Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Abel Sudah Mati


__ADS_3

"Kalau gitu gimana kalau kita nikah beneran ?".


Seketika tatapan tajam layaknya orang yang siap membunuh Abel tampilkan ke hadapan Excel, ia tak menyukai apa yang barusaja lelaki itu katakan dengan entengnya seolah hal yang baru saja Excel tanyakan adalah hal yang remeh tanpa mengingat apa yang pernah terjadi diantara mereka.


"Sepertinya kau belum puas ku lempar sepatu dan bantal, disini banyak batu ada yang beratnya sekilo apa kau mau ku lempar batu itu ke wajahmu ?". Tawarnya dengan nada tajam dan tanpa ada senyum sama sekali menandakan kalau itu serius dan bukan lelucon.


Excel meneguk salivanya dengan sukar melihat tatapan dan juga raut wajah Abel yang sangat mengerikan. Baik dalam candaan atau serius Abel sama sekali tak bisa diajak kerja sama.


"Baiklah aku tidak akan mengatakan apapun lagi jika kau tidak suka". Excel menyerah tapi bukan menyerah dalam hal mengejar Abel hanya saja ia tak akan menganggu Abel untuk saat ini karena gadis itu dalam suasana hati yang buruk.


"Lebih baik kau menjauh sejauh-jauhnya dariku". Abel beranjak dari duduknya dan sebelum melangkah ia tetap melihat tajam ke arah Excel layaknya memperhatikan pencuri yang hendak kabur dan waspada jika kalau Excel akan berbuat aneh bahkan untuk mengatakan satu kata saja Abel tak mengizinkan.


Excel tetap melihat kepergian Abel dengan nanar sampai gadis itu mejauh dan menghilang di balik tembok rumah. Setelah semua yang ia lakukan nyatanya sampai sekarang tak ada perubahan sama sekali bahkan Abel seperti tambah benci kepadanya, terkadang ia bertanya dalam hati apakah yang ia lakukan ini sudah benar mengingat Abel yang semakin membencinya.


Excel merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak bludru yang terdapat cincin dengan berlian berwarna pink di dalamnya yang telah ia siapkan untuk melamar Abel dan tadi itu bukan hanya candaan biasa karena jika Abel mengatakan 'iya' pasti cincin ini akan tersemat di jari manisnya.


"Ini benar-benar tidak mudah tapi aku akan berjuang seperti kau yang dulu, berjuang untukku".


******


Gerimis turun dengan rintik-rintik membasahi tanah yang kering dan membuat bau khas yang tercium hanya saat hujan tiba. Dan udara kian terasa dingin membuat orang seperti ingin selalu bergelung dalam selimut yang tebal guna menyembunyikan tubuh dari dinginnya udara layaknya berada di pegunungan.


Insting manusia jika merasakan dingin maka akan mencari sesuatu yang hangat untuk mengusir rasa dingin itu agar tak menjalar ke tubuh, seperti halnya apa yang di lakukan Abel sekarang. Berkutat di dapur untuk membuat teh hangat namun, sepertinya tak semudah itu ia membuat teh saat mendengar suara lelaki yang amat ia kenali.


"Buat apa ?". Excel yang datang entah dari mana kini berada di sebelah Abel, memperhatikan gadis itu yang berkutat di dapur dengan menggenggam cangkir di tangannya.

__ADS_1


Dan benar saja seperti apa yang sudah kira bahwa tak gampang membuat teh dengan hadirnya seseorang di sampingnya. Bahkan sekarang moodnya kembali berubah dari yang biasa saja menjadi kesal setengah mati dengan adanya Excel dalam jarak kurang dari dua meter darinya.


"Emang nggak lihat aku lagi apa ?".


Disaat Abel mengaduk teh agar tercampur dengan beberapa sendok gula tiba-tiba Excel mendekatkan tubuh membuat Abel mundur akibat jarak yang kian terkikis diantara keduanya. Hembusan nafas Excel semakin terasa di pori-pori wajah Abel bahkan ia seperti mendengar drum yang berbunyi akibat detak jantungnya yang berdegup kencang.


Excel mendekat dan semakin dekat dengan Abel hingga Abel terhimpit antara badan Excel dan juga kompor, saking dekatnya wajah mereka sampai membuat Abel tak berani melihat dan memilih untuk memejamkan mata.


Excel menahan tawanya sekuat tenaga dan mengambil benda yang berada di atasnya Abel, ia bukannya bermaksud menggoda gadis itu tapi siapa yang tau malah akan seperti ini jadinya bahkan Abel tak juga membuka matanya.


"Ngapain menutup mata ? atau jangan-jangan kamu mengharap aku menciummu ?". Godanya seketika membuat Abel membulatkan mata dan mengetahui jika Excel tadi sebenarnya hanya mengambil kopi yang berada di atas.


Sial sekali ia sampai salah tingkat dibuatnya bahkan tadi ia sampai menutup mata karena mengira Excel akan mencium bibirnya. Abel berusaha mengatur detak jantunya yang tadi mau lepas dan berdehem untuk menetralkan suara dan dan kecanggungan yang ada dalam dirinya.


"Siapa yang mengharap, kamu yang terlalu berlebihan harusnya bilang kalau mau ambil kopi biar aku minggir". Ujarnya dan memilih untuk pergi serta membawa cangkir berisi teh di tangannya sebelum wajahnya yang bersemu merah akibat malu terlihat.


Namun akibat terlalu memikirkan Abel sampai Excel tak menyadari jika kopinya kini tengah diincar oleh seseorang dan saat Excel lengah dengan gerakan yang gesit orang itu berhasil mengambil kopi milik Excel.


"Dimana kopiku ?". Saat Excel menoleh kembali ia tak mendapati cangkir berisi kopinya disana dan hanya ada sendok yang sedari tadi di pegang, namun suara cekikikan dari orang di belakang membuatnya berbalik.


"Thanks kopinya". Ucapnya tanpa dosa dan berlalu begitu saja meninggalkan Excel yang sangat kesal namun sebisa mungkin ia tahan karena berdebat dengan Alvin tak akan ada gunanya lagipula bagi Alvin, ia hanya dianggap menumpang saja di rumah ini.


Walau kopinya Excel di sambar oleh Alvin namun lelaki itu tak kembali membuat kopi yang baru karena ketertarikannya ke kopi untuk saat ini sudah hilang. Ia lebih memilih meninggalkan dapur dan berjalan menuju kamarnya tapi langkahnya terhenti dan berbelok ke seseorang yang tengah menikmati teh di sofa seraya membaca majalah di tangannya.


"Aku boleh duduk sini ya ?". Excel tak mendengarkan lebih dulu jawaban Abel dan langsung mendaratkan tubuhnya di sofa yang sama dengan gadis itu namun sekali lagi Excel harus menghela nafas saat melihat Abel memilih untuk beranjak seraya membawa cangkir tehnya.

__ADS_1


Excel mencekal tangan Abel untuk menghentikan gadis itu melangkah menjauhinya padahal niatannya duduk di sebelah Abel adalah untuk mendekati gadis itu pelan-pelan tapi Abel tak memberikan sedikitpun celah untuknya masuk.


"Kenapa kamu selalu menghindar, emang salah kalau aku duduk sama kamu ?". Tanyanya mencari jawaban atas kesalahan yang tak ia ketahui dan ia ingin memperbaiki jika apa yang telah ia lakukan adalah kesalahan, kalau untuk masa lalu memang ia sangat salah tapi ia ingin mendapatkan kesempatan kedua harusnya boleh kan ?.


"Salah, karena aku nggak mau deket-deket sama kamu". Abel menghentakkan tangan Excel dengan kasar agar terlepas dari tangannya yang terasa amat menganggu sekali.


"Abel tunggu". Excel mengejar Abel guna kembali mempertanyakan apa salahnya karena penjelasan Abel tak bisa Excel jadikan sebagai jawaban dari pertanyaannya.


"Abel !!". Panggil Excel lagi.


Abel berhenti seketika dari langkahnya dan menoleh ke arah Excel seraya memberikan tatapan tajam seolah tersirat kebencian dalam dari diri Abel kepada Excel.


"Jangan panggil aku Abel karena Abel sudah mati".


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Heran deh sama kalian yang nggak suka sama visual Excel.


Trus emang bagusnya diganti siapa ?


__ADS_2