
Suara Excel tertahan di tenggorokan dan tak mampu untuk mejelaskan, ia bingung bagaimana caranya meredakan kemarahan Abel di kerena kan kejahilan sang papi yang nyatanya membawa bencana besar. Excel tak ingin pagi hari ini menjadi pagi yang paling tak terlupakan, dalam artian yang buruk.
Ia melangkah ikut mendudukkan diri di samping Abel seraya berfikir apa alasan yang bagus yang akan di katakan. Bahkan ini tak sepenuhnya salah Excel melainkan sang papi, dan ia yang harus menanggungnya. Excel menghela nafas sebelum berbicara, ia akan mencoba dengan cara lembut, karena biasanya wanita tak suka di salahkan.
"Sayang dengar dulu, aku sebenarnya ingin memberitahumu tapi takut kau akan berfikiran macam-macam dengan hadiahnya papi yang memang tak wajar, aku mencoba memberitahumu tapi tak tau caranya bagaimana ?".
Excel mengelus kepala Abel yang sudah rapi setelah disisir layaknya mengelus Abel sikucing yang telah ia ganti namanya menjadi Ginger dan tangannya yang lain masih menggenggam hp milik Abel, terdapat notif dari para netizen yang semakin banyak berkomentar dan Excel ingin mengelus dada dengan semua komentar tersebut. "Yaudah kita hapus aja ya fotonya dari sosial media kamu".
Abel masih terdiam dan enggan membuka suara, namun raut wajahnya nampak tak marah lagi. Sepertinya memang benar jika bicara dengan wanita yang sedang kesal jangan menggunakan kemarahan ataupun nada keras, melainkan dengan kelembutan karena sejatinya wanita suka di mengerti.
"Tapi aku udah terlanjur malu kak, mau dihapus juga orang udah pada lihat postinganku". Abel menunduk, masih terbayang dengan komentar para netizen yang menganggapnya sedang mengiklankan obat kuat, padahal ia tak tau apapun dengan obat yang sebelumnya Abel kira adalah vitamin.
Ia percaya begitu saja karena memang selepas acara pernikahan badannya terasa pegal semua. Abel kira papi Jimmy akan memberikan obat tersebut karena memang sudah pernah pengalaman menikah dan selepas menikah juga tubuhnya memerlukan asupan vitamin. Taunya ternyata vitamin pembesar pisang. Padahal ia berencana hendak meminumnya tadi.
"Seenggaknya kalau kita hapus sekarang yang belum melihat tidak akan tau dan komentarnya tidak akan bertambah banyak kan ?".
Abel mengangguk membenarkan ucapan Excel, memang yang sudah terlanjur melihat tidak akan bisa menyuruh mereka melupakan postingannya. Tapi setidaknya yang belum melihat tidak akan tambah mempermalukannya.
"Yaudah deh kak hapus aja aku juga nggak mau lihat komentar disana". Setelah mendapatkan izin dari Abel, tanpa ragu lagi postingan tersebut Excel hapus padahal komentarnya yang ada di sana sudah sangat banyak. Mungkin sebentar lagi mereka akan menjadi pasangan viral atau selebgram baru. Tapi ia tak mau kehebohan terjadi, apalagi jika sampai keluarga tau penyebabnya, pasti kereka berdua akan di tertawakan.
"Yaudah yuk kita sarapan, habis itu jalan-jalan". Ajaknya dan Abel bergegas turun untuk mengganti pakaian karena tak mungkin dirinya keluar dengan pakaian seperti itu. Setelah memilih pakaian yang dirasa cocok segera ia ganti.
"Udah kak yuk". Abel menghampiri Excel untuk turun bersama, namun lelaki itu malah terdiam sembari menatapnya dengan senyuman, ia jadi malu sendiri mengapa Excel menatapnya seperti itu. "Apa sih kak, bukannya tadi ngajak sarapan ?".
__ADS_1
"Kata orang kalau pengantin baru bakal keliatan tambah cantik ternyata benar ya". Excel mendekat dan menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga, ia merasa beruntung memiliki Abel sebagai pendamping hidup.
Dulu saat bersama dengan Jennie, ia merasa jika Jennie terlihat sangat cantik walau ia tau akan ada banyak gadis yang lebih cantik. Tetapi ia sadar kecantikan wajah saja tak cukup karena harus memiliki kecantikan hati. Dan ia merasa pilihannya untuk menikahi Abel sangatlah tepat, tidak hanya cantik rupa tapi juga cantik hati.
Pipi Abel bersemu merah, setiap kali mendapatkan pujian dari Excel rasanya tetap saja membuatnya malu dan terbang seakan enggan untuk mendarat. Ia takut jatuh namun sadar jika ia tak terbang sendiri melainkan sekarang bersama dengan Excel.
"Yaudah yuk sarapan". Excel menggandeng tangan Abel sampai ke restoran yang berada di bawah hotel. Dirinya sedari tadi enggan untuk melepaskan bahkan sampai mereka telah sampai di restoran tersebut.
"Kak kalau gini gimana makannya ?". Abel melihat kedua tangannya dan juga Excel, masih saling menggenggam bahkan sedari tadi pengunjung resto yang lain pada melihati.
"Anggap aja dunia milik berdua yang lain pada ngontrak". Jawabnya santai, tanpa menghiraukan pandangan yang lain. Untuk saat ini Excel benar-benar sedang kasmaran seperti halnya orang yang baru mengenal cinta tanpa memerdulikan yang lain.
"Tapi makannya gimana ?". Tanyanya lagi, ia akan kesulitan jika makan hanya dengan satu tangan apalagi yang ia pesan tadi bukan hanya satu menu dan mengharuskannya menggunakan kedua tangan.
Makanan telah siap disajikan oleh pelayan, dan Abel juga Excel menyuapkan makanan tersebut kedalam mulut mereka. Sejenak fokus mereka kepada makanan tanpa ada obrolan.
"Habis ini kita mau kemana ?". Excel bertanya disela makannya dan melihat Abel yang nampak berpikir dimana tempat yang hendak mereka kunjungi selama masih dalam masa liburan. Kalau untuk langsung ke Raja Ampat sesuai dengan voucher pemberian kedua orang tuanya sepertinya tidak mungkin.
Karena tempat itu terlalu jauh, ia bahkan masih agak capek namun tetap ingin berjalan-jalan menikmati masa indah setelah resmi menikah. Ia ingin ke tempat yang dekat saja namun tetap terasa berkesan.
"Nggak tau kak bingung". Jawabnya dan kembali memasukkan makanan ke dalam mulut.
"Gimana kalau kita jalan-jalan disekitar sini pakai sepeda, katanya belakang hotel ada pemandangan bagus dan banyak pepohonan". Excel mengusulkan untuk naik sepeda bersama, hotel ini memang ia yang cari untuk pernikahan jadi tau mengenai apa saja yang terdapat di hotel tersebut, sekaligus ada fasilitas menyewa mobil dan juga sepeda.
__ADS_1
"Boleh tapi kak aku nggak bisa naik sepeda". Abel sedih, ia teringat dulu meminta Excel untuk mengajarinya sepeda, namun karena Excel lebih dulu pergi dengan kedua orangtuanya ke luar negeri jadinya ia tak ingin belajar naik sepeda dengan siapapun selain Excel.
Ia sadar jika dirinya terlalu berlebihan, apapun harus bersama Excel, dan sekarang menikah juga dengan Excel bahkan akan menghabiskan masa tua bersama.
"Jangan khawatir, habiskan saja makananmu soal sepeda serahkan padaku".
Setelah mereka selesai makan kemudian Excel memesan satu sepeda yang akan di gunakan untuk berjalan-jalan. Anehnya tak ada boncengan di bagian bekalang, Abel bertanya-tanya dalam hati bagaimana dirinya bisa ikut naik sepeda.
"Kak aku naiknya gimana ? Bagian belakangnya nggak ada ". Abel menunjuk bagian belakang sepeda, hanya ada ban saja. "Kak Excel ngerjain aku ya ?".
"Nggak". Excel lalu naik ke sepeda tersebut dan menepuk bagian depannya."Kamu duduk disini".
Abel menurut dan duduk di bagian depan Excel, ia merasa jantungnya berdegup kencang dengan posisi yang sangat dekat, bahkan terasa seperti di peluk dari belakang. Walaupun angin bertiup kencang namun Abel terasa hangat.
"Pegangan ya". Abel ikut berpegangan dan merasakan angin menerpa rambut dan wajahnya, ia bersyukur rambutnya di kuncir karena angin tersebut cukup kuat. Takutnya malah akan sampai ke mata Excel dan menutupi penglihatannya.
"Gimana rasanya naik sepeda ?".
"Seru kak, kapan-kapan kayak gini lagi ya". Abel sesekali memejamkan mata, merasakan udara pagi dan juga hembusan angin yang menerpanya terasa sangat segar dan juga membuat pikiran menjadi tenang. Sudah lama tak berliburan dan ini akan selalu ia kenang untuk menjadi salah satu hari paling menyenangkan yang pernah dialami.
"Iya".
__ADS_1
Dukung author biar semangat ngetiknya di saat jari sudah mulai keriting.