Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Martabak


__ADS_3

"Sebenarnya apa maksud kalian ? Katakan dengan jelas". Mata papa Rey menyipit, melihat Excel dengan tajam hingga ia menelan ludahnya dengan sukar, berharap tidak akan salah bicara dan papa Rey akan menyetujui keinginannya.


"Aku harap papa bersedia untuk Abel agar di rumah saja dan biar aku yang bekerja".


"Tidak". Jawab papa Rey singkat, padat, dan jelas setelah mendengar penuturan Excel yang membuatnya kesal seketika. Tak menyangka jika Excel akan mengatakan hal ini dimana ia sendiri sudah mengatur perusahaan sedemikian rupa hingga saatnya tiba anak-anaknya yang akan meneruskan.


Dan kini dengan gamblangnya Excel meminta Abel untuk tidak usah mengurus perusahaan lagi, padahal pengangkatan Abel untuk menjadi pemimpin di perusahaan tinggal menunggu waktu saja, karena Abel hampir siap untuk di lepas tangan dan papa Rey bisa pensiun.


"Hanya karena kau sekarang suaminya Abel bukan berarti kau bisa seenaknya mengatur Abel agar tidak bekerja lagi". Pandangan papa Rey beralih ke Abel yang sedari tadi diam, ia jadi mencurigai jika ini keinginan Excel sepenuhnya dan Abel di paksa menerima. "Abel katakan kepada papa, kau di paksa dia kan ?".


"Pa a-aku..". Abel menoleh menoleh ke arah Excel yang berada di samping, mencari dukungan dari Excel yang katanya urusan papa Rey biar dia yang menghadapi, tapi nyatanya Excel sendiri malah diam dan sulit bicara.


"Kak Excel gimana ini ?". Bisiknya kepada Excel saat Abel merasa kehabisan kata-kata juga nyali, nyatanya menghadapi papa Rey sangat sulit sekali dan ia benar-benar ketakutan melihat papa Rey kalau sudah membahas mengenai pekerjaan, maka sifat galaknya keluar.


"Kami ingin program hamil pa tapi Abel tak ada waktu, coba banyangkan saja saat aku pulang Abel masih di kantor, bahkan papa sendiri tidak membiarkan mama Dina bekerja kan ?". Entah Excel dalah bicara atau tidak menyeret mama Dina kedalam masalahnya dengan papa Rey, ia harap papa mau mengerti dengan keinginannya.


"Papa kan juga punya Andre dan Alvin yang bisa di jadikan pemimpin sekaligus mewarisi kekayaan papa, dan jangan khawatir tentang Abel karena aku akan memenuhi semua yang ia butuhkan dan inginkan". Berbeda dengan tadi yang masih takut, kini Excel lebih tenang dan bisa mengungkapkan semuanya dengan lancar.


Jika ia tak berani dengan papa Rey yang ada hanya kegagalan saja yang didapat sementara niatan Excel harus ia wujudkan demi bisa mempunyai waktu lebih banyak dengan sang istri dan mempunyai keluarga yang lengkap dengan adanya anak nanti.


Papa Rey berfikir tentang niatan Excel, memang dirinya tak suka mama Dina bekerja bukan untuk egois namun ia lebih suka istrinya tak lelah dan lebihbaik mengurus keluarga juga. Ia faham niatan Excel, tapi untuk melepaskan Abel begitu saja dan memberikan perusahaan bagian Abel kepada salah satu putranya membuat papa Rey menyayangkan hal itu, ia ingin semua adil termasuk Abel yang memang mendapatkan bagian.


Namun ada yang papa Rey lupakan, yaitu tentang status Abel yang harusnya lebih mementingkan rumah tangganya di banding dengan mengejar pundi-pundi rupiah dan meneruskan perusahaannya. Abel adalah seorang istri sekarang dan layaknya mama Dina yang menurutinya, Abel pun harusnya menuruti permintaan Excel.

__ADS_1


"Baiklah Abel boleh berhenti bekerja". Semua yang ada disana ekspresinya langsung berubah terkejut, tak menyangka jika papa Rey akan setuju, namun ucapan papa Rey selanjutnya membuat mereka kembali terkejut. "Tapi ada satu syarat, kalau Abel hamil dia boleh berhenti bekerja tapi sebelum itu dia harus tetap bekerja".


Yang tadinya Excel semangat dan juga senang langsung wajahnya berubah kecewa, tentu ia sudah memperkirakan tidak akan semudah itu membujuk papa Rey. Bahkan syarat yang diajukan sangat berat, bagaimana tidak kalau Abel saja masih bekerja hingga pulang larut terus, kalau begitu bagaimana bisa hamil ?.


"Pa memangnya nggak ada syarat yang lain ?". Mama Dina tak berniat untuk membela siapapun, namun dirinya rasa itu akan terlalu berat dan ia mencoba menjadi penengah untuk masalah ini.


"Nggak ada dan ini sudah final". Setelah itu papa Rey beranjak dari duduknya, ia tak mau mendengar bantahan lagi dan pergi ke kamar.


Baik Abel dan juga Excel hanya bisa pasrah, papa Rey mau menyetujui dengan syarat saja mereka sudah agak lega, setidaknya Excel tidak di marahi. Mereka yakin kalau ikut program hamil juga pasti Abel akan segera hamil.


******


Baik Excel dan juga Abel sangat sibuk hingga mereka sampai saat ini belum ada jadwal untuk bisa ke dokter kandungan guna ikut program hamil. Jika Excel yang ada waktu lain halnya dengan Abel yang tidak, dan begitu juga sebaliknya. Padahal ini sudah lewat dua bulan semenjak syarat yang di berikan oleh papa Rey dan Abel masih tidak ada tanda-tanda kehamilan.


Excel masuk ke dalam rumah namun tak mendapati Abel di dalam hingga saat ia masuk ke dalam kamar, terlihat Abel sudah tertidur dengan posisi tubuh diatas kasur sementara kaki masih menggantung. "Kok tidur sih, padahal aku usah beli martabaknya".


Bahkan untuk mendapatkan martabak tersebut Excel harus mencari ke tenpat yang masih buka dengan derasnya hujan, walau ia menggunakan mobil tapi tetap saja ia harus berlari menghindari hujan ke tempat penjual yang tidak bisa di masuki mobil, walau sudah menghindar nyatanya tetap saja kehujanan.


Excel merasakan sesuatu yang naik dalam perutnya, hingga ia merasa mual terasa menjalar dan membuatnya segera berlari ke dalam kamar mandi untuk memuntahkan semua yang ada di perutnya. "Huek huek huek".


Suara berisik dari dalam toilet membuat Abel terbangun dari tidurnya, dan ia beranjak mencari sumber suara. Abel sangat terkejut mendapati Excel yang sedang muntah dan memijat tengkuk Excel agar lebih baik.


"Kak Excel kenapa ?". Abel sangat heran mengapa tiba-tiba Excel muntah, padahal sedari pagi masih baik-baik saja.

__ADS_1


"Kayaknya masuk angin pas tadi beliin martabak buat kamu, soalnya tadi kehujanan". Seketika raut wajah khawatir Abel menghilang, dan ia berbinar mendengar kata martabak.


"Terus martabaknya sekarang mana kak ?". Tanyanya dengan antusias.


"Diatas meja". Tunjuknya disana, dan dengan cepat Abel beranjak meninggalkan Excel yang masih berada di toilet untuk mengambil martabak dan membuka bungkusnya, Abel menghirup aroma martabak telur yang sangat sedap tersebut dan langsung menyantapnya.


"Kok malah martabaknya yang di pentingin". Excel agak kesl karena di tinggal Abel di dalam kamar mandi, padahal tubuhnya masih terasa lemas akibat muntah, dan ingin dipapah.


"Maaf kak, habis pengin banget makan martabak, nih coba kak martabaknya enak banget". Abel menyodorkan satu martabak yang masih hangat ke Excel, namun tak kunjung diambil bahkan Excel malah kembali masuk ke dalam kamar mandi dan kembali muntah akibat mencium bau martabak tersebut.


Abel meletakkan martabaknya dan memilih untuk mengejar Excel di kamar mandi, ia merasa sedih dan bersalah membuat Excel malah sakit akibat meminta untuk di belikan martabak. Abel melihat jam yang sudah larut, tak mungkin ke dokter di jam segini jadi mereka akan ke dokter pada pagi hari.


******


Pagi hari telah tiba dan baik Excel juga Abel memutuskan untuk libur sehari sekaligus untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan. "Aku tuh sebenernya udah nggak apa-apa, kenapa harus ke dokter segala ?".


"Tadi malam kak Excel kan sakit, biar sakitnya nggak tambah parah kak, sekaligus nanti kita konsultasi dokter kandungan ya".


Abel dan Excel menunggu antrian mereka tiba namun lebih dulu ke dokter kandungan untuk program hamil karena antrian untuk dokter umum guna berobatnya Excel terlalu panjang. Jadi nanti setelah mereka menemui dokter kandungan, dan tak terlalu lama nama mereka di sebut, seorang dokter cantik yang berumur kisaran 40 tahunan menyambut mereka. "Silahkan duduk".


"Jadi begini dok kami mau program kehamilan".


"Baiklah kalau begitu di tes dulu ya". Dokter mengarahkan mereka untuk melakukan serangkaian tes hingga memakan waktu yang cukup lama, bahkan saat di tanya mengenai kondisi Excel malah lelaki itu terlihat baik-baik saja.

__ADS_1


Mereka menunggu hasilnya keluar dan dokter telah melihat hasilnya untuk di beritahukan kepada Excel dan Abel, namun sebelum memberitahukan hasilnya dokter tersebut malah mengulurkan gangan, dengan rasa bingung Abel menjabat tangan sang dokter.


"Selamat atas kehamilanya ya, sekarang nyonya sedang mengandung".


__ADS_2