Love You Brother

Love You Brother
My Abel


__ADS_3

Sebuah cincin cantik yang berhiaskan berlian di atasnya menambah kesan elegan dan mahal. Namun itu tak membuat seorang Mariana Novabel menjadi suka akan seseorang yang memberinya cincin itu.


Sebagus-bagusnya barang adalah siapa yang memberikannya karena barang apapun itu akan terasa lebih bernilai dan cincin yang melingkar di jari Abel malah terasa berat dan menjadi beban tersendiri baginya.


Abel melepaskan cincin yang berada di jarinya dan ia pindahkan ke kotak khusus lalu beranjak dari tempat duduknya untuk ke kantor Robin. Waktu seminggu yang Robin berikan kepadanya telah usai dan jawaban Abel tetaplah sama.


Waktu telah menunjukkan jam 12 siang dan bertepatan dengan itu ia akan ke kantornya Robin untuk mengatakan jawabannya. Pastinya nanti Abel akan melihat raut wajah kekecewaan namun ia harus menyelesaikan hubungan yang tanpa di dasari oleh cinta ini.


"Permisi, ruangan Robin dimana ya ?". Tanya Abel kepada resepsionis perusahaan Robin dan wanita tersebut memberitahu letak lantai ruang ruang kerja Robin. "Terima kasih". Ujarnya saat sudah tau.


Abel ke perusahaan Robin tanpa pemberitahuan terlebih dulu karena ia fikir Robin sudah siap dengan kehadiran Abel. Karena ini adalah tepat waktu seminggu dari hari yang di berikan Robin.


Tak sulit menemukan ruang kerja Robin dan Abel melangkahkan kaki hendak mengetuk pintu yang sedikit terbuka itu, namun niatnya ia urungkan saat ada orang lain yang terdengar dari dalam sedang berbicara. "Mungkin Robin sedang ada tamu". Fikirnya.


Abel berbalik hendak menunggu sampai tamunya Robin keluar dulu barulah Abel masuk namun niatnya kembali ia urungkan saat mendengar suara kegaduhan layaknya orang bertengkar disana bahkan Abel mendengar suara perusahaannya di sebut, ia jadi penasaran dan berdiri tepat di depan pintu.


*Kau tidak pantas bersama dengan putraku, lebih baik kalian putuskan hubungan kalian.


Tapi pa aku sangat mencintai Grace, aku mohon pa aku akan tetap menjalankan rencana kita dan menikah dengan Merry tapi papa terima Grace karena hanya dia yang aku cintai.


Iya om aku akan merelakan Robin bersama gadis itu selama Robin menjalankan rencananya tapi biarkan aku menunggu Robin hingga Robin bercerai.


Iya pa lagipula aku tidak mencintai Merry, bukankah yang terpenting rencana untuk menyelamatkan perusahaan kita berjalan lancar dan selama itu aku akan menikahi Grace.


Sekali tidak tetap tidak, bisa-bisa kau menghancurkan rencana kita dengan hubungan kalian, aku tidak setuju*.


Abel membuka pintu ruang kerja Robin, menampakkan dirinya dengan wajah datar kepada semua yang ada disana. Sontak saja semua terkejut tak terkecuali Grace yang juga berada disana.


"Marry kau disini ? Kenapa tidak bilang dulu kalau mau kesini ?". Robin tersenyum dengan canggung sekali dan menghampiri Abel yang berada disana. Ia memegang tangan Abel dan berusaha mengalihkan perhatian dari keberadaan Grace.

__ADS_1


"Kalau aku bilang dulu tentu aku tidak akan mendengarkan apa yang kalian bicarakan bukan, kenapa tidak dilanjut saja diskusinya atau kalian berhenti karena ada aku ?". Tatap kepada Robin yang terlihat meneguk salivanya dengan sukar.


Robin melirik sedikit keberadaan Grace yang berada di belakang, ia bingung bagaimana cara mengatasi situasi yang ada saat ini. "Kau dengar apa saja ?". Tanyanya memastikan.


"Semuanya, aku mendengar semuanya". Mata Robin membulat, ia kehabisan kata-kata untuk menjelaskan apa yang terjadi karena jika Abel mendengar semuanya pastilah semua rencananya gagal total.


"Nak Marry kenapa tidak duduk dulu, jangan salah faham dulu ya tadi nak Merry hanya salah dengar". Papanya Robin mendekat, berusaha mencairkan suasana dan mengalihkan persoalan namun itu semua tak bisa membuat Abel menghilangkan rasa kecewanya.


"Tidak perlu om, lagipula aku hanya sebentar saja disini". Abel merogoh kotak yang ada cincin di dalamnya, ia memegang tangan Robin dan meletakkan cincin tangan lelaki itu. "Maaf aku tidak bisa jadi istrimu tapi sepertinya Grace bisa benarkan Grace ?".


Abel melihat Grace yang berada di belakang Robin begitu juga sebaliknya dan setelah mengatakan itu Abel pergi namun di cegah oleh Robin. "Aku mohon jangan seperti itu, kau tadi cuma salah dengar saja".


"Cukup Robin, daripada kau mengurusi persoalan kita lebih baik kau mengurusi perusahaanmu yang hampir bangkrut dengan cara yang baik, bukannya memanfaat seseorang menggunakan ikatan pernikahan". Abel menghentakkan tangan Robin dengan kuat hingga terlepas lalu pergi.


Dalam ruangan itu mereka masih diam mematung sepeninggal Abel. Namun tatapan mata kecewa yang diliputi amarah sangat kental terasa di mata papanya Robin yang melihat Grace juga putranya karena rencana yang telah disusun gagal total.


"Ini semua gara-gara kalian, kau gadis pembawa sial dan kau tidak bisa diandalkan, sekarang aku tidak peduli lagi dengan kalian". Tak menghiraukan lagi urusan percintaan sang putra yang membuat rencana gagal total, lelaki paruh baya itu melenggang pergi begitu saja dari ruangan Robin.


Abel sedang menonton televisi dengan sang mama yang berada di ruang tamu. Ia tak terlalu memusingkan persoalan Robin dengannya bahkan hatinya malah terasa bebas tanpa adanya beban. Kadang menjadi single malah membuat seseorang bisa menjadi lebih bahagia dan itu yang dirasakan Abel saat ini.


"Gimana kalau mama beli itu, cocok nggak ?". Tanya mama Dina saat melihat iklan sepatu yang berada di televisi dan Abel yang duduk disebelah sambil menikmati keripik kentang menggeleng.


"Nggak cocok ma kelihatan tua kalau pakai itu, bagusan yang warna putih tadi lebih kelihatan muda biar kita ntar dikira kakak adik". Ujarnya setengah bercanda membuat senyuman nampak di bibir mama Dina.


"Kamu ada-ada aja kalau udah tua penampilannya juga harus menyesuaikan dong". Perkataan mama Dina kembali membuat Abel menggeleng.


"Bagiku mama selalu muda nggak pernah tua, malah makin cantik". Mereka berdua tertawa dengan pembahasan usia. Alvin yang baru datang dengan gorengan di tangannya jadi penasaran. "Ngomongin apa sih ?".


Saat Abel hendak menjawab Alvin tiba-tiba Excel datang tanpa diundang dan tanpa pemberitahuan membuat semua yang ada disana hening. Bahkan lelaki itu melayangkan tatapan tajam kearah Abel.

__ADS_1


"Abel kita harus bicara berdua". Semua memandang kearah Excel tak terkecuali Abel namun sepertinya gadis itu enggan meladeni Excel. "Namaku Marry jangan panggil Abel, ngomong aja disini".


"Nggak bisa". Tatapan Excel masih sengit dan sedikit menarik tangan Abel hingga mengikutinya sampai ke belakang rumah, sedangkan mama Dina dan Alvin yang melihat itu semua hanya diam tapi penasaran.


"Apa sih nggak usah tarik tanganku, ini bukan tali tambang ya bisa ditarik seenaknya". Abel bersedekap di dada tanpa menoleh ke arah yang lain, namun tak apa bagi Excel biarlah Abel tak melihat setidaknya Abel masih mau mendengarkan apa yang ia hendak tanyakan.


"Apa benar kau dan Robin telah putus ?". Abel melirik Excel tanpa menurunkan tangannya. "Tau dari mana ?". Tanyanya ketus.


"Jadi benar ? Kenapa kau tidak mengatakannya kepadaku bahkan aku harus mendengarnya dari orang lain baru tau". Abel tersenyum miring dan menurunkan tangannya, ia menatap Excel dengan tatapan geram.


"Dengar ya apapun yang terjadi padaku tidak ada urusannya denganmu, kau bukan siapa-siapaku jadi berhenti seolah kau peduli".


Merasa geram akhirnya Excel menangkup pipi Abel dan mendekatkan wajahnya dengan cepat lalu ******* bibir bulat kayaknya buah ceri yang biasanya berkata pedas padanya namun sangat nikmat saat dirasakan secara langsung.


Tak hanya ******* bahkan Excel menyusuri setiap inchi bibirnya Abel, menimbulkan suara decapan yang membuat setiap detak jantungnya seolah memompa dengan cepat bahkan hampir meledak. Dan setelah hampir kehabisan nafas Excel melepaskan ciumannya dan memandang dengan senyuman ke arah Abel.


"I love you my Abel".


.


.


.


.


~Season 1 End ~


__ADS_1


Excel : Jangan lupa klik like dan Vote sebanyak-banyaknya.


__ADS_2