Love You Brother

Love You Brother
Memasak


__ADS_3

Abel dan mama Dina berada di dapur sedang membantu seorang pelayan menyiapkan sarapan bagi semuanya. Mereka berdua tak keberatan membantu pelayan, sebagai tuan rumah baik mama Dina dan papa Rey sangat baik memperlakukan pelayan disana.


Excel tak sengaja lewat di dapur dan melihat mama Dina juga Abel sibuk berkutat disana, lelaki itu melangkahkan kaki mencari Jennie yang entah kemana, ia menggelengkan kepala melihat Jennie yang masih tertidur di kasur dan bergelung dengan selimut.


"Jen bangun kok masih tidur". Excel mengguncang lengan Jennie agar gadis itu bangun dari tidurnya dan menyuruh Jennie membantu mama Dina juga Abel di dapur.


"Apa sih". Jawabnya dengan nada ogah-ogahan.


Jennie sebenarnya hendak tidur lagi karena ia masih mengantuk setelah semalaman tidur di kursi kayu yang terasa keras juga menyakitkan, apalagi di tambah serbuan nyamuk yang datang tanpa diundang.


"Ayo bangun Jen bantuin mama didapur". Jennie mengerutkan kening, menatap lelaki yang ada di depannya dengan raut wajah tak senang, baginya hanya sarapan saja untuk apa ia membantu. "Kan udah ada penbantu".


"Jangan gitu dong Jen, mama sama Abel aja bantuin pembantu kok, yuk bangun bantuin mereka". Excel menarik tangan Jennie tak terlalu kencang, hanya untuk membuat wanita itu segera bergegas ke dapur.


"Iya iya". Jawabnya malas.


Excel tersenyum kala Jennie mau menuruti keinginanya, walau tau juga kalau Jennie masih sangat terlihat mengantuk.


Jennie telah sampai di dapur, ia merasa jengah melihat Abel dan mama Dina yang sok membantu memasak padahal sudah ada pembantu. Merasakan kehadiran Jennie dari belakang mama Dina berbalik dan melihat Jennie yang sudah memasang senyumnya.


"Jennie apa kau butuh sesuatu ?". Tanya mama Dina ke wanita itu.


"Jennie mau membantu masak ma, masakan Jennie enak banget lo ma". Seruan dari belakang membuat Jennie yang hendak membuka mulutnya kini tak jadi, wanita itu tersenyum canggung dan menelan salivanya dengan sukar.


"Oh ya mama jadi ingin tau bagaimana rasa masakannya". Mama Dina beralih melihat Jennie dan memegang lengan wanita itu, "Yaudah sini banyak orang yang bantuin malah lebih bagus".


Excel percaya jika Jennie akan masak makanan yang enak seperti yang selalu di bawa oleh Jennie kala mengunjunginya di kantor. Setelah Excel pamit untuk menemui para lelaki yang berada di teras, Jennie merasa canggung dan tak tau harus apa.


"Aku bantuin apa tante ?". Tanyanya bingung.


Mama Dina menyodorkan telur, ikan dan juga beberapa bumbu kepada Jennie, gadis itu tak tau hendak di buat apa telur tersebut. "Telurnya di dadar aja, sama ikannya kamu yang masak ya".


"Iya". Jennie memegang salah satu telur tersebut dengan bingung karena ini baru pertama kali ia menggoreng telur, dengan berbekal acara tv yang pernah ia tonton dan coba ia praktekkan caranya Jennie menggoreng telur itu.


*******


Setelah hampir setengah jam lebih berkutat di dapur akhirnya makanan siap tersaji di piring. Mama Dina menyuruh pembantu untuk mengumpulkan semua lelaki agar ke meja makan untuk sarapan bersama.


"Gimana ma tadi Jennie pinter masak kan ?". Tanya Excel kepada wanita yang telah ia anggap sebagi ibu kandungnya sendiri.

__ADS_1


Mama Dina hanya tersenyum canggung, tak berani menjawab iya atu tidak dan hanya menyuruh Excel agar mencoba masakan yang tersaji di atas meja. Semuanya telah duduk di atas kursi dan mengambil lauk yang menurut mereka sukai.


"Telur apaan nih ? Kok kayak ada krenyes-krenyesnya ?". Pekik Alvin kala merasakan ada sesuatu yang tak benar dengan lauknya, lelaki itu mengangkat telur yang ada di piring dan melihat ada kulit cangkang yang ikut tergoreng.


"Itu namanya telur krispi kak". Abel tertawa juga padahal tadi menahan tawanya dengan sekuat tenaga tapi nyatanya hal itu terlalu lucu untuk di tertawakan apalagi papa Rey, Alvin juga Excel memakan telur dadar buatan Jennie yang rasanya benar-benar membuat mereka langsung memuntahkannya.


"Ini elo yang bikin ancur banget rasanya ?". Abel spontan menggeleng tak terima dengan tuduhan Alvin yang asal saja.


"Ya enggak lah, ya kali aku masak kayak gitu bentukannya, ini tuh di masak sama orang spesial yang katanya jago masak". Abel langsung melihat ke arah Jennie, begitu juga semua yang melihat arah pandang Abel ke wanita itu.


Excel menahan malu, ia tadi sudah membangga-banggakan Jennie di depan Abel juga mama Dina, tak menyangka kalau hanya menggoreng terlur saja sampai bisa tercampur dengan cangkangnya.


Alvin langsung menyingkirkan telur yang ada di piringnya lalu ia ganti dengan menu ikan. Baru satu gigitan ia merasa ada yang aneh dan mengoreksi apa yang salah dengan ikan tersebut. Menyadari kalau ikan itu tak di bersihkan dengan benar sisiknya, Alvin lalu memberikan tatapan penuh selidik lagi ke Abel.


"Ini ikan di bersihin apa nggak ? kenapa sisiknya masih ada ?". Alvin bertanya kepada semua wanita yang ada di sana namun tak ada yang menyahuti karena Abel sibuk menahan tawa, mama Dina tak berani membuka suara karena takut Excel akan merasa malu nanti, sedangkan Jennie sendiri menundukkan kepalanya menahan malu.


"Parah banget ini yang masak jangan-jangan masak mie instan juga nggak bisa, untung bukan calon istri gue". Gerutu lelaki itu dan kembali mengambil menu lain yang menurutnya normal dan layak di makan.


Alvin mengatakan itu untuk menyindir lelaki yang kini duduk di sebelahnya, dia tak lain adalah Excel yang juga menahan malu, ia baru menyadari hari ini kalau tunangannya itu ternyata tak bisa memasak.


*********


"Bagaimana nanti kalau tersesat, dan tubuhku nanti kotor kena tanah?". Jennie menolak untuk masuk ke dalam hutan tapi karena Excel juga penasaran dengan isi hutan tersebut akhirnya Jennie mau ikut.


"Kalau kamu bagaimana ?". Tanya Robin kepada Abel.


"Sepertinya menyenangkan, ayo kita kesana". Mereka masuk ke dalam hutan namun tidak secara bersama-sama karena Excel dan Jennie jalan berdua, sementara Robin dn Abel juga berjalan berdua, tinggal Alvin yang tak ada pasangan.


Mama Dina dan papa Rey menunggu mereka di dalam Villa, mereka berdua yang tak lagi muda hanya bisa menikmati pemandangan dari teras rumah sembari menunggu anak-anaknya kembali.


"Nasib jadi jomblo gini amat". Gerutunya kala menyusuri hutan sendirian sambil sesekali mengabadikan beberapa burung yang bertengger di dahan.


Abel dan Robin ternyata sampai lebih dulu karena mereka mengambil jalan yang lain, dan tak terlihat mama Dina juga papa Rey karena kedua orang tua itu berada di dalam villa. Robin mengajak Abel untuk masuk dan minum namun Abel yang tak sengaja melihat gelangnya tak ada jadi cemas.


"Kamu tadi naruhnya dimana ?". Tanya Robin sembari mencari ke sekitar tempat Abel berdiri.


"Aku pakai tadi masih ada kok sekarang hilang ? Kayaknya jatuh tadi di hutan". Abel hendak mencari gelangnya, dan saat Robin menawarkan untuk menemani Abel berkata agar Robin masuk saja karena ia tak akan lama dan akan segera menemukan gelangnya.


Abel kembali masuk ke dalam hutan sendiri dan berselang lima menit kemudian Excel Jennie juga Alvin telah kembali dan masuk ke dalam Villa. Namun Abel yang belum kembali membuat Robin risau dan mengatakan kalau Abel mencari gelangnya sendiri.

__ADS_1


"Kok nggak lo temenin ?". Pekik Alvin agak keras, pasalnya Abel adalah seorang perempuan bagimana jika terjadi sesuatu pada gadis itu sementara tak ada yang menolong.


"Tadi aku mau nenemin tapi dia nolak dan dia bilangnya cuma sebentar, aku juga nggak tau kalau bakal selama ini".


Semua orang sangat panik kecuali Jennie yang menampilkan wajah panik palsunya. Dan mereka semua memutuskan untuk berpencar mencari Abel menyusuri hutan. Mama Dina dan Jennie di suruh untuk tetap berada di Villa.


"Excel kamu temenin aku aja disini". Jennie berusaha agar Excel tetap bersamanya agar tak membantu mencari Abel".


"Aku harus mencari Abel Jen, kamu tunggu saja sama mama sisini ya".


Jennie menampilkan wajah cemberut dan tetap menginginkan Excel agar berasamanya saja namun bagaimanapun upaya Jennie untuk mempertahankan Excel disana, lelaki itu tetap akan membantu mencari Abel.


Mama Dina ingin ikut untuk membantu mencari Abel, tapi papa Rey berpesan agar tetap berada di villa karena mereka takut tak bisa melindungi mama Dina nantinya.


"Hati-hati ya pa, kalian juga jaga diri tolong temukan Merry".


"Mama doakan saja ya".


"Iya pa"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Like dan Vote seiklasnya 😶😶😶

__ADS_1


__ADS_2