
Senyuman manis terukir di bibir merah itu sedari tadi, bahkan senyumnya mampu membuat siapapun yang melihat tertular untuk ikut tersenyum. Mengingat kejadian dimana Abel sudah di terima dengan baik oleh keluarganya Excel tentu merupakan suatu hal yang membuatnya bahagia.
Apalagi semua berkat kerja kerasnya yang berusaha melawan segala ketegangan, kegugupan juga rasa takut hingga berhasil meraih hasil sesuai harapan. Tak hanya itu bahkan maminya Excel menyuruh Abel untuk memanggil mami dan tak lagi tante.
"Dari tadi senyum terus ?". Excel memeluk Abel dari belakang di saat Abel berada di ajak tur keliling rumahnya dan saat ini mereka sedang berada di kamarnya Excel, tapi dari pada fokus akan kamanya Excel sebelum pindah ke apartemen, Abel malah terbayang akan kejadian tadi.
Abel berbalik hingga kini mereka saling berhadapan, bahkan tangan Abel ia lingkarkan ke lehernya Excel hingga mata mereka berdua saling bertemu, memancarkan kilat kebahagian masing-masing. "Iya aku rasanya masih sulit percaya kalau tante sama om udah nerima aku eh maksudnya papi mami".
"Tentu kamu di terima, bagaimana mereka tak seburuk dan tak sejahat mertua yang ada di drama televisi kan ?". Tanyanya dan mendapat gelengan dari Abel. Awalnya Abel tak berfikir kalau orang tuanya Excel adalah orang jahat yang akan melakukan segala cara untuk membatalkan pernikahan, bukan.
Hanya saja Abel khawatir kalau ia tak terlalu di terima, dalam artian mereka akan tetap menikah namun restu yang di dapat hanya setengah hati. Tapi sekarang Abel lega pasalnya ketakutannya sedari perjalanan menghilang di telan oleh kebahagiaan.
"Orangtua kak Excel baik banget". Jawabnya.
Sejenak mereka saling memandang, melontarkan senyum hingga ternggelam dan hanyut oleh perasaan yang di namakan nafsu untuk saling memiliki sekarang. Sebuah ciuman Excel berikan untuk Abel singkat dan ia membenamkan bibirnya lagi untuk meresapi setiap inchi bibir yang laksana buah cerry segar.
Manis, lembut, kenyal dan sangat membuat candu hingga tanpa sadar terhanyut sampai satu desahan keluar dari mulut Abel. Seketika Excel sedikit mendorong, melepaskan tautan mereka sebelum terlanjur melakukan hal tak seharusnya sebelum menikah.
Abel menunduk saat ia merasa kecewa, padahal ia tau tak seharusnya bertindak lebih dari itu tapi sudut hatinya menginginkan lebih. Sungguh suatu perasaan yang salah namun ingin diulang. Abel merutuki dirinya sendiri mengapa memiliki perasaan tersebut.
"Sepertinya aku sudah terlalu jauh". Excel mengusap pipi Abel menggunakan punggung tangannya, menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga dan mengusap bibir yang telah basah akibat ulahnya, ia senang sekaligus kecewa pada dirinya sendiri yang tak mampu menahan diri.
"Aku sangat tersiksa, bagaimana kalau kita menikah sekarang saja ?". Tawarnya dengan senyuman tapi malah mendapatkan tabokan di lengan.
__ADS_1
"Jangan ngaco, udah kak Excel jangan macem-macem ya di bawah masih ada papi sama mami". Mereka berdua terkekeh di luar tapi di dalam hati ingin saling memiliki saat ini juga. Bahkan kata sabar berulang kali mereka senandungkan dalam diam, menunggu saat bahagia yang di nanti setelah sekian lama.
"Yaudah yuk kak kita temu mami sama papi". Abel menarik tangan Excel namun lelaki itu masih bergeming di tempatnya, tak bergerak barang satu inchi saja hingga Abel berbalik untuk mengetahui mengapa Excel diam.
"Kamu keluar duluan ya, yang tadi soalnya udah terlanjur bangun". Suara Excel terasa berat, seperti tercekat menahan gejolak yang akan bahaya jika sampai tak di tenangkan kembali. Ia lelaki normal yang akan bereaksi jika mendambakan sesuatu yang kebetulan berada di depannya.
Abel mengerjap untuk mencerna apa maksud Excel tapi untungnya sebelum ia bertanya, otaknya sudah terlebih dulu faham dan semburat merah muncul setelah mengetahui apa yang sebenarnya Excel maksudkan. "Yaudah tapi jangan lama ya".
Abel keluar setelah mendapatkan anggukan dari Excel dan menutup pintu kamar agar lelaki itu lebih leluasa..
Setelah suara pintu tertutup Excel menghela nafas dan berjalan pelang menuju ke kamar mandi untuk bersolo karir. Tak menyangka kalau ini akan terjadi bahkan di depan Abel, dengan hanya bibir yang saling bersentuhan.
Setelah selesai menidurkan kembali. Excel turun menemui Abel yang sedang berbincang dengan mami Rita dan mengatakan kepada kedua orangtuanya bahwa mereka masih ada urusan hingga mengharuskan untuk pergi.
"Kapan-kapan main lagi ya". Seperti itu pesan mami Rita saat mengantarkan Abel juga Excel sampai ke dalam mobil yang hendak pergi meninggalkan kediaman papi Jimmy. Dan membelah jalanan yang tak terlalu panas karena hari sudah sore.
Jujur saja ia khawatir sekali namun kekhawatirannya di balas senyuman oleh Excel bahkan sebelum mendapat jawaban pasti mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan toko perhiasan.
Excel dan Abel turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam toko perhiasan yang langsung di sambut oleh salah satu pegawai disana. Excel memegang tangan Abel dan bertanya kepada pegawai tersebut letak cincin untuk pernikahan.
Sontak itu membuat Abel terkejut. "Kak kita mau beli cincin pernikahan ?". Tanyanya senang dan rasa tak percaya, berharap jika semua bukan mimpi.
"Iya, bukankah aku bilang kalau cincin pernikahan kita kau yang akan memilihnya maka apapun pilihanmu aku pasti akan setuju".
__ADS_1
Abel sangat bersemangat memilih deretan cincin pasangan cantik yang tertata rapi di masing-masing kotak. Ia sampai bingung karena semuanya terlihat sangat cantik. Namun pilihannya jatuh kepada cincin emas putih dengan kombinasi emas kuning disana.
Terlihat tak terlalu rumit modelnya namun terlihat cantik dan elegan. Setelah Abel menunjuk cincin tersebut pegawai langsung mengambilkannya untuk di coba oleh Abel dan ternyata pas. Tak butuh waktu lama lagi Excel segera membayarnya dan pegawai toko tersebut membukus cincin itu.
"Nggak patungan aja kak bayarnya ?". Abel merasa tak enak hati kalau hanya Excel yang membayar padahal ini pernikahan mereka dan itu artinya semua harus di tanggung bersama. Bukan hanya karena Excel dari pihak lelaki maka Excel yang membayar semuanya. Abel tak suka prinsip itu.
"Tidak apa-apa, biar aku saja lagipula aku memang sudah menyiapkan semua dana yang akan kita butuhkan untuk acara pernikahan kita nanti". Ujarnya namun rasanya Abel masih kurang suka, apalagi ia bukan orang kekurangan yang menggantungkan dirinya kepada Excel.
"Kita patungan aja ya kak". Pintanya.
Satu kecupan mendarat ke kening Abel yang tak tertutup oleh rambut. Dan seketika Abel memengang keningnya bekas cap bibir Excel disana.
"Anggap saja kau menggantinya dengan itu".
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa tinggalkan jejak (like, komen, vote poin dan koin)