
Abel terdiam mendengar jawaban dari orang suruhannya di telfonnya dan kembali meletakkan di meja, ia menyandarkan punggungnya pada kursi dan mendongak ke atas melihat langit-langit ruang kerjanya dengan wajah datar. "Jennie ingin menyakitiku sedangkan tunangannya malah menyelamatkanku mereka berdua benar-benar pasangan yang aneh".
"Nona sekarang kami harus apa ?". Tanya orang di seberang telfon.
Abel lupa jika sambungan telfonnya belum terputus, ia bingung sendiri harus bagaimana, apakah melaporkan Jennie ke kantor polisi atau membiarkannya. Wanita seperti Jennie harus di tangani secara halus.
"Kalian tidak perlu melakukan apapun terima kasih informasinya".
"Sama-sama nona"
Abel mengetuk-ketukan jarinya ke meja, ia sedang berfikir cara apa yang tepat dan cocok untuk membalas perbuatan Jennie. Terfikirkan sebuah ide, segera Abel mengangkat gagang telfon kantornya dan menelfon luci agar masuk ke dalam ruangannya, karena Abel hendak memberikan tugas yang bersangkutan dengan Jennie.
"Iya nona ada apa memanggilku ?". Tanyanya kala ia sudah berdiri di depan Abel, bersiap menerima tugas yang hendak diberikan oleh tuannya tersebut.
"Aku ingin kau mencari tau perusahaan atau management mana saja yang bekerja sama dengan Jennie dan putuskan kerja sama Jennie dengan semua perusahaan itu agar tak ada yang menggunakannya sebagai model di produk manapun, termasuk yang berada di bawah naungan Admaja grup, dan jangan sampai ada yang tau jika aku yang melakukannya". Abel menautkan kedua jarinya dan tatapannya berubah tajam, "aku tidak ingin dia muncul di tv lagi". Jelasnya dengan nada penuh penekanan.
"Tapi kenapa nona ?". Luci bingung mendapatkan tugas yang aneh dan tak biasa dari tugasnya sebagai seorang sekertaris namun tatapan dari Abel membuatnya seolah mengatakan untuk tak membantah. "Baik nona akan segera saya laksanakan".
"Dan satu lagi, apa kau sudah menghubungi hasa grup mengenai penandatanganan kontrak kerja sama perusahaan ?". Tanya Abel.
"Sudah nona". Jawabnya.
"Bagus kau boleh keluar". Luci keluar dari ruangan Abel segera melaksanakan apa yang di perintahkan kepadanya. Bersamaan dengan itu Abel tersenyum miring seraya membayangkan bagaimana nantinya jika Jennie tau dia tidak akan jadi model lagi. "Jennie anggap saja ini peringatan kecil dariku, jika saja Excel tidak menyelamatkanku tentu aku akan melakukan yang lebih dari ini".
*******
Beberapa hari kemudian
__ADS_1
Abel membuka pintu mobilnya hendak pulang namun saat akan masuk ke mobil tiba-tiba tangannya di tarik dan sebuah tamparan mengenai pipinya. Ia menoleh melihat siapa yang telah berani melakukan itu kepadanya bahkan belum pernah ada yang berani menamparnya dan ia ingin memarahi orang tersebut. Saat tau siapa yang menamparnya ia seketika tersenyum miring.
"Ternyata kau kenapa aku tidak terkejut ya ?". Jennie hendak melayangkan tangannya ingin menampar Abel lagi tapi dengan cepat tangan Abel yang kini mendarat dengan keras di pipi Jennie hingga terlihat memerah. "Itu balasan untukmu".
"Beraninya kau menamparku". Ujarnya sangat marah.
"Bukannya kau sendiri berani menamparku aku hanya membalasnya". Jelasnya dan kini Abel mendaratkan lagi tangannya di pipi Jennie yang lain. "Kurang ajar". Jennie hendak membalas namun tangannya di cekal Abel dan di hentakkan dengan kuat.
"Jika kau berani menamparku aku akan mengembalikannya dua kali lipat bahkan lebih". Peringatnya sebelum Jennie melakukan balasan. Jennie mengacungkan ibu jarinya menunjuk Abel dengan tatapan marah. "Pasti kau kan yang membuatku kehilangan pekerjaan, gara-gara kau semua menjauh dan tidak mau membantuku".
Abel tersenyum miring dan menggendikkan bahu seolah ia tak mau tau apa yang dialami oleh wanita itu sekalipun memang itu perbuatannya. "Kau jangan asal menuduh, lagipula tanpa bukti aku juga bisa mengatakan kalau kau yang mengirim dua lelaki untuk menyakitiku tempo hari".
Abel bisa melihat wajah keterkejutan yang di tampilkan oleh Jennie, bahkan mata wanita itu membulat dan terlihat gugup. "Kau kau fitnah". Ujarnya.
"Aku tidak fitnah aku hanya memberi contoh saja, kalau kau menuduhku aku juga bisa menuduhmu". Abel tersenyum senang melihat reaksi Jennie yang gugup seperti itu lagipula Abel hanya memberikan pelajaran kecil dan tak seberapa. "Bukannya kau model papan atas kenapa memikirkan pekerjaan harusnya pekerjaan yang mendatangimu".
"Aku yakin kau yang melakukan ini kepadaku, tapi kenapa ?". Jennie bertanya dalam hati namun ia Tiba-tiba mencurigai sesuatu, " oh aku tau kau pasti menyukai Excel dan yang waktu di pertunanganku itu bukan prank iya kan". Senyum Abel langsung luntur bersamaan dengan senyum Jennie yang terbit dan seketika itu juga Jennie merasa jika apa yang diucapkannya benar. Wanita itu seolah baru saja mendapatkan kartu AS untuk melawan Abel.
Saat di rasa Jennie sudah menjauh Abel memukul kepalanya seraya merutuki dirinya sendiri, "nggak aku nggak cinta sama dia, nggak boleh dasar bodoh ngapain cinta sama cowok orang". Merasa kesal Abel masuk ke mobilnya dan pulang, walaupun ia berhasil membalikkan tamparan dari Jennie dua kali tapi ia merasa kalau dirinyalah yang kalah.
*******
"Apa mereka sudah sampai ?". Tanya Abel kala mereka berdua sudah sampai di parkiran sebuah restoran yang sudah di pesan untuk menandatangani kontrak. Excel sendiri yang meminta untuk lokasinya di restoran agar mereka bisa sekalian makan siang.
"Sudah nona". Jawabnya dan mereka masuk ke dalam restoran. Tempat itu cukup ramai karena mereka datang waktu jam makan siang. Abel langsung bertanya kepada pelayan tempat yang sudah di pesan atas nama Excel dan kala sudah di beritahu Abel bisa melihat Excel dan Bagas yang sudah duduk disana.
"Maaf kami terlambat". Ujar Abel seraya duduk tepat di depan Excel sedangkan Luci berada di sebelah Abel.
__ADS_1
"Tidak kami yang datang terlalu cepat". Abel dan Excel membaca kontrak yang akan di sepakati dan di tanda tangani oleh keduanya. "Bagaimana apa ada yang kurang ? Kalau iya nanti akan ku tambahkan".
Abel masih membaca kontrak tersebut dengan cermat, ia tak ingin ada sesuatu yang tidak menguntungkan nantinya setelah menandatangani kontrak tersebut. Abel tidak mau ada kecolongan apapun walau ia tau jika Excel tak akan berniat merugikan perusahaan yang papa Rey pimpin. "Aku rasa__".
Ucapa Abel terhenti kala melihat ada seorang perempuan yang mendekat dan langsung mencium pipi Excel tepat di depan Abel. Seketika rok Abel menjadi sasaran remasan tangannya yang mengepal kuat.
"Jennie apa yang kau lakukan disini ?".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tau nggak semakin banyak kalian vote, semakin semangat juga aku up-nya. 😌😌😌
__ADS_1
jadi jangan lupa tinggalkan jejak dan vote yang banyak. 👍👍👍
Kemarin udah naik rankingnya kok sekarang turun lagi, sedih lagi aku tuh 😔😔😔