Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Penjara


__ADS_3

Dirinya dibawa polisi menuju ke tempat seorang wanita yang sedang menunggunya, ia kira itu adalah Robin tapi ternyata tidak. Dan ia tak merasa mengenali siapa wanita tersebut sampai Abel berbalik dan mereka saling bertatapan.


"Kau ?? Untuk apa kau kesini ?". Grace meronta mencoba melepaskan diri dari polisi yang tengah membawanya dan hendak menyerang Abel, namun dengan sigap polisi tersebut memegang kedua tangannya, berusaha menahan agar ia tak mengamuk dan mencederai Abel.


"Diam atau kau kembali masuk ke dalam sel mu". Grace sudah kebih tenang dan menurut, ia benci masuk ke dalam sel tahanan yang ukurannya tidak lebih besar di bandingkan dengan toilet di kamarnya, bahkan hanya tikar sebagai alas untuk tidur.


Grace terdiam menurut, ia sadar apapun yang di lakukannya saat ini akan sia-sia bahkan membuatnya merugi jika menganggu Abel. Walaupun dalam hati ia benar-benar ingin mencabik Abel yang terlihat sehat setelah ledakan dari perbuatannya.


Polisi melepaskan Grace agar lebih leluasa berbincang dengan Abel, namun masih tetap mengawasi gadis itu agar tak membuat keributan. Dan memberikan waktu tak lebih dari 10 menit untuk berbicara.


Abel bisa melihat tatapan mata kebencian pada Grace, banyak sekali pertanyaan di benaknya yang ingin ia tanyakan dengan gadis di depannya. Dan yang membuatnya heran, ia tak merasa mempunyai perselisihan apapun dengannya tapi mengapa Grace seolah menganggapnya sebagai musuh.


"Kau pasti tau apa tujuanku kemari kan ?". Seketika mulut Grace mengerut, dan tangannya mengepal, ia ingin mencabik Abel sekarang juga. Tapi teringat jika masa tahanannya akan di tambah kalau melakukan itu.


"Kau pikir aku dukun bisa tau". Jawabnya ketus, padahal harusnya Abel yang emosi disini dan bukannya dia, bahkan setelah semua yang telah Grace lakukan padanya. Abel mengehela nafas mencoba untuk lebih sabar menghadapi wanita yang sepertinya telah hilang kewarasannya.


"Kau yang telah membuatku celaka Grace, mengapa kau melakukan itu ? apa salahku padamu ?". Abel ingin tahu yang sebenarnya, ia tak merasa melakukan kesalahan hingga membuat Grace tersinggung, tapi mengapa tanpa adanya angin dan hujan tiba-tiba Grace membuatnya celaka bahkan dirumahnya sendiri.


"Salahmu ? Kau tidak tahu ?". Abel menggeleng, ia memang tak tahu hingga Grace tersenyum sinis dengan tatapan remeh. "Kau membuat papanya Robin suka padamu dan menolakku hingga tak mengizinkan Robin untuk pacaran denganku".


Jawabnya namun tak menjawab apa yang ada di benak Abel, ia merasa jika alasan Grace sangat tak masuk akal. Bahkan setelah ia mengetahui kalau Robin tak tulus dengannya, Abel tak menghubungi ataupun bertukar kabar lagi dengan Robin setelah mereka putus dan ia anggap hubungannya dengan Robin benar-benar telah usai.


"Kau salah, papanya Robin tidak merestui hubungan kalian bukan karena aku tapi karena kau tidak sesuai dengan standarnya". Setelah mengetahui niatan papanya Robin yang ternyata hanya mengincar harta Abel, ia bisa mengerti mengapa tak mengizinkan Grace untuk bersama Robin karena hanya menginginkan menantu yang kaya saja.

__ADS_1


Dan Abel bisa menyimpulkan kalau Grace bukanlah dari kalangan orang kaya, atau setidaknya berada di bawah dari standar apa yang diinginkan papanya Robin.


"Tidak, kalau bukan karenamu pasti Robin akan menikahiku tapi karena kehadiranmu papanya Robin meminta untuk memutuskan hubunganku dengan Robin dan menyuruhnya untuk menargetkanmu, dan sekarang Robin menikah dengan gadis lain hiks hiks".


Abel terkejut dengan apa yang ia dengar selain Robin menikah dengan wanita lain juga karena Grace menangis. Mungkinkah gadis yang berada di hadapannya sedang depresi akibat di tinggal Robin menikah. Tapi seharusnya yang menjadi target Grace adalah istrinya Robin dan bukannya Abel.


"Mengapa kau menangisi lelaki yang tak memperjuangkan mu dan malah mencelakaiku, karena kau pernikahanku sampai di undur dan tubuhku rusak". Abel tak bisa menahan amarahnya lagi, ia tak habis fikir mengapa Grace malah mencelakainya.


"Ha ha ha". Grace tertawa dengan keras hingga membuat Abel bingung, padahal tadi Grace menangis dan kini malah tertawa dangat keras. "Tentu saja agar kau ikut merasakan apa yang kurasakan, aku tau kau akan menikah jadi kalau pernikahanmu batal kau juga akan bersedih sama sepertiku ha ha ha".


Setelah mendengar tawa Grace yang menggelegar dan juga alasan Grace mencelakainya, sekarang Abel tau kalau Grace sakit jiwa. Mungkin karena depresi hingga gadis itu mampu melakukan hal tak wajar dan diluar kendali seperti ini.


Polisi langsung membawa Grace dan mungkin bukan diantar ke dalam sel melainkan ke rumah sakit jiwa. Abel hanya bisa melihat kepergian Grace yang tertawa keras dan tiba-tiba menangis saat di bawa oleh kedua polisi ke dalam.


******


Dari penjara yang di tempati oleh Grace kini Abel masuk ke mobilnya dan melajukan dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang mulai gelap karena hari telah berganti malam. Setelah mengunjungi Grace entah mengapa ia juga ingin mengunjungi seseorang yang juga sedang menetap di penjara, berbeda dengan Grace karena yang ia kunjungi selalu Abel doakan agar selalu tinggal dipenjara, kalau perlu tidak usah bebas sekalian.


Jahat memang tapi ia sudah terlalu sebal dengan wanita yang telah merebut Excel dari dirinya, ia benci dan tidak suka saat mengingat kedekatan Excel dengan mantan tunangannya yang saat ini berada di penjara, siapa lagi jika bukan Jennie.


"Hai Jennie". Sapanya kepada wanita yang tengah berbaring dengan mata terpejam dan lengan yang menutup matanya, namun ia yakini belum tertidur. Sengaja Abel yang meminta polisi untuk mengunjunginya dalam keadaan Jennie masih di balik jeruji besi daripada duduk di kursi dan saling berhadapan. Yang ada pasti nanti terjadi baku hantam.


Jennie membuka matanya saat mendengar suara tak asing yang sangat ia benci. Dan benar saja sesuai perkiraan, dirinya mendapati Abel mengunjunginya dengan senyuman mengejek. "Kenapa kau kemari ? Untuk menertawaiku ?".

__ADS_1


"Sebenarnya bukan, aku datang tentu untuk mengunjungimu saja". Jawabnya dengan senyuman yang masih terukir di bibir manis itu.


Jennie mendudukkan dirinya dan menatap Abel dengan tatapan sebal. Tangannya mengepal menahan amarah yang sudah sangat ingin di lampiaskan, ia benci menerima kekalahan dan berdiri mengeluarkan tangannya lewat celah jeruji besi meraih Abel untuk di cakar. "Kemari kau bocah kurang ajar".


"Jangan sakiti istriku".


.


.


.


.


.


.


.


.


Dukung author dengan cara klik like, komen, vote dan tip

__ADS_1


__ADS_2