
Sebuah mobil telah memasuki garasi di sebuah rumah yang terlihat tenang dan sepi, hanya suara angin yang berhembus menggoyangkan dedaunan hingga udara terasa lebih dingin dari sebelumnya. Excel menenteng tas kerjanya sampai masuk ke dalam rumah dan langsung di sambut oleh sang istri.
"Capek ya kak ?". Abel hendak mengambil alih tas kerja Excel untuk ia bawa seperti sebelumnya, namun Excel menjauhkan tasnya hingga membuat Abel bingung akan penolakan itu. "Kenapa kak ?".
"Biar aku aja yang bawa, aku nggak mau kamu terlalu lelah". Semenjak Abel hamil mulai dari di larang bekerja hingga dilarang beraktivitas Excel berlakukan untuk Abel bahkan sekarang di larang membawa tas kerja, ia terlalu senang dan sudah tak sabar menantikan hahirnya sang buah hati jadi tak ingin jika Abel sampai kenapa-napa.
Terlalu berlebihan memang dalam mengatur Abel hingga yang di atur merasa jengah dan bosan sendiri di rumah hanya menantikan kedatangan sang suami. Ia bukan tipe yang senang berdiam diri begitu saja dirumah dan kini larangan Excel layaknya penjara baginya. Penjara yang mengekang dan sangat menekan.
"Cuma bawa tas doang kak, nggak mungkin juga sampai lelah". Protesnya.
Ting tong
Perdebatan mereka usai saat mendengar bel rumah berbunyi, posisi Abel dan Excel yang memang tak terlalu jauh dari ruang tamu membuat keduanya tak jadi masuk ke kamar dan lebih memilih membuka pintu untuk mengetahui siapa yang bertamu.
"Permisi paket untuk nona Mariana". Ujar sang pengirim paket yang memakai jaket berwarna oranye seraya memberikan paket tersebut dan di terima oleh Excel karena ukurannya yang sangat besar, hingga tak tega membuat Abel membawanya sendiri.
Setelah paket di terima oleh Excel dan Abel, kemudian sang kurir memfoto mereka beserta paket sebagai tanda bukti jika paket telah di terima. Ia berpamitan dan masuk ke dalam mobil untuk mengantarkan paket yang lain.
Setelah kepergian sang kurir, pandangan Excel jatuh kepada paket yang di bawanya. Sangat besar bahkan melebihi dua kali lipat ukuran tubuhnya hingga tatapan penuh tanya ia lontarkan untuk sang istri. "Kamu beli apa ?".
"Bantal ibu hamil kak". Jawabnya santai sementara Excel masih tak habis fikir memang bantal seperti apa yang besaranya sedemikian rupa hingga panjangnya saja sampai mengenai kakinya. Ia membawa paket yang katanya bantal tersebut masuk ke dalam kamar.
Dan saat di buka bungkusnya seketika matanya ingin meloncat dari wadahnya berada, gelengan ia berikan saat bantal itu di letakkan di kasur dan memenuhi tempat tidur, besarnya hingga membuat tempat tidur terasa sempit baginya.
"Ini terus aku tidurnya dimana ? jadi sempit gini kasurnya". Tatapan Excel nyalang ke bantak besar tersebut dan melihat pembatas antara dirinya dan Abel tidur seketika membuatnya geram. "Terus kalau ada ininya gimana nanti aku bisa peluk kamu ?". Tanyanya lagi seraya menunjuk pemisah mereka tidur.
"Ya gimana kak aku tidurnya udah mulai nggak nyaman bolak balik nyari posisi enak tapi tetep susah tidur, kak Excel nggak ngrasain sih gimana jadi ibu hamil, berat tau". Jawabnya sambil sedikit memanyunkan bibir, setelah beberapa hari ini kurang bisa tidur dengan nyenyak alhasil Abel langsung memesan bantal tidur khusus ibu hamil di toko online.
__ADS_1
Ia membaringkan diri mencoba bantal yang ternyata lebih nyaman dari perkiraan dan di bagian perutnya juga ada penyangga yang terasa cocok, memang tak salah jika ia membeli bantal tersebut, tapi sekarang masalahnya adalah Excel yang hanya kebagian kasur sedikit.
"Demi anak pertama kita kak, lihat deh aku rasanya nyaman banget lo ini". Abel memperlihatkan bagaimana bahagianya dia mencoba bantal tersebut, terasa nyaman sekali dan berharap sang suami akan mengizinkan ia untuk menggunakannya.
"Aku tuh nggak larang kamu pakai apa aja tapi lihat juga situasi, kondisi dan akibatnya, trus nanti malam aku tidurnya gimana ?". Excel mengusap rambutnya melihat bagian yang tersisa di kasur untuknya tidur hanya sedikit bahkan hanya cukup jika ia tidur ala orang mati, karena kalau bergerak sedikit saja yang ada ia terjatuh.
"Tapi ini yang minta si dedek".
"Yaudah deh pasrah".
******
Malam telah tiba, Excel menatap kesal ke arah kasur yang telah di kuasai oleh bental besar pesanan Abel tadi siang. Ingin sekali ia membuang bantal tersebut namun melihat sang istri yang telah terlelap tidur, ia jadi kasihan dengan dirinya sendiri.
Dengan terpaksa Excel tidur dengan sangat hati-hati, sedikit saja ia bergerak pasti tubuhnya langsung jatuh ke lantai. Ia memilih untuk berbalik melihat ke arah Abel yang di pisah oleh si bantal menyebalkan, bahkan untuk memeluk saja tidak bisa.
"Kamu belum tidur ?". Tanya Excel yang ikut mendudukkan diri, ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, tidak baik bagi ibu hamil jika tidur terlalu larut.
"Kak Excel sendiri kok belum tidur ?". Di bandingkan dengan menjawab pertanyaan Excel, Abel memilih untuk memberikan pertanyaan kembali karena sang suami sendiri yang membuatnya kembali terjaga.
"Aku nggak bisa tidur kalau nggak peluk kamu, udah seharian kerja nggak ketemu kamu dan pengin tidur pelukan tapi kamu malah beli ginian, lagian rasanya sempit banget aku jadi sulit tidur". Jawabnya dengan wajah yang terlihat sangat membuat Abel iba dan ia berdiri meletakkan bantal itu di lantai.
Sontak saja Excel merasa heran sekaligus senang, tapi lebih kepada mengapa Abel yang tadi sangat antusias untuk tidur dengan bantal itu kini malah meletakkannya di lantai ?. Ia khawatir jika omongannya salah dan membuat Abel malah terfikirkan untuk tidur di lantai.
"Lho sayang kok bantalnya di taruh di bawah, kamu jangan tidur di bawahn ya maaf kalau tadi aku ada salah ngomong". Excel ketakutan di saat Abel hanya diam, ia takut Abel ngambek dan tidur di lantai yang dingin karena tersinggung dan biasanya ibu hamil akan sangat sensitif perasaannya.
Abel membuka dua kancing piyamanya di bagian atas hingga terlihat dua gunung diantara celah piyama yang Abel kenakan. Sontak saja jiwa lelaki Excel keluar, ia meneguk sukar salivanya dan mengusap belakang leher saat dirasa tubuhnya berdesir ingin kembali mendaki puncak gunung dan mengunjungi gua. Sejak Abel hamil Excel terlalu takut untuk mengunjungi gua, palingan dia hanya akan meminta untuk mendaki gunung dan di panen pisangnya.
__ADS_1
"Ka-kamu ngapain buka piyama ntar kalau kedinginan gimana ?". Di bandingkan dengan kedinginan sebenarnya Excel merasa kepanasan, sulit mengontrol jiwa petualangnya saat di suguhi dua gunung kembar.
"Aku tau nanti kalau habis melahirkan kak Excel akan puasa lama, pas trimester pertama juga kak Excel hati-hati mainnya dan karena dokter udah bolehin jadi kalau kak Excel mau boleh kok sekarang di puas-puasin, tapi kalau nggak mau yaudah aku tidur lagi". Tawarnya.
"Eh mau lah mau banget malah, yaudah yuk". Tidak sepeeti biasanya dimana Abel sekarang menawarkan diri, ia seperti dapat rejeki malam ini dapat kembali menjelalah. Mungkin karena efek hamil karena biasanya hormon akan meningkat.
Excel membuka piyamanya sendiri agar lebih mudah melakukan aksinya, membuka semua penghalang yang menutupi kedua gunung yang ia daki sampai ke puncak dan meninggalkan tanda basah jika pernah kesana. Sejak kehamilan, Excel merasa jika gunung milik Abel semakin lama semakin besar ukurannya, ia merasa puas dan mencari keberadaan sumber air susu di sana, walau belum menemukan tapi ia yakin cepat atau lambat pasti akan menemukam sumber air susu.
Si ular mengintip sedikit gua yang basah dengan di tumbuhi rerumputan, gua kesayangan yang akan selalu membuatnya lupa untuk keluar. Si ular malam ini berpesta pora mengunjungi gua favoritnya dan memporak-porandakan apa yang ada di sana. Desahan dari si pemilik gua layaknya musik merdu yang mengiringi ular untuk berpesta, namun dengan penuh kehati-hatian dan memilih untuk menyemburkan bisa di luar gua.
Si ular mengucapkan terima kasih atas undangan berkunjung dari si pemilik gua, ia puas setelah berhasil menuntaskan petualangannya. Dan si ular kemabli ke sarangnya dengan keadaan bahagia.
.
.
.
.
.
.
.
Mari dukung author dengan cara klik like, komen, vote dan tip sebelum ini novel beneran tamat.
__ADS_1