juga Excel yang saat ini sedang bersama membangun kasih yang semakin lama semakin besar seraya menunggu hari bahagia datang dan tak akan ada lagi alasan bagi keduanya untuk berpisah.


"Dimana dia ?". Tanya Excel sambil menunduk dan celingukan mencari sesuatu yang berada di bawah, namun Abel tak mengerti hingga beberapa detik kemudian ia faham apa yang sedang lelaki di depannya itu cari.


"Oh itu ya, bentar". Abel melangkahkan kakinya meninggalkan Excel dan menuju ke kamarnya dimana letak barang yang Excel cari berada. Itu juga kalau belum berpindah ke tempat.


Bisa saja berjalan-jalan ke taman belakang ataupun ke tempat tetangga dan berakhir dengan badan kotor penuh debu, meninggalkan jejak petualang yang di lakukan si kaki empat tersebut. Dan saat Abel sampai di kamarnya, benar saja apa yang di cari Excel memang sedang ada di sana.


"Kucing". Panggilnya karena ia enggan menyebut nama si kucing yang sama dengannya, bahkan sampai saat ini Abel masih sebal mengapa namanya harus Excel berikan kepada si kucing.


Apalagi saat kepindahan Excel tak serta merta membawa binatang peliharaannya tersebut dan meninggalkan begitu saja seolah ada yang akan menjaga. Walau memang sepeninggal Excel si kucing ia yang merawat dengan baik sehingga berat badannya bertambah drastis.


Meong


Abel membawa si kucing menemui tuannya disana dan saat kembali ia dan si kucing di sambut dengan senyuman dan tangan besar yang mengambil alih tubuhnya. "Kau sangat gemuk sekang Ginger". Tuturnya seeraya mengelus bulu ke kecoklatan itu.


"Kok namanya diganti jahe ?". Abel heran mengapa nama si kucing berganti dan sejak kapan Excel menamainya begitu, apalagi namanya berubah menjadi salah satu rempah untuk memasak.


"Biar nggak kembaran sama kamu, dulu aku menamainya Abel karena si pemilik nama udah buang nama itu dan sekarang Abel yang sebenarnya kembali jadi aku harus memberi nama lain untuknya, dan nama jahe sesuai dengan warna bulunya". Jelasnya seraya mengangkat si kucing lebih tinggi untuk memastikan sesuatu.


Lama tak bertemu Excel dengan si kucing yang tanpa ia ketahui bertambah berat badannya. Namun ia merasa tak hanya itu saja karena di bagian perut sepertinya lebih besar dan juga lebih menonjol, ia yakin itu bukan hanya sekedar naik berat badan tapi sesuatu yang lain.


"Kayaknya dia hamil".

__ADS_1


Abel begitu terkesiap dan ikut memperhatikan si kucing yang makin berisi tubuhnya. Ia tak tau apakah si kucing hamil atau tidak karena selama yang Abel perhatikan adalah pola makan si kucing yang nambah banyak.


"Eh iya perutnya gedean".


"Kayaknya kita bakal jadi orangtua sebelum menikah".


"Eh iya ya".


*******


Beberapa tumpukan majalah sebagai referensi tersusun diatas meja di depan Abel dan juga Excel, mereka sedang mencari referensi untuk gendung dan sebagainya sebagai persiapan pernikahan. Untung saja waktunya masih cukup jika memesan gedung sekarang dan juga souvernir untuk di bawa pulang para tamu yang hadir.


Namun perhatian mereka sejenak teralihkan oleh seseorang yang melangkah menggunakan sepatu fantofel dan melonggarkan dasi setelah selesai bekerja. Dan saat orang yang datang bagi Abel maupun Excel tidaklah penting maka mereka kembali ke fokus sebelumnya.


"Gue dateng kalian cuek aja". Kesalnya dan duduk di hadapan kedua pasangan itu yang tak menggubris sama sekali. Alvin lalu menaikkan salah satu kakinya dan bertumpu pada kaki yang lain.


"Kalau 3000 nanti kurang apa nggak ya ?". Excel berfikir mencoba mengira berapa banyaknya tamu yang hadir dengan jumlah souvernir yang di sediakan, takut kurang tapi kalau lebih tidak apa hanya saja jangan sampai terlalu banyak lebihnya.


"Nggak tau juga". Abel menggendikkan bahunya, ia sendiri kurang faham lantaran biasanya tamu datang di luar perkiraan, seperti yang mengajak pasangan atau keluarga kecilnya. Dan itu cukup membuat mereka kewalahan dengan jumlah tamu yang di perkirakan.


"Kalian tenang banget ngurus ini itu padahal ada yang lebih penting yang harusnya kalian selesaikan sebelum menikah, dan ini wajib". Alvin berhasil menarik perhatian keduanya hingga menatap penasaran.


"Memangnya apa ?". Tanya Excel yang juga ikut menyimak.


"Pelangkah".

__ADS_1


Abel menatap micing Alvin dan kembali ke aktivitasnya tadi. "Nggak penting".


"Justru itu penting". Suara mama Dina menginterupsi mereka, dengan kue yang baru matang dari panggangan mama sajikan di meja dan menumpuk buku untuk tempat meletakkan piring karena saking banyaknya buku dan lain-lain.


"Kamu itu kan adik sementara kakak kamu belum menikah dan kamu melangkahi jadi kamu wajib memberikan pelangkah untuk Alvin".


"Emang nggak bisa enggak ma ?". Tawarnya karena Abel merasa kalau itu tidaklah penting, mengingat ia menyakini kehidupan modern dimana mau melakukan apapun tidak perlu menunggu hari baik atau semacamnya.


"Itu wajib apalagi itu di lakukan turun temurun". Jawab mama Dina.


Alvin tersenyum penuh kemenangan dan mengambil satu kue untuk dimakannya, ia melihat respon Abel yang mulai sebal dan menatapnya kesal. Menunggu Abel bertanya apa yang ia inginkan dan mumpung juga ada kesempatan seperti ini, ia ingin menebalkan dompet.


"Emang kak Alvin mau apa ?". Tanyanya sambil masih mengawasi Alvin, karena ia merasa jika ada firasat tidak enak kalau menyangkut keinginan kakaknya tersebut. Bahkan ia merasa kalau senyum Alvin adalah bencana yang hendak menghampirinya.


"Gue mau penthouse".


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa tinggalkan jejak (like, komen, vote poin dan koin)


__ADS_2